
Berlanjut ketika Ahmad dan Johan telah berhasil menangkap biawak yang mereka lihat di pinggir sungai. Mereka berdua berencana untuk memasak biawak tersebut, karena mereka kini kelaparan dan tidak menjumpai makanan lain yang bisa segera mereka olah.
" Kita masak saja biawak ini Jo." Ahmad mengajak Johan memasak biawak.
" Sebenarnya agak ngeri si kalau dipikir-pikir tapi kita kepepet dan tidak ada makanan lain yang bisa menjadi alternatif. Jadi ayo masak saja." jawab Johan.
" Ayo kita sembelih dan bersihkan disini saja biawaknya , mumpung sedang di sungai Jo." ajak Ahmad.
" Ayok." kata Johan menjawab ajakan Ahmad.
Ketika akan disembelih, biawak tersebut berhasil lari dan membuat Johan maupun Ahmad harus mengejarnya kembali.
" Ayo Mad tangkap kembali biawak ituuu." teriak Johan.
" Ayooo..jangan biarkan lolos begitu saja." sahut Ahmad.
Johan dan Ahmad terus mengejar biawak tersebut, mereka sampai harus jatuh bangun untuk menangkapnya. Kelincahan biawak tersebut hingga membuat mereka kewalahan. Namun, bukan anak pecinta alam namanya kalau tidak bisa memikirkan sebuah ide cemerlang untuk menyelesaikan masalah.
" Ahmad ,hadang dari sana segera." seru Johan pada Ahmad.
" Baik, aku hadang dari sebelah sana." kata Ahmad menyanggupi.
" Aku akan menangkap dari belakang." gumam Johan dalam hatinya.
Dan Hap ,pada akhirnya mereka berdua berhasil menangkap kembali biawak tersebut. Demi mencegah agar biawak tersebut tidak lolos lagi ketika hendak disembelih, Johan mengikatkan biawak dengan tali di bagian kakinya.
" Ahmad kau pegang biawaknya, aku akan mengikatnya dulu biar tidak lolos lagi." pinta Johan pada Ahmad.
Ahmad memegangi biawak dengan hati-hati, ia juga tak ingin jika hasil tangkapan mereka lolos kembali. Setelah biawak tersebut diikat, Ahmadlah yang akan menyembelih biawak tersebut, karena ia yang punya keberanian lebih ke biawak daripada Johan.
" Johan, biar aku saja yang menyembelih biawak ini. Sedangkan kau cari kayu atau ranting - ranting pohon yang kering untuk membuat api." kata Ahmad membagi tugas dengan Johan.
" Siap, aku pergi dulu ya, pastikan dagingnya bersih dan siap untuk kita bakar." jawab Johan, lalu pergi mencari kayu bakar.
Ahmad mengambil pisau kesayangannya, dan segera menyembelih biawak tersebut.
" Maaf ya biawak, kau aku sembelih karena kami berdua lapar, sekali lagi maaf, bismillah." ucap Ahmad lirih.
Seketika biawak sudah lemas tak berdaya, kemudian Ahmad menguliti sekaligus membersihkan daging tersebut. Di waktu yang bersamaan, teman-teman mereka yang ada di perkemahan yaitu Iwan , Selly dan Cindy juga sedang memasak, tetapi mereka memasak sayur rebung dan daging tokek yang diperoleh Iwan.
" Selly..kita masak satu saja ya rebungnya." kata Cindy pada Selly.
__ADS_1
" Oke, satu saja sebenarnya sudah cukup jika hanya untuk bertiga kok." jawab Selly.
" Iwan, apa kau sudah mulai memasak daging tokek itu ? "tanya Cindy pada Iwan yang tengah serius dengan daging tokek di tangannya.
" Eee tentu saja, ini akan sangat enak. Aku yakin." jawab Iwan.
" Mencium aromanya saja sudah membuat perutku keroncongan." gumam Iwan dalam hati.
" Kalian apa sudah selesai memotong rebungnya ? " tanya Iwan.
" Sudah, sedang menunggumu selesai merebus dagingnya." jawab Selly.
Lalu Iwan mengangkat daging tokek yang ia rebus terlebih dahulu ,karena Selly dan Cindy takut tidak matang jika langsung digoreng sebentar.
" Ini aku sudah selesai, sekarang kalian masak dulu sayur rebungnya supaya kita bisa segera makan." pinta Iwan.
" Siap, segera matang dalam beberapa menit." jawab Cindy.
