
Johan, Iwan, Selly, Cindy, dan Ahmad kembali melanjutkan perjalanan mereka, berjalan terus menembus hutan rimba tanpa arah. Mereka begitu putus asa, tergambar jelas dari hela napas dan wajah yang sudah lelah dan hampir menyerah. Satu hal yang selalu dipegang dalam benak mereka hanyalah mereka harus hidup apapun yang terjadi dan bagaimanapun caranya.
Di tengah situasi sulit tersebut, mereka kembali diuji ketika semesta sedang tidak memihak mereka. Cuaca mendung, tinggal menunggu turunnya hujan dalam beberapa jam ataupun menit kedepan.
" Bagaimana ini teman-teman? sudah mendung sebentar lagi hujan akan turun." Tanya Iwan pada teman-temannya.
" Jujur saja, perasaanku sedang tidak enak." Imbuh Selly.
" Tetap tenang semua, yang harus kita lakukan hanyalah terus berjuang, terus bertahan dan juga perbanyak kerja, bukannya berbicara setidaknya hingga kita menemukan tempat yang aman baik dari predator ataupun serangga mematikan." Tegas Johan memotivasi teman-temannya.
" Baiklah, pegang teguh keyakinan serta yakinlah kita akan terus hidup." Pungkas Ahmad.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, langkah demi langkah, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa menghiraukan hujan atau badai sekalipun hingga kaki mereka melemah, sampai akhirnya tak mampu lagi untuk melangkah.
Mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat di tempat tersebut, tepatnya di bawah pohon tua yang terlihat kokoh berdiri.
" Cindy, tolong beri aku sedikit air minummu." Pinta Iwan yang kehausan pada Cindy. " Ini wan, tapi tolong jangan dihabiskan supaya bisa berhemat." Jawab Cindy.
" Apa kau tidak memiliki cadangan air minum lagi Cindy ? " Tanya Johan pada Cindy.
" Inilah kenyataan yang harus dihadapi Jo, air minumku habis dan satu-satunya solusi yang paling mungkin saat ini hanyalah menunggu hujan turun." Kata Cindy.
__ADS_1
" Kalau begitu, kalian persiapkan semua wadah untuk menampung air hujan nantinya, biar aku yang mendirikan tenda." Seru Johan memberi instruksi pada rekan-rekannya.
" Aku akan membantumu Jo." Sahut Ahmad.
" Cindy, aku akan membantumu, sekaligus menyiapkan peralatan untuk memasak makan malam." Imbuh Selly.
Mereka berempat bergegas melakukan pekerjaan mereka, tinggal menyisakan Iwan yang sudah kelelahan dan hanya melihat teman-temannya bekerja. Dengan santainya Iwan seprti tanpa ada kepekaan untuk membantu meski hanya sedikit.
" Jo, Ahmad maaf aku tidak bisa membantu kalian saat ini, kakiku pegal-pegal dan rasanya aku ingin beristirahat sebentar memejamkan mata." Kata Iwan meminta maaf sebab tidak ikut membantu.
" Tenang saja wan, aku paham dengan kondisimu, beristirahatlah tendanya akan segera siap dalam beberapa menit." Kata Johan sembari tersenyum.
" Kalau aku di posisimu, aku tidak akan menunjukan kelemahanku di depan teman-temanku, hahaha." Kata Ahmad menyindir Iwan.
Di sisi lain, Selly dan Cindy sudah bersiap-siap dengan wadah mereka untuk menampung air, serta peralatan memasak yang siap untuk digunakan. Tanpa disadari, terdengar suara gemuruh disertai angin dan diikuti petir yang menyambar, hujan datang serentak yang membuat mereka terkejut dan panik. Untunglah, saat hujan sampai di tempat mereka singgah tenda yang didirikan oleh Johan serta Ahmad sudah berdiri. Iwan yang tengah bersantai langsung lari menuju ke tenda, begitu juga dengan teman-temannya sembari membawa tas dan peralatan-peralatan yang sebelumnya diturunkan.
" Bawa semua barang-barang ke dalam tenda, sebelum tas dan baju-baju kita basah." Teriak Selly.
