
Tak lama setelahnya, Nek Ningsih membawakan mereka makanan ke meja makan. Nek Ningsih mengajak mereka untuk sarapan ,mengisi perut setelah kegiatan pencarian mereka semalaman.
" Bicaranya nanti saja, sekarang ayo kita sarapan dulu. Nenek tahu kalian sudah sangat kelaparan." ajak Nek Ningsih.
Merekapun sarapan, sedangkan Nek Ningsih membawa Ahmad ke kamar untuk mengistirahatkannya.
"Nenek akan mengistirahatkan Ahmad di kamar. Kalian makan dulu saja." kata nenek sembari merangkul Ahmad.
Kakek,Selly,Cindy,dan Iwan mereka berhasil membawa kembali Ahmad. Mereka sangat berterimakasih pada Kakek Dul yang telah banyak membantu mereka.
" Kakek dan nenek telah banyak membantu kami. Entah apa jadinya jika kami ini tidak bertemu dengan kakek dan nenek." kata Iwan berterimakasih pada Kakek.
Kakek Dul hanya tersenyum ,sifatnya yang rendah hati dan mau menolong siapapun meski orang yang baru ia kenal membuatnya cepat akrab. Bahkan Johan,Selly,Cindy,dan Iwan menganggap mereka sebagai keluarga.
"Setelah selesai makan, kalian ganti pakaian dan istirahatlah. Hari mulai siang ,sehingga tidak mengapa jika kalian tidur di jam-jam seperti ini." ucap kakek sambil membereskan piringnya.
" Baik kek," jawab mereka serentak.
Iwan menuntun Johan kembali ke kamarnya. Mereka berdua akan sekamar dengan Ahmad juga. Sedangkan Cindy dan Selly setelah mengganti pakaian mereka tidak langsung istirahat ,tetapi membantu Nek Ningsih untuk membersihkan rumah, baru setelahnya mereka tidur. Ketika Iwan dan Johan menyusul Ahmad berbaring di tempat tidur, Iwan secara tak sengaja menyentuh dahi Ahmad. Iwan merasa Ahmad seperti demam. Setelah itu, Iwan menuju ke dapur untuk mengambil air panas untuk mengompres Ahmad.
" Ahmad terasa panas, aku harus mengambil air panas dan handuk untuk mengompresnya." kata Iwan dalam hatinya.
Ketika Iwan ke dapur, Selly dan Cindy masih ada disana.
"Loh ternyata kalian belum istirahat? kalian membantu nenek?" tanya Iwan yang salut pada mereka berdua.
" Eh Wan. Iya kami sedang membantu nenek. Apa yang kamu butuhkan?" jawab Cindy diikuti pertanyaan.
Iwan menceritakan kondisi Ahmad,
"Aku butuh air panas dan handuk Cindy. Badan Ahmad begitu panas, sepertinya ia demam." kata Iwan sambil mengambil baskom kemudian mengisinya dengan air panas dari termos.
" Aku pikir Ahmad sepertinya kehujanan selama beberapa hari ini." kata Selly menimpali.
__ADS_1
Obrolan itu berhenti saat Iwan kembali ke kamarnya. Iwan lalu mengompres Ahmad, dengan handuk yang telah ia basahi dengan air panas. Ahmad terlihat begitu pucat, jari-jarinya dingin. Johan yang melihat Iwan sedang mengompres Ahmad ,membantunya menyelimuti Ahmad.
" Oiya wan, dimana kalian menemukan Ahmad?" tanya Johan pada Iwan.
Akhirnya Iwanpun buka suara,
" Sebenarnya aku menemukan Ahmad ketika kami beristirahat dalam perjalanan pulang Jo. Saat itu, karena semua kelelahan maka aku yang berinisiatif mengambilkan air untuk kakek. Aku mengambil air di mata air dibalik bebatuan. Setelah aku mengambil air aku melihat ada anak laki-laki di balik pohon. Lalu aku mendekatinya ,awalnya aku takut itu suku pedalaman tapi dari pakaian modern seperti pendaki yang dikenakan anak itu mirip Ahmad. Dan benar saja setelah aku lihat kembali dari dekat, anak itu memang Ahmad. Kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan pulang." kata Iwan panjang lebar menjelaskan pada Johan.
" Ooo, jadi kalian tidak mengalami hambatan dalam misi pencarian semalam Wan?" tanya Johan kembali.
Iwan sedikit ragu untuk menceritakan pengalaman mereka, ia mengira Johan tidak akan begitu saja percaya jika mendengarnya bercerita.
" Ada tapi hanya sedikit ,dan itu bukan masalah besar kok Jo." kata Iwan berbohong pada Johan.
