
Johan, apa kamu sudah bangun nak?" tanya Nek Ningsih sambil membuka pintu kamar Johan.
" Eh nenek, masuk nek. Aku malah tidak bisa tidur nek, mengkhawatirkan mereka yang tak pulang-pulang hingga pagi." jawab Johan dengan kepala tertunduk.
Hari sudah pagi, matahari kambali menampakan diri sementara itu kakek,Selly,Iwan,dan Cindy masih dalam perjalanan. Sebentar lagi mereka akan sampai di pondok.
"Sebentar lagi kita akan sampai kek, apa kakek masih kuat berjalan?" tanya Iwan pada kakek yang mulai pucat.
Kakek menjawab,
" Kakek tidak apa-apa kok, kakek baik-baik saja." ujar kakek dengan suara yang lirih.
Tetapi Iwan,Selly,dan Cindy merasa tidak yakin dengan kondisi kakek. Akhirnya merekapun memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon. Pagi itu cuacanya cerah ,setelah hujan semalaman serta baju basah, mereka bisa merasakan lagi kehangatan sinar matahari. Setelah mengistirahatkan kakek, Iwan berinisiatif untuk mengambilkan air untuk kakek.
" Kalian tunggulah di sini sebentar, aku akan mengambil air di sumber mata air sebelah sana. Kalian jagalah kakek." seru Iwan pada Cindy dan Selly sambil berjalan meninggalkan mereka.
Dengan membawa botol minum yang bisa menyaring air kotor menjadi air bersih, Iwan membawakan air untuk kakek. Sumber mata air yang Iwan tuju seperti muncul dari bebatuan di lereng yang tak terlalu tinggi.
"Wow,ternyata benar dugaanku. Di Bebatuan ini ada sumber mata air yang airnya masih mengalir. Airnya juga bersih,jernih,dan tidak berbau, ini aman untuk diminum." kata Iwan dalam hatinya.
Ketika Iwan mengambil air untuk kakek, ia melihat tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat anak laki-laki yang memakai jaket, penutup kepala, bersepatu ,lengkap dengan celana jeans. Anak itu terlihat tertidur di bawah pohon namun pakaiannya basah. Setelah Iwan selesai mengambil air, terlintas di pikirannya untuk mendekati anak tersebut. Iwan berjalan perlahan-lahan mendekati anak itu, sementara tangan kirinya memegang botol minum dan tangan kanannya memegang sebilah ranting untuk berjaga-jaga. Dalam hatinya Iwan berkata,
" Siapakah orang itu? apa mungkin anak itu suku asli penghuni hutan ini? tetapi pakaiannya terlihat modern seperti seorang pendaki gunung." gumamnya dalam hati dengan tangan gemetar dan jantung berdebar-debar.
Setelah Iwan mendekati anak tersebut, ternyata anak yang ia lihat dari kejauhan Saat mengambil air adalah Ahmad.
"Anak ini ternyata Ahmad. Akhirnya setelah sekian lama, berhari-hari mencari akhirnya Ahmad ketemu juga." kata Iwan dengan perasaan gembira.
Tetapi Ahmad terlihat dalam kondisi yang tidak baik, sehingga Iwan memutuskan kembali ke tempat kakek dan memanggil teman-temannya. Iwan bergegas kembali dan memberitahukan kabar gembira tersebut.
__ADS_1
" Kakek, Selly, Cindy akhirnya aku telah menemukan Ahmad." kata Iwan dengan suara lantang.
Mereka semua terkejut mendengar pernyataan Iwan.
" Apa? jangan bercanda kamu Wan, mana mungkin kamu menemukan Ahmad." kata Selly yang tidak percaya perkataan Iwan.
Tanpa berbasa-basi Iwanpun mengajak mereka untuk melihatnya sendiri.
"Sudahlah, sebaiknya kalian ikut denganku agar kalian percaya. Tapi kakek tetap di sini saja kek, kakek masih belum baik juga kondisinya." ajak Iwan sambil memberikan botol minum yang ia pegang pada kakek.
Iwan ,Selly, dan Cindy bergegas menuju ke tempat Ahmad ditemukan. Iwan yang menunjukkan jalan. Akhirnya mereka sampai di tempat dimana ia menemukan Ahmad, dan benar saja yang dikatakan oleh Iwan. Iwan benar-benar telah menemukan sahabat mereka Ahmad.
" Ahmad, iya ini memang benar-benar Ahmad. Syukurlah akhirnya Kita bisa bertemu Ahmad." kata Cindy dengan wajah gembira.
