
"Pergi! Anzel takut." Teriak anzel ketika semua anggota keluarga masuk.
Anzel baru saja sadar dari tidur panjang nya, Putra jasson sangat ketakutan melihat semua orang. Kecuali pada sang mama, Anzel hanya mau memeluk bianca.
"Ini papa sayang." Rayu jasson menahan sedih di hati nya.
"Tidak! Jangan mendekat, Anzel takut." Teriak anzel mulai menangis.
"Jangan takut nak, Ada mama ya sayang." Bujuk bianca mengusap kepala putra nya.
"Huaaaa! Mereka ingin menembak anzel lagi ma." Adu anzel mencengkeram pinggang bianca.
"Ini papa sayang." Jasson masih berusaha membujuk.
"Jangan! Anzel sakit." Rintih anzel.
Gara keluar dari ruangan karena tidak kuasa melihat ketakutan sang cucu, Dokter segera masuk untuk mengatasi.
"Seperti nya anzel trauma dengan kejadian itu bi." Ujar lusi menatap bianca.
''Jadi bagai mana lusi?'' Tanya bianca.
__ADS_1
''Setelah keadaan nya membaik, Kau harus membawa nya kepsikiater.'' Saran lusi.
Bianca mengangguk tanda setuju, Apa pun akan di lakukan nya agar anzel kembali lagi pada keadaan semula.
''Anzel takut ma.'' Rintih anzel masih ketakutan.
''Tenang ya sayang, Mama akan melindungi anzel.'' Bisik bianca menciumi wajah anak nya.
Dua bulan kemudian.
Meski anzel sudah berani kepada papa nya atau juga kepada sang kakek, Namun bocah ini masih tidak berani untuk pergi kesekolah atau pun keluar rumah.
Keadaan tubuh nya juga sudah pulih, Hanya luka jahitan nya saja yang terkadang masih terasa nyeri.
Karena anzel tidak mau untuk keluar rumah, Bianca memutus kan untuk home scool agar anzel tidak ketinggalan mata pelajaran.
Psikiater juga menyaran kan agar anzel untuk home scool, Entah sampai usia berana nanti. Yang terpenting anzel merasa nyaman.
''Anyelir jangan main jauh jauh, Nanti kakak tidak bisa melindungi ku dari uncle jahat itu lagi.'' Larang anzel ketika anyelir akan pergi bermain.
''Anye cuma main di halaman belakang.'' Jawab anye yang berkepribadian kalem.
__ADS_1
Walau pun bisa di bilang kalau anzel hampir lima persen kegilaan nya, Namun ia masih sangat perhatian kepada anyelir dan juga angela.
Setelah memutus kan besok hari adalah hari pertama anzel kembali belajar, Guru yang mengajar segera berpamitan.
''Angel jarang kesini ya sekarang ma.'' Keluh anzel.
''Angel sekarang lebih nyaman bersama uncle big sayang, Anzel senang kan kalau angel merasa nyaman.'' Ujar bianca.
''Tentu! Karena anzel adalah kakak yang baik." Jawab anzel tersenyum manis.
Hati bianca sangat gembira bisa melihat senyum bahagia anak nya kembali, Bagi nya tidak masalah walau pun anzel sedikit gila. Yang penting anak nya masih bernyawa dan bisa hidup bersama nya.
"Waktu itu kan anzel keluar dari kelas, Lalu ada uncle jahat datang kepada kami bertiga. Anzel tahu kalau itu uncle jahat, Jadi anzel menyuruh angel dan anye pergi masuk lagi kedalam kelas." Cerita anzel kepada bianca.
Bianca tersenyum mendengar cerita anak nya, Walau pun anzel masih berusia tujuh tahun. Tapi ia berusaha melindungi adik nya agar tidak ikut di culik.
"Anzel merasa bersalah sama angel ma." Ujar anzel menunduk.
"Kenapa sayang?"
"Gara gara ini menyelamat kan anzel, Uncle lukas jadi meninggal." Jawab anzel sedih.
__ADS_1
"Itu sudah takdir tuhan sayang." Ujar bianca memeluk anak nya.
Jika sudah mengingat kasus penculikan nya, Anzel pasti menangis. Menangis karena masih ada rasa takut, Menangis karena merasa bersalah pada angela.