Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Tidak, bukan itu yang diharapkan


__ADS_3

Johanpun terbangun, dan mendapati api unggun yang telah padam tiba-tiba saja kembali menyala, seperti semula. Seketika hawa sekitar terasa gerah baginya, meskipun ia tidur tanpa memakai selimut dan bahkan hanya tidur di bivak darurat. Dan lebih mengherankannya lagi adalah bulu kuduknya berdiri, padahal sebelumnya ia berani dan tidak merasakan itu semenjak keputusannya untuk membuat bivak. Lantas ,dalam benaknya ia bertanya-tanya, ada apakah dengan dirinya.


" Ini ,tidak mungkin jika aku sakit ,aku merasa sehat, dan makan masih terasa nikmat, tapi kenapa punggungku begitu berat ,leher kaku sulit untuk digerakkan." herannya dalam hati.


Lama-kelamaan rasa penasaran itu semakin memupuk ,hingga akhirnya ,Johan memutuskan untuk keluar, mencari udara segar. Sejenak ia menikmati udara dingin di malam itu, ketika menoleh ke arah jam ,rupanya jam menunjukkan pukul 00.13 atau jam 12 lebih 13 menit malam hari. Terlintas bayang-bayang ketakutan dalam pikirannya.


" Aduh kenapa aku terbangun di jam segini, ini seperti film-film horor yang pernah aku tonton dengan kakakku." gumamnya.


Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki yang seperti sedang berjalan di atas rerumputan dan semak belukar. Johan meragukan bahwa itu orang, karena ia telah melihat sendiri kondisi sekitarnya yang dimana harus membuka jalur baru untuk menembus semak belukar. Tak lama setelahnya, suara itu menghilang, akan tetapi tidak berhenti disitu, kali ini ia melihat sesosok wanita yang sedang duduk di atas pohon besar yang telah tumbang. seperti manusia normal lainnya yang memiliki rasa takut, Johan lantas masuk kembali ke bivaknya setelah melihat hal tersebut. Ia berdoa memohon lindungan yang maha kuasa agar makhluk-makhluk yang menampakan diri tidak mengganggunya. Di sisi lain, Iwan bermimpi tentang Johan. Sampai-sampai keringat bercucuran dari sekujur tubuhnya, Ahmad yang terbangun dan menyadari Iwan sedang bermimpi buruk ,dengan sigap membangunkan Iwan ,serta membacakan doa-doa untuknya.


" Wan, Iwan..ayo bangun Wan. Mimpi apa kamu, ayo cepat bangunlah." (Sambil menepuk bahu Iwan)


Iwan terbangun ,ia merasa lega karena yang lihat hanyalah mimpi buruknya yang menyangkut Johan.


" Apa kamu mimpi buruk Wan?" tanya Ahmad yang mencemaskan Iwan.


" Iya, aku mimpi buruk ,dan mimpi itu tentang Johan." jawab Iwan dengan napas tidak beraturan.


" Apa? mimpimu itu tentang Johan, gawat. Hal ini semakin membuat aku khawatir terhadapnya. " Kata Ahmad.


Kemudian Ahmad memberikan air minumnya pada Iwan.


"Ini minumlah, tenangkan dirimu."


Masih terngiang-ngiang mengenai mimpinya itu, dimana dalam mimpi tersebut...


" Ahmad, aku bermimpi Johan, Johan dibawa oleh makhluk penunggu dengan cara kakinya diseret secara paksa hingga jauh, dan setelah itu,Johan seperti dikerubungi oleh energi-energi kuat." buka Iwan.

__ADS_1


" Tunggu dulu, maksudmu energi kuat itu ,apakah Johan seakan tak sadar dan ada di alam bawah sadar?" tanya Ahmad tentang detail mimpi.


" Entahlah ,tapi yang pasti kita tidak bisa terus-menerus disini." jawabnya.


Hari mendekati pagi, tetapi Johan belum bisa tidur kembali seiring kejadian mistis yang ia alami di malam itu. Perlahan-lahan ia kembali dapat memejamkan mata. Namun, Johan merasa ada yang janggal ,karena secara tiba-tiba ia seperti ditarik oleh seseorang keluar dari dalam bivaknya. Ketika tersadar, ia mendapati sedang terseret masuk ke dalam semak-semak. Seakan tak dapat melawan, hanya bisa pasrah ketika di tengah semak belukar ,hingga luka-luka disekujur tubuhnya. Anehnya , Johan tak bisa melihat siapa yang sedang menariknya,sesekali ia melihat ke arah kakinya dan berdoa. Hingga sampailah ia di sebuah tempat yang banyak pohon-pohon tinggi nan rindang. Disanalah ia baru terhenti dengan sendirinya, sontak hal tersebut membuatnya terkejut sekaligus takut, dalam benaknya ia bertanya.


