
Iwan melihat badannya dan mendapati kulitnya telah lebam, kebiru-biruan, persis seperti telah diikat dengan tali yang kuat.
" Ini..ini tidak mungkin, bagaimana bisa? bagaimana ini bisa terjadi." teriak Iwan.
Tiba-tiba saja Iwan menjadi trauma akan hal-hal yang menurutnya di luar nalar manusia. Iwan menampar pipinya dan berkaca di air sungai, tetapi yang ia lihat adalah banyak sosok di dalam air sungai tersebut, dengan wajah yang bisa dikatakan buruk rupa. Seperti hendak menariknya masuk ke sungai, entah untuk apa atau hanya halusinasi Iwan saja. Iwan kembali ke tempat teman-temannya dan sudah tidak lagi ingin mandi. Ia lari terbirit-birit sambil membawa baju yang telah dicucinya.
" Teman-teman, tolong aku. Tadi disana..disana ada.." teriak Iwan.
Ia terburu-buru hingga tak memperhatikan jalan, dan iapun tersandung.
" Aduh." respon Iwan.
Teman-temannya hanya bisa heran sembari bertanya-tanya ada apa dengan Iwan?. Johan,Ahmad ,Selly dan Cindy mendekati Iwan, membantunya bangun.
" Ada apa Wan? kenapa terburu-buru seperti itu?" tanya Johan.
" Anu Jo, ada anu disana. Aku takut." jawab Iwan.
" Anu anu, apa si yang kau maksud?" tanya lagi Johan.
" Binatang buas? Buaya? Macan atau harimau atau lainnya?" tebak Ahmad.
"Bukan, tapi itu, aduh aku lupa." ujar Iwan yang masih belum bisa menenangkan dirinya.
" Ini minumlah dulu." kata Selly sambil menyerahkan cangkir plastik berisi air.
" Terimakasih." saut Iwan dengan senyuman. " Apa sudah tenang sekarang?" tanya Cindy.
" Oiya , aku lihat sekujur tubuhmu seperti lebam, apa benar itu lebam?" tanya Johan.
" Ini karena hantu air." jawab Iwan.
" Apa? hantu air." Mereka berempat terkejut mendengar jawaban Iwan. Bagaimana tidak, penjelasan Iwan sulit untuk dicerna ,seperti tak berdasar. Baik Johan, Selly dan Cindy tentu saja tidak langsung mempercayai apa yang dikatakan Iwan. Terkecuali Ahmad, tampaknya ia mulai percaya hal tersebut, karena Ahmad memang kadang-kadang bisa melihat atau merasakan hal gaib.
" Teman-teman, sepertinya penjelasan Iwan bisa dimengerti dan bukan tak mungkin hal gaib bisa berbuat sejauh ini." kata Ahmad.
" Aku tahu hal gaib memanglah ada dan mereka pasti punya kekuatan tersembunyi. Tapi lihatlah, ke atas dan ingatlah ini siang hari." ujar Cindy.
__ADS_1
" Nah itu juga yang menjadi pertanyaan di pikiranku, kenapa bisa terjadi di siang hari." timpal Ahmad.
" Semuanya, aku merasa hal ini jangan dibicarakan lagi, yang lalu biarlah berlalu." kata Selly.
" Kata nenekku, kalau kita berpikiran positif ,pasti kita akan mendapat hal positif, percayalah." tambahnya.
" Benar katamu,Sell. Tumben sekali kamu bijak." pujian dari Cindy.
" Iya sudahlah, ayo sebaiknya kita masak saja, lalu ibadah, dan istirahat." ajak Johan.
Kemudian mereka semua bekerja sama untuk memasak bahan-bahan yang masih tersisa hasil dari survival dan perbekalan cadangan. Johan dan Ahmad memotong kayu-kayu dan menyalakan api, sementara Selly dan Cindy membersihkan dan mengupas bahan makanan serta bertugas memasak. Ketika semuanya sedang sibuk, hanya Iwan yang seorang diri duduk termenung di dalam tendanya. Ia kini tampak seperti orang yang trauma mendalam. Namun di satu sisi, ia selalu penasaran.
" Johan yang telah menyelesaikan tugasnya hendak menghampiri Iwan ke tenda.
" Mad, tolong selesaikan ini ya, aku mau ke tenda menghampiri Iwan." pinta Johan.
" Okay, serahkan saja padaku." kata Ahmad sambil menunjukan gestur setuju.
" Iwan, ada apa?" tanya Johan.
" Aaah tidak apa-apa kok." jawab Iwan yang mengelak.
