
Senin siang.
Mata para wanita yang berada di rumah sakit di buat takjub dengan pemandangan ini, Seorang pria tampan dan juga macho turun dari mobil berwarna hitam.
Kemeja berwarna merah yang tidak di kancing sepenuh nya, Hingga membuat dada kekar nya menjadi objek pemandangan indah.
Jasson membuka kaca mata hitam dan melangkah masuk mencari kekasih nya, Di ujung koridor mata nya melihat sosok yang ia rindukan.
''Dengan siapa dia tertawa?!'' Batin jasson kerena melihat bianca tertawa lepas.
Langkah nya di percepat karena ingin melihat siapa lawan bicara bianca, Rasa cemburu jasson seakan mau meledak ketika melihat pria itu.
''Draka.'' Dengus jasson geram.
Sedang kan bianca belum menyadari jika jasson sudah berada di dekat nya, Ia masih sibuk berbincang dengan draka yang kini menjadi teman nya.
''Aku ingat dulu saat sekolah kau mengejar pahmi anak nya tukang kebun.'' Ejek draka yang ternyata teman sekolah bianca.
''Hahaha, Meski anak nya tukan kebun tapi dia tampan sekali.'' Sahut bianca mengingat pahmi.
''Di mata mu mana ada pria jelek.'' Cibir draka.
''Hey mulut mu.'' Kesal bianca menepuk mulut draka.
Adegan itu tentu saja tidak luput dari pandangan jasson, Apa lagi saat bianca menggelitik draka dan draka memeluk lengan bianca.
''Aduuh geli bi, Hentikan bianca.'' Teriak draka kegelian.
''Rasakan ini.'' Bianca semakin semangat menggelitik lawan nya.
Brak.
Jasson menendang pintu yang memang sudah terbuka, Bukan main kaget nya draka dan juga bianca.
''Hay uncle.'' Sapa draka yang kebun nya pernah di bakar jasson.
Namun yang di sapa hanya diam saja sambil memberikan tatapan maut, Merinding sekujur tubuh bianca melihta tatapan jasson.
''Apa aku mengganggu kalian ?'' Tanya jasson tersenyum sinis.
''Sedikit.'' Jawab draka pula.
''Ooh aku mengganggu rupa nya, Ternyata kekasih ku ini tergangu.'' Ujar jasson.
''Bicara apa kau ini jasson.'' Ucap bianca memegang lengan kekasih nya.
''Bianca kekasih mu ?'' Tanya draka kaget.
Dengan senyum bangga, Jasson mendekati draka yang terlihat syok. Ia sangat puas melihat wajah draka yang seperti ini.
''Yah, Bianca vander veken ini kekasih ku.'' Jawab jasson lantang.
''Benar kah ? Sejak kapan ?!''
Bukan draka yang sedang bertanya, Tiga manusia itu menoleh kearah pintu yang terbuka lebar.
''Daddy.'' Gugup bianca.
Sagara vander veken mendekati jasson yang sedang menatap nya, Ada kemarahan di mata pria tampan ini meski sudah berusia lanjut.
''Sejak kapan kau menjadi kekasih putri ku ?'' Tanya gara tajam.
__ADS_1
''Sej...
''Paman jasson hanya bercanda dad, Tidak mungkin aku menjadi kekasih nya.'' Bianca menyambar ucapan jasson.
Gara menatap putri sulung nya, Bianca sangat pintar dalam berbohong. Sehingga gara langsung percaya pada ucapan nya.
''Benarkah nak ?'' Tanya gara memastikan.
''Tentu saja dad, Aku tidak menjalin hubungan dengan pria mana pun.'' Tegas bianca membuat hati seseorang terluka.
''Bagus lah, Masih banyak pria yang muda dan tampan.'' Ujar gara.
''Uncle benar bi, Lihat lah aku.'' Sahut draka dengan gaya tengil.
''Aku sudah melihat mu sejak tadi.'' Ketus bianca kesal karena draka ikut menyahut.
''Coba uncle pertimbangkan, Bisa kah aku menjadi daftar calon menantu mu ?'' Tanya draka pada gara.
''Aku tidak memilih calon menantu dari segi umur, Harta dan juga rupa sebenar nya. Tapi aku ingin calon menantu ku adalah pria yang cukup dengan satu wanita dan dia bisa membahagia kan anak ku.'' Tegas gara melirik jasson yang berdiri tak jauh dari nya.
''Aku tidak pernah bermain wanita uncle.'' Jawab draka cepat.
''Tapi aku tidak tertarik pada mu.'' Ejek bianca.
''Jadi pria mana yang membuat mu tertarik ?'' Tanya draka.
''Tidak ada.'' Jawab bianca cepat dan bergegas duduk di kursi kebesaran nya.
Gara menatap jasson yang sejak tadi tidak melepas pandangan nya kepada bianca, Jauh di dalam hati gara. Ia tau jika jasson menaruh rasa pada anak nya, Tapi gara juga tau jika jasson punya hubungan dengan putri bungsu nya.
