Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Rintangan Menghadang


__ADS_3

Ayo Kita harus melanjutkan, dan ingatlah untuk terus berhati-hati." seru Johan pada teman-temannya.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka, hingga tak terasa matahari sudah di atas kepala, hari sudah siang dan dengan kondisi perut mereka yang mulai lapar, Merekapun memutuskan untuk mencari tempat untuk singgah serta mendirikan tenda.


" Hari sudah siang, matahari sudah tepat di atas kepala. Bagaimana jika kita mulai mendirikan tenda dan beristirahat, sepertinya di depan ada tempat yang cukup bagus untuk berkemah." kata Ahmad mengajak teman-temannya.


Mereka menyetujuinya, terutama Johan.


" Iya aku setuju, kakiku juga sudah mulai lelah. Memang sudah terasa lebih baik tetapi ini terasa kaku di bagian tungkai." kata Johan dengan memegangi kakinya yang tertatih-tatih.


Mereka sebenarnya tak ingin terburu-buru untuk melanjutkan petualangan mereka, namun karena mereka sudah tidak tahan dengan gangguan gaib di lokasi sebelumnya dan tak ingin lagi menyusahkan Kakek Dul dan Nek Ningsih,mereka memutuskan untuk segera pergi. Meskipun Johan masih belum membaik kondisi kakinya.


" Ayo Wan. Kita dirikan tenda disini. Johan kamu beristirahat saja, lemaskan kakimu, agar cepat sembuh." kata Ahmad mengajak Iwan sambil menurunkan tasnya yang berisi tenda.


" Baik Ahmad. Ayo segera ,prediksiku sore ini akan turun hujan lebih cepat dari hari sebelumnya." kata Iwan jawab ajakan Ahmad.


Iwan dan Ahmad membersihkan tanah serta meratakannya ,lalu mendirikan tenda dengan patok yang telah mereka bawa. Sedangkan Selly dan Cindy beristirahat sebentar, sambil menurunkan tas untuk mempersiapkan Bahan makanan yang akan mereka masak. Johan sebenarnya sangat ingin membantu mereka ,namun apa daya kakinya tak mengijinkan dirinya untuk melakukan aktivitas tersebut. Ia hanya bisa melihat kerja teman-temannya. Merasa ingin berguna, Johanpun ingin ikut membantu Selly dan Cindy untuk memasak.


" Selly,Cindy. Bolehkan aku ikut membantu kalian untuk memasak, daripada aku hanya duduk diam seperti patung yang hanya bisa menonton." kata Johan menawarkan dirinya.


Selly menjawab,


" Tentu saja boleh Johan. Asalkan jangan membantu kami yang mengharuskan kakimu bergerak, mengerti," kata Selly menegaskan.


Johan setuju dengan syarat tersebut, ia membantu untuk menggoreng umbi-umbian yang dibawakan oleh Nek Ningsih.


" Wah bukankah ini umbi-umbian yang sering dimasak oleh nenek." kata Johan yang senang melihat umbi-umbian pemberian nenek.


Cindy menjawab,

__ADS_1


" Iya betul, itu umbi-umbian yang ditanam oleh nenek dan kakek di belakang rumah. Rasanya sangat lembut." kata Cindy sambil membayangkan rasa dari umbi tersebut jika telah dimasak.


Selly menimpali,


" Yah memang ini bisa sangat membantu persediaan bahan makanan kita,setidaknya untuk beberapa hari kedepan. Makanan sederhana ini terasa sangat mewah jika dalam kondisi sulit seperti sekarang." ujar Selly dengan bijak.


Ketika mereka bertiga belum selesai memasak, Ahmad dan Iwan sudah terlebih dahulu menyelesaikan pekerjaan mereka mendirikan tenda. Ahmad dan Iwan mendirikan 2 tenda untuk masing-masing laki dan perempuan terpisah.


" Johan, Kami telah menyiapkan tendanya. Sebaiknya kau istirahat dulu, biar kami berdua yang menggantikan pekerjaanmu." seru Ahmad menyarankan Johan untuk beristirahat di tenda.


Johan menyambut baik tawaran dari Ahmad,


" Baiklah, aku serahkan pada kalian. Sebelumnya terimakasih kalian sudah mendirikan tenda, dan maafkan aku tak bisa membantu banyak." kata Johan yang sedikit menyesalkan dirinya kurang berguna dan menganggap dirinya merupakan beban.


