Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Terhimpit dalam goa yang sempit 11


__ADS_3

Cindy masih mencoba keluar, begitu juga dengan teman-temannya yang masih sabar membantunya agar bisa keluar.


"Baiklah, kita istirahatkan dulu, nanti kita mulai lagi setelah beberapa saat." Sahut Selly.


Sangat sulit rasanya mengeluarkan Cindy, hingga pukul 05 lebih 10 pagi itu, mereka masih belum ada kemajuan. Sehingga, mereka memilih untuk beristirahat sejenak, untuk mengambil napas.


" Apa kau mau minum seteguk air Cindy ? " Tanya Selly pada Cindy.


" Iya aku mau Sell, tenggorokanku terasa kering." Jawab Cindy.


Perlahan kondisi Cindy, baik fisik maupun psikisnya membaik. Ia sudah lebih tenang, dan tanpa sengaja ketika Cindy merasakan gatal di kakinya. Saat rasa gatal karena digigit nyamuk sudah tidak bisa ditahan, ia berusaha untuk menggaruk kakinya dengan tangan terdekatnya. Tanpa ada unsur kesengajaan, tindakannya itu malah berhasil mengeluarkan dirinya, hingga membawanya ke zona nyaman.


" Gatal sekali, banyak nyamuk tapi ingin rasanya menggaruk kakiku yang sudah tak tertahankan gatalnya. " Gumam Cindy.


Ia sendiri merasa tidak enak, jika harus meminta bantuan lagi pada teman-temannya, karena dirinya sudah merasa banyak merepotkan mereka.


" Cindy apa yang kamu lakukan ? " Tanya Selly.


" Aku ingin sekali menggaruk kakiku yang gatal karena gigitan nyamuk." Jawab Cindy.


Ketika Cindy berhasil keluar dengan tindakan tanpa ada kesengajaan justru ampuh.


" Ternyata tekad untuk menggaruk kakimu yang gatal lebih kuat daripada sekedar membebaskan diri." Ujar Iwan.


" Aku rasa yang kau katakan ada benarnya Wan, tapi aku bisa keluar juga tidak dalam kondisi yang baik-baik saja sekarang ini." Sahut Cindy.


Selly dan Iwan yang masih berada di posisinya masing-masing penasaran dengan perkataan Cindy. Dalam hati mereka ingin sekali menanyakannya secara langsung, tapi rasa tak enak hati terus membayangi. Ketika rasa penasaran semakin menggebu, Cindy yang tahu maksud hati temannya, menunjukan luka-luka yang ia alami setelah banyak tergores dinding bebatuan tajam.

__ADS_1


" Sekujur tubuhmu membiru, tangan ,kaki, pipi, dan mungkin bagian tubuh lainnya juga mengalami kondisi yang serupa." Kata Selly yang terkejut.


" Luka-luka lengkap dengan darah segar yang keluar, kau harus segera diobati Cindy. Kita obati tepat setelah kita semua berhasil sampai di atas sana." Sambung Iwan.


" Baiklah, aku mengerti. Jadi sekarang tinggal menunggu Johan ? " Tanya Cindy.


" Iya Cindy, saat aku mulai naik, tinggallah Johan seorang diri. Tapi aku yakin dia pasti akan segera sampai di tempat ini." Ujar Iwan.


" Aku justru tidak yakin denganmu Wan." Kata Ahmad.


Sontak ,perkataan Ahmad mengejutkan semuanya. Baik Selly , Cindy ,maupun Iwan. Semuanya langsung angkat bicara, dan menilai Ahmad sebagai teman yang buruk, sampai menyebutnya tidak tahu terimakasih.


" Ahmad ,kau ini apa kau mendoakan Johan tidak bisa sampai sini dengan cepat ? " Tanya Selly.


" Apa kau lupa ,kau bisa keluar dari sini atas bantuan siapa ? " Tanya Cindy.


" Aku tak menyangka, kau bisa berkata seperti itu. Johan mungkin tidak akan marah denganmu, tapi aku yang melihat perlakuan buruk membalas perbuatan baik, sangat tidak bisa menerimanya." Tegas Iwan.


" Biarkan aku menjelaskan maksud dari perkataanku tadi. Jadi maksudku adalah Johan mungkin saja kesulitan di tengah jalan, nah kita sebagai sahabatnya harus sigap membantunya." Terang Ahmad.


" Karena ketika aku sudah sampai di atas lorong goa ini, aku sudah sedikit melebarkan jalurnya, agar bisa memudahkan kalian semua, maafkan aku dan perkataan burukku." Imbuhnya.


