
Kakek berkata,
" Ini hanya bekal, bisa jadi ini pertemuan kita yang pertama dan terakhir. Kalian mungkin tidak akan kembali lagi ke hutan ini, ataupun jika kembali belum tentu bisa bertemu dengan kakek dan nenek lagi. Jadi kakek mohon terimalah hadiah kenang-kenangan kakek." kata kakek memaksa mereka untuk menerima bekal yang telah disiapkannya.
Johan dan Iwanpun akhirnya mau menerima pemberian kakek, selain itu ternyata kakek juga akan menuntun jalan agar mereka bisa kembali ke perkemahan.
Hari sudah sore, sebentar lagi gelap. Ketika Johan ,Iwan ,dan kakek asik mengobrol. Sedangkan Nenek dibantu Selly dan Cindy sedang mempersiapkan makan malam untuk mereka. Tiba-tiba saja, terdengar suara dari kamar Ahmad. Ahmad merengek kesakitan. Iwan dan kakek yang mendengar rengekan Ahmad segera mendatangi ke kamarnya.
" Ahmad, ada apa denganmu?" tanya Iwan dengan kepanikannya.
Ahmad seperti sedang bermimpi buruk, ia tak merespon pertanyaan Iwan. Ketika kakek mendekati Ahmad, dan memijak bagian lehernya. Tiba-tiba saja, Ahmad memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Ternyata Ahmad memuntahkan belatung yang banyak, dengan disertai cacing tanah berukuran sedang. Mereka bertanya-tanya mengapa Ahmad bisa sampai seperti itu.
" Kakek ,apa yang terjadi dengan Ahamd kek?" tanya Iwan yang panik.
Kakekpun terheran-heran dengan kejadian aneh tersebut.
" Ini hanya pendapat kakek saja, sepertinya Ahmad ini diguna-guna. Jika dilihat dari benda-benda yang dikeluarkannya dari mulut. Akan tetapi bisa jadi Ahmad diculik oleh wewe gombel,dan diberi makan hewan-hewan tersebut." kata kakek lirih.
Mendengar penjelasan dari kakek, Johan dan Iwan semakin bingung, bagaimana caranya agar mereka bisa lolos dari teror-teror makhluk gaib yang menyerang mereka. Jalan satu-satunya untuk bisa selamat adalah menyelesaikan permasalahan yang menjadi latar belakang teror yang menyerang mereka. Mungkin sudah ditakdirkan ada yang bisa menolong mereka yaitu Kakek Dul dan Nek Ningsih, mereka seperti sudah paham betul dengan kondisi mereka. Kakek Dul dan Nek Ningsih mungkin sudah sangat lama tinggal disana sehingga mereka telah dibiasakan untuk bertahan menghadapi alam. Johan dan Iwan sempat membicarakan Kakek Dul dan Nek Ningsih, yang bertahan hidup mencari makan dari alam, selama hidup mereka tak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan rumah sederhana yang mereka tempatipun seperti dihuni oleh orang ramai. Selain Kakek dan keluarganya, makhluk-makhluk halus juga menetap di rumah mereka. Mual-mual Ahmad sudah selesai, dan akhirnya Ahmad terbangun setelah hampir seharian tidur di kamar.
"Uhuk,uhuk" suara batuk Ahmad.
Ia perlahan-lahan membuka matanya, melihat sekelilingnya disertai pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya dimana.
" Hah ,dimana aku ini? dimana? dimana makhluk mengerikan Itu." kata Ahmad yang ketakutan setelah sadar.
Johan ,Iwan ,dan kakek heran mengapa Ahmad berteriak seperti Itu, tidak tahu apakah itu hanya mimpi judulnya atau memang pengalamannya selama hilang di hutan.
__ADS_1
" Tenang Ahmad, tenangkan dirimu. Kamu berada ditempat yang aman. Ini aku Johan ,dan itu Iwan, serta kakek. " kata Johan menenangkan Ahmad.
Ahmad melihat ke arah Johan dan berkata," Johan, itu benar kamu Johan kan? syukurlah terimakasih kalian telah menyelamatkanku." kata Ahmad sambil memeluk Johan.
