
Johan kembali membantu Iwan untuk mencoba naik kembali. Akan tetapi, mereka tidak mengetahui jika Cindy dan Ahmad yang telah di atas sedang mengalami kesulitan. Baik Ahmad maupun Cindy sedang berusaha mencari solusi terbaik dari permasalahan masing-masing.
" Bagaimana ya cara terbaik untuk membebaskan diri, sementara jika kupaksa malah akan menyakiti diri sendiri, tetapi jika memakai cara haius terlalu lama, kondisiku sudah tidak memungkinkan lagi." Gumam Ahmad dalam hatinya.
Ahmad memperhatikan sekelilingnya, apakah ada alat atau benda yang bisa ia pakai. Sekilas mencari alat bantu saja , Ahmad kesulitan karena gerakannya terbatas. Hingga akhirnya Ahmad melihat batu yang lumayan tajam, ia berpikir bisa memanfaatkan batu tersebut.
" Aha ada batu besar di sebelah sana, tapi cukup jauh dari jangkauan tanganku." Gumamnya.
" Andai saja aku punya kekuatan super seperti Luffy atau superhero karet, pasti akan lebih mudah sekedar menjangkau batu, atau malah keluar sekalian." Kata Ahmad berimajinasi.
Ahmad berusaha semaksimal mungkin untuk menjangkau batu tersebut, saking jauhnya ia sampai mengerang. Tetapi, seperti kata pepatah ombak tak akan pernah meninggalkan pantainya, usaha tak akan pernah mengkhianati hasilnya, Ahmad yang telah berusaha bisa menggapai batu itu.
" Fyuh, akhirnya bisa terjangkau juga batu ini, sampai-sampai aku berkeringat seperti ini." Kata Ahmad.
Tanpa disadari, usaha Ahmad tadi untuk menggapai batu tersebut, justru semakin membuat posisi Ahmad semakin leluasa. Dari yang tadinya hanya sebatas pinggang sekarang sudah hampir di bawah pinggang.
" Eh kok aku lebih leluasa ya daripada sebelumnya, apa aku tadi secara tak sadar mengambil batu sambil berusaha keluar ya." Pikir Ahmad.
" Sekarang yang terpenting karena sudah semakin mudah, aku akan mencoba mengikis bagian tepi dari lorong ini, supaya teman-temanku bisa lewat dengan lebih mudah." Kata Ahmad pada dirinya sendiri.
Sedikit demi sedikit, bagian tepi lorong tersebut mulai melebar, Ahmad mulai bisa bergerak untuk mengeluarkan salah satu kakinya terlebih dahulu. Lalu kemudian disusul kaki yang satunya.
" Alhamdulillah, akhirnya aku bisa keluar, senangnya. Eh tapi, bagaimana dengan Cindy ya, tadi sepertinya ia terhimpit bebatuan di dalam lorong." Kata Ahmad.
__ADS_1
Sementara itu, Cindy yang berusaha menarik diri untuk mundur, berharap ia bisa kembali ke posisi semula, justru usahanya sia-sia. Usaha Cindy justru membuatnya semakin terjebak, hingga mengerang kesakitan.
" Aaargh, sakit..sakit..kepalaku sakit." Keluh Cindy merasa kesakitan.
" Cindy bertahanlah, aku mohon jangan berhenti mencoba." Kata Selly lembut.
" Selly, tolong aku dan mengapa rasanya semakin sakit, dari kepala ,badan ,hingga kakiku tak bisa digerakkan." Keluh Cindy sambil terus menangis.
Selly bingung, ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk sahabatnya itu. Di satu sisi, ia sangat ingin menolong sahabatnya, tapi bukannya malah semakin mempermudah Cindy, malah bisa-bisa semakin menyakitinya. Cindy terus berusaha mengeluarkan dirinya, meski diiringi isak tangis. Selly berusaha untuk tetap membuat Cindy tenang, tapi kenyataannya lebih sulit dari yang ia duga.
" Selly, kalau aku tidak bisa keluar, aku tidak bisa diselamatkan, tolong sampaikan pada semuanya ya." Kata Cindy yang mulai pasrah.
" Apa maksudmu, mengapa kau berkata demikian. Kita tidak akan mati di tempat dan kondisi seperti ini, yang ada kita akan bisa keluar dan.bebas sebentar lagi." Kata Selly menepis ucapan Cindy.
