
Johan terus menguatkan lengan dan kakinya, tekadnya yang kuat mendorongnya untuk terus maju. Sementara itu, teman-temannya yang sedang menunggu Johan, memutuskan untuk berbagi tugas. Dimana Ahmad berniat menuntun Cindy untuk keluar terlebih dahulu, sedangkan Selly dan Iwan menunggu Johan, jikalau ia memerlukan bantuan.
" Jadi seperti ini, aku memiliki usulan yang bagus rasanya." Kata Ahmad.
" Usulan apa Mad ? " Tanya Selly.
" Bagaimana kalau kita membagi tugas saja, karena kalau kita bersama-sama dalam satu tempat, lama-kelamaan oksigen disini akan menipis." Ujar Ahmad.
" Benar juga katamu, tapi kenapa kita tidak sekalian saja bersama-sama keluarnya, bukankah itu akan lebih cepat. Sehingga kita semua tinggal menunggu Johan keluar." Sanggah Iwan.
" Ada benarnya yang katakan oleh Iwan, karena tangan dan kakiku sudah pegal semua, apalagi sempit sekali." Keluh Selly.
Ahmad sempat bimbang, dengan kondisi tersebut. Di satu sisi, ia merasa usulannya adalah yang paling aman, tetapi ia juga ingin semua bisa keluar dengan ia sebagai penunjuk jalan.
" Baiklah, kita semua keluar saja sekalian, tapi mungkin ada hal penting yang harus diprioritaskan yaitu mengawasi apakah Johan memerlukan bantuan atau tidak." Tegas Ahmad.
Kemudian Ahmad menuntun teman-temannya ke jalur yang benar, lorong vertikal goa tersebut memanglah sempit, hingga mereka harus cakap memilih jalur agar tidak terhimpit sepeti Cindy. Beberapa saat kemudian, Ahmad telah sampai. Ia segera keluar dan bersiap menunggu Cindy ,Selly ,dan Iwan.
" Alhamdulillah, aku bisa sampai lagi di atas. Sekarang tinggal bersiap menunggu Cindy ,Selly ,dan Iwan." Gumam Ahmad.
Lima menit kemudian, Cindy sudah menampakan dirinya, Ahmad senang karena teman-temannya akan bisa keluar juga.
" Cindy...Cindy ayo semangat, kau pasti bisa. Mari aku bantu kau naik, sekarang ulurkan tanganmu." Pinta Ahmad dengan wajah yang riang.
Remaja berusia 18 tahun itu bisa diandalkan dalam keadaan seperti sekarang, Ahmad berhasil membantu Cindy, lalu sekarang giliran membantu Selly dan Iwan.
" Selly...raih tanganku sekarang, tinggal selangkah lagi kau bisa sampai di atas sini." Teriak Ahmad.
Selly tampak kesusahan, ia kesulitan ketika hendak melewati lubang yang sempat membuat Ahmad terjebak.
" Aaargh lubang ini terlalu sempit bagiku, tolong aku Mad." Pinta Selly.
" Tunggu sebentar , tenangkan dirimu Selly." Kata Ahmad. Selly mencoba kembali, hingga akhirnya iapun berhasil. Selly berhasil keluar dari lorong goa tersebut, dengan penuh perjuangan sampai lututnya berdarah.
__ADS_1
" Alhamdulillah, aku juga bisa bebas sekarang." Kata Selly yang bersyukur.
" Tapi lututmu bagaimana Selly ? " Tanya Cindy yang mengkhawatirkan kondisi lutut sahabatnya.
" Tidak apa-apa kok, yang penting sekarang aku sudah bebas." Ujar Selly.
Tak berselang lama, Iwan bisa keluar tanpa bantuan dari teman-temannya. Mereka terkejut karena melihat Iwan keluar dengan membawa celana di tangannya, yang membuatnya terlihat hanya mengenakan celana kolor.
" Astaga Iwan, kenapa kamu hanya memakai celana berkolor ? " Tanya Ahmad sambil menertawai Iwan.
" Oooh ini, anu celanaku tersangkut semalam, dan aku takut akan merobeknya. Jadi aku lepaskan saja, biar aman hehe." Jawab Iwan yang diikuti tawa oleh mereka semua.
Mereka berempat sedang asik tertawa, sementara itu Johan masih berkutat dengan lorong yang sempit.
" Itu seperti suara Ahmad ,Selly ,Iwan dan sepertinya Cindy juga sudah di atas." Gumam Johan.
" Aku harus segera keluar, secepat dan semampuku sekarang ini hanya itu yang harus aku lakukan." Kata Johan menyemangati dirinya.
