
Sekitar 10 menit dari tempat tadi mereka melihat pepohonan bambu yang cukup rimbun di depan mereka ,pohon bambu tersebut berada di pinggiran sungai.
" Fyuh. Akhirnya ,ketemu juga." ucap mereka dengan kompak.
Johan dan Ahmad mendekati pepohonan bambu tersebut, dengan pisau serbaguna milik mereka untuk memotong bambu.
" Aku akan melihat sebelah sana, Jo. Sepertinya yang disana lebih bagus, lurus." ujar Ahmad.
" Ooo Baiklah, cepat dan kita akan mulai keseruannya." pesan Johan.
Ahmad menuju rimbunan bambu, yang dimana tempat tersebut seperti ruang yang dipenuhi oksigen.
" Aah, sangat sejuk disini. Rasa-rasanya ,aku seperti menghirup udara bersih, tanpa diganggu polusi. Sangat nyaman." ucap Ahmad.
Ia melihat-lihat kondisi sekitar, sampai ketika ia melihat sebuah sarang.
" Sarang apa itu?" tanya dalam hatinya. Ahmad mencoba melihat lebih dekat ke sarang tersebut.
" Sepertinya, ini pertama kalinya aku melihat sarang seperti ini. Kalau sarang burung biasanya ada di pohon, kalau ayam sepertinya bukan juga, harimau sepertinya tidak bersarang." gumamnya dalam hati.
Karena penasaran ia mencoba membongkar sarang tersebut, dan ternyata sarang tersebut adalah sarang..
" Ya ampun, ini sarang ular, pas sekali ada satu telur ular yang menetas tetapi mati." kata Ahmad.
Ia semakin penasaran dan mencoba mengenali jenis ular apa yang dilihat olehnya. Sementara itu, Johan yang telah mendapatkan bambu yang cocok untuk joran pancingnya, dibuat kesal karena Ahmad pergi begitu lama.
" Kemana lagi si Ahmad, membuatku menunggu sungguh bukan seleraku." kata Johan.
Kemudian Johan berinisiatif menyusul Ahmad, dengan masuk lebih jauh ke rimbunan pepohonan bambu. Sesampainya Johan di tempat Ahmad, ia mendapati Ahmad sedang memperhatikan sebuah sarang. Dengan inisiatif jahilnya, Johan ingin mengagetkan Ahmad dengan mengendap-ngendap dari belakang.
" Satu..dua..Woy!" teriak Johan dengan suara lantang. Ahmad yang terkejut hampir saja pingsan.
" Sial, kau membuatku kaget, hampir saja aku pingsan ,jantungku seperti hampir lepas." ucap Ahmad dengan wajah muram.
" Iyaiya ,maaf. Karena kamu terlalu lama disini, aku lelah menunggu." terang Johan.
" Maaf ,Jo. Aku sampai lupa waktu, hehe." kata Ahmad dengan diikuti tawa.
" Sebenarnya apa yang kau lakukan ? aku perhatikan dari jauh kau sangat serius memperhatikan sarang tersebut." tanya Johan.
__ADS_1
" Oiya, sebenarnya tadi ketika aku memasuki wilayah ini, aku menjumpai sebuah sarang, awalnya aku mengira ini sebuah sarang burung tetapi setelah aku melihat ada anakan ular ,aku tahu ini sarang ular." terang Ahmad.
" Ular? hii ayo Mad, aku ngeri kalau bicara tentang ular." kata Johan.
" Yah payah kamu, Jo." ujar Ahmad.
" Semenjak kejadian hari ketika aku sedang mencarimu ,aku terpatuk ular di kaki hingga tidak bisa berjalan selama beberapa hari." jawab Johan.
" Iyaiya, apapun itu, asal kita tidak mengganggu ,kita tidak akan apa-apa. Anggap saja kita sedang mempelajari makhluk hidup secara langsung, apa ya istilahnya herping bukan?" ujar Ahmad.
" Kalau hewan lain aku tidak masalah tapi kalau ini ular ,aku tidak ikut-ikutan deh." kata Johan sambil berbalik lalu meninggalkan Ahmad.
" Jo tunggu sebentar Jo." teriak Ahmad.
" Tidak tidak tidak ,aku tidak mau." jawab Johan.
" Tidak mau tidak apa Jo, tapi lihatlah di depanmu itu!" Ahmad berteriak lagi.
Pada awalnya ,Johan terlihat mengacuhkan hirauan Ahmad,tetapi setelah ia melihat ke depan ,ternyata ada seekor ular berukuran cukup besar tepat menghadangnya. Seketika Johan ketakutan dan kembali ke Ahmad.