Iwan juga takut jika ia menceritakan semuanya nantinya akan membuat Johan kepikiran karena tidak ikut mencari. Untuk menghindari pertanyaan lainnya dari Johan, Iwanpun keluar kamar,ia Kemudian duduk di ruang tamu, melamun memandangi keluar. Banyak hal yang terlintas di pikirannya.
" Awalnya kami semua hanya akan melakukan Penelitian disini sebelum pindah ke tempat lain. Tetapi malah banyak hal terduga ,banyak kesialan, dan rintangan yang menghadang. Apalagi ini bukanlah penelitian biasa yang cukup hanya bermodalkan kertas dan pensil. Butuh waktu berhari-hari untuk melakukannya serta kesabaran." ucapnya dalam hati.
" Wan, Iwan." sapa Johan dari belakang yang mengagetkan Iwan.
" Johan ,mengagetkan saja." kata Iwan dengan ekpresi kaget.
"Sedang apa kamu Wan? aku perhatikan dari tadi kamu terus-menerus melamun. Apa mungkin kamu melamunkan perempuan ?" tanya Johan diikuti dengan ketawa menggoda.
"Kamu bisa saja, bukan tentang perempuan Jo. Ini tentang pengalaman kita selama beberapa hari disini," jawab Iwan dengan suara lirih.
"Ooo, memangnya kenapa? apa kau sudah tak betah?" tanya lagi Johan.
" Bukan begitu Jo. Tapi selama beberapa hari ini,aku tak dapat tidur nyenyak Jo." kata Iwan dengan suara lirih.
Johan menyambung ucapan Iwan,
" Aku mengerti kamu takut bukan? meski matamu terpejam tapi perasaan takut,khawatirmu masih terjaga." ujar Johan menebak isi hati Iwan.
__ADS_1
"Itu yang aku maksudkan Jo. Kira-kira ,berapa lama lagi kita alan tinggal disini?" tanya Iwan dengan serius.
Johan terdiam, ia berpikir sejenak jika mereka cepat keluar dari pondok kakek, pastinya akan menyinggung perasaan kakek, dan juga Ahmad masih belum siuman. Sedangkan jika mereka terlalu lama di pondok malah merepotkan kakek dan nenek. Johan mengisyaratkan pada Iwan.
" Segera Wan. Setidaknya sampai waktu penelitian kita disini habis." kata Johan.
Ketika Johan dan Iwan sedang mengobrol, Kakek Dul bergabung dengan mereka.
" Kalian sedang apa? apa tidak istirahat ?" tanya Kakek Dul pada Johan dan Iwan.
Mereka berdua kaget dengan kemunculan kakek dari belakang mereka.
"Eh kakek, mengagetkan saja. Sedang duduk kek, belum bisa istirahat." jawab Iwan dengan wajah pucat.
"Ooo, oiya ada yang ingin kakek tanyakan pada kalian." kata kakek yang terlihat akan membicarakan hal yang serius.
" Maaf, sampai kapan sekiranya penelitian kalian ini?" tanya lagi kakek.
Iwan sebenarnya ingin menjawab,tetapi ia merasa tak enak jika terkesan terburu-buru. Iwan mencolek Johan, yang mengisyaratkan agar Johan yang menjelaskan.
" Sebenarnya kek, kami hanya diberi waktu lima sampai 7 hari untuk melakukan penelitian di hutan ini." jawab Johan.
Ternyata kakek bisa memakluminya, dan malah menunjukan kebaikannya lagi.
" Jadi kalian hanya punya waktu dua hari lagi ya untuk berkemas atau membuat tulisan atau laporan. Kalau begitu, sebaiknya kita rawat dengan serius Ahmad agar cepat pulih. Oiya, kakek juga punya sesuatu untuk bekal kalian nanti." kata kakek dengan senyum di wajahnya.
" Untuk perbekalan kami sudah punya kek, lagipula tas kami masih ada di perkemahan, nanti malah merepotkan kakek dan nenek." sanggah Iwan.
Kakek berkata,
" Ini hanya bekal, bisa jadi ini pertemuan kita yang pertama dan terakhir. Kalian mungkin tidak akan kembali lagi ke hutan ini, ataupun jika kembali belum tentu bisa bertemu dengan kakek dan nenek lagi. Jadi kakek mohon terimalah hadiah kenang-kenangan kakek." kata kakek memaksa mereka untuk menerima bekal yang telah disiapkannya.
Johan dan Iwanpun akhirnya mau menerima pemberian kakek, selain itu ternyata kakek juga akan menuntun jalan agar mereka bisa kembali ke perkemahan.
__ADS_1