Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Perpecahan


__ADS_3

Perpecahan


Cerita berlanjut ketika mereka tengah sarapan pagi yang nikmat. Hari yang cerah itu akan mereka isi dengan kegiatan penjelajahan untuk mengamati sekitar tempat tersebut. Segala perlengkapan telah mereka siapkan untuk menyiapkan segala kemungkinan selama penjelajahan mereka nanti.


" Hal yang terpenting untuk mempersiapkan diri selama penjelajahan nanti adalah bekal." ujar Johan.


Johan mengingatkan teman-temannya untuk bersiap, sesaat setelah mereka selesai menyantap sarapan.


" Kira-kira apa yang harus kita bawa Jo?" tanya Cindy pada Johan.


Johan kemudian mengeluarkan catatan kecil dari dalam sakunya. Tampaknya catatan itu telah ia siapkan jauh-jauh hari.


" Aku sudah menulis peralatan dan perbekalan yang mungkin akan dibutuhkan nantinya." kata Johan sambil menunjukan catatan kecil yang dipegangnya.


Setelah semua persiapan selesai ,mereka memulai langkah dengan senyum lebar yang terpampang di wajah. Suasana yang menyenangkan untuk berjalan-jalan pagi sambil menyelesaikan tugas mereka. Keceriaan hari membuat mereka terlena hingga hampir lupa akan tujuan awal mereka ke hutan tersebut. Sebenarnya rasa jenuh mulai dirasa, terutama di hati Selly dan Cindy. Mereka berdua sangat merindukan kenyamanan kamar tidur yang hangat ,makan makanan yang enak, dan kehangatan keluarga. Namun keinginan itu tampak harus mereka simpan untuk saat ini karena petualangan belum selesai. Hal dirasa justru dirasakan Johan dan Ahmad yang merasa seakan-akan mereka sedang pergi berlibur. Di tengah mereka berbincang menghibur diri.


" Ayolah, semangat sedikit." kata Johan dengan semangatnya yang membara.


" Kalian seperti tidak punya semangat untuk hidup." sindir Ahmad pada teman-temannya.


Sindiran Johan dan Ahmad ditujukan pada Iwan,Selly dan Cindy yang merindukan kenyamanan di rumah.


" Sebenarnya aku masih berminat ,dan tentunya masih sangat semangat tetapi aku ingin sesuatu yang baru." sanggah Iwan.

__ADS_1


" Maksudmu seperti menemukan harta karun Wan?" tanya Selly pada Iwan.


" Aku berharap iya begitu, tetapi jika kita menemukan seperti goa yang menakjubkan atau fosil binatang-binatang purba akan sangat menyenangkan." jawab Iwan atas pertanyaan Selly.


Imajinasi mereka berfantasi membayangkan hal-hal menakjubkan sampai akhirnya terjadi perselisihan karena perbedaan pendapat di antara mereka.


" Dasar tukang halu, makanya jangan kebanyakan tidur." sindir Selly ditujukan untuk Iwan.


Iwan yang merasa hal yang dikatakan Selly tidaklah benar menyangkal ucapannya.


" Maaf saja, tapi yang kebanyakan tidur itu dirimu bukan aku, dasar pembawa sial." sanggah Iwan.


Situasi di antara Iwan dan Selly semakin memanas, perdebatan mereka merembet ke hal-hal yang sebenarnya telah mereka lupakan sebelumnya.


" Apa maksudmu penakut?" tanggap Selly.


" Haha kau kan yang ceroboh menjatuhkan bahan makanan yang sebenarnya bisa untuk perbekalan kita selama beberapa hari." timpal Iwan.


Johan, Ahmad, dan Cindy bukannya tidak melerai ,mereka juga telah berusaha untuk mendamaikan suasana. Yang dikhawatirkan adalah jika terjadi perpecahan pasti situasi akan memburuk dan tidak akan baik untuk kedepannya.


" Kalian sudahlah ,hentikan saling mengejeknya." kata Ahmad mencoba melerai keduanya.


Selly yang telah tersulut emosi malah melibatkan Ahmad sebagai objek ejekannya.

__ADS_1


" Diam kamu. Jangan ikut-ikutan, kau pasti membela temanmu itu yang penakut bukan? dasar halu." kata Selly.


