Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Terhimpit dalam goa yang sempit 1


__ADS_3

Terhimpit dalam goa yang sempit


Selly , Cindy dan Iwan masih beristirahat di bawah pohon. Di bawah teriknya matahari yang menyengat mereka masih berusaha terus mencari keberadaan sahabat mereka yaitu Johan dan Ahmad. Mereka bertiga sedang mengutarakan unek-unek mereka, yang mungkin menjadi penyebab hilangnya Johan dan Ahmad.


" Benar juga katamu, itu berarti sesuatu mungkin telah terjadi pada Johan dan Ahmad setelah kejadian di tepi sungai itu ? " kata Cindy menebak jalan pikiran Selly.


" Tepat." pungkas Selly.


" Sudahlah, hari juga sudah siang. Jadi sebaiknya kita sholat lalu melanjutkan pencarian mereka berdua." ajak Cindy.


" Nah benar katamu Cindy, daripada membicarakan mereka berdua di belakang, nanti malah kita berdosa lebih baik sholat dulu." kata Iwan menambahkan.


" Iyaiya baiklah, ayo." sahut Selly.


Selly , Iwan dan Cindy memutuskan untuk beribadah dulu, karena sudah masuk waktunya. Mereka juga akan lebih tenang dan jernih pikirannya setelah beribadah. Setelah selesai, mereka kembali melanjutkan misi pencarian Johan dan Ahmad.


" Sudah cukup jauh kita meninggalkan tenda kita." kata Iwan.


" Benar juga, sampai lupa waktu, sekarang jam 2 lebih 20 menit." timpal Cindy.


Meski hari sudah hampir sore, mereka masih terus berjalan tanpa sedikitpun mengeluh. Ketika hari yang sudah semakin sore itu, awan hitam mulai menutupi cakrawala. Kini hari yang cerah telah berubah menjadi mendung.


" Aduh, sudah mendung, bagaimana ini Iwan , Selly ? " tanya Cindy pada mereka berdua.


Iwan dan Selly sebenarnya juga tidak tahu arah mana yang mereka tuju, dan sial bagi mereka, karena tendanya malah tidak dibawa.


" Eee aku juga belum tahu Cindy, apalagi kita pergi kan tidak membawa tenda." jawab Selly.


" Aku takut kita akan kehujanan yang membuat kita basah kuyup, selain itu kalau kita sakit pasti akan merepotkan satu sama lain." ujar Cindy yang terlihat tengah panik.


" Kalian tenang dulu ya, kita perbanyak doa saja, semoga kita diberi petunjuk. Saat ini, yang bisa kita lakukan hanya berdoa dan berusaha." kata Iwan dengan bijak.


Baik Selly maupun Cindy kagum hingga memberikan tepuk tangan untuk Iwan, karena akhir-akhir ini Iwan terlihat lebih bijak semenjak Johan dan Ahmad tidak ada di sisinya.


" Kamu sekarang terlihat lebih bijak Wan, hebat." pujian dari Selly.


" Anak muda ini mulai menjadi dewasa dan pikirannya encer, hehehe." kata Cindy yang ikut memuji Iwan.


" Benarkah ? aku terharu loh." ucap Iwan.


" Eh tapi, bagaimana kalau kita percepat langkah kita, siapa tahu kita menemukan tempat untuk berteduh." ajak Iwan pada Selly dan Cindy.

__ADS_1


" Ayo." jawab mereka berdua kompak.


Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, sepertinya tepat untuk menggambarkan keberuntungan dari tiga orang tersebut. Tak jauh di depan mata mereka terdapat sebuah goa.


" Kalian berdua ayo cepat kemari." teriak Iwan.


Selly dan Cindy mempercepat langkah mendekati Iwan.


" Ada apa Wan ? " tanya Cindy.


" Lihat di depan sana, sepertinya ada goa." jawab Iwan sambil menunjukan lokasi goa yang ia temukan.


" Sepertinya kita sedang beruntung hari ini." kata Selly.


Kemudian mereka mendatangi goa tersebut. Sesampainya disana, mereka menjumpai kondisi goa tersebut , ditutupi banyak dedaunan ,pepohonan yang menjalar liar dan yang tak kalah banyak jumlahnya adalah lumut yang menempel di mulut-mulut goa.


" Goa ini sepertinya tidak terjamah manusia." ujar Iwan.


Seketika Iwan langsung melangkahkan kaki, ia ingin segera masuk tetapi dicegah oleh Cindy dan Selly.


" Tunggu dulu Wan." seru Cindy sambil memegang tangan Iwan guna mencegahnya.