" Sial, ini berat bagiku." kata Johan.
Perasaan Johan bercampur aduk, ia merasa takut ketika melihat ular besar di depan matanya secara langsung, tetapi ia juga kesal karena Ahmad ia terjebak di tempat tersebut. Sekarang Johan hanya memikirkan cara agar ia bisa membawa Ahmad keluar dari tempat itu.
" Ular itu berdiri ,seperti siap untuk menyerang kapan saja atau jangan-jangan ia merasa terancam." ujar Johan yang panik.
Dengan ketakutan dan kegelisahan Johan tidak mungkin dia akan bisa menemukan cara setidaknya untuk menyelamatkan diri.
" Sepertinya itu ular kobra Jo. Tapi ia berukuran besar dan tidak mencoba menyemburkan bisa." kata Ahmad.
" Dan satu hal lagi, menurutku ular itu sedang mencoba bertahan jika tiba-tiba ia mendapat serangan." imbuhnya.
" Satu hal yang pasti dan harus yaitu menyelamatkan diri kita." timpal Johan.
" Jangan-jangan ini telur dari ular-ular itu." bisik Johan di telinga Ahmad.
" Kalau begitu, sebelum kita dianggap ancaman bagi telur-telur ular itu, kita berjalan perlahan, jangan membuat gerakan tiba-tiba, oke." ajak Ahmad.
" Okeoke." Johan menyetujui ide Ahmad.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan perlahan mengambil jalan memutar, jalan yang cukup jauh untuk keluar dari pepohonan bambu tersebut. Perlahan tapi pasti ,itulah gambaran rencana mereka yang sukses. Mereka berhasil selamat tanpa sedikitpun luka.
" Untung saja kita selamat, kalau tidak beeh pasti sudah tinggal nama." ujar Johan.
" Haha betul Jo. Tidak bisa dibayangkan tergigit king kobra, hanya sekedar membayangkan kengerian bisanya saja sudah membuatku was-was." imbuh Ahmad.
" Iyasudahlah, lupakan hal tadi, kita kembali ke rencana awal kita bagaimana?" ajak Johan pada Ahmad.
" Baik, apa kita akan lomba memancing kali ini? karena kau rivalku tapi tidak pernah bisa mengalahkanku." sindiran Ahmad.
" Kali ini pasti aku bisa mengalahkanku, berisiaplah untuk kekalahanmu ,Ahmad." kata Johan dengan serius.
" Kita lihat saja nanti ya, jangan kecewa jika kalah." sindir lagi Ahmad.
Jam menunjukan pukul 14.35 ,sudah hampir sore dan mereka bahkan belum memulai memancing. Tiba-tiba saja di tengah perjalanan, fokus mereka teralihkan dengan penemuan sebuah benda yang baru pertama kalinya mereka berdua lihat.
" Ahmad, apa kau bisa lihat benda itu." tanya Johan sambil menunjuk ke arah lubang di tanah.
" Iya bisa-bisa. Tapi benda itu terlihat asing." jawab Ahmad.
" Ayo kita lihat sebentar ,siapa tahu itu adalah harta Karun,seperti bajak laut misalnya." kata Johan dengan nada bercanda.
" Bukan sepertinya, soalnya itu kurang banyak." jawab Ahmad yang lalu diikuti tawa mereka berdua.
" Ini terlihat seperti sarang Jo." ujar Ahmad.
" Lagi-lagi sarang. Yakinkan aku kalau ini bukan sarang ular." saut Johan.
" Bukan ular tapi buaya." kata Ahmad bercanda.
" Jo ini hanya lubang di tanah saja, tak perlu dikhawatirkan. Baiklah kita ambil ya." imbuhnya.
Ahmad lalu mengambil benda yang menarik perhatian mereka, dengan tangannya ia memberanikan diri mengambil secara langsung. Setelah bersusah payah, akhirnya benda tersebut berhasil ia gapai. Secara perlahan, ia menarik keluar dari lubang dan perlahan mulai tampak. Benda tersebut adalah sebuah benda pusaka, begitulah yang mereka yakini.
" Wah Jo, ini benda pusaka Jo." teriak Ahmad.
" Husst, diamlah jangan sampai teman-teman kita mengetahuinya." kata Johan mengingatkan Ahmad.
Namun terjadi keanehan ketika hendak mengeluarkan dari lubang. Benda pusaka yang awalnya berupa seperti keris kecil dan sebuah batu,terasa sangat berat setelah terkena sinar matahari. Akan tetapi ketika di dalam kegelapan benda-benda tersebut sangat ringan atau seperti benda dengan berat normal.
__ADS_1