Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Terhimpit dalam goa yang sempit 6


__ADS_3

Mereka berlima telah berhasil melewati rintangan serta bahaya yang hampir saja membahayakan nyawa. Kini mereka melanjutkan perjalanan mencari jalan keluar dari goa tersebut, meskipun dalam kondisi minim pencahayaan.


" Berhati-hatilah, meski goa ini semakin naik ,tetapi lihatlah di samping kita ada sungai deras yang mengalir. Jika tak hati-hati kita akan terjatuh dan tidak tahu apa yang akan terjadi." Kata Ahmad memperingatkan teman-temannya.


Semakin mereka masuk , semakin pengap pula udara di sekelilingnya. Hal itu jelas dirasakan oleh mereka ditambah kegelapan yang menyelimuti tempat tersebut. Salah satu dari mereka, seorang yang takut akan kegelapan yaitu Cindy, mulai merasakan sesak napas. Sesak napas yang ia alami bukan tanpa alasan, karena ia memang sejak kecil jika dalam kondisi gelap merasa sesak. Kondisi itu tentu membuat teman-temannya mengkhawatirkan kondisi fisik Cindy yang bisa saja drop kapan saja.


" Huuuh..huuuh..huuh.." suara napas Cindy terdengar jelas.


" Kamu kenapa Cindy ? " Tanya Selly pada sahabatnya itu.


" Huuh..Selly, tolong aku, tolong aku." Jawab Cindy yang masih terengah-engah.


Johan , Iwan ,dan Ahmad berpaling ke arah Cindy.


" Cindy..Cindy..apa asmamu kambuh lagi ? " Tanya Ahmad.


" Ini sudah jelas Mad, asma Cindy kambuh, coba kau lihat dalam tasnya." Seru Johan pada Ahmad.


Selly membantu Cindy untuk duduk, agar membantunya mengambil napas secara teratur.


" Cindy duduk dulu,akan berbahaya jika kau pingsan lalu jatuh ke sungai deras itu, jadi tenangkan dirimu." Kata Selly.


Cindy duduk dan meletakkan tas miliknya, kemudian Ahmad memeriksa tas Cindy untuk mencari obat asma. Cukup lama bagi Ahmad mencari obat yang dimaksud karena dalam kegelapan benar-benar menghambat mereka.


" Aduuh,dimana si obatnya. Sulit sekali mencari barang dalam kegelapan." Keluh Ahmad.


" Sudah ketemu belum Mad ? " Tanya Iwan.


" Maaf Wan, belum ketemu. Tapi, bisakah kau bantu aku mencarinya ? " Pinta Ahmad pada Iwan.


" Tentu saja, mari aku bantu mencari." Jawab Iwan.


Ketika Ahmad dan Iwan tengah sibuk mencari obat asma Cindy , Cindy justru kondisinya semakin memburuk. Ia terlihat sangat lemah ,bahkan dalam kondisi berbaring saja dirinya masih sulit bernapas.


" Huuuh...sssstt..ffyuuh." suara napas Cindy terdengar jelas betapa sulitnya ia melakukannya.


" Bertahanlah Cindy, kami akan berusaha segera membawamu keluar." Kata Johan.

__ADS_1


" Teman...Teman...Jika aku hanya sampai disini...pastikan kalian semua tetap bersama yaa." Kata Cindy lirih.


" Cindy...Cindy jangan katakan itu lagi, kami akan menolongmu dan kau akan selamat." Tegas Selly.


Lantas suasana menjadi tegang, semua terdiam dan panik. Mereka harus segera membawa Cindy ke tempat yang lebih lapang oksigennya. Beberapa saat kemudian, Ahmad dan Iwan menemukan obat asma milik Cindy.


" Akhirnya ketemu juga." Kata Iwan ,lalu menyerahkannya pada Selly.


Selly segera memberikan bantuan oksigen , mereka berhasil menyelamatkan Cindy meskipun harus sampai detik akhir.


" Syukurlah kondisimu membaik sekarang Cindy, kami senang kau tidak apa-apa." Kata Selly dengan senyum di wajahnya.


Cindy senang karena teman-temannya ternyata begitu peduli dengannya.


" Terimakasih teman-teman, kalian adalah orang yang sangat baik, peduli denganku." Kata Cindy yang masih terlihat lemah.


" Sama-sama Cindy, kita harus saling tolong menolong. Serta yang paling penting kita selalu bersama." Jawab mereka kompak.


