Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Terhimpit dalam goa yang sempit 5


__ADS_3

Goa kini telah runtuh, dan bahkan pintu masuknya saja sudah tertutupi oleh tanah yang longsor. Hal itu menandakan saatnya mereka berlima harus segera pindah, mencari jalan keluar jika tidak ingin terkena longsoran kembali.


" Tempat ini tidak aman untuk kita, lihatlah jalan masuk serta jalan keluar sudah tertutup. Sekarang kita seperti semut." kata Johan.


" Sebaiknya malam ini, saat ini juga kita pergi dari sini dan mencari tempat yang lebih aman." ajak Johan.


Johan mengajak teman-temannya untuk segera berkemas dan bergegas pindah untuk mencari jalan keluar lain dari goa tersebut.


"Baik Jo, kami mengerti." jawab mereka berempat.


Semuanya bergegas pergi dari tempat mereka saat ini, melewati sungai yang deras dan keruh di dalam goa hingga jatuh bangun, melewati hamparan bebatuan licin yang menyulitkan mereka menapaki kaki. Goa tersebut semakin naik dan semakin naik lengkap dengan bebatuan tajam karena memang lorong goa yang vertikal. Ahmad yang memimpin di depan, lalu diikuti Selly , Cindy ,semantara Johan dan Iwan berada paling belakang.


" Ayo semuanya kita harus terus semangat meskipun gelap dan hanya bermodalkan senter serta semangat yang membara." tegas Johan.


" Siaap." sahut mereka dengan kompak.


Ketika mereka mulai menaiki lereng yang ada di dalam goa yang sekaligus jalur air ,mereka mulai kewalahan.


" Semuanya persiapkan diri kalian, sebentar lagi kita akan mulai bagian tersulitnya." kata Ahmad memperingatkan teman-temannya.


" Aku akan mencoba naik terlebih dahulu, lalu baru kalian mengikuti dari belakangku, aku yang akan membantu kalian naik ketika sudah separuh jalan." pinta Ahmad.


" Cindy...bisakah kau nyalakan sentermu dan berikan aku sedikit penerangan." pinta Ahmad pada Cindy.


Lalu Cindy yang ada di belakang Ahmad menyalakan senter miliknya. Medan yang sulit ,terjal karena bebatuan serta dengan lumut-lumut yang membuat kesulitan mereka ketika mencoba untuk naik. Ahmad yang seorang laki-laki saja kesulitan, berulang kali lututnya menghantam batu hingga membuatnya kesakitan.


" Argh, ini licin sekali, sampai-sampai lututku sakit." keluh Ahmad.


" Kau harus kuat Mad, kami akan membantumu untuk naik, lalu kau beri kami bantuan nantinya dengan tali atau apapun yang kau bisa." kata Iwan memotivasi Ahmad.

__ADS_1


Setelah terpompa semangatnya karena motivasi dari teman-temannya, Ahmad berusaha terus hingga akhirnya ia berhasil.


" Fyuuh...aku berhasil teman-teman, tak kusangka ternyata baru awal naik goa ini saja kurang lebih 3 meter, pantas saja sulit." kata Ahmad sambil melihat ke arah bawah.


Ahmad mulai berpikir bagaimana caranya agar bisa membantu mereka semua, terutama Selly dan Cindy, mereka adalah perempuan.


" Ahmad kau sudah di atas kan ? sekarang bantu kami terlebih dahulu untuk naik." teriak Selly.


" Sebentar Sell, aku masih memikirkan caranya karena ini lumayan tinggi dan juga.." ujar Ahmad.


Belum selesai Ahmad berbicara, tiba-tiba saja Johan sudah melemparkan tali ke arah Ahmad.


" Johan..Johan memang cepat bertindak kau ini." gumam Ahmad.


Ahmad melihat ada batu disebelahnya yang cukup kuat dan bisa untuk diikatkan tali, dengan simpul yang ia pelajari ketika masih di pecinta alam ,dapat dipraktekkan di lapangan. Ahmad melemparkan ujung tali yang satunya ke teman-temannya, lalu ia segera bersiap mengambil posisi.


" Ayo Cindy atau Selly kalian akan naik duluan." intruksi dari Ahmad.


Cindy perlahan-lahan naik ,dengan berpegangan pada tali dan kakinya menapak pada dinding batu tersebut. Proses itu tak sepenuhnya mulus apalagi mudah bagi Cindy. Ia beberapa kali gagal naik ,dengan alasan yang sama yaitu licin. Akan tetapi, hal tersebut tidak membuat semangat Cindy memudar, dan malah terus berusaha.