" Ada apa Cindy ? " tanya Iwan.


" Iya aku tahu, akan tetapi...Apakah goa ini aman, kita kan belum menyurvei dulu goa ini." timpal Cindy.


" Bukannya apa-apa tapi kami khawatir jika ada binatang buas semacam ular atau bahkan harimau yang menghuni goa ini." pendapat dari Selly.


Iwan mempertimbangkan ucapan sahabatnya tersebut, lalu ia mengajak mereka untuk saling menjaga satu sama lain.


" Kita cek bersama-sama, kita saling menjaga satu sama lain apapun yang terjadi." kata Iwan.


Iwan berjalan paling depan, lalu diikuti Selly kemudian Cindy.


" Sell..Selly nyalakan senter milikmu." pinta Iwan pada Selly.


Mereka bertiga berjalan perlahan, melihat keadaan sekitar. Setelah dirasa aman, mereka memutuskan untuk beristirahat di goa tersebut.


" Aku rasa semuanya aman, tak ada yang terlihat membahayakan. " kata Iwan yang sudah yakin.


" Jadi kita bisa beristirahat sekarang kan ? jujur saja kakiku yang masih belum sembuh sudah tak sanggup melanjutkan perjalanan. " tanya Selly.

__ADS_1


" Sudah kok, kita bisa menurunkan barang-barang kita disini." jawab Iwan.


Tak lama setelah mereka tiba di goa tersebut, hujan turun dengan derasnya, hingga seperti membentuk tirai yang sulit ditembus. Suasana yang gerah ketika mendung perlahan menjadi dingin.


" Huuh..dingin sekali tempat ini." kata Selly yang kedinginan.


Lalu Iwan datang mendekati Selly. Tiba-tiba saja, Iwan memakaikan jaket miliknya yang ada di dalam tas kepada Selly.


" Mau apa Wan ? " tanya Selly yang curiga dengan Iwan.


" Aku tahu kamu kedinginan Sell. Kamu pakai jaket milikku, supaya sedikit lebih hangat." kata Iwan yang penuh perhatian pada Selly.


Melihat keromantisan Iwan terhadap Selly, membuat Cindy tertegun, karena ia belum pernah melihat keakraban antara Selly dan Iwan sebelumnya.


" Ehem..ehem..cie..sepertinya ada yang mulai dibawa perasaan." sindiran Cindy, lalu diikuti tawa olehnya.


" Ehehe..bukan kok..bukan, ini hanya spontanitas saja." sanggah Iwan.


" Oiya, kok aku dengar jauh di dalam gua seperti ada sungai ya." ujar Iwan.


" Aku kira itu hujan, sungguh." jawab Cindy.


" Apa kau akan memeriksanya Wan ? " tanya Cindy.


" Tentu saja, kalau benar-benar sungai sekalian saja aku mau mengambil air dan mungkin ada ranting-ranting pohon kering di dalamnya." kata Iwan.


" Apa kau sendiri yang akan pergi ? " tanya Cindy yang sebenarnya tidak yakin Iwan akan berani.


" Iya aku sendirian saja, kalian sudah lelah, istirahat saja. Oiya persiapkan korek dan alas untuk kita tidur, karena tidak mungkin kita tidur di mulut gua, paling tidak agak kedalam." seru Iwan pada Cindy.


" Siap, dimengerti." jawab Cindy menyanggupi.


Iwan pergi sendirian, hanya ditemani dengan senter kesayangannya. Semakin masuk, semakin dalam ke goa tetapi goa itu ternyata berlorong vertikal. Sedangkan di bawahnya benar ada sungai yang mengalir dengan deras. Namun, yang membuat Iwan sedikit pusing adalah phobianya terhadap tempat-tempat yang sempit. Sebab, semakin dalam masuk , semakin vertikal ,dan semakin sempit pula lorongnya.


" Sesuai dugaanku, disini ada sungai yang mengalir dengan deras." gumamnya dalam hati.


Ia kembali melangkah, sembari memperhatikan sekelilingnya.


" Terdapat kayu kering cukup banyak disini, atau karena sungai disini bisa membawa kayu terhanyut dan menumpuk disini." ujar Iwan.


Di goa itu terdapat banyak kelelawar, hingga tak terhitung jumlahnya. Kelelawar-kelelawar tersebut bisa menjadi sumber makanan mereka bertiga selama misi pencarian Johan dan Ahmad.

__ADS_1


" Beruntungnya kami menemukan tempat yang lengkap seperti ini." kata Iwan.


Bersambung di part 2 ,see you next day. Happy reading.


__ADS_2