Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Survival Act 5


__ADS_3

Cerita berlanjut dengan Johan dan Ahmad yang yang melihat banyak sekali ular di tempat mereka menginap atau lebih tepatnya di bawah pohon tua tempat mereka tak sadarkan diri semalam. Johan dan Ahmad berbincang mengenai banyaknya ular tersebut karena mereka sedang berada di sarang ular, mereka menyebutnya mirip seperti pulau ular atau Ilha da Quemada Grande.


" Bukankah waktu itu, kita ada kegiatan pecinta alam waktu awal masuk disuruh untuk memegang ular Jo." tanya Ahmad.


" Itu karena terpaksa saja sebenarnya Mad, aslinya si tidak berani meskipun hanya melihat sorot mata dan kulitnya saja membuatku ngeri." jawab Johan.


" Apa sekarang sedang musim kawin bagi ular-ular itu Jo ? " tanya Ahmad.


" Entahlah aku tidak tertarik dengan ular ,kau tahu kan." jawab Johan.


" Atau musim bagi telur - telur ular menetas." saut Ahmad.


" Tolonglah ,aku jadi tidak bisa tenang dan membuatku melihat ke bawah takut ada ular hiii." kata Johan.


Sementara itu, di tempat lain. Selly , Iwan , Cindy sudah memulai perjalanan mereka mencari Ahmad dan Johan. Mereka tampak berpakaian santai, terlihat hanya membawa peralatan serbaguna yang bisa digunakan kapan saja.


" Sudah pagi, seharusnya mencari mereka akan lebih mudah." ujar Selly.


" Aku malah berpikir sebaliknya." timpal Iwan. " Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu ? " tanya Selly.


" Eeeumm..menurutku jika mereka masih tidur di saat ini akan lebih mudah, karena mereka kan tidak berpindah-pindah. Lain halnya jika mereka sudah bangun ,lalu mereka pasti akan mencari jalan untuk pulang atau jika mereka tidak tersesat mereka akan berjalan-jalan dengan rasa penasaran." jawab Iwan.


" Cukup masuk akal, tetapi jika mereka lapar bagaimana ? " tanya Cindy.


Tiba-tiba perut mereka bertiga berbunyi, yang menandakan mereka harus makan untuk mengisi perut.


" Jangankan mereka, kita saja sudah mulai kelaparan." kata Selly.


" Ayo kita cari sesuatu untuk dimakan juga." Selly mengajak Iwan dan Cindy untuk mencari makanan sekedar mengganjal rasa lapar mereka.


Mereka bertiga menysusuri hutan ,mencari tumbuhan yang bisa segera mereka makan. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan bahan makanan, tak jauh dari tempat mereka berdiri ada rerumpunan pohon bambu.


" Lihatlah Selly ,Cindy..di depan kita ada pepohonan bambu." teriak Iwan.


" Oiya ,syukurlah. Pucuk dicinta ulampun tiba." kata Selly yang kegirangan.


" Wan, coba kamu cari apakah ada rebung disana atau tidak." pinta Cindy.


" Baiklah, ini demi kalian." jawab Iwan.


Iwan mendekati pepohonan bambu tersebut. Sekilas tak ada yang salah atau aneh dari pepohonan bambu tersebut, sehingga Iwan berani untuk pergi sendiri.


" Syukurlah ,tempat ini aman sepertinya alam memang bersahabat dengan manusia." ucap Iwan.

__ADS_1


" Eee..kira-kira pohon yang mana ya yang memiliki rebung, cukup banyak pohon bambu disini." gumamnya dalam hati.


Setelah beberapa saat ,Iwan berhasil menemukan rebung yang ia cari, bahkan ia menjumpai hingga 3 rebung, yang pastilah akan cukup untuk mereka bertiga dan juga Johan dan Ahmad. Iwan mengambil pisau serbaguna miliknya.


" Alhamdulillah rebung-rebung ini pasti cukup untuk kami semua." ujar Iwan.


" Eee..sebaiknya aku harus bergegas sebelum kami semua kelaparan." imbuhnya.


Setelah memperoleh rebung, Iwan membersihkannya dari dedaunan bambu dengan air, lalu membawanya kembali ke Selly dan Cindy. Ketika Iwan kembali, Selly dan Cindy mencari buah-buahan untuk tambahan nutrisi yang kaya akan serat.


" Selly..disini sekilas aku melihat berry hutan." kata Cindy.


" Ah yang benar, kamu ngga bercanda kan ? " tanya Selly.


" Kali ini aku serius, ayo kita cari disekitar sini." ajak Cindy pada Selly.


" Oke tapi tunggu aku ,kakiku masih sedikit sakit untuk berjalan cepat." jawab Selly.