" Hei ,Iwan bawa juga kayu disebelahmu ke tenda supaya tidak basah." Imbuh Selly.
" Laksanakan." Jawab Iwan.
__ADS_1
Seperti yang sudah diprediksikan sebelumnya, hujan turun dengan deras. Akan tetapi, mereka sudah tidak lagi dikhawatirkan dimana mereka akan berteduh karena tenda sudah berdiri.
Di hari itu, hujan deras diiringi petir yang menggelegar sampai membuat badan maupun pikiran tidak bisa beristirahat dengan tenang. Tiga jam berlalu, hujan mulai mereda dan petir sudah tidak lagi menyambar, barulah mereka memutuskan untuk beristirahat. Iwan, Johan, Selly, dan Cindy semuanya tertidur dengan lelap, hanya Ahmad yang tidak bisa memejamkan matanya.
" Teman-temanku sudah tertidur pulas, tapi kenapa aku seperti tidak merasa mengantuk sama sekali, biasanya kalau di rumah aku sudah tidur seharian jika hujan deras." Gumam Ahmad.
Ahmad yang tidak bisa tidur memutuskan untuk membaca buku kesayangannya. Buku itu selalu ia bawa ketika bepergian kemanapun demi mengantisipasi kebosanannya. " Nah, ini dia buku favoritku, untunglah buku ini selalu aku bawa." Gumam Ahmad.
" Buku kesayangan pemberian dari almarhumah nenek ,setahun lalu nenek memberikanku buku ini sebelum ia meninggal. Ia memberiku hadiah spesial tepat di hari ulang tahunku yang ke-17." Imbuhnya.
Halaman demi halaman tak terasa terlewatkan begitu saja. Saat Ahmad membuka halaman pertengahan buku tersebut, tanpa disadari ia menjatuhkan sepucuk catatan. Catatan tersebut tampaknya ditulis oleh nenek Ahmad sendiri, terlihat dari tulisannya yang menggunakan ejaan lama. Lantas, Ahmad membaca catatan tersebut, dengan wajah serius diselimuti rasa penasaran.
" Ini tulisan nenekku, apa ya isinya." Kata Ahmad yang penasaran sembari membukanya.
" Isi surat ini adalah pesan nenek yang ditujukan padaku, di sini dituliskan untuk cucuku Ahmad, selamat ulang tahun ke-17, ingatlah pesan nenek jadilah anak yang kuat, mandiri, kau semakin dewasa dan sebentar lagi akan menghadapi ujian yang sebenarnya di dalam kehidupan. Di dalam senyum ada duka, di dalam tangis ada tawa, jadi jalani saja semuanya dan jangan lupa bersyukur, nenek yakin kelak saat kau punya masalah, kau bisa mengatasi dengan kepala yang dingin." Ucap Ahmad dalam hatinya sembari meneteskan air mata.
Ahmad sepertinya merindukan sosok neneknya yang selama ini selalu menjadi penyemangat Ahmad, mendukung serta mengiringi Ahmad dengan doa. Ahmad sejatinya bukanlah seorang yang anak laki-laki yang mudah menangis kecuali hal tersebut menyangkut tentang nenek yang sangat disayanginya.
" Andai saja nenek masih ada, atau setidaknya aku memiliki kesempatan untuk mengobrol dengannya meski hanya dalam mimpiku." Kata Ahmad dalam hatinya sambil terus meneteskan air mata.
Ahmad memang merindukan sosok neneknya, tapi seketika itu juga ia menyadari semuanya sudah berlalu, meski ia menangis sampai pagi neneknya tidak akan kembali. Kemudian hanya memanjatkan doa terutama untuk mendoakan neneknya yang sudah tenang di sisi yang maha kuasa. Setelah selesai, Ahmad berbaring di antara teman-temannya dan memejamkan mata. Hari yang jauh dari warna cerah, hanya rintihan hujan yang menemani mereka berlima. Hari sudah gelap, mereka semua belum juga terbangun meski sudah cukup istirahat.
__ADS_1
Sementara itu, Ahmad yang sebelumnya telah membaca pesan menyentuh dari neneknya terbawa ke dalam mimpi, dimana ia memimpikan hal tersebut.