Cindy dan Selly bekerjasama memasak rebung di atas perapian. Aroma yang sedap nan menggugah selera membuat mereka bertiga tak sabar untuk makan.
" Aromanya...luar biasa." ujar Selly.
" Apalagi kalau sedang lapar seperti sekarang." sahut Iwan yang langsung diikuti tawa mereka bertiga. Beberapa menit kemudian, rebung yang dimasak sudah matang. Kini mereka bertiga tengah menyiapkan sedikit bumbu untuk menggoreng daging tokek.
" Ttsssshh" begitulah kira-kira, saat daging yang diberi garam lalu digoreng di atas wajan dengan minyak yang telah panas.
" Rasa-rasanya ini seperti sedang memasak steak." ujar Iwan.
" Ahaha, betul katamu. Aku baru saja mau mengatakannya." timpal Selly.
" Kalau seperti steak, memang rasanya seperti apa sih ? " tanya Cindy.
" Memangnya kau belum pernah Cindy ? " tanya balik Selly.
" Jujur ,kalau makan si belum pernah, soalnya aku kurang suka kalau daging yang terlihat seperti kurang matang." jawab Cindy.
" Kalau begitu kita sama dong Cin. Aku juga lebih suka rendang atau empal timbang masakan daging yang seperti kurang matang." imbuh Selly.
" Kalian pasti akan suka dengan daging ini." kata Iwan.
" Memangnya apa yang membuat spesial daripada daging lainnya Wan ? " tanya Cindy yang penasaran.
__ADS_1
" Yaa sederhananya kalian kan belum pernah, dan selama di hutan rasa-rasanya sudah lama kita tidak makan daging. " jawab Iwan.
" Benar juga katamu Wan. Terkadang kita mendustakan nikmat yang diberikan oleh Tuhan, kita masih belum bersyukur sudah meminta lebih dari yang didapat." kata Cindy.
Beberapa saat kemudian, daging tokek telah matang. Semua makanan kini telah tersedia, tinggal menunggu waktu untuk disantap. Perut mereka bertiga sudah tidak bisa berkompromi lagi, sehingga mereka langsung menempatkan diri lalu makan bersama.
" Ayo Selly, Cindy kita makan. Semua sudah siapkan ? " ajak Iwan.
" Semua sudah siap Wan, tinggal kita santap saja semuanya." jawab Selly.
" Sebelum makan jangan lupa berdoa ya semua, agar diberkati." kata Iwan mengingatkan teman-temannya.
Kini mereka bertiga tengah menikmati lezatnya makanan bersama. Selain nikmat, yang terpenting adalah makanan tersebut bisa mencukupi kebutuhan tubuh serta mengisi tenaga kembali.
" Bagaimana dengan masakan kami Wan ? " tanya Cindy.
" Tentu saja enak, seperti yang aku ketahui kalian bisa diandalkan untuk urusan ini." jawaban Iwan membuat Selly dan Cindy tersenyum bahagia.
" Oiya, kalian sudah menyicipi daging tokeknya kan, jadi bagaimana rasanya menurut kalian ? " tanya Iwan perihal daging tokek.
" Eeeumm...enak, ini benar-benar. Aku tidak bohong." jawab Selly.
" Kalau menurutku si enak, dagingnya lembut, terasa segar dan untungnya tidak berbau." timpal Cindy.
" Kalau dimasak dengan teknik serta bumbu yang benar pasti enak kok. Kamu memang jago masak daging Wan, salut." Pujian dari Cindy pada Iwan.
" Syukurlah jika kalian menyukainya. Kalau begitu aku punya usulan menarik." kata Iwan.
" Usulan apa Wan ? " tanya Selly penasaran.
" Kan tadi aku lihat di pohon-pohon banyak tokek yang ukurannya lumayanlah, nah bagaimana kalau kita konsumsi saja tokek-tokek tersebut. " usulan dari Iwan.
" Menarik sekali usulanku jika setiap hari makan tokek. Apa ! tunggu..tunggu..setiap hari katamu ? " Reaksi Cindy yang terkejut.
" Yang benar saja, masa setiap hari." reaksi Selly yang juga kaget.
" Oh my gosh, we' ll eat it, everyday ? " imbuh Selly.
" Tenang dulu tenang, kalian tidak usah kaget seperti itu, itu hanya sebagai plan b saja, jikalau tidak ada makanan lain kok." terang Iwan.
Bersambung...
__ADS_1