
Berlanjut kembali dengan Johan dan Ahmad yang masih berada di pohon besar untuk istirahat karena lelah setelah mereka menyadari bahwa mereka tersesat dan hanya berputar meliputi tempat yang sama dengan sebelumnya. Ahmad duduk di bagian belakang pohon. Sementara itu, Johan yang ada di sisi berlawanan dari pohon tersebut, masih menunggu Ahmad yang katanya sedang memeriksa isi tasnya. Tujuannya adalah untuk melihat apakah ada kompas atau tidak. Akan tetapi Johan terlalu lelah , sehingga tidak melihat ke arah Ahmad. Ia tengah termenung ketika sedang memperhatikan daun-daun yang bergoyang diterpa angin sepoi-sepoi.
" Sudah kau periksa Mad ? " Johan bertanya pada Ahmad.
Akan tetapi pertanyaan Johan diabaikan begitu saja oleh Ahmad.
" Ahmad apakan sudah ketemu kompasnya ? " Johan bertanya lagi.
Lagi dan lagi Ahmad tidak menjawab pertanyaannya. Hingga akhirnya, Johan bangkit dari tempatnya beristirahat untuk melihat ke arah pohon tempat Ahmad istirahat.
" Waduuuh..anak ini. Aku kira tadi sedang mencari kompas, malah dia asik-asikan tidur." kata Johan yang tak habis pikir.
" Ahmad..Ahmad..Ayo bangun." teriak Johan yang mencoba membangunkan Ahmad.
Ahmad masih tidak mendengar teriakan Johan, mungkin karena ia benar-benar lelah dan mereka berdua belum sarapan.
" Mungkin memang sudah waktunya mencari makanan. Oiya aku punya ide cemerlang." gumam Johan dalam hatinya.
" Ahmad bangun ada ayam bakar dan Sate Madura spesial bagianmu..Ayo makanlah." teriak Johan sembari tersenyum-senyum sendiri.
" Aku yakin, kali ini ia akan bangun hehe." pikirnya. Tak lama kemudian Ahmad terbangun, setelah mendengar teriakan Johan tentang makanan.
" Mana Jo Sate Madura dan ayam bakarnya ? " tanya Ahmad yang bersemangat.
" Ini di hutan Mad, mana ada makanan seperti itu disini." jawab Johan.
" Kau memberiku harapan palsu Jo, duh sakitnyaa." kata Ahmad sambil mengelus dadanya.
" Oy..oy..oy..Semenjak kapan kau pandai merangkai kata dan berkata selayaknya pejuang patah hati." Johan bertanya pada Ahmad dengan nada bercanda.
" Tentu saja, sejak berteman dengan kalian semua lah." jawab Ahmad.
" Iyaiya maaf ya, aku hanya ingin membangunkanmu saja." ujar Johan.
" It's Okay, I appreciate it. Tapi aku benar-benar lapar Jo. " kata Ahmad yang mulai mengeluh karena lapar.
" Ayo cari sesuatu untuk dimakan." ajak Johan.
" Ayo! " teriak Ahmad menjawab ajakan Johan.
__ADS_1
" Tapi kemana kita akan mencari makanan Jo ? " tanya Ahmad.
" Kau pernah mendengar, kalau jaman dulu banyak orang membangun di sepanjang aliran sungai ,mereka membangun rumah di lokasi seperti itu karena mudah mencari makanan." kata Johan.
" Oooo iya aku pernah mendengarnya. Jadi kita cari sungai terdekat dari sini kan ? " tanya Ahmad.
" Tepat." jawab Johan.
Ahmad dan Johan pergi mencari sesuatu yang bisa dimakan ke arah sungai. Jarak sungai dari tempat mereka berdiri memang tidak terlalu jauh, hanya saja medan yang harus dilalui cukup ekstrim dan terjal. Beruntung bagi mereka berdua baru-baru ini cuaca sedang bersahabat dengan mereka.
" Jalannya sungguh terjal." kata Ahmad yang terkejut.
" Aku juga baru mengetahui ini Mad. Tapi mau bagaimana lagi ,ini satu-satunya jalan ke sungai." timpal Johan.
" Ekstrim sekali ,dan mungkin licin tidaknya kalau rerumputan dan tanah yang agak lembab." keluh Ahmad.
" Iya sudah sebaiknya kita coba saja, biar nantinya kita tahu sendiri dan tidak lagi penasaran." kata Johan.
" Baiklah, tapi hati-hati Jo." kata Ahmad mengingatkan.