" Ayo Cindy, kamu pasti bisa ayo." teriak Selly menyemangati sahabatnya itu.


Pada akhirnya, Cindy berhasil naik. Kini giliran Selly yang naik, meskipun kondisinya masih belum sepenuhnya pulih, Selly adalah seorang yang tidak ingin kalah dengan keadaan.


" Aku naik ya Jo, Wan." kata Selly.


Ahmad dan Cindy yang di atas, bersiap untuk membantu Selly menarik agar lebih mudah. Simpul yang sengaja diikatkan di pinggangnya ternyata cukup membantunya meskipun diperlukan usaha ekstra dari Ahmad dan Cindy. Hari sudah semakin pagi, sekarang hanya tinggal menyisakan Johan dan Iwan yang belum naik. Johan mempersilahkan Iwan untuk lebih dahulu, tetapi Iwan menolak dan beralasan Johanlah yang harusnya lebih dahulu, karena ia akan bisa lebih membantunya ketika sudah di atas.


" Ayo Wan, giliranmu telah tiba." kata Johan.

__ADS_1


" Tidak Jo, kalau aku naik sekarang malah akan memakan banyak waktu, semestinya kau duluan sebab kau bisa membantuku dengan lebih efisien jika kau lebih dulu." ujar Iwan.


Johan memikirkan ucapan Iwan dan iapun menyetujuinya. Johanpun naik, persis sesuai perkiraan Iwan, Johan berhasil naik dinding bebatuan tersebut tanpa kesulitan.


Sesampainya Johan di atas ,ia segera memanggil Iwan untuk segera naik.


" Iwan, segera naik ,kami sudah siap menarikmu." kata Johan.


Iwan segera mengikatkan tali ke pinggangnya dan berpegangan pada tali. Namun, ketika Iwan masih setengah jalan ,tiba-tiba saja gempa kembali terjadi. Hal tersebut mengagetkan mereka semua ,terutama Iwan yang masih bergantung pada seutas tali. Iwan berteriak ketakutan ketika terjadi gempa tersebut.


" Toloong..tolong.." teriak Iwan.


Teman-temanya berusaha sekuat tenaga membantu Iwan, tapi karena Iwan dalam kondisi panik menyulitkan mereka. Bebatuan dan tanah yang ada di langit-langit goa berjatuhan, kali ini goa tersebut benar-benar terlihat akan runtuh. Mereka semua panik, di satu sisi mereka ingin menyelamatkan diri masing-masing, tetapi di satu sisi mereka masih peduli dengan teman mereka.


Di kondisi inilah mereka berlima menunjukan solidaritas ,kerjasama dan kesetiakawanan perlu dijunjung dan diutamakan. Mereka membuang ego masing-masing, dan meyakinkan hati untuk menolong Iwan terlebih dahulu, barulah mereka bisa lari menyelamatkan diri bersama-sama.


" Dalam hitungan ketiga kita tarik Iwan bersama-sama. Ayo keluarkan usaha terbaik kita sebagai sahabat." ajak Ahmad.


" Satu...Dua...Tiga..Hiiyaaa." teriakan mereka berempat.


Syukurlah ,Iwan berhasil naik. Namun, masih belum saatnya untuk menikmati kesenangan karena masih ada bahaya yang mengancam di depan mata. Batu-batu besar kini berjatuhan, sekarang hampir semua jalan yang mereka lewati telah runtuh dan menutup jalur.


" Kali ini aku paham , hidup lebih berat dan menegangkan daripada sekedar bermain game bertahan hidup." ujar Ahmad.


" Betul katamu Mad, ditambah lagi kita hanya punya satu nyawa yang berarti satu kesempatan saja. Jika gagal maka game over." sambung Johan.


Mereka terus berjalan menaiki goa tersebut, dengan kondisi yang remang-remang senter yang melemah daya baterainya, mereka masih belum tahu akan ada bahaya apa lagi yang akan mereka hadapi.


" Berhati-hatilah, meski goa ini semakin naik ,tetapi lihatlah di samping kita ada sungai deras yang mengalir. Jika tak hati-hati kita akan terjatuh dan tidak tahu apa yang akan terjadi." kata Ahmad memperingatkan teman-temannya.

__ADS_1


Perjalanan panjang mereka mulai membuahkan hasil ,dimana mereka melihat ada celah di atas goa.


Bersambung...


__ADS_2