Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Hantu Air


__ADS_3

Bersambung kembali setelah sebelumnya mereka telah berkumpul kembali dan ketegangan di antara mereka telah usai, kini mereka mulai memfokuskan kembali misi mereka. Johan dan Ahmad yang sedang bertugas mencari kayu bakar, tengah asik mengumpulkan kayu-kayu yang berserakan dengan diselingi pertanyaan-pertanyaan receh.


" Santai santai, jawabannya ya karena kebanyakan burung bisa terbang kenapa harus jalan kaki." jawab Ahmad.


" Hanya itu?" tanya lagi Johan.


" Iya memang hanya itu." jawab Ahmad.


" Sial,itu si aku tahu." ujar Johan.


" Kalau tahu tapi tidak bisa menjawab, haha." kata Ahmad menyindir Johan lagi.


" Berantem yuk kita." kata Johan yang kesal setelah mendengar jawaban yang benar.


" Selow sajalah, jangan lah tegang." kata Ahmad.


Mereka berdua melanjutkan kembali pekerjaan mereka, hingga terkumpul banyak.


" Sepertinya ini sudah cukup,Mad." ujar Johan.


" Benarkah? kalau begitu ,kita istirahat sebentar ya, aku sudah lelah." ucap Ahmad.


Mereka lalu duduk di batang pohon yang telah tumbang untuk rehat sejenak, melepaskan letih dan penat.


" Tak kusangka, hanya mengumpulkan kayu saja, sampai begitu lelahnya." buka Johan.


" Mungkin karena kita lapar, belum makan." jawab Ahmad.


" Apalagi sudah semakin siang, faktor utama yaitu lapar, benar katamu." timpal Johan.


Sementara itu, Iwan yang dibantu Selly dan Cindy telah selesai mendirikan tenda.


" Akhirnya, beres juga." kata Cindy sambil menghembuskan napas panjang. (Menghela napas)


" kau benar, boleh tolong ambilkan aku air minum Cin?" kata Iwan meminta tolong pada Cindy.


Kemudian Cindy mengambilkan minum ,bukan hanya untuk Iwan melainkan juga untuk dirinya serta Selly.

__ADS_1


" Ini, ambillah." menyerahkan gelas plastik pada mereka berdua.


" Sepertinya ini sudah terlalu lama Johan dan Ahmad pergi, apa mereka baik-baik saja?" tanya Selly yang mencemaskan mereka berdua.


" Aku harap tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan." jawab Iwan.


Hari sudah siang, matahari sudah hampir tempat di atas kepala mereka, suhu hari itu lumayan panas ,cukup membuat mereka kegerahan.


" Siang ini panas ,aku sampai banyak berkeringat. Serasa aku ingin mandi dan mencuci bajuku. " ucap Iwan.


Lalu Iwan menghampiri Selly dan Cindy.


" Selly, Cindy, aku mau ke sungai dulu sebentar ya. Aku mau mandi sekaligus memncuci bajuku,sudah hampir habis." kata Iwan.


" Baiklah berhati-hatilah." saut mereka berdua.


" Jika Johan dan Ahmad kembali ,katakan saja aku sedang berenang ke pulau." kata Iwan dengan nada bercanda.


Johan dan Ahmad yang telah puas beristirahat, melihat ke arah matahari dan seketika menyadari waktu mereka untuk segera kembali.


" Ayo kita kembali, ini sudah terlalu lama." ajak Johan.


Mereka berdua membawa sangat banyak kayu bakar, sekitar 2 ikat besar.


" Bagaimana kita akan membawanya?" tanya Ahamd.


Disini Johan mengajari Ahmad membuat tali dari kulit pohon.


" Jadi begini, ini ada bambu, lalu kita ambil kulitnya tapi kuliti agak dalam ,hingga cukup tebal dan kuat untuk dijadikan tali." jawab Johan.


Setelah semua kayu terikat kuat mereka membawa kembali kayu-kayu tersebut ke perkemahan mereka. Kembali lagi ke Iwan yang sudah berada di sungai ,dan hendak mencuci beberapa baju yang telah ia bawa sebelumnya.


" Segarnya...udara disini benar-benar segar. Apalagi tanpa polusi, bahkan kebisingan pun tidak ada." ujarnya.


Iwan menurunkan pakaian-pakaian kotor, dan mulai mencuci baju miliknya. Sejauh ini ,semua tampak normal tak ada kejadian yang aneh. Iwanpun mencuci dengan penuh suka cita sambil bernyanyi.


