Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Teka-Teki Pencarian


__ADS_3

" Yah sudah habis dagingnya Jo." keluh Ahmad.


" Tidak apa-apa ,nanti kita cari makanan lain lagi. Yang terpenting sekarang kita telah kenyang dan bisa berusaha kembali ke perkemahan kita." kata Johan menenangkan Ahmad.


Tak terasa kegiatan makan mereka telah selesai, daging biawak pun sudah habis, dan kini tinggal rasa kenyang yang menemani mereka berdua. Setelah selesai makan mereka berencana untuk kembali ke teman-teman mereka. Namun ,mereka harus menemukan jalan yang benar karena mereka sebelumnya dibuat pusing tersesat tanpa satupun petunjuk yang bisa menyelamatkan mereka.


" Ayo segera bersiap Mad, tak ada waktu lagi duduk-duduk disini." Johan mengajak Ahmad segera pergi dari tempat tersebut.


" Baiklah, sebentar biarkan aku memadamkan apinya dulu." kata Ahmad.


Sebelum mereka pergi meninggalkan tempat tersebut, Ahmad mematikan api bekas mereka memasak tadi agar tidak terjadi kebakaran nantinya, dan juga agar asapnya tidak menyebabkan polusi udara.


" Nah apinya sudah padam, ayo kita pergi." ajak Ahmad pada Johan.


Dengan perut yang telah kenyang, mereka sebenarnya merasakan malas yang luar biasa. Kaki mereka seperti ingin menahan mereka untuk segera kembali. Akan tetapi, Johan dan Ahmad tak ingin bersantai-santai, karena mereka sebenarnya ingin segera pulang ke rumah.


" Terasa panjaaang sekali perjalanannya Jo." Ahmad mengeluh.


" Apa kau sudah mulai lelah ? " tanya Johan pada Ahmad.


" Iya aku sudah lelah, bisakah kita istirahat sebentar ? " kata Ahmad meminta istirahat sejenak.


Lalu mereka berdua duduk di antara pepohonan. Tempat mereka singgah cukup rindang, hingga cahaya mataharipun hanya bisa sedikit menembusnya.


" Ahmad, berapa hari ya kita disini ? " tanya Johan pada Ahmad.


Ahmad mengelap keringatnya,


" Kalau tidak salah perhitunganku, sekitar sepuluh hari Jo, termasuk hari ini." jawab Ahmad.


" Sudah cukup lama kita berada di hutan ini, rasa-rasanya ini sudah cukup bagi kita." ujar Johan dengan wajah serius.


" Maksudmu kita harus segera kembali, dan pulang ke rumah ? " tanya Ahmad.


" Iya benar. Tapi yang menjadi masalah kita berlima saat ini adalah kita tersesat." jawab Johan.


Johan dan Ahmad terus berbincang-bincang, terutama Johan yang tampaknya sudah mulai patah semangat. Ahmad yang melihat hal tersebut tergerak hatinya. Ia ingin membangkitkan kembali semangat Johan, karena yang ia tahu Johan adalah pribadi yang selalu optimis.


" Johan.." panggil Ahmad.


" Iya kenapa Mad ? " jawab Johan.

__ADS_1


" Kau Johan kan ? " tanya Ahmad.


Johan terheran-heran dan bertanya apa yang ingin dibicarakan oleh Ahmad.


" Iya aku Johan, Johan Syarif Hidayat." jawab Johan.


" Baguslah kau masih mengingatnya, karena yang aku kenal, Johan adalah sosok yang optimis , pemberani ,dan tidak pernah mengeluh. " kata Ahmad.


Mendengar hal tersebut, Johan mulai tergerak hatinya. Ia mulai menyadari jika mereka di hutan itu adalah keputusan bersama.


" Kau benar Mad." ucap Johan sambil menegakkan kepala.


" Kita berlima, bukan hanya aku sendiri atau kita berdua. Kita adalah tim, kesini karena kesepakatan dan keputusan bersama, dan apapun yang terjadi kita hadapi semua bersama." imbuhnya.


" Syukurlah kau sudah kembali mengingatnya, sekarang ayo segera bangun, aku sudah tidak lelah lagi." Ahmad mengajak Johan melanjutkan perjalanan.


Ahmad mengulurkan tangannya untuk menawari membantu Johan berdiri. Kemudian, mereka melanjutkan kembali perjalanan dengan motivasi dan semangat yang baru. Hari yang cerah, matahari kini sudah hampir di atas kepala. Namun ,yang terjadi mereka masih kesulitan menemukan jalan pulang.