"Tapi sepertinya Ahmad sedang kedinginan ,ia tertidur atau pingsan aku tidak tahu pasti. Yang penting kita bawa dulu Ahmad ke Rumah Kakek." ajak Iwan pada Selly dan Cindy untuk membawa Ahmad pulang ke Rumah Kakek.
Iwan merangkul Ahmad dibantu oleh Selly,sedangkan Cindy membantu Kakek Dul. Ketika Kakek Dul melihat mereka membawa anak laki-laki kakek bertanya,
Iwan menjawab,
" Ini Ahmad kek, teman kami yang hilang. Dia yang kita cari selama beberapa hari ini kek." kata Iwan memperkenalkan Ahmad.
Kakek merasa lega mendengar jawaban Iwan.
" Syukurlah jika Ahmad akhirnya berhasil ditemukan. Ayo sebaiknya kita pulang dan beristirahat." ajak kakek.
Mereka beranjak dari tempat tersebut, dengan perasaan lega setelah pencarian melelahkan yang mereka lakukan selama beberapa hari. Sekarang mereka bisa beristirahat dan kemudian melanjutkan penelitian mereka.
Sementara itu, setelah pengobatan tradisional yang diberikan Nek Ningsih untuk mengobati luka bekas gigitan ular tanah di kaki Johan ,perlahan-lahan luka bekas gigitan itu menunjukan kemajuan positif, bengkakan di kaki Johan mulai mengecil yang menandakan mulai hilangnya racun ular tanah tersebut. Pagi itu, Johan sudah bisa berjalan ke luar kamar meskipun tertatih-tatih.
__ADS_1
" Johan, bagaimana dengan kakimu? apa sudah lebih enak untuk berjalan ?" tanya Nek Ningsih pada Johan yang berjalan ke ruang tengah.
Johan tersenyum,
" Iya Nek, kakiku sudah jauh lebih baik daripada semalam. Terimakasih banyak nek. Nenek telah menolongku mengobati lukaku." kata Johan berterimakasih pada Nek Ningsih sambil menundukkan kepalanya.
Nek Ningsih mengangkat kepala Johan.
" Sudah sewajarnya sebagai manusia itu saling tolong menolong. Kalian sudah nenek anggap sebagai cucu nenek. Kakekpun menganggap kalian sebagai cucu sendiri." kata nenek sambil menuntunnya duduk di kursi.
Nenek menambahkan,
" Sekarang kamu di sini saja Johan. Nenek sedang membuatkan sarapan, mungkin saja Kakek dan teman-temanmu sedang dalam perjalanan pulang." kata nenek meninggalkan Johan menuju ke dapur.
Johan melamun ,dalam hatinya ia berdoa pada tuhan agar senantiasa melindungi setiap langkah teman-temannya.
" Semoga mereka baik-baik saja, Amin." ucapnya dalam hati.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki orang yang suaranya seperti lebih dari satu orang. Lalu terdengar salam dari luar. Johanpun berdiri ingin melihat keluar, namun tidak diperbolehkan oleh Nek Ningsih. Ketika Nek Ningsih membuka pintu, ternyata yang datang adalah kakek dan anak-anak yang pergi bersamanya.
" Akhirnya ,kalian pulang juga. Ayo masuklah," ajak Nek Ningsih pada mereka.
Merekapun masuk ke ruang tengah yang sudah ada Johan disana. Johan terkejut,
" Kalian kembali dengan selamat. Aku senang kalian tidak apa-apa. Dan itu adalah Ahmad. Bagaimana bisa kalian menemukan Ahmad?" kata Johan yang kaget bercampur perasaan senangnya. Johan bertanya-tanya bagaimana caranya mereka menemukan Ahmad. Namun teman-temannya hanya tersenyum kecil. Johan bertanya pada Iwan," Wan ,bagaimana bisa wan?" sambil menatap ke arah Iwan.
Iwan hanya menjawab, " Ceritanya panjang Jo. Nanti akan kami ceritakan kronologi lengkapnya." kata Iwan dengan napas kelelahan.
Tak lama setelahnya, Nek Ningsih membawakan mereka makanan ke meja makan. Nek Ningsih mengajak mereka untuk sarapan ,mengisi perut setelah kegiatan pencarian mereka semalaman.
__ADS_1
" Bicaranya nanti saja, sekarang ayo kita sarapan dulu. Nenek tahu kalian sudah sangat kelaparan." ajak Nek Ningsih.
Merekapun sarapan, sedangkan Nek Ningsih membawa Ahmad ke kamar untuk mengistirahatkannya.