Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Kuatkan dirimu, sahabatku


__ADS_3

Pagi itu suasana hangat terasa, kala mentari mulai tinggi di angkasa dengan sinarnya menyambut sinisnya hari. Mereka berlima baru saja akan memulai langkah mereka kembali setelah mengisi perut, serta dengan berbagai cobaan dan rintangan yang telah menanti, meski langkah berat tertatih lalu jatuh, mereka telah menasbihkan diri mereka untuk bangun kembali, demi mencari jalan untuk pergi. Pagi itu, setelah mereka menyantap sarapan , mereka memilih untuk melemaskan badan dengan pemanasan dan senam ringan, karena selama ini mereka kurang melakukan olahraga.


" Sudah kenyang kan semua, bagaimana kalau kita bakar kembali lemak-lemak yang sudah menumpuk." Ajak Ahmad.


Ajakan Ahmad seakan menjadi motivasi tersendiri bagi ketua kelompok tersebut yaitu Johan. Johan yang sebelumnya kesulitan melewati celah batu yang sempit karena memang ukuran pinggangnya yang lumayan besar dan gempal. Oleh karena itu, Johan dengan senang hati mengiyakan ajakan Ahmad. Begitu juga dengan Iwan yang sangat antusias dengan usulan tersebut.


" Ayo aku sudah siap, kapan kita akan memulai senam kita pagi hari ini ? " Tanya Iwan.


" Sekarang saja, ayo berbaris Johan , Iwan." Jawab Ahmad dengan suara lantang.


Ketika para lelaki tengah melakukan senam pagi, Selly sedang menemani Cindy beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang. Selly sama sekali tidak memalingkan pandangannya kepada Cindy, ia bisa merasakan apa yang dialami oleh Cindy, saking kuatnya ikatan diantara mereka berdua. Selly terenyuh hatinya sembari memegang erat tangan sahabatnya itu.


" Kamu pasti bisa karena kamu orang yang kuat Cindy, pegang erat tanganku sahabatku, kita selamanya bukan hanya aku tapi ada mereka-mereka yang kuat." Kata Selly.


Cindy memandang ke arah Selly, ia tersenyum mendengar motivasi dari orang terdekatnya bisa membuatnya kuat. Cindy lantas berusaha untuk bangkit dari posisi tidurnya, sekedar untuk memeluk erat Selly. Ia meneteskan air mata di tengah pelukannya, seakan Selly sudah seperti keluarganya sendiri.


" Selly ,kaulah sahabat terbaikku yang sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri." Kata Cindy.


" Kau memang saudaraku Cindy." Sahut Selly sambil tersenyum bahagia.


Saat itu, sudah menunjukan pukul 08.00 pagi waktu setempat, dimana mereka ingin bergegas untuk pergi mencari jalan keluar. Johan , Iwan ,dan Ahmad telah selesai dalam berolahraga, begitu juga dengan kondisi fisik Cindy yang terlihat jauh lebih baik daripada sebelumnya.


" Perhatian-perhatian, coba lihatlah ke jam kalian masing-masing, lihat sudah jam 8 pagi. Bagaimana kalau kita segera melanjutkan perjalanan kita, setelah cukup sarapan dan beristirahat, aku rasa kita bisa berangkat sekarang." Ajak Ahmad pada teman-temannya.


" Oiya sudah jam 8, ayo semuanya sebelum matahari semakin tinggi, nantinya akan membuat kita lebih cepat dehidrasi." Jawab Selly.

__ADS_1


" Aku setuju melanjutkan perjalanan sekarang, tapi bolehkah kalau kita membawa persediaan air minum yang lebih banyak, aku sangat lemah sekarang ini." Sanggah Cindy.


" Baiklah, mari bersiap untuk menghadapi langkah berat selanjutnya." Kata Johan.


Mereka semuapun bersiap, baik mempersiapkan diri secara fisik, maupun secara mental. Semuanya terlihat normal dengan persiapan yang baik dirasa sudahlah cukup. Maka dari itu, mereka segera bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut, dengan tanpa meninggalkan sampah.


" Jadi sesuai rencana kita sebelumnya, dimana fokus tujuan utama saja yaitu pergi ke arah sungai, lalu mengikutinya hingga ke hilir." Terang Johan.