" Tempat apa ini, sepertinya aku benar-benar masuk lebih jauh lagi ke tengah hutan." ujarnya.


Johan berinisiatif untuk kembali ke tempat semula, dengan mengikuti jejak bekasnya terseret tadi.


Di tengah perjalanan, ia menjumpai seorang nenek yang sudah tua renta, posturnya sudah bungkuk dengan sebilah tongkat di tangannya. Johan lantas menyapa nenek tersebut, dan hendak menanyakan perihal tujuannya berjalan-jalan di tengah hutan ketika tengah malam.


" Nenek, sedang apa disini?" tanya dengan suara lantang.


Alangkah terkejutnya Johan, setelah nenek tersebut menoleh ke arahnya. Ternyata wajah nenek tersebut, wajahnya telah membusuk dan sudah tidak rupa. Tentu saja, Johan kaget langsung lari terbirit-birit entah kemana asalkan menjauh dari tempat itu. Hingga tanpa disadari olehnya ia menjatuhkan, beberapa barang pribadinya. Namun ia sudah tidak peduli akan hal tersebut.


" Fyuh..melelahkan, sudah lama sepertinya aku tidak olaharaga meski hanya sekedar jogging." kata Johan.


Tampak dengan jelas ia sudah lelah, napasnya sudah tidak beraturan.


" Napasku..hah..hah, aku ingin istirahat dan tidur secepatnya."


Hari sudah hampir pagi,sudah masuk waktu subuh. Johan telah hilang arah, pikirannya hanya tertuju ke tempat awal dirinya mendirikan bivak.


" Aku harus kembali yah aku harus segera kembali. Kemungkinan mereka berempat telah kembali sekarang. Tapi sebelum itu, aku harus mencari air untuk menghilangkan dahaga." gumamnya dalam hati.


Itulah rencana Johan saat ini. Sembari menyusuri jalan ,ia mencoba mencari barang bawaannya yang tadi terjatuh saat berlari. Rerumputan yang rimbun tampak sangat sulit untuk mencari barang miliknya tersebut bagai mencari jarum di tumpukan jerami.

__ADS_1


Pada akhirnya ia mengabaikan dan mengikhlaskan ,lalu kembali fokus untuk mencari mata air.


" Ini lebih sulit dari yang aku pikirkan, sampai-sampai hausku bertambah." keluh Johan.


Di tempat lain, Iwan dan Ahmad baru saja terbangun ,tampak mereka yang masih sangat lelah.


" Aargh sudah pagi rupanya. Rasa-rasanya aku seperti tidak tidur semalaman." kata Ahmad.


" Iwan, ayo bangun Wan. Sudah subuh ,ayo bangunlah. Iwan..Iwan." tambahnya.


Iwan terbangun dari tidurnya dan mendapati matanya membengkak sebelah.


" Ooo sudah pagi rupanya, hooaam." ( Sambil mengusap matanya) " Tunggu dulu, apa ini ,kenapa mataku bengkak sebelah." reaksi Iwan yang terkejut.


Ahmad hanya tersenyum-senyum sendiri.


" Itu jengkol Wan, sepertinya jatuh tepat di matamu malam tadi." kata Ahmad dengan nada bercanda.


" Aduh, ini sedikit membuatku sulit mengedipkan mata." imbuhnya.


Mereka membersihkan diri ,setelah beribadah dan tas sudah diamankan mereka. Setelah dirasa semua aman ,mereka kembali ke tempat awal perpecahan, seperti yang ditunjukan oleh Johan. Dalam keadaan kelaparan karena semalam mereka tak bisa makan, akan tetapi semangat mereka masih membara.


" Ayo Wan, kita harus bergegas, setelah ini pasti kita bisa makan ,aku yakin itu." kata Ahmad memompa semangat.


" Aku juga yakin, Mad."


Mereka terus berjalan, Iwan yang berjalan di depan sementara Ahmad di belakangnya. Cukup jauh perjalanan mereka untuk kembali ke tempat semula, haus dan lapar seakan menghambat mereka. Dan benar saja, Iwan yang sudah tidak kuat untuk berjalan lagj, akhirnya pingsan di jalan. Sontak ,hal tersebut membuat Ahmad kelimpungan.

__ADS_1


__ADS_2