Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Antara hidup dan mati


__ADS_3

Antara hidup dan mati


Cindy yang tengah pingsan, masih belum menunjukan kemajuan berarti, malah ia tampak kesulitan bernapas yang membuat detak jantung serta denyut nadinya melambat di waktu yang sama. Bukan hanya itu saja, tetapi mulai dari tangan, kaki ,serta sekujur tubuhnya mulai melemah. Situasi menjadi tidak terkendali sejauh ini, yang menimbulkan perasaan was-was teman-temannya.


" Ini gawat, benar-benar gawat, kalau keadaan Cindy terus memburuk bukan tidak mungkin ia akan berhenti bernapas." Gumam Iwan dalam hatinya.


Sama halnya dengan yang dipikirkan oleh Iwan, Ahmad juga memikirkan dan membayangkan jikalau sahabatnya akan meninggal dalam waktu dekat. Akan tetapi, ketika mereka berdua tengah dibayang-bayangi pemikiran buruk Johan menepuk pundak mereka, yang mengejutkan Iwan dan Ahmad.


" Janganlah memprediksi ataupun sekedar membayangkan kemungkinan buruk, itu sama saja berprasangka buruk pada takdir. Sebaiknya kita doakan saja, setulus hati kita." Ajak Johan dibarengi dengan senyum kecilnya.


" Aku hanya kasihan dengan kondisinya, tapi memang benar katamu kalau berprasangka buruk malah bisa menjadi kenyataan." Sahut Ahmad.


Sementara itu, Selly tak berhenti meneteskan air mata sambil memegang erat tangan Cindy yang terkulai lemas. Cindy terlihat berusaha mengatakan sesuatu yang menggetarkan hati Selly seketika.


" Selly...Selly..tolong maafkan semua kesalahanku ya, dan juga aku ingin meminta maaf pada kalian bertiga, Johan...Iwan..Ahmad, kalian sahabat terbaikku maka dari itu, jaga diri kalian baik-baik." Ucap Cindy lirih.


" Cindy janganlah berkata seperti itu, mendengarmu mengatakan itu membuat hatiku bergetar." Kata Selly.


" Kau akan segera membaik, tanamkan itu dalam pikiranmu dan percayalah, tuhan bersama kita." Sahut Johan sambil tersenyum.


Cindy juga ikut tersenyum, ia sangat menyayangi teman-temannya. Mereka begitu baik padanya apapun yang terjadi, mereka tidak membiarkan salah satu diantara mereka kesusahan. Cindy lantas menjadi kembali termotivasi untuk sembuh, meski dengan napas terengah-engah. Selly yang peka, serta sigap membantu memegangi alat bantu pernapasan, tatkala asma Cindy kambuh.


" Tenangkan dirimu, atur napas perlahan-lahan Cindy, ini hiruplah." Pinta Selly sambil menjulurkan alat bantu pernapasan Cindy.


Akan tetapi, meski telah diberi oksigen tambahan melalui alat bantu pernapasan tersebut, asma Cindy tak kunjung membaik. Bahkan setelah beberapa menit kemudian, sampai-sampai Cindy kesulitan berbicara. Di tengah situasi menegangkan itu, justru Cindy berbicara yang tidak-tidak, dengan menyebut sosok yang tergambarkan melalui perkataannya tentang ciri fisik sosok tersebut.

__ADS_1


" Johan, Iwan ,Ahmad bagaimana ini ? " Tanya Selly panik.


" Apakah Cindy sedang mengalami sekarat saat ini." Ujar Iwan.


" Cindy...jawab aku Cindy...Cindy...jawab aku Cindy, jangan tinggalkan aku sendirian." Teriak Selly diikuti Isak tangisnya.


Cindy tak bisa menjawab Selly, karena ia sedang sekarat. Sementara itu, dalam penglihatan Cindy ia sudah merasakan kematian. Dimana ia kini seperti hendak dicabut nyawanya oleh malaikat. Ia terlihat sangat kesakitan dan tak berselang lama kemudian, Cindy menghembuskan napas terakhirnya. Sekujur tubuhnya mendadak menjadi lemas tak berdaya, dan diikuti denyut nadi yang perlahan menghilang.


Teman-temannya, mulai dari Selly, Johan ,Iwan ,dan Ahmad menangis sejadi-jadinya. Tak ada satupun yang mengira, mereka akan kehilangan salah satu anggota kelompok, salah satu sahabat mereka ketika masih berada di hutan angker nan misterius itu. Serentak, mereka mendekati Cindy, sambil menumpahkan kesedihan, kekesalan, dan penyesalan masing-masing.