Mendengar hal tersebut Ahmadpun berang terhadap Selly, dan ia memosisikan diri di kubu Iwan. Sementara itu Cindy dan Selly yang benar-benar dekat sedari kecil mereka tetap solid ,dan saling membela. Karena perselisihan mereka sangat sulit untuk dilerai yang membuat mereka terpecah menjadi dua kubu. Kubu pertama adalah Iwan dan Ahmad. Sementara itu, kubu yang satunya berisi Selly dan Cindy. Hanya Johan yang netral tak memihak siapapun di antara mereka. Namun karena ia hanya seorang diri, iapun kewalahan melerai, hingga berujung kedua kubu itu memisahkan diri ,mencari jalur masing-masing dengan membendung kekesalan di hati mereka masing-masing.


" Cindy ayo kita selesaikan tugas ini berdua saja, percuma bekerja sama dengan mereka yang egois, dan tidak mau mengerti keadaan kita." ajak Selly pada Cindy.


Tanpa pikir panjang Cindy mau saja mengikuti karena ia memang membela sahabatnya itu. Hal yang sama juga terjadi di kubu Iwan dan Ahmad.


" Sebaiknya kita memisahkan diri saja. Percuma bekerja dengan anggota baper dan amatiran seperti mereka." ajak Ahmad pada Iwan.


" Iya ayo, Johan jika kau waras kau akan ikut kami ayolah. Atau jika kau suka dengan perempuan seperti mereka kejar saja mereka." kata Iwan dengan tegas.


Mendengar hal tersebut dari mulut teman-temannya ,Johan semakin dibuat pusing, ia bimbang bagaimana cara mendamaikan mereka semua. Namun ,nasi telah menjadi bubur, semua sudah terjadi. Pada akhirnya, Johan menyusul Selly dan Cindy. Iwan dan Ahmad tidak heran kenapa Johan memilih untuk mengejar Selly dan Cindy ,yang pasti alasannya adalah karena mereka berdua adalah perempuan. Johan berlari menyusul Selly dan Cindy, akan tetapi sebelum meninggalkan Iwan dan Ahmad, ia berpesan pada mereka jika mereka memutuskan untuk berubah pikiran mau berdamai.


" Jika besok-besok kalian sudah sadar, mau berubah pikiran ikuti saja arus sungai kecil yang kemarin kita singgahi. Aku juga akan berusaha membawa Selly dan Cindy kembali." kata Johan berpesan.


Setelah berlari menuju ke Selly dan Cindy ,Johan dapat mengejar mereka berdua. Setelah terkejar ia tak lantas diam saja, akan tetapi Johan berusaha terus menyadarkan mereka. Hasilnya nihil mereka berdua terlanjur sakit hati dan bersikeras untuk berpisah dengan Iwan dan Ahmad.


" Tunggu..tunggu dulu..Selly..Cindy, dengarkan ada yang ingin aku jelaskan pada kalian. Aku mohon berikan aku kesempatan untuk menjelaskan, Selly..Cindy..dengarkanlah." teriak Johan.


Usaha yang dilakukan Johan sia-sia, dengan penyesalan dan rasa tidak enak kepada teman-temannya. Sebagai sahabat mereka ,Johan merasa bersalah ,sebagai pemimpin kelompok ia gagal. Johan hanya bisa terduduk di rerumputan ,baik Selly dan Cindy maupun Iwan dan Ahmad pergi dengan ego masing-masing.


Hari terus berlalu hingga tak terasa sudah hampir sore hari, awan terus berjalan bergeser menjadi mendung. Johan masih saja melamunkan kejadian yang membuat mereka terpisah mencari jalan sendiri untuk menyelesaikan penelitian. Di tengah lamunan Johan, selintas ia melihat melihat kawanan burung yang terbang di antara pepohonan rindang. Ia memperhatikan kawanan burung tersebut berpencar dan memlilih jalan masing-masing. Namun kawanan burung yang memisahkan diri dari kelompok ketika menghinggapi dahan pohon seketika kawanan burung tersebut menjadi mangsa bagi ular yang berkamuflase di dahan pohon. Dari situ ,Johan tersadar. Ia tidak boleh membiarkan teman-temannya, terutama Selly dan Cindy. Karena mereka berdua perempuan dan tidak memiliki pengalaman yang cukup. Lain halnya dengan Iwan dan Ahmad yang merupakan anggota pecinta alam di sekolah mereka.

__ADS_1


" Burung-burung itu..jangan-jangan ini merupakan suatu pertanda." kata Johan.


Johan lantas menyusul kembali Selly dan Cindy yang sudah cukup jauh di depannya.


__ADS_2