Kemudian Cindy menjemput Selly ,lalu merangkulnya. Mereka berdua berjalan-jalan sambil mencari bahan makanan tambahan. " Benar kan kataku, disini ada berry hutan." teriak Cindy.


" Kau jni menemukan berry hutan seperti menemukan harta Karun sebongkah emas." kata Selly.


" Hehe..tapi memang tak salah juga menyebut makanan seperti ini sebagai harta Karun tahu." kata Cindy.


" Sudah-sudah, sebaiknya kita cepat kumpulkan ini, selagi Iwan belum kembali." sambungnya.


Sementara itu, Iwan yang kembali dengan membawa rebung. Di perjalanan ia menjumpai tokek di sebuah pohon besar. Tokek tersebut berukuran lumayan besar.


" Hewan apa itu ? " tanyanya dalam hati.


" Hewan itu seperti tokek, tapi tunggu...ukurannya benar-benar membuatku terkejut." ujar Iwan.


Iwan lalu mencoba mendekati tokek tersebut. Dengan sebilah pisau di tangannya ia berani mendekati tokek tersebut, sekedar untuk berjaga-jaga apabila tokek itu menyerangnya.


" Ya Tuhan, besar sekali tokek itu. Itu jauh lebih besar dari tokek yang biasa menampakan diri di atas pintu rumahku." gumamnya dalam hati.


" Kalau dilihat-lihat tokek besar itu memiliki daging yang banyak,.eeumm yummy." pikir Iwan.


" Tapi bagaimana aku akan menangkap tokek itu ya." pikirnya kembali.


Lalu ia melihat sekelilingnya ,dan menjumpai ranting pohon.


" Aha ada ranting pohon, aku pakai itu saja." ujar Iwan.

__ADS_1


Iwan menggunakan ranting pohon untuk menjatuhkan tokek yang ada di pohon, dan tokekpun jatuh ke tanah. Segera Iwan menahan tokek agar tidak lari lalu menangkapnya. Pada akhirnya ia menyembelih tokek tersebut.


" Aku pernah makan tokek, dan entah mengapa aku tidak takut jika ada tokek." gumamnya.


Lalu Iwan kembali ke tempat Selly dan Cindy, begitu pula dengan mereka berdua yang tiba secara bersamaan dengan Iwan.


" Apa yang kau dapat Wan ? " tanya Cindy.


" Aha aku dapat banyak, cukup untuk kita semua bisa sampai makan malam." kata Iwan yang masih menyembunyikan bahan makanan yang didapatnya.


" Kalian dapat apa ? " tanya balik Iwan.


" Kami mendapat buah berry hutan, eeumm sangat segar, lumayan lah serat pangan sekaligus cemilan pengganjal lapar." ucap Selly.


" Perlihatkan pada kami apa kamu dapat tadi." pinta Cindy yang menyudutkan Iwan.


" Baiklah-baiklah, ini dia." kata Iwan sambil menunjukan perolehannya.


" Rebung ya ,wah ada 3 pasti kita akan kenyang makan banyak ini sampai malam." reaksi Selly yang kegirangan sampai lupa kakinya masih belum sembuh.


" Hati-hati Sell. Kamu memang hebat Wan." puji Cindy pada Iwan.


" Lalu apa yang ada di tangan kirimu itu ? " tanya lagi Cindy.


" Eeee ini anu ,aku yakin kalian pasti belum pernah memakannya." ujar Iwan.


Lalu Iwan menunjukan daging tokek yang telah ia bersihkan sebelumnya.


" Tadaa...daging tokek..enak..yummy.." sambungnya.


" Eeuh..tokek katamu ? yang benar saja." reaksi dari Selly.


" Kau yakin akan memakan itu Wan ? " tanya Cindy dengan tatapan sinis.


" Tentu saja, kalian belum pernah memakan ini jadi Kalian belum tahu rasa dagingnya yang empuk , juicy , lembut ,dan nenek pernah berkata kalau makan daging tokek bisa menjadi obat loh." kata Iwan.


" Eee..mungkin kami akan mencobanya nanti. Tapi kan itu kalau masaknya di rumah ya bukan di alam bebas dengan peralatan dan bumbu seadanya." timpal Selly.


" Kalian tenang saja, aku sudah berulang kali makan tokek, serahkan padaku urusan memasaknya. Kalian masak saja rebung ini." jawab Iwan.


" Kalau begitu, kita cari tempat yang lapang saja, atau kita kembali dulu ke tenda sebelum melanjutkan pencarian Johan dan Ahmad." ajak Cindy.


" Nah betul, kamu memang bijak Cin. Aku juga sudah lapar." pungkas Selly.

__ADS_1


__ADS_2