" Menari..iii..bersamamu..." itulah nyanyian dari Iwan.

__ADS_1


Tiba-tiba ,ketika Iwan masih asik mencuci dan menyanyi salah satu bajunya hampir saja hanyut.


" Eeeh..Bajuku..bajuku..bajuku." kata Iwan.


Disaat-saat inilah mulai terasa hal-hal ganjil mulai dirasakan oleh Iwan. Ketika ia berhasil menggapai bajunya yang hanyut, ia merasa ada yang sedang memperhatikan dirinya, sesuatu yang membuatnya merinding dan menciutkan nyalinya yang sedikit.


" Bajuku..Akhirnya dapat juu..Kenapa perasaanku tidak enak ya." gumamnya dalam hati.


" Sepertinya ada yang tidak ramah disini, atau jangan-jangan..." lanjutnya.


" Ah, mungkin karena aku yang terlalu parno, jadi pikiranku kemana-mana." ujar Iwan.


Setelah selesai mencuci bajunya, Iwan hendak mandi di pinggiran sungai tersebut. Ia tidak berani berenang karena takut sungai tersebut terlalu dalam baginya atau arusnya terlalu deras dan bisa membahayakan baginya.


" Sebaiknya aku mandi saja, aku tidak jadi berenang. Sepertinya arusnya cukup deras, dan mungkin dalam." gumamnya.


Ketika Iwan mandi, sepertinya biasanya iapun bernyanyi. Bernyanyi ketika mandi merupakan kegemaran Iwan sejak masih kecil atau tepatnya sejak bisa mandi sendiri. Dan ketika Iwan sedang membasuh wajahnya dengan air sungai, ia memejamkan matanya lalu memasukan tangan ke dalam gayung ,disitu ia merasa seperti ada rambut panjang yang masuk ke dalam gayungnya.


" Ini kenapa..tunggu..ini sepertinya rambut seseorang dan panjang. Bukan rambutku, berarti ini rambut siapa? kenapa bisa?" tanyanya dalam hati.


Iwan membuka matanya ,namun ia tidak menemukan apapun.


" Tadi,benar-benar ada tapi kenapa aku merasakannya hanya ketika memejamkan mata ya." kata Iwan yang heran.


Tampaknya rasa penasaran Iwan sudah semakin tinggi, karena biasanya ketika ia takut atau merasa ada yang janggal, pastilah ia langsung lari atau setidaknya mencari teman-temannya. Akan tetapi, sepertinya kali ini Iwan yang baru telah terlahir, ia justru semakin dibuat penasaran dengan fenomena yang ia alami. Karena penasaran, ia mencobanya sekali lagi, untuk membuktikannya. Kali ini ia akan mencoba lebih lama memejamkan matanya.


" Aku harus mencobanya lagi, aku benar-benar penasaran dibuatnya. Apa si sebenarnya yang aku rasakan tadi." tanya Iwan dalam hatinya.


Semua pertanyaan seperti telah menumpuk, dan ingin segera mencari tahu jawabannya. Ketika Iwan membasuh wajahnya lagi, sembari memejamkan mata, inilah yang terjadi padanya.


" Astaga. Apa ini kenapa tubuhku seperti terlilit." katanya sambil meronta-ronta.


" Ini bukan tali ,tapi rambut yang sangat panjang dan tebal." tambahnya.


Semakin lama ikatan tersebut semakin kuat saja ,sampai-sampai membuatnya sesak napas. Karena merasa sudah tidak kuat, Iwan mencoba membuka matanya segera. Namun yang terjadi adalah ia tidak apa-apa. Ikatan dari rambut tadi tidak nampak sama sekali ,akan tetapi tubuhnya sulit untuk digerakan. Lalu Iwan melihat badannya dan mendapati kulitnya telah lebam, kebiru-biruan, persis seperti telah diikat dengan tali yang kuat.


" Ini..ini tidak mungkin, bagaimana bisa? bagaimana ini bisa terjadi." teriak Iwan.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Iwan menjadi trauma akan hal-hal yang menurutnya di luar nalar manusia. Iwan menampar pipinya dan berkaca di air sungai, tetapi yang ia lihat adalah banyak sosok di dalam air sungai tersebut, dengan wajah yang bisa dikatakan buruk rupa. Seperti hendak menariknya masuk ke sungai, entah untuk apa atau hanya halusinasi Iwan saja. Tak pikir panjang ,Iwan langsung mengemasi baju-bajunya dan berlari kembali ke teman-temannya.


__ADS_2