Johan dan Iwan sebenarnya ingin menanyakan pada Ahmad tentang kehilangannya yang tiba-tiba padahal siang hari. Namun Johan juga paham dengan kondisi Ahmad, yang baru saja sadar. Oleh karena Itu, Johan tak ingin terburu-buru menanyakan hal tersebut. Mereka membiarkan Ahmad untuk tenang lebih dahulu. Kakek memberikan air minum untuk Ahmad.
" Ini minumlah." kata kakek sambil mengulurkan gelas yang berisi air.
Tampaknya Ahmad juga masih belum bisa berpikir dengan jernih, ia terus saja mengatakan hal-hal yang di luar nalar manusia.
" Tidak,aku tidak mau. Aku mohon bebaskan aku, aku ingin pulang bersama teman-temannku. Lepaskanlah aku, tolong lepaskan." ucap Ahmad meronta-ronta di tempat tidurnya.
Karena Ahmad masih kaget dengan keadaannya, kakek dan Iwan memutuskan untuk meninggalkan Ahmad di kamarnya. Sedangkan Johan ditugaskan untuk menemani Ahmad sambil terus mencoba menenangkannya.
" Kakek dan Iwan keluar kamar dulu ya Jo. Kamu temani Ahmad beristirahat , tenangkanlah dia. Beri dia pengertian." kata kakek pada Johan, lalu mengajak Iwan keluar kamar.
" Ahmad istighfar,istighfarlah. Tenangkan dirimu, kamu ditempat yang aman jangan khawatir." bisik Johan di dekat telinga Ahmad.
Tak berselang lama kemudian ,setelah mendengar bisikan Johan, Ahmad mulai bisa menenangkan dirinya. Ia tak lagi meronta-ronta seperti sebelumnya. Ahmad bangun dari posisi tidurnya , lalu duduk dan mau meminum air yang tadi dibawakan oleh kakek. Johan lega melihat Ahmad sudah lebih tenang.
" Syukurlah, Ahmad sudah lebih tenang."
ketika Ahmad sudah lebih tenang, datanglah Cindy dan Selly ke kamar Ahmad.
" Permisi, ini Cindy dan Selly , Jo. Boleh kami masuk?" kata Cindy memohon izin untuk melihat kondisi Ahmad.
Johan menjawab,
__ADS_1
" Kalian masuk saja, Cindy ,Selly kemarilah, jangan kaku seperti itu." kata Johan mempersilahkan Cindy dan Selly masuk.
Baik Cindy dan Selly melihat Ahmad seperti ada hal yang berbeda Dan menurut mereka aneh. Selly lantas bertanya pada Johan,
" Johan, maaf sebelumnya. Kenapa Ahmad terlihat bersikap aneh?" tanya Selly yang tak berani memandang Ahmad.
Johan ingin menceritakan semuanya pada mereka berdua tetapi tidak enak jika membicarakan di depan Ahmad secara langsung. Ia takut itu akan semakin mengguncang mental Ahmad.
" Asal kalian tahu saja,itulah yang aku pertanyaan dari tadi tetapi Ahmad masih trauma. Semoga kalian bisa memahami, yang terpenting fokus kita sekarang ini adalah membantu Ahmad mengatasi rasa traumanya yang berlebihan. Jika tidak itu akan berbahaya nantinya untuk kesehatan jiwanya." kata Johan dengan melirihkan suaranya.
Cindy dan Selly tampak bisa memahami kondisi Ahmad, lalu mereka memutuskan keluar kamar untuk melanjutkan makan malam mereka.
" Kami keluar dulu ya Jo. Waktu makan malam telah tiba, kamu juga jangan lupa makan." kata Cindy sambil menggandeng Selly keluar kamar lalu menutup pintu.
Selly dan Cindy bergabung bersama kakek ,Iwan ,dan nenek untuk makan malam.
" Kalian sudah melihat kondisi Ahmad?" tanya Iwan pada Selly dan Cindy.
Mereka berdua duduk, dan mulai membahas keanehan yang mereka lihat dari diri Ahmad.
" Iya tadi kami baru saja melihat kondisinya, tapi sepertinya jiwanya terguncang, pikirannya entah kemana ,tatapnnya kosong." kata Cindy dengan wajah seriusnya.
Kakek memberi tanda untuk tidak berbicara dulu, karena bisa saja Ahmad mendengarnya Dan malah membuat kesan buruk.
" Jangan dulu ,oke. Kita doakan saja yang terbaik baginya." kata kakek.
Kakek lalu mengajak mereka melanjutkan makan malamnya.
__ADS_1