Pada awal perjalana mereka berlima tampak tidak ada kejadian-kejadian aneh, semua berjalan normal. Bahkan mereka sudah dekat dengan sungai. Akan tetapi, ketika mereka telah dekat sungai, lagi-lagi Cindy kondisinya kembali memburuk. Ia kembali memuntahkan darah lagi dari mulutnya setelah batuk berdahak yang mengganggunya akhir-akhir ini.


" Uhuk..uhuk..uhuk." Suara batuk berat Cindy.


Saking parahnya, Cindy sampai jatuh pingsan di pinggiran sungai tersebut. Tentu kondisi itu membuat teman-temannya bergegas menghampiri Cindy.


" Astaga Cindy...bangun Cindy...banguun...aku mohon bangun." Teriak Selly.


" Cindy..bangunlah...bangun Cindy." Teriak Iwan yang panik.


Setelah itu, teman-teman Cindy membawanya ke tempat yang bisa untuk mengistirahatkan tubuhnya. Cindy yang masih pingsan setelah setengah jam lamanya. Selly yang tak henti-hentinya meneteskan air mata tak kuasa melihat kondisi sahabatnya itu.


" Apa yang harus kita lakukan sekarang , apa kita hanya akan membiarkan semua ini terjadi begitu saja ? " Tanya Selly pada teman-temannya.


Akan tetapi, teman-temannya hanya tertunduk, seakan mereka juga kebingungan tak tahu harus melakukan apa.


" Johan..jawab aku, Ahmad...Iwan tolong lakukan sesuatu, demi Cindy teman kita yang sedang tak berdaya ini." Ucap Selly sambil terus meneteskan air mata.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Johan mengajak Ahmad dan Iwan mencari tumbuh-tumbuhan yang bisa dijadikan obat.


" Baiklah, aku mengerti apa yang kau rasakan Selly, segera aku akan mencari tanaman obat untuk Cindy, tunggulah disini." Kata Johan menenangkan Selly.


" Ahmad, Iwan ayo ikutlah denganku, kita kerahkan tenaga yang kita punya demi menolong Cindy." Ajak Johan.


Ahmad dan Iwan mengiyakan ajakan Johan, dan mereka bertiga segera berangkat menuju hutan kembali. Sesampainya kembali di hutan, mereka kalang kabut karena tidak bisa menjumpai tanaman apa yang harus dibawa. Sepertinya keberuntungan sedang tidak memihak mereka, karena saat terus menerus mencari ke setiap celah yang terlihat tak ada satupun tanaman obat.


" Apa kalian menemukan tanaman obat ? " Tanya Ahmad pada Johan dan Iwan.


" Sial, disini hanya ada rumput dan semak-semak berduri." Jawab Johan.


" Disini juga sama Mad, hanya ada ilalang yang menjulang tinggi." Sahut Iwan.


Sesaat setelah mendengar jawaban dari Iwan, muncullah ide brilian Ahmad dimana ia akan mencoba menjadikan ilalang yang ada untuk dijadikan minuman. Tanpa berkata-kata, Ahmad langsung mengambil segenggam ilalang dan memotongnya untuk diambil bagian akar.


" Sepertinya ilalang juga bisa dimanfaatkan untuk dijadikan minuman, setidaknya itu bisa menggantikan teh hangat untuk orang yang pingsan." Gumam Ahmad dalam hatinya.


Johan dan Iwan hanya memperhatikan Ahmad dari dekat, meskipun mereka berdua tidak tahu apa yang telah direncanakan olehnya.


" Nah sekarang kita bisa membuat minuman hangat, Johan dan Iwan pergilah dan tolong buat api, karena kita akan membuat minuman dari akar ilalang ini." Seru Ahmad.


" Baik, kami mengerti, segera kami laksanakan." Jawab Johan dan Iwan kompak.


Mereka segera menyiapkan tempat, untuk membuat api dengan ranting-ranting yang telah berserakan di tanah. Mereka bertiga bekerja dengan sangat cepat, diburu waktu dan dipaksakan keadaan genting. Hati kecil mereka menyulutkan rasa kepedulian yang mendalam, semacam ikatan yang mendorong raga mereka tanpa disadari. Cindy yang tengah pingsan, masih belum menunjukan kemajuan berarti, malah ia tampak kesulitan bernapas yang membuat detak jantung serta denyut nadinya melambat di waktu yang sama.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2