Perkataan Cindy jelas terdengar pasrah, ia sudah terhimpit dan bahkan tidak bisa bergerak sama sekali. Jika Cindy menyerah, maka mereka semua tidak akan bisa keluar, karena satu-satunya jalan hanya lorong tersebut.
" Sulit memang rasanya membayangkan menara harapan harus pupus karena satu penderitaan, dan pembangun menara merasa sudah tidak sanggup. Maka hancur sudah semuanya, yang membuatnya harus mundur dan mengulang dari awal." Kata Selly.
Selly terus menerus memotivasi Cindy, ia berusaha menyadarkan jika mereka tak akan pernah kehilangan apapun. Akhirnya, hal tersebut sedikit demi sedikit mulai meresap di hati Cindy, ia kini mulai mengerti apa yang dimaksudkan oleh Selly. Sehingga ia kini kembali mencoba semaksimal mungkin.
" Benar yang dikatakan oleh Selly, aku juga tidak ingin mati disini lalu mengecewakan ayah dan ibuku. Mereka tidak boleh sampai mendengar kematianku, yang ada hanya mereka bangga aku bisa selamat bertahan hidup." Gumam Cindy dalam hatinya.
Cindy kembali mencoba untuk kesekian kalinya, walaupun memang sakit rasanya tapi tekadnya sudah bulat. Ketika Cindy sedang berusaha keluar, Iwan yang sedang mencoba naik juga mengalami kesulitan. Hal tersebut terjadi setelah celananya tersangkut oleh batuan tajam lorong tersebut. Akan tetapi sangat tidak mungkin baginya untuk melepaskan celana yang tersangkut batu karena ketika mereka sudah masuk ,mereka tidak bisa mundur saking sempitnya tempat itu. Iwan berusaha untuk terus naik, tetapi celananya menghentikan dirinya.
__ADS_1
" Celanaku tersangkut, bagaimana ini tidak bisa dilepaskan, tapi kalau aku tarik terus tetap saja malah akan semakin sulit." Gumam Iwan.
Kondisi itu menuntut Iwan untuk mencari solusi brilian, sampai-sampai ia memikirkan tentang ide konyol yang ada di kartun favoritnya.
" Apa aku potong saja celananya, atau aku kikis saja batuannya. Akan tetapi kenapa tidak aku lepaskan saja celananya." Kata Iwan lirih.
Akhirnya, Iwan menemukan solusi terbaik bagi dirinya, yaitu dirinya akan melepaskan celana yang dipakai olehnya agar tidak semakin tersangkut. Tak dibayangkan olehnya sebelumnya, rencana tersebut justru berhasil, dan sekarang Iwan hanya perlu melanjutkan perjuangannya lagi.
Ketika keempat temannya sudah mulai berjuang untuk naik, giliran sang penolong mereka semua yaitu Johan. Hanya tinggal ia seorang diri yang masih ada di dasar goa. Dirinya masih menunggu, teman-temannya untuk lebih dulu agar tidak terlalu pengap ketika dirinya bergabung.
" Kira-kira, mereka sudah sampai di atas ya, kalau Ahmad mungkin sudah sampai di atas, aku yakin. Tetapi , kalau Cindy ,Selly apakah mereka tidak dalam kesulitan ? " Tanya Johan pada dirinya sendiri.
Johan yang penasaran, hendak melihat ke atas dengan bantuan senter untuk menerangi penglihatannya. Ketika Johan sedang menyorot lorong tersebut, ia malah kaget sampai terjatuh dalam posisi duduk.
" Hah, apa itu Iwan, kenapa dia melepas celananya ketika memanjat ? " Tanya Johan yang terheran-heran.
Situasi itu membuat Johan salah mengira karena justru ia berpikir cara Iwan telah memotivasi dirinya, padahal Iwan melakukannya tanpa disengaja.
" Jadi akan lebih mudah ya naik ke atas tanpa menggunakan celana, Iwan memang memilki ide yang brilian, sangat langka ada seorang yang kreatif di kondisi seperti ini selain Iwan." Pikir Johan.
Lantas Johan mencoba mengikuti Iwan dengan melepaskan celananya sebelum naik untuk masuk ke lorong goa tersebut.
" Wah hebat, benar-benar hebat. Cara yang Iwan gunakan bisa ampuh juga." Gumam Johan.
__ADS_1
Bersambung...