''Apa lagi yang anda tunggu tuan jasson ?'' Tanya gara dengan isyarat mengusir.
''Anda mengusir saya ?!'' Tanya jasson geram.
Karena melihat kondisi yang seperti ini, Jasson memilih pergi dari ruangan bianca.
''Kenapa kau masih di sini ?!'' Sentak gara pada draka.
Tidak hanya draka yang terlonjak, Bianca yang pura pura sibuk memeriksa berkas pun ikut terlonjak kaget.
''Aku permisi uncle.'' Ujar draka sedikit berlari.
Setelah kepergian draka, Tinggal lah ayah dan anak yang berada di ruangan ini. Keringat mulai membasahi jidat mulus bianca, Hati nya ketar ketir.
''Berapa usia mu bi ?'' Tanya gara yang duduk di sofa.
''Hampir dua puluh empat dad.'' Jawab bianca gugup.
''Bukan kah itu usia yang cukup matang untuk menikah ?'' Tanya gara lagi.
''Bianca masih tidak ingin menikah.'' Ujar bianca menunduk.
''Karena takut seperti rumah tangga jesslyn ?'' Pertanyaan gara lagi lagi meluncur.
Anggukan kepala bianca membuat gara mendesah berat, Sebelum nya gara tidak mempermasalah kan tentang keputusan bianca yang tidak ingin menikah.
Namun sekarang gara merasa khawatir tentang itu, Tentu saja karena jasson yang sangat gencar mendekati anak nya.
''Tidak semua pernikahan akan berahir perceraian, Lihat lah daddy dan mommy mu.'' Nasihat gara.
''Bianca akan mempertimbang kan nya nanti.'' Sahut bianca.
__ADS_1
''Daddy akan memberi mu waktu, Jika nanti sampai usia mu sudah dua puluh lima kau belum juga punya kekasih. Maka daddy akan menjodoh kan mu dengan kaisar.'' Putus gara.
''Tapi kak kai mencintai dinara dad.'' Protes bianca cepat.
''Dinara ?''
''Iya, Dia sendiri yang mengakui nya.'' Jawab bianca.
''Terserah lah, Yang penting daddy akan mencari kan mu calon suami.'' Putus gara melangkah pergi.
...****************...
"Ampun tuan, Saya tidak sanggup lagi." Hiba bodyguard yang menjadi lawan tinju jasson.
"Lemah sekali kau hah ?!" Sentak jasson.
Sudah lima bodyguard yang tumbang di hajar jasson, Pria ini menumpah kan rasa kesal nya dengan menghajar anak buah nya.
"Maju kau lukas." Perintah jasson.
"Jangan tuan, Jika saya babak belur. Siapa yang akan mengurus perusahaan." Hiba lukas di kaki jasson.
"Kenapa kau malah bersujud di kaki ku bodoh!" Sentak jasson.
"Ampun tuan, Aku tidak berani." Ujar lukas ketakutan.
"Hah, Bangs4t sialan!" Maki jasson meninju samsak dengan kuat.
Para bodyguard jasson langsung berlari menjauh, Mereka sudah hapal dengan sifat bos nya jika sedang kalap.
"Aku ini kekasih mu bianca! Kenapa kau tidak mengakui nya ?!" Teriak jasson masih meninju samsak.
"Ternyata dia patah hati." Bisik lukas pada big.
"Padahal tadi dia pergi dengan samangat." Jawab big sambil memegangi memar di pipi nya.
"Kasihan dia." Jawab lukas.
"Lagi pula kenapa ya nona bianca tidak mau mengakui tuan kita ?" Tanya big ikut berbisik.
"Tentu saja karena malu." Jawab lukas.
"Sudah selesai kalian bergosip ?!" Sinis jasson mendekati anak buah kepercayaan nya.
"Eeh ampuni kami tuan." Ujar lukas dan big bersamaan.
"Dasar mulut lemes!" Maki jasson bergegas pergi.
Big dan lukas langsung menghembus kan nafas lega karena tidak mendapat hukuman, Padahal tadi hati mereka sudah ketar ketir.
Praang.
"Suara apa itu ?" Kaget big.
"Aduuh ngamuk lagi." Keluh lukas berlari kedalam.
Ternyata ucapan lukas benar, Jasson tengah mengamuk membantingi barang barang mahal nya. Bahkan kaki nya sudah tertancap beling pun tidak ia perdulikan.
"Telepon lah nona bianca." Perintah lukas.
"Mana ada aku nomer ponsel nya." Jawab big panik.
__ADS_1
"Dasar tidak berguna." Kesal lukas.
Karena jasson benar benar tidak bisa di kendali kan, Akhir nya lukas menelepon bianca. Namun berulang kali berdering, Masih belum di angkat oleh dokter cantik itu.