Perut Johan yang kembung terisi angin, perlahan menyusut dan memberinya kemudahan untuk melewati kesempitan ruang tersebut. Ia kembali bersemangat, karena ia semakin dekat dengan pintu keluar.
" Ingin rasanya ku raut perutku yang mulai buncit." Imbuh Johan.
Cukup lama mereka menunggu Johan, tapi mereka bersyukur karena penat dan lelah telah terbayarkan sepenuhnya. Kini mereka tinggal menunggu Johan, dan berniat kembali ke tempat perkemahan mereka secepatnya. 30 menit kemudian, barulah terdengar tanda-tanda kemunculan Johan. Jelas terdengar napasnya terengah-engah karena kelelahan.
" Semuanya coba lihat ke dalam, apakah itu suara napas Johan atau bukan ? " Tanya Selly.
" Seeprtinya itu memang suara napas Johan, karena tidak mungkin ada orang lain lagi selain Johan." Jawab Ahmad.
Lalu terdengar Johan yang meminta tolong dari dalam goa. Johan berulang kali memanggil nama Ahmad dan Iwan. Sepertinya ia sudah tidak sanggup lagi.
" Ahmad...tolong aku, Iwan...tolong aku...teman-teman, bantu aku segera." Teriak Johan.
" Johan, iya itu suara teriakan Johan." Kata Cindy.
__ADS_1
" Ahmad, Iwan segera tolong Johan, keadaan gawat darurat." Imbuh Cindy.
Ahmad dan Iwan bergegas mendekati lorong goa, dan mendapati Johan yang kesulitan untuk naik. Johan terhimpit di bebatuan tempat Cindy terhimpit sebelumnya. Namun berbeda dengan Cindy, lagi-lagi Johan terganjal di bagian pinggangnya.
" Ahmad, Iwan tolong aku, pinggangku sakit sekali...tolong aku." Teriak kembali Johan.
" Sabar Jo sabar, kami datang segera. Kamu tunggu sebentar, aku akan turun membantumu." Sahut Ahmad.
Ahmadpun turun membantu Johan, ia turun sambil membawakan air minum untuknya. Ahmad berperan sangat penting kali ini, setelah ia berulang kali naik turun untuk menolong teman-temannya.
" Ini minumlah dulu, lalu tenangkan dirimu." Seru Ahmad. " Baiklah baiklah, setelah minum bantu aku ya, perutku tidak bisa diajak kompromi." Keluh Johan tentang perut buncitnya.
Lantas, Ahmad mengulurkan tangannya yang disambut oleh uluran tangan Johan. Syukurlah, ia berhasil diselamatkan. Separuh badannya sudah keluar, perlahan udara kebebasan dirasakan langsung olehnya.
" Ternyata seperti ini rasanya udara kebebasan, sesuatu yang sempat terhenti dirasakan beberapa jam yang lalu." Kata Johan.
" Selamat Johan, sekarang kau sudah keluar." Kata Iwan memberikan ucapan selamat. " Selamat Johan, mari duduk dan beristirahatlah sejenak." Ajak Cindy pada Johan.
Empat jam lamanya, fenomena alam yang mereka rasakan dan membutuhkan beberapa jam setelah kejadian mengerikan untuk bisa keluar, tanpa bantuan siapapun, mereka berhasil membuktikan diri mereka. Mereka telah menjadi remaja-remaja tangguh meski awalnya hanyalah sekelompok orang awam.
" Apakah badan kalian merasakan sakit yang luar biasa ? " Tanya Johan pada teman-temannya.
" Tentu saja Jo, sulit membayangkan kita mengalami pengalaman buruk seperti tadi." Jawab Selly.
" Tapi kita harus bersyukur, karena kita masih hidup dalam kondisi yang sulit, bahkan mengancam nyawa kita." Sambut Ahmad.
" Betul katamu Mad, tapi jika bicara bertahan hidup bukankah kita disini sudah lebih dari hari yang telah direncanakan sebelumnya." Sahut Cindy.
" Kita benar-benar telah jauh masuk ke dalam hutan, tersesat tanpa tahu arah jalan pulang." Ujar Ahmad.
" Sudah tidak aman lagi bagi kita untuk terus menerus berada disini, jika masih bertahan disini, aku takut lama-kelamaan salah satu dari kita atau bahkan semuanya akan mati disini." Ucap Iwan lirih.
Mereka tengah asik membicarakan nasib yang harus mereka jalani. Ketidakberuntungan terus beriringan dengan keberuntungan yang mereka alami selama di hutan hujan tropis tersebut.
__ADS_1
Selanjutnya mereka telah dinantikan dengan kesulitan yang benar-benar menguji ketahanan hidup mereka, Bersambung...