" Cindy maafkan aku Cindy, aku sudah gagal menjadi seorang sahabat dengan membiarkanmu kesusahan." Teriak Johan sambil terus menangis.


" Sahabatku, kenapa kau pergi sekarang, ini terlalu cepat ketika kita belum bisa keluar dari tempat terkutuk ini." Teriak Ahmad.


Sama halnya dengan mereka bertiga, Iwan juga tak kuasa menahan air matanya yang akhirnya ia tumpahkan. Ia menyesali semasa hidupnya, ia pernah berbuat kesalahan terhadap Cindy. Iwan hampir saja terjatuh pingsan ketika ingin mengutarakan isi hatinya. Namun, ketika ia akan pingsan, justru Selly yang sedang memangku Cindylah yang pingsan lebih dulu.


" Aduh bagaimana ya, eeeum...aku akan mengurus Cindy bersamamu, untuk Selly akan diurus olehmu ya Iwan." Pinta Johan.


" B.bb..ba..baik Jo, siap laksanakan." Jawab Iwan menyanggupi.


Kemudian Johan beserta Ahmad mengurus jenazah Cindy, dengan meminggirkan dulu dan membawanya ke tempat yang lebih bersih. Sedangkan Iwan mencoba terus membangunkan Selly, dengan cara apapun, seperti dengan menggunakan bau harum dari parfum sampai dengan minyak kayu putih.


" Selly aku mohon bangunlah segera, kita harus segera mengurus jenazah Cindy, aku mohon bangun Selly, situasi gawat darurat saat ini." Kata Iwan mencoba membangunkan Selly.


Beberapa saat kemudian, Selly perlahan mulai bisa kembali tersadar, ketika ia membuka matanya. Perasaan panik tampaknya masih belum mereda, Selly yang baru sadar mencari-cari Cindy, dengan meneriakkan namannya. Tampak sekali jika ia belum bisa merelakan sahabatnya itu.

__ADS_1


" Cindy...jangan tinggalkan aku, ayo Cindy kita pulang saja dan kita bisa kembali ke rumah kita yang nyaman." Teriak Selly.


" Selly tunggu Selly, janganlah berkata seperti itu, Cindy sudah." Kata Iwan menenangkan.


" Diamlah, kau tidak tahu kan bagaimana rasanya kehilangan sahabat terbaik." Sahut Selly dengan nada tinggi.


" Iya aku mengerti, Cindy juga sahabatku sahabat Johan dan juga Ahmad. Kita semua kehilangan, bukan hanya dirimu Selly." Kata Iwan lirih.


Perlahan-lahan Selly mulai bisa menenangkan dirinya, ia berusaha menelaah perkataan Iwan dalam-dalam, dan tampaknya usaha Iwan berhasil.


" Kau benar Wan, kita tidak boleh terus larut dalam kesedihan, bagaimanapun juga Cindy telah tiada dan kita harus segera mengurus segera pemakamannya." Kata Selly.


" Orang yang sudah meninggal ketika ditangisi secara berlebihan malah bisa jadi seperti belum merelakan, atau seperti menghalang-halangi nyawanya untuk kembali pada sang pencipta." Kata Iwan bijak.


Mereka lalu bangkit dari tempat tersebut, dan segera bergabung dengan Johan dan Ahmad.


" Iwan , Selly kita harus segera mengurus jenazah Cindy." Kata Ahmad.


" Tapi bagaimana caranya, aku saja tidak tahu harus apa, kalaupun tahu bagaimana caranya ? " Tanya Selly.


" Kita tidak boleh membuang-buang waktu, kita segera mandikan saja jenazah Cindy Sell, tapi nantinya dengan apa kita harus membalut ketika akan dimakamkan." Ujar Johan.


Tukar pikiran mereka tak kunjung menemukan jawaban pasti, situasi dan kondisilah yang tidak mendukung mereka. Di tengah bagaimana mereka akan mengurus jenazah Cindy, sementara mereka sendiri saja hampir kehilangan seluruh barang-barang bawaan mereka.


Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba saja muncul seekor burung gagak. Burung gagak tersebut seperti memperhatikan mereka berempat, hingga muncullah prasangka buruk diantara mereka semua.

__ADS_1


" kenapa bisa tiba-tiba ada burung gagak ya ? " Tanya Iwan.


Bersambung...


__ADS_2