Kondisi Cindy telah membaik , ia bisa segera melanjutkan perjalanan bersama teman-temannya meski harus tertatih. Kini , mereka semakin mendekati celah yang mereka duga adalah sebuah jalan keluar dari goa tersebut.


" Semuanya aman ? " Tanya Johan.


" Ayo kita lanjutkan perjalanan, aku khawatir goa ini sebentar lagi akan runtuh." Ajak Johan.


Setapak demi setapak mereka lalui , kehati-hatian serta fokus sangat diperlukan karena jalan yang mereka lalui cukup terjal, yaitu hanya seukuran untuk dua orang bersebelahan.


" Ayo senternya ,disini semakin gelap saja." Kata Ahmad.


Ujian terberat sepertinya mulai menyambut mereka, sebab kini lorong goa tersebut terlihat semakin sempit saja. Sambil terus berjalan, mereka membicarakan lorong goa tersebut.


" Teman-teman, sepertinya lorong goa ini semakin sempit saja." Ujar Ahmad.


" Sepertinya memang begitu Mad, aku juga merasakan semakin pengap disini." Jawab Johan yang berada paling belakang.


" Setelah kuperhatikan lebih seksama, lorong goa ini seperti huruf J, semakin naik semakin sempit pula." Imbuh Iwan.


" Kalau begitu adanya, apakah tidak apa-apa bagi Cindy ? " Tanya Selly cemas.

__ADS_1


Semuanya terdiam seketika, mereka mulai mencemaskan Cindy juga.


" Semoga tidak apa-apa, baik bagi Cindy ataupun kita semua. Semoga kita selamat." Kata Johan.


Ucapan Johan menenangkan hati teman-temannya. Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 03.10 dini hari. Udara semakin minim ketika mereka semakin dalam, tetapi suhu terasa hingga menusuk tulang. Beberapa diantara mereka mulai mengeluh karena tidak tahan dengan suhu di tempat tersebut ,seperti Cindy yang diketahui mengidap asma turunan, hal yang sama juga dirasakan Selly dan juga Iwan. Akan tetapi ,jika mereka berhenti tidak bisa menghasilkan panas tubuh. Cara terbaik mengeluarkan panas adalah hanya dengan bergerak.


" Dingin sekali tempat ini." Keluh Cindy.


" Bersabarlah ini ujian, tapi aku yakin setelah ini kita akan bisa keluar dengan selamat, aku yakin itu." Sanggah Johan.


" Bisakah kita berhenti sebentar ? " Tanya Selly.


" Bisa tapi jika kita berhenti malah akan semakin terasa dingin, sebab panas tubuh tidak keluar. Apa kau mau menggigil di tempat ? " Tanya Ahmad.


" Iyaiya, ada benarnya katamu Mad. Tapi ,teman-teman lihatlah sekarang." Kata Selly sambil mengarahkan senternya ke sekeliling.


" Tempat ini...tempat ini semakin mengecil." Kata Ahmad yang terkejut.


" Benar dugaanku, tempat ini berbentuk seperti huruf J semakin naik maka akan semakin sempit pula lorong yang akan kita lalui." Jawab Johan.


" Lalu bagaimana dengan nasib kita , aku khawatir kita tidak bisa keluar dari tempat ini karena satu atau lain hal." Kata Selly yang tengah cemas.


Semuanya terdiam, tak ada yang tahu apa yang akan mereka hadapi kedepannya.


" Kini kita hanya perlu terus melangkah, entah sekecil apapun jembatan yang akan kita lalui, entah seberapa sakitnya kerikil yang menerjang kaki ,just do it." Tegas Iwan.


Dari mereka berlima ,hanya Iwan yang masih terus optimis meskipun sebenarnya ia juga tidak tahu pasti langkah apa yang harus dilakukan.


" Benar katamu Wan, kita tidak seharusnya menyerah disini. Kita tidak boleh mengalah dengan keadaan , rintangan harus kita terjang." Kata Johan dengan bersemangat.


" Untuk itu kita harus solid , kompak berlima. Jika kurang satu maka akan memperkecil kesempatan kita untuk bisa keluar." Kata Ahmad menambahkan.


Kini mereka mulai menemukan motivasi yang sempat padam, perlahan tapi pasti mereka terus melangkah. Meskipun kini, jalan yang mereka lalui mulai sulit.


" Berhati-hatilah karena jalannya menanjak dan kita harus menunduk agar muat." Kata Ahmad memperingatkan teman-temannya.


" Baik Mad ,kami mengerti." Jawab Cindy.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2