Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Hari Kelima : Pergi ,Selamatkan Diri


__ADS_3

Kakek menyuruh mereka tetap tenang dan tetap di dekat kakek. Kemudian kakek mencoba berkomunikasi dengan dua sosok gaib penjaga tersebut. Penampakan dua sosok penjaga ini jauh lebih menakutkan daripada sosok yang dilawan oleh kakek, sehingga kakek mencoba jalan damai agar tidak ada yang terluka.


Setelah kakek berkomunikasi dengan dua sosok penjaga tersebut, mereka mendapati hasil yang mengecewakan. Mereka tak berhasil menemukan Ahmad ,karena penjaga gerbang gaib tersebut tak mengetahuinya. Mereka hampir saja putus asa, mereka kemudian memutuskan untuk mencarinya lagi di pagi hari karena sudah larut malam dan akan sangat berbahaya jika berkeliaran di kawasan mereka.


Di perjalanan pulang itu, mereka dihadang satu sosok yang terlihat melayang dan membawa pusaka semacam keris. Merekapun menghentikan langkah mereka,ia terlihat seperti ingin menyerang. Benar saja, ketika sosok itu melayang ke udara dan menggerakan keris yang ia pegang. Tiba-tiba saja ada bola api yang muncul dan mengarah pada mereka. Untunglah mereka dapat menghindari serangan makhluk tersebut, dan tidak ada yang terluka.


"Awas makhluk di depan kita ini seperti akan menyerang, menghindarlah!" kata kakek menyerukan pada anak-anak untuk menghindari serangan makhluk gaib tersebut.


Akibat dari serangan itu, membuat mereka lari ketakutan menyelamatkan diri. Tak lama Kemudian sosok itupun hilang seketika, namun tanpa disadari makhluk itu kembali muncul tepat di depan mereka. Tampaknya makhluk itu mengincar orang yang paling terlihat ketakutan, yaitu Iwan.


"Iwan,lari Iwan kesini,jangan lari ke arah sana, Iwan dengarkan kakek!" seru kakek pada Iwan yang lari ketakutan.


Tapi tampaknya Iwan tak bisa mendengar nasehat kakek karena rasa ketakutannya. Ia terus saja berlari mencoba menyelamatkan dirinya, hingga sampailah ia di suatu tempat yang sebelumnya belum pernah ia lihat. Meskipun tempat ia sebenarnya tidak terlalu mencurigakan atau terlihat aneh menurut Iwan.


" Tempat apa ini? Dimana aku sekarang?" kata Iwan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Iwan tetap berjalan perlahan melintasi tempat itu,memperhatikan sekitarnya sekedar berjaga-jaga jika ada makhluk yang menyerangnya lagi secara mendadak. Sementara itu, ditempat kakek,Selly,dan Cindy. Makhluk itu kembali muncul di hadapan mereka, kali ini makhluk itu membawa seperti cambuk yang bisa memanjang. Ketika cambuk itu diarahkan ke suatu tempat maka akan muncul kobaran api. Situasinya memburuk, mereka terjebak di kawasan milik penghuni gaib dimana tempat itu banyak Pepohonan Aren.


"Kakek ,apa yang harus kita lakukan kek? ini sangat berbahaya bagi kita." kata Cindy yang berlindung di belakang Pohon Aren.


Kemudian kakek berdoa dan mencoba untuk melawan makhluk tersebut.


"Kakek alan mencoba untuk melawan makhluk tersebut. Kalian pergilah ,susul Iwan. Ia berada ditempat yang aman!" seru kakek pada Selly dan Cindy.


Selly dan Cindy sempat membantah perintah kakek.


"Tapi kek,jika kakek sendirian kami khawatir kakek akan dalam bahaya." kata Selly yang membantah.

__ADS_1


Kemudian kakek meyakinkan mereka untuk meninggalkannya sementara mereka menyusul Iwan.


"Akan sangat sulit bertarung sambil melindungi kalian berdua sekaligus. Biar yang di sini kakek yang mengurusnya, cepatlah!" kata kakek.


Selly dan Cindypun meninggalkan kakek sendirian untuk menyusul Iwan, dan terjadilah pertarungan antara kakek dengan sosok jin kuat yang berkuasa di wilayah tersebut.


Sementara itu, Selly dan Cindy terus berlari menuju ke tempat Iwan. Iwan yang melihat Selly dan Cindy mengajak mereka untuk bersembunyi di balik Pohon Aren yang besar.


" Selly ,Cindy kemarilah. Aku di sini." kata Iwan mengajak Selly dan Cindy.


Iwan bertanya-tanya mengapa mereka tidak bersama kakek.