Johan dan Ahmad lantas menuruni lereng yang di bawahnya terdapat sungai, mereka memberanikan diri meski awalnya sempat ragu. Memang kontur tanah di hutan tersebut berbukit-bukit, sehingga cukup ekstrim jika tidak berhati-hati akan celaka dan tentunya dapat membahayakan nyawa. Perlahan tapi pasti Johan dan Ahmad menuruni lereng tersebut, hingga akhirnya Johan yang berada di belakang terpeleset.
Ahmad kaget, dan tidak siap untuk apapun. Ahmad yang tak siap menghindar tertabrak oleh Johan dan mereka kini bersama-sama terpeleset yang justru membawa membawa berkah bagi mereka. Tuhan memang sayang terhadap hambanya, begitulah algoritmanya. Karena tanpa mereka sadari mereka berhasil menuruni lereng selamat dengan cara seperti bermain prosotan.
" Johan..dengan terpelsetnya kita tadi malah kita berhasil menuruni lereng dengan selamat." kata Ahmad.
" Kau benar Mad. Tuhan memang baik, Alhamdulillah." imbuh Johan.
Ahmad dan Johan lalu berjalan menyusuri sungai yang baru mereka singgahi, mereka melihat-lihat apakah banyak terdapat ikan disana atau justru ada makanan lain yang bisa mereka makan secara langsung.
" Mad, aku lihat-lihat sungai sebersih dan sejernih ini pasti banyak ikannya." ujar Johan.
" Ahaa betul juga katamu. Pengamatan yang bagus Jo." Ahmad memuji Johan.
Tanpa disadari muncul seekor biawak yang berukuran lumayan besar. Biawak tersebut baru mereka sadari setelah biawak itu keluar dari sebuah lubang yang ada di lereng. Dengan pengalaman Ahmad dan Johan di organisasi pecinta alam,mereka berdua dengan sigap dapat menangkap biawak tersebut tanpa kesulitan. Kekompakan dan kerja sama antara Johan dan Ahmad memang kombinasi yang bisa diandalkan meskipun sebenarnya mereka rival.
" Jo kau hadang dari sebelah sana, aku akan menangkap biawak ini dari belakang." intruksi dari Ahmad.
" Baiklah, intruksi yang sesuai karena aku takut dengan biawak, eee takut digigit atau dicakar tepatnya." ucap Johan.
__ADS_1
Dan pada Akhirnya mereka berhasil menangkap biawak tersebut. Sejenak mereka mengamati dengan seksama biawak tersebut yang sedang dipegang oleh Ahmad.
" Oiya Mad, bukankah biawak satu spesies dengan komodo ? " tanya Johan pada Ahmad.
" Mereka memang satu spesies ,yaitu spesies kadal atau Salva, kalau tidak salah." jawab Ahmad.
" Mereka masih kerabat rupanya. Dan apakah mereka mengibaskan ekor mereka untuk bertahan ? " Johan bertanya lagi pada Ahmad.
" Eeeum..setahuku tidak Jo." jawab Ahmad.
Demi menjawab rasa penasaran Johan, Ahmad menunjukan biawak tersebut lebih dekat lagi pada Johan.
" Lihatlah ini Jo." kata Ahmad sambil menunjukan pada Johan.
" Kuku panjang atau cakar ini untuk mencari makanan seperti ikan atau untuk mode bertahan jika ada bahaya yang mengancam." Ahmad menambahkan.
" Panjang sekali cakarnya ,sepertinya ini sangat kuat jika mencabik." ujar Johan.
" Hahaha..pastinya Jo. Mau merasakannya ? " candaan Ahmad menawari Johan untuk merasakan cakaran biawak.
" Kalau mengamati satwa secara langsung di alamnya ,apa ya namanya ya Herping atau apa ya." kata Ahmad.
" Ah yaitu lah ya intinya. Lalu apa yang akan kita lakukan dengan biawak ini Mad ? " tanya Johan pada Ahmad.
" Bagaimana kalau kita lepaskan saja." kata Ahmad.
" Tapi kita lapar apa tidak lebih baik jika kita makan." timpal Johan.
" Iyasii sebelumnya juga aku sudah pernah makan daging biawak dan ya rasanya memang enak." ucap Ahmad.
" Apa yang kau makan itu sate biawak ? " Johan bertanya lagi pada Ahmad.
" Betul yang aku makan sebelumnya memang sate biawak, sangat sedap." jawab Ahmad.
" Kita bersihkan disini saja biawaknya mumpung sedang di sungai Jo." ajak Ahmad.
" Ayok." kata Johan menjawab ajakan Ahmad.
Ketika akan disembelih, biawak tersebut berhasil lari dan membuat Johan maupun Ahmad harus mengejarnya kembali.
__ADS_1
Bersambung...