
Johan berhasil diselamatkan dari bahaya yang sempat mengancam nyawanya, sedangkan tim telah kembali bersama dalam kondisi yang sudah damai. Setelah kerjasama yang mereka tunjukan tadi, mereka langsung bermaaf-maafan. Masing-masing dari mereka telah menyadari keegoisan diri yang mereka tunjukan malah bisa membahayakan nyawa sahabat.
" Terimakasih semua. Dari lubuk hati yang paling dalam aku juga mau meminta maaf, karena telah merepotkan. Kalian memang sahabat sejati, tanpa kalian mungkin aku sudah jatuh ke jurang." kata Johan.
" Aah sudahlah, kita kan sahabat." jawab mereka berempat dengan kompak.
Permintaan maaf dari Iwan dan Selly turut menyertai.
" Maafkan aku Sell. Sebenarnya aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Saat itu aku terbawa emosi karena sedang lapar juga." kata Iwan yang tertunduk.
Lalu Selly tersenyum seraya memandang Iwan, dan tiba-tiba Selly seperti hendak menampar Iwan, yang dapat dilihat dari gestur tangannya.
" Selly..jangan!" teriak Ahmad, Cindy dan Johan.
Rupa-rupanya, Selly tidak bermaksud untuk menampar Iwan melainkan menepuk pundaknya dan menjabat tanda Iwan tanda ia telah memaafkannya.
" Kalian tidak usah tegang seperti itu, santai saja. Masa sih aku tidak mau memaafkan sahabatku yang berkacamata ini." ujar Selly dengan nada bercanda.
" Oalah..ternyata, membuat kami kaget saja, dengan gestur seperti itu." respon Johan sambil menepuk dahinya.
Seketika suasana kembali mencari di antara mereka semua, diselingi canda tawa yang menghangatkan suasana di tengah lebatnya hujan pagi itu. Memang seharusnya seperti itu, sebagai manusia harus bisa saling memaafkan. Mereka berlima melakukan tos tanda bahwa tim mereka telah kembali seperti semula.
" Hip-hip!" suara Johan memimpin. Lalu diikuti balasan dari sahabatnya yang sekaligus anggota kelompok.
" Hooray." serentak.
" Jadi apa rencana kita kali ini?" tanya Selly pada teman-temannya.
" Sebaiknya kita kembali ke tempat aku mendirikan bivak saja, kita berteduh disana sekaligus mendirikan tenda agar cukup untuk kita semua." jawab Johan.
" Seetujuu.." respon dengan kompak.
Mereka berlima kemudian berjalan kembali menuju titik awal perselisihan dan tempat bivak Johan.
" Cindy bantulah aku, kakiku masih begitu sakit dan sulit digerakan." kata Selly meminta tolong.
Cindy merangkul Selly agar langkahnya sedikit lebih ringan. Hujan lebat di pagi itu terus berlanjut hingga hari menjelang siang. Mata air yang sebelumnya kecil sekarang terlihat seperti sungai yang tengah banjir. Sekarang kondisi mereka telah basah kuyup, daripada kedinginan nantinya dan jatuh sakit, merekapun memutuskan untuk sekalian mandi di mata air yang berada tak jauh dari jalan yang mereka lewati.
" Kita sudah basah kuyup, bagaimana ini?" tanya Cindy.
" Sekalian saja kita mandi." Ahmad menyaut.
__ADS_1
" Nah, ide yang bagus, brilian. Kebetulan dari hari kemarin aku belum mandi." kata Selly.
" Aku setuju, yang dikhawatirkan kita masuk angin, badanku juga sudah lengket." Johan lantas menunjukan dimana letak sumber air yang paling dekat dengan mereka.
" Kurang lebih, 50 meter dari tempat ini ada sumber mata air. Kalau tidak salah prediksiku 50 meter ke arah Selatan."
Kemudian mereka mencoba mencari ke arah Selatan, memang benar terdengar suara derasnya air tak jauh lagi dari mereka.
" Wah..wah..wah..kamu memang top, kamu bisa menebak, tapi tebakanmu masuk akal, Jo." itulah pujian dari Ahmad untuk Johan.
" Aah, tidak juga. Ini mungkin hanya kebetulan saja dan perasaanku serasa yakin."
Kelompok tersebut hendak lebih mendekat ke air tersebut, dan setibanya mereka disana yang mereka lihat adalah...
" Waaah..luar biasa, ternyata disini, wow." kata Ahmad yang kagum.
" Fastastis bagaimana bisa?" reaksi Cindy yang seakan masih tidak mempercayai hal yang dilihat olehnya.