Mereka berempat tersenyum pada Johan, dan mendoakannya.


" Tak apa-apa kapten. Cepatlah sembuh dan segeralah pimpin kami kembali." kata Iwan pada Johan.


" Akhirnya semua telah matang. Ayo Kita makan. Oiya Wan, bangunkan Johan ajak dia makan juga." kata Cindy menyuruh Iwan membangunkan Johan.


Iwan menghampiri tenda.


" Johan bangunlah, Johan. Johan makanan sudah siap semua. Ayo Kita makan." ucap Iwan membangunkan Johan mengajaknya makan.


Johan terbangun dari istirahatnya." Apa sudah matang Wan?" tanya Johan sambil mengusap matanya.


" Sudah Jo. Ayo keluarlah." jawab Iwan lalu membantu Johan berjalan keluar tenda.


Ketika keluar, mereka semua ternyata telah menunggu Johan, mereka tak ingin makan lebih dahulu. Semuanya ingin makan bersama-sama.

__ADS_1


Akhirnya mereka berlima makan bersama ,di tengah makan bersama tersebut, Iwan melihat ada kelabang yang keluar dari lubang di tanah. Kelabang itu mendekat ke arah kakinya, sontak saja Iwan kaget dan melompat ketakutan. Begitu pula dengan teman-temannya yang ikut-ikutan kaget melihat Iwan. Kelabang tersebut berukuran cukup besar ,sekitar 2 jari orang dewasa ,berwarna hitam. Membayangkannya saja sudah membuat takut apalagi jika sampai tergigit oleh kelabang tersebut.


" Awas teman-teman, ada kelabang yang mendekat." kata Iwan yang kaget dan panik.


Semua teman-temannya yang terkejut langsung berdiri karena ketakutan. Mereka takut karena mereka hanya duduk di tanah dengan rumput yang pendek tanpa alas. Johan yang kakinya belum sembuh juga ikut berdiri ,begitu juga dengan Cindy yang lari menjauhi kerumunan.


" Jangan bercanda Iwan, mengagetkan saja." kata Cindy membentak Iwan. Iwan menjelaskan,


" Itu kelabangnya ada di belakang Selly." kata Iwan sambil menunjuk ke arah kaki Selly.


Ternyata yang dikatakan oleh Iwan benar adanya. Ada kelabang besar di dekat kaki Selly. Namun ,Selly menunjukkan keberaniannya, yaitu dengan mengambil ranting kayu dari api unggun yang digunakan untuk memasak tadi. Selly berhasil membunuh kelabang tersebut. Ahmad berkata pada Selly,


" Wah Selly. Kamu memang hebat Sell. Kamu berani membunuhnya meskipun takut digigit. " kata Ahmad memuji Selly.


Selly tersipu malu,


" Ini karena reflek saja, sedang panik." kata Selly merendah.


Setelah itu, mereka kembali melanjutkan makan siang mereka, mereka segera menghabiskannya karena langit mulai mendung, awan hitam mulai menutupi pancaran sinar matahari.


" Ayo segera kita selesaikan makannya. Lihatlah,sudah mulai mendung mungkin akan turun hujan lebih cepat dari dugaan kita. Selain itu, Kita harus membawa masuk kayu bakar agar tidak basah karena hujan." seru Johan pada teman-temannya.


Setelah selesai makan ,mereka melaksanakan yang diperintahkan oleh Johan untuk membawa masuk kayu bakar ke dalam tenda. Tenda yang mereka gunakan lumayan luas, satu tendanya bisa muat untuk delapan orang, sedangkan mereka hanya berlima. Mereka sengaja membawa tenda yang besar agar tak terlalu dingin jika dengan tenda yang luas. Selain itu ,mereka juga membawa mantel untuk melapisi tenda mereka agar tidak meresap ke dalam apabila hujan turun dengan deras.


Dugaan mereka benar, tak berselang lama setelah mereka mengamankan kayu bakar, hujan turun dengan deras. Selly dan Cindy ikut bergabung dengan tenda Johan,Iwan,dan Ahmad sekaligus membahas tentang rencana penelitian mereka selanjutnya.


Cindy membuka diskusi,


" Bagaimana dengan rencana penelitian kita selanjutnya? " tanya Cindy pada teman-temannya.

__ADS_1


Tiba-tiba Ahmad memotong pembicaraan tersebut. Ahmad ingin menceritakan sesuatu.


__ADS_2