
Ucapan Selly membuat Ahmad dan Johan terkejut, karena pada awal mereka memancing, Johan telah mendapat 3 ikan berukuran lumayan besar dan ia masukkan ke dalam kantong. Tetapi kenapa yang ada hanya daun.
" Tapi tadi benar aku mendapat ikan, bukankah begitu Mad?" tanya Johan.
" Iya benar, aku juga melihatnya." jawab Ahmad.
" Apa ini hanya fatamorgana ,setelah sebelumnya kami." ucap Johan yang hampir keceplosan membocorkan rahasia mereka.
" Hati-hati ,kau sudah janji bukan." kata Ahmad dengan tatapan tajam ke Johan.
" Apa yang kalian maksud sebenarnya, ceritakan." seru Selly.
" Tapi akan menjadi sangat panjang." ujar Johan.
" Pendekkan!" timpal Cindy.
Johan dibuat bimbang, apakah ia akan menceritakan dan membocorkan rahasia Ahmad, atau tetap menjaga rahasia mereka. Pada akhirnya ,Johan memilih untuk tetap menjaga rahasia.
" Sebaiknya aku tetap menjaga rahasia itu, aku takut nantinya Ahmad akan marah padaku, kalau aku membocorkan semuanya." gumamnya dalam hati.
Johan terpaksa berbohong pada Selly dan Cindy.
" Aah, tidak apa-apa kok, Sell. Cindy." ucap Johan.
" Tadi kami berdua hanya kelelahan saja, habis mengejar-ngejar musang disana, lalu kami memancing dan malah tertidur." imbuhnya.
Selly dan Cindy tak langsung percaya dengan keterangan yang diberikan Johan.
" Tapi kalian tadi bukan sedang tertidur, apa kau menyadari itu?" tanya Cindy.
" Eee anu..itu ya, karena kelelahan ,napas kami berdua tidak kuat. Jadi napas ke otak kurang ,dan belum makan juga jadi kamipun pingsan di atas batu ketika memancing." ujar Ahmad.
Tak ingin berlarut-larut ,Selly dan Cindy hanya mencoba mempercayai ucapan mereka berdua, lalu mengajak mereka untuk kembali ke tenda.
" Iyaiya sudahlah, yang penting kalian tidak apa-apa." kata Selly.
" Ayo sebaiknya kita cepat kembali ke tenda, kasihan Iwan menunggu sendirian." tambah Cindy.
" Oke." saut Johan dan Ahmad.
Di tengah perjalanan pulang, baik Ahmad maupun Johan masih dibuat tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka alami. Mereka berdua hanya diam dan melamun di perjalanan ,seperti ada sesuatu yang membuat pikiran mereka terganggu. Sesampainya di tenda, Iwan yang memahami betul sahabatnya, langsung tahu sikap aneh yang ditunjukkan Johan dan Ahmad.
" Ahmad, apa benda itu masih ada padamu?" tanya Johan dengan berbisik.
__ADS_1
" Masih masih, aku simpan dalam kantong kecil ini. Semoga aman." jawab Ahmad.
Tepat setelah Ahmad menjawab pertanyaan Johan, Iwan datang dengan segelintir pertanyaan yang telah ia siapkan.
" Kenapa kalian ini? apa tidak mau menceritakannya padaku?" tanya Iwan.
" Eh Iwan. Tidak ada masalah ,tidak ada yang menarik, dan juga tidak ada yang kamu sembunyikan." kata Ahmad.
" Jadi apa yang harus kami ceritakan padamu?" tanya Johan.
" OOO syukurlah jika semua aman, dan kalian tidak apa-apa." kata Iwan.
" Ayo kita makan saja, tadi aku sudah memasak untuk kalian semua." ajak Iwan.
" Jadi selama kami pergi kau berinisiatif memasak ini semua sendiri wan?" tanya Cindy yang masih tidak percaya.
" Tentu saja, sekali-kali makanlah masakanku." kata Iwan.
" Terimakasih Wan, kamu memang pengertian ,tahu kami sudah lapar." pujian dari Selly.
Kemudian mereka semua duduk melingkar, dan mengambil posisi nyaman untuk makan. Setelah semua makan, lalu beribadah dan istirahat. Hari yang cerah kini telah berganti malam, rembulan bersinar terang, sangat cocok untuk bersantai sambil mengobrol dengan sahabat di bawah cahaya bulan. Masing-masing mereka telah kenyang, dan sedang duduk santai di luar tenda.
" Lihatlah malam ini cerah tanpa ada awan yang menghalangi bulan untuk memancarkan sinarnya." kata Johan.