" Kenapa kalian hanya berdua? dimana kakek?" tanya Iwan dengan perasaan cemas.


Selly menjawab,


" Itu wan, kakek sedang melawan jin penguasa di tempat tadi. Kakek menyuruh kami untuk lari menyusulmu." kata Selly dengan sedikit penyesalan.


" Sebenarnya tadi aku juga sangat ketakutan, ini benar-benar membuat jantungku berdebar-debar. Tapi setelah aku sampai di sini. Aku justru ingin menyingkirkan perasaan takutku demi menolong kakek. Kakek yang sudah banyak membantu kita, ia menyelamatkan nyawaku, memberi tempat tinggal dan makanan enak. Kita harus kembali untuk menolong kakek." ajak Iwan dengan penuh keyakinan yang tergambar dari ekspresi wajahnya yang serius.


Selly dan Cindypun ingin mengikuti ajakan Iwan.


" Yang kamu katakan semuanya benar Wan. Baiklah aku akan ikut denganmu, bagaimana denganmu Cindy?" timpal Selly diikuti pertanyaan pada Cindy.


"Sebenarnya aku takut, tapi jika kalian sudah membulatkan tekad. Aku akan ikut dengan kalian." jawab Cindy dengan meyakinkan hatinya.


Merekapun bangun dan berjalan kembali ke tempat kakek.

__ADS_1


"Sebaiknya kita harus mempercepat langkah,semakin cepat kita sampai akan semakin baik, dan semoga tidak terjadi apa-apa pada kakek." kata Selly memperingatkan Iwan dan Cindy.


Sementara mereka menuju ke tempat kakek, kakek malah sedang bersusah payah menghindari amukan makhluk gaib tersebut. Makhluk gaib tersebut bisa menyerang tanpa menunjukan wujudnya yang membuat Kakek Dul kewalahan menghadapinya.


"Bagaimana ini, makhluk ini begitu kuat, tenagaku sudah hampir habis. Sebaiknya aku memasrahkan diri pada yang di atas, semoga tuhan melindungiku. Terutama anak-anak itu. Mereka sama seperti anak cucuku." kata kakek di dalam hatinya yang mulai pasrah dengan keadaan.


"Memang jauh lebih baik mati lebih dulu daripada keturunanku yang mati lebih dulu, generasi penerus yang masih punya banyak mimpi jangan terburu-buru mati." ucap kakek dengan senyum kecil yang tergambar di wajahnya.


Ketika kakek mulai kehabisan tenaga, Iwan dan teman-temannya yaitu Selly dan Cindy sampai di tempat kakek.


"Kakek ,kakek. Kami akan membantumu kek,bertahanlah!" teriak Iwan pada kakek.


Kakek terkejut dengan kedatangan mereka. " Kalian, mengapa kalian kembali kesini ?" tanya kakek yang terkejut.


Cindypun menjawab,


" Kami tidak akan membiarkan teman,keluarga,saudara kami terluka demi melindungi kami. Itulah tekad kami semenjak kami menginjakan kaki kami di sini." kata Cindy dengan napas kelelahan.


" Terimakasih ,kakek sangat senang baru kali ini kakek kembali merasakan hangatnya kekeluargaan lagi." kata kakek diikuti air matanya yang menetes sebab terharu.


Cindy dan Selly merangkul kakek.


" Kami akan merangkul kakek, bertahanlah kek, sampai Kita dapat tempat yang aman untuk berlindung."


Sementara itu, Iwan akan berjalan paling belakang untuk berjaga-jaga jika nantinya ada serangan mendadak yang mengarah pada mereka dari belakang. Dengan tertatih ,pelan tapi pasti mereka menjauh dari kawasan Pepohonan Aren tersebut, dan kembali ke arah hutan. Hari sudah mendekati pagi, tak terasa mereka berjalan hingga cukup jauh semalam. Sedangkan Johan dan Nek Ningsih yang berada di pondok tak dapat tidur dengan tenang ,apalagi Johan yang kondisi kakinya belum membaik.


"Bagaimana dengan kondisi mereka? kenapa mereka begitu lama sampai-sampai sebentar lagi matahari terbit. Sedangkan kondisiku belum menunjukan tanda-tanda kemajuan." kata Johan yang gelisah namun harus puas tidur di ranjangnya.

__ADS_1


" Johan, apa kamu sudah bangun nak?" tanya Nek Ningsih sambil membuka pintu kamar Johan.


" Eh nenek, masuk nek. Aku malah tidak bisa tidur nek, mengkhawatirkan mereka yang tak pulang-pulang hingga pagi." jawab Johan dengan kepala tertunduk.


__ADS_2