" Ooo baiklah, kami mengerti sekarang. Maafkan kami juga ya Mad, sudah mengatakan yang tidak-tidak ,serta berburuk sangka padamu." Kata Selly yang menyesali perkataannya.


" Tidak apa-apa Selly, aku paham kok." Jawab Ahmad.


Sementara itu, Johan masih kesulitan untuk terus menapaki lorong goa tersebut, dengan badan gempalnya tentu membuat ia kesulitan. Selain hanya muat seukuran badannya, tetapi juga akan berpengaruh pada pasokan oksigen yang didapat oleh Johan.

__ADS_1


" Sangat melelahkan, lebih lelah dari yang aku bayangkan sebelumnya." Keluh Johan.


Johan terus naik sembari mengusap keringatnya yang telah maembasahi sekujur tubuhnya. Hingga sampailah di sebuah bagian lorong goa yang berdiameter cukup sempit, jika diukur dengan ukuran tubuh Johan. Johan berusaha memastikan kembali, apakah ia bisa lewat atau tidak.


" Lubang seukuran itu, bisakah muat dibadanku yang berisi ? " Tanya Johan pada dirinya sendiri.


" Ah aku pastikan dulu saja, semoga tubuh berisiku tidak menyulitkanku disaat-saat genting seperti ini." Gumam Johan dalam hati.


Ia mengukur dengan tangannya, untuk lebih memastikan dengan jelas, lalu perlahan-lahan Johan memasukkan dirinya dari ujung kepala. Awal ia masuk dari ujung kepala, Johan masih bisa masuk, sampai pundak ,dan dada masih aman. Akan tetapi, ketika sampai di bagian perut, justru tidak muat. Disebabkan tubuhnya yang berisi, membuat Johan kesulitan.


" Kenapa tidak muat ya, apakah aku memang sangat berisi ? " Gumam Johan.


" Padahal kalau dipikir-pikir lingkar pinggangku tidak sampai 90 cm, tapi kenapa tidak muat." Ucap Johan yang mulai bingung.


Berbagai cara coba dilakukan Johan, agar bisa melewati lorong tersebut, meskipun sampai sakit pinggangnya karena bebatuan tidak akan fleksibel meski dipaksa dengan cara apapun. Johan memutar badannya ,mencoba menaikkan salah satu kakinya lebih dulu, hingga mengikis bebatuan dengan batu tetap tidak bisa.


Hingga sampailah Johan di ambang batas frustasi, ia sudah hampir menyerah. Ia merasa sudah tidak ada harapan lagi yang datang padanya. Kondisi fisik Johan sudah tidak sebugar sebelumnya, kini perutnya yang lumayan besar hanya berisi air, dan perlu segera diisi kembali dengan makanan.


" Sepertinya memang tidak ada lagi harapan, bahkan aku sudah merasa kelaparan meskipun perutku besar, sepertinya kembung berisi angin dan air minum tadi." Keluh Johan yang patah semangat.


" Sebenarnya, lorong ini pasti bisa aku lewati, jika saja tubuhku bisa mengecil hingga sekitar 5 cm." Ujar Johan.


Lalu Johan berpikir sejenak, bagaimana caranya agar ia bisa mengurangi ukuran tubuhnya meski hanya beberapa sentimeter. Ketika sedang berpikir, ada hal yang mengganggunya yaitu perutnya yang sakit.


" Perutku sakit...akan tetapi mungkin inilah saat yang tepat, dimana aku bisa mengurangi beberapa sentimeter ukuran tubuhku. Lantas, Johan membuang air kecil di tempat dan saat itu juga, tak disangka cara tersebut ampuh.


" Alhamdulillah, ternyata cara ini berhasil. Selain perutku sudah tidak sakit lagi, aku juga merasa sekarang bisa lewat dengan lebih mudah." Ucap Johan. Johan mencoba kembali dan iapun berhasil lewat, meskipun dengan cara yang tidak wajar. Johan mempercepat langkahnya agar bisa menyusul teman-temannya yang sudah menunggu.

__ADS_1


" Pasti mereka semua sudah sampai di atas, aku yakin mereka sedang menungguku, semoga sebelum matahari menampakkan diri, aku sudah bisa keluar." Kata Johan dalam hatinya.


Sementara itu, teman-temannya yang sedang menunggu, memutuskan untuk berbagi tugas. Dimana Ahmad berniat menuntun Cindy untuk keluar terlebih dahulu, sedangkan Selly dan Iwan menunggu Johan, jikalau ia memerlukan bantuan.


__ADS_2