" Jo, ini keren." singkat saja pujian dari Iwan.
Sedangkan Selly hanya ternganga lalu tersenyum ke arah Johan.
" Yah aku sebenarnya juga tidak mengetahui hal ini, tapi ketika tadi ada jurang, mungkin kita akan menjumpai sungai panjang dan air terjun mini ini." kata Johan.
" Eeumm, bagaimana kita telusuri sungai ini, lalu kita mandi sekitar sana, di bagian hulu sungai ini saja." ajak Cindy.
" Ayo!" jawab mereka kompak.
" Hip-hip!"
"Hooray."
Mereka berlima menyusuri sungai tersebut ,ternyata suasana disana lebih mendukung kehidupan ,daripada jauh di tengah hutan dengan berbagai macam bahaya yang setiap detiknya mengintai, atau gangguan-gangguan dari para penghuni asli hutan tersebut.
" Ada yang punya saran?" tanya Johan sambil memandangi wajah teman-temannya.
" Saran tentang rencana kita? maksudku rencana penelitian kita?" tanya Selly.
" Iya itu yang aku maksud." jawab Johan.
" Sebaiknya kita makan saja dulu, kita istirahat disini dan mendirikan tenda." usulan dari Iwan.
__ADS_1
" Oiya, ketika aku dan Iwan kembali berkumpul, wajah Iwan sudah sangat pucat, bahkan ia pingsan." saut Ahmad.
" Kalau begitu, baiklah. Kita istirahat disini, laki-laki akan mendirikan tenda, dan mengumpulkan kayu bakar. Sedangkan perempuan, kalian akan memasak untuk kita semua." kata Johan.
" Setelah semuanya selesai ,barulah kita mandi, benar begitu bukan?" tanya Iwan yang diikuti tawa oleh teman-temannya.
Hari sudah semakin siang, hujan perlahan berubah menjadi terang oleh sinar matahari, suasana yang tadinya dingin ,perlahan menjadi lebih hangat.
" Ayo kita turunkan barang bawaan kita." ajak Ahmad.
" Untuk menghemat waktu, pencarian kayu bakar karena kondisinya setelah hujan mungkin akan sulit, alangkah lebih baiknya jika yang mencari dua orang dari kita." saran dari Johan.
" Baiklah, ide bagus. Aku dan kau saja Jo, aku percaya Iwan bisa mengurus pendirian tenda, dibantu Selly dan Cindy, selagi belum ada kayu bakar untuk memasaknya." usulan dari Ahmad dapat diterima oleh semuanya.
Tak banyak basa-basi mereka berdua, Johan dan Ahmad langsung pergi untuk mencari kayu bakar ke dalam hutan.
" Sepertinya tugas kita cukup menyulitkan kita ya, Mad." kata Johan.
" Begitulah, apalagi matahari masih belum menampakan diri sepenuhnya, pasti akan sulit mengeringkan kayu-kayu nantinya." jawab Ahmad.
Johan dan Ahmad memungut kayu-kayu yang telah berjatuhan di tanah, mereka juga mengambil kayu dengan cara menebang pohon-pohon kecil yang sudah kering tak berdaun dan hampir mati. Disela-sela kegiatan mereka Selipi dengan candaan-candaan.
" Jo,aku punya tebak-tebakan, jawablah jika kamu memang pandai,haha." kata Ahmad menggoda Johan.
" He eleeh, kamu pasti tahu aku jago dalam tebak-tebakan , ayo apa pertanyaanmu." jawab Johan.
" Oke oke,Kenapa burung tidak suka berjalan kaki di tanah?" tanya Ahmad.
" Apa kamu menyerah?" imbuhnya.
" Woy, aku baru berpikir ,sabarlah. Tunggu, kenapa burung tidak suka berjalan di tanah, itu sangatlah mudah. Jawabannya takut dimakan kucing." jawab Johan dengan percaya diri.
" Haha..percaya diri yang bagus anak muda, tapi sayang sekali, jawabanmu salah lagi tak dibenarkan." kata Ahmad.
" Apa? jadi jawabannya apa yang benar?" tanya Johan.
" Santai santai, jawabannya ya karena kebanyakan burung bisa terbang kenapa harus jalan kaki." jawab Ahmad.
" Hanya itu?" tanya lagi Johan.
" Iya memang hanya itu." jawab Ahmad.
__ADS_1
" Sial,itu si aku tahu." ujar Johan.
" Kalau tahu tapi tidak bisa menjawab, haha." kata Ahmad menyindir Johan lagi.