Sementara itu, teman-teman mereka yang ada di perkemahan, kini tengah mencari-cari keberadaan Johan dan Ahmad.


" Aku sungguh heran, sebenarnya kemana sih mereka berdua perginya ? " tanya Selly yang tampak mulai lelah.


" Tunggu dulu Cindy, jangan langsung menyimpulkan begitu saja." kata Iwan memotong perkataan Cindy.


" Apalagi mereka berdua adalah teman kita, sebaiknya kita fokus mencari mereka dan juga yang paling penting adalah terus berpikiran positif." kata Iwan menambahkan.


" Benar juga yang kamu katakan Wan, maafkan aku ya, terkadang sesuatu keluar tanpa ku pikirkan dahulu sebelumnya." kata Cindy yang menyesali perkataannya.


" Tidak apa-apa, ayo lanjut saja, sebelum hari semakin siang." ajak Selly.


Mereka bertiga terus mencari dan mencari, tetapi hasilnya masih tetap nihil. Dari Timur ke Barat, lalu Selatan ke Utara mereka tak menemukan mereka berdua, yang ada hanyalah rasa letih dan penat, serta haus.


" Haaah mereka masih belum ketemu juga." keluh Selly sembari menghembuskan napas panjang.


" Akupun sudah lelah, sedari tadi mencari kesana kemari tak kunjung menemukan dimana keberadaan Johan dan Ahmad." keluh Cindy.


Iwan yang tak tega memaksakan teman-temannya untuk terus mencari Johan dan Ahmad akhirnya mengalah, lalu ia mengajak Selly dan Cindy untuk beristirahat sejenak.


" Kasihan, pasti mereka sudah kelelahan." gumam Iwan dalam hatinya.


" Tapi kalau berhenti, akan semakin lama dan semakin sudah mencari keberadaan Johan dan Ahmad." pikir Iwan yang bimbang.

__ADS_1


" Tapi kasihan mereka. Ah sudahlah, lebih baik menjaga yang ada daripada mengejar yang masih belum jelas." kata Iwan menguatkan pilihannya.


" Kalian pasti sudah lelah, kalau begitu kita istirahat sebentar disini." ajak Iwan pada Selly dan Cindy.


" Tapi apakah tidak apa-apa kalau istirahat disini." tanya Cindy.


" Tidak apa-apa kok, sebentar kan tidak akan berpengaruh, yang terpenting adalah kita semua sehat dan baik-baik saja dulu sebelum mencari mereka berdua." kata Iwan dengan bijaknya.


" Oke, oiya Iwan, Cindy ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian." kata Selly lirih.


" Apa katamu Selly ? " tanya Cindy yang kurang jelas mendengar perkataan Selly.


Selly lalu mendekatkan diri pada Cindy, begitu pula dengan Iwan. Jika dilihat-lihat sepertinya mereka akan membahas tentang hilangnya Johan dan Ahmad.


" Apa ini ada kaitannya dengan Johan dan Ahmad ? " tanya Iwan.


Selly mengangguk dan berniat mengutarakan unek-uneknya.


" Jadi begini, menurutku sebelum mereka hilang di tempat ini, bukankah kalian sudah melihat keanehan yang terlihat dari tingkah laku Johan maupun Ahmad." ujar Selly.


" Seperti ketika waktu di tepi sungai itu, maksudku setelah menemukan mereka terbaring di atas batu besar itu ? " tanya Cindy pada Selly.


" Iyaiya itu yang ku maksud, bukankah itu mencurigakan." jawab Selly.


" Kalau itu yang kau maksud aku tidak tahu apa-apa, saat itu kan aku sedang memasak di perkemahan." sahut Iwan.


" Iyaiya aku tahu kok Wan, makanya ini yang membuatku bingung , ada hubungannya denganmu juga Wan." timpal Selly.


" Maksudmu ? " tanya Iwan pada Selly.


" Ingat tidak Wan, saat kau bilang kau di sungai mengalami kejadian aneh di luar nalar. Dari situlah kecurigaanku muncul." jawab Selly.


" Aaah iya aku ingat, itu pengalaman buruk ,benar-benar membuatku terpukul trauma mendalam." kata Iwan.


" Nah kau juga tahu kan Cindy, kalau kita ini kan pendatang ada pemilik atau istilahnya tuan rumah, dan sungai tersebut juga ada penunggunya. " tanya Selly pada Cindy.


" Benar juga katamu, itu berarti sesuatu mungkin telah terjadi pada Johan dan Ahmad setelah kejadian di tepi sungai itu ? " kata Cindy menebak jalan pikiran Selly.


" Tepat." pungkas Selly.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2