" Eeh maksudku, bulan memancarkan cahaya yang didapat dari matahari. Nah itu, yang aku maksud." jawab Johan.
" Hahaha." tawa mereka bersama-sama.
Obrolan mereka begitu mencair, dari topik yang ringan sampai yang berat sekalipun mereka begitu terhanyut, hingga tak sadar hari sudah larut malam.
" Apa kita akan begadang malam ini?" tanya Cindy.
" Maksudmu?" tanya balik Selly.
" Coba kalian lihat ke arah jam kalian masing-masing, sudah jam berapa ini?". ucap Cindy.
" Astaga, tak terasa sudah jam setengah 12." reaksi Iwan yang kaget.
" Baiklah, sekian obrolan kita malam ini. Selly dan Cindy , kalian boleh istirahat lebih dulu." kata Johan.
" Kalian tidak tidur malam ini? atau begadang ?" tanya Selly.
" Eee tidak juga ,malam ini kami akan berjaga ,bergantian biar semua bisa istirahat." jawab Ahmad.
__ADS_1
" Oke, kami istirahat dulu ya. Selamat malam semua, semoga mimpi indah." kata Cindy.
Setelah Selly dan Cindy masuk ke dalam tenda dan tidur, tinggallah Johan, Ahmad dan Iwan. Ada alasan mengapa Mereka belum tertidur meskipun sudah larut malam. Rupanya, Ahmad ingin membicarakan sesuatu dengan Johan. Namun ,masih ada Iwan yang juga belum tertidur diantara mereka.
" Apa kita akan sampai pagi duduk di luar tenda seperti ini?" tanya Iwan.
" Aku si sudah biasa ronda malam, jadi ya sampai pagipun kuat." jawab Ahmad.
" Aku juga sama dengan Ahmad, sering ikut ayahku pergi ke hutan malam-malam untuk mengontrol keadaan." timpal Johan.
" Kalian sudah biasa ternyata. Jujur saja, aku sudah tidak kuat duduk di luar, sangat dingin disini." ucap Iwan.
Johan dan Ahmad saling menunjukan gestur, tanda untuk membuat Iwan istirahat lebih dahulu, karena mereka tidak mau Iwan mengetahuinya juga.
" Aku yakin kau sudah mengantuk Wan. Sebaiknya kau tidur saja dulu, biar kami yang akan berjaga malam ini." kata Ahmad meyakinkan Iwan.
" Iya benar yang dikatakan Ahmad, matamu sudah sipit dan berulang kali menguap, istirahatlah." kata Johan menambahkan.
" Baiklah, aku tidur maaf ya Jo ,mad." kata Iwan lalu meninggalkan mereka berdua di luar tenda.
Setelah dirasa aman, Ahmad mengeluarkan keris dan batu mustika yang ia kantongi sejak ia temukan tadi siang.
" Benda ini terasa panas ketika tak sengaja ku kantongi waktu sholat tadi." ujar Ahmad sambil menunjukan barang-barang tersebut.
" Kayaknya kamu memang seharusnya tidak menyimpan benda tersebut Mad." saran dari Johan.
" Maksudmu aku harus membuangnya seperti ini." kata Ahmad yang mulai terpancing emosinya.
" Astaga, kenapa aku lempar sembarangan." reaksi Ahmad yang baru sadar dengan tindakannya.
" Aduh, baru aku mau bilang, takutnya pemilik aslinya marah, bendanya kamu rampas." kata Johan.
" Jo ayo temani aku Jo, aku jadi merinding ini." ucap Ahmad.
Johan hampir saja menolak dan tak ingin ikut campur, akan tetapi semua sudah terlanjur. Akhirnya Johan menemani Ahmad mengambil benda pusaka tersebut.
" Kamu lempar kemana si, susah sekali dicarinya." keluh Johan.
" Aduuh, mana aku ingat tadi kan gelap ,aku asal saja melemparnya saking kesal dengan omonganmu." bela Ahmad.
Jam menunjukan pukul 12 lebih, mereka masih belum juga menemukan kemana hilangnya benda pusaka tersebut. Baik Johan maupun Ahmad sudah mulai lelah, dan hampir putus asa.
Di kondisi gelap gulita hanya bermodalkan penerangan senter kecil sangatlah sulit. Dan tiba-tiba ketika mereka mulai lelah, mulai ada aktivitas lain disekeliling mereka,seperti orang yang menginjak ranting dan dedaunan kering. Tentu saja situasi itu sangat tak mengenakan bagi mereka berdua hingga membuat fokus mereka terpecah.
__ADS_1
Sekilas mereka melihat ada tanda-tanda benda pusaka tersebut. Tetapi yang membuat mereka terkejut benda tersebut melayang di udara. Bersambung..