" Yakin kau ingin tahu?" tanya balik Iwan.
" Sebenarnya yang terjadi adalah aku lapar, nanti saja atau lain waktu akan kuceritakan padamu, Jo." imbuhnya.
Johan heran dengan hal tersebut, tetapi ia terus berpikiran positif jika Iwan memang baik-baik saja.
" Sepertinya memang tak ada yang perlu dikhawatirkan." kata Johan.
Ia kembali ke teman-temannya. Akhirnya yang ditunggu-tunggu telah siap, makanan siap untuk disantap.
" Ayo semua kita makan dulu, jangan lupa baca doa yaa." ajak Selly.
Mereka makan siang dengan lahap, tanpa ada pembicaraan di sela-sela makan , mereka terlihat sudah sangat lapar. Setelah kegiatan makan selesai mereka sholat lalu beristirahat di tenda masing-masing. Selly dan Cindy pergi ke tenda mereka lebih dulu, meninggalkan Johan dan Ahmad yang masih duduk santai di luar tenda. Sedangkan Iwan sudah tertidur pulas di tenda.
" Semuanya sedang beristirahat,Jo. Bagaimana kalau kita mencari ikan di sungai saja." ajak Ahmad.
__ADS_1
" Ide yang bagus, aku juga sebenarnya tidak mengantuk, malah aku jenuh." jawab ajakan Ahmad.
" Kalau begitu ,aku akan ganti baju terlebih dahulu untuk sekalian mandi nantinya." kata Ahmad.
Setelah mereka berdua siap, Johan dan Ahmad segera berangkat menuju ke sungai, di tengah perjalanan tampak mereka mengobrol topik yang serius.
" Sejenak aku teringat ucapan Iwan tentang sungai yang ia datangi." kata Ahmad.
" Maksudmu? " tanya Johan pada Ahmad.
" Maksudku adalah semestinya kita tahu Iwan meski keberaniannya kecil ,tetapi rasa penasarannya lumayan besar, kita belum tahu pasti apa yang ia alami. Alangkah lebih baik kita periksa tempat Iwan kemarin atau setidaknya hanya melihat-lihat saja."
Usulan Ahmad tampak membuat Johan tertarik, mereka akhirnya merubah rencana mereka dari yang semula hanya pergi mencari ikan menjadi sekalian melihat-lihat tempat sekitaran mereka.
Jam menunjukan pukul 2 siang hari, matahari mulai bergeser ke arah barat, sepintas awan mendung mulai berdatangan menutupi cakrawala. Ahmad dan Johan telah sampai di tempat Iwan mencuci bajunya kemarin.
" Ahmad, lihatlah. Bukankah ini gayung milik Iwan?" tanya Johan.
" Warna putih. Iya ini memang gayung milik Iwan." jawab Ahmad.
Lalu mereka berdua melihat ke dalam air sungai, ternyata yang mereka lihat hanya sungai biasa dengan air yang sangat jernih. Saking jernihnya sampai - sampai ikan yang ada di sela-sela bebatuanpun tampak dari permukaan air.
" Air sungai disini sangat jernih, lihatlah banyak ikan di sela-sela bebatuan. Tetapi jika jernih terlihat dalam sebenarnya ini cukup dalam,arusnya juga lumayan deras." kata Ahmad sambil menunjuk ke arah sungai.
" Husst. Jangan menunjuk sembarang Ahmad." bisik Johan di telinga Ahmad.
" Kata Ayahku kalau kita ada di hutan jangan sampai kita berbuat sembrono meski hanya menunjuk ke arah sesuatu, bisa-bisa ada yang tersinggung, percayalah." imbuhnya.
" Oooo okeoke, kalau itu aku bisa mengerti." kata Ahmad.
Karena takut terjadi hal-hal yang sama dengan Iwan. Johan menyadari hal yang penting dari perjalanannya bersama teman-temannya ,yaitu keselamatan.
" Setelah dilihat-lihat, tempat ini cukup menyeramkan jika kita terlalu lama disini." ujar Ahmad.
" Baguslah jika kau juga merasakannya. Ayo kita mencari bambu untuk dijadikan joran." ajak Johan.
Mereka berjalan menyusuri sungai tersebut untuk mencari pohon bambu yang terdekat dari tempat tersebut. Sekitar 10 menit dari tempat tadi mereka melihat pepohonan bambu yang cukup rimbun di depan mereka ,pohon bambu tersebut berada di pinggiran sungai.
__ADS_1
" Fyuh. Akhirnya ,ketemu juga." ucap mereka dengan kompak.