Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Hari kesepuluh : Layaknya Ilha da Queimada Grande


__ADS_3

Johan dan Ahmad tidak pulang semalam, karena mereka masih disekap di bawah pohon besar tua berusia puluhan tahun. Sementara itu, teman-temannya mengkhawatirkannya.


"Semalam mereka tidak kembali ke tenda, jujur saja itu membuatku khawatir." jawab Iwan.


" Kalau begitu, kami akan ikut denganmu Wan." kata Selly dan Cindy.


" Ayok." jawab Iwan.


Selly , Cindy , dan Iwan segera mempersiapkan diri, dan lekas berangkat. Tapi sebelum mereka berangkat...


" Selly , Cindy apa kalian masih punya sedikit makanan untuk mereka berdua ? " tanya Iwan.


" Sepertinya kita masih punya Wan. Sebentar ya aku lihat dulu. " jawab Cindy sambil memeriksa ke tendanya.


" Maaf Wan, kita sudah tidak punya makanan." ucap lirih Cindy.


" Mau tidak mau kita akan mulai lagi, survival act mencari makanan untuk kita dan mereka juga." timpal Iwan.


" Lantas sebelum itu, kemana kita akan mencari mereka ? " tanya Selly.


" Eee sepertinya jejak-jejak ini cukup membawa kita pada mereka." jawab Cindy sambil menunjukan jejak kaki.


" Ooo jadi mereka lewat sini, mungkinkah mereka mencari sesuatu ? " tanya lagi Selly.


" Mungkin saja, sebaiknya ayo kita segera susul mereka. Ikuti aku." kata Iwan.


Iwan memimpin timnya untuk misi pencarian Johan dan Ahmad. Dengan bermodalkan petunjuk yang diduga jejak kaki, mereka beranikan diri untuk menyusuri hutan. Pagi sudah di depan mata, matahari mulai menunjukan pancaran sinarnya. Sementara itu, Johan dan Ahmad terbangun dengan kondisi yang sebenarnya biasa saja, bahkan cenderung tidur dengan nyenyak.


" Hooaam..nyenyak sekali tidurku." kata Johan sambil menguap.


" Belum pernah aku tidak merasakan kedinginan ketika tidur malam hari." imbuhnya.


Belum ada yang membuat Johan terkejut atau ia memang belum menyadari dimana ia sekarang ini. Lalu Johan melihat sekelilingnya, ia perhatikan terus menerus. Barulah ia menyadarinya...


" Tunggu tunggu, aku tidak kedinginan meskipun aku tidur dimana ini, wooy...tempat apa ini." teriak Johan.


Ahmad yang masih tertidur menjadi terbangun karena mendengar teriakan Johan. Gelagat Ahmad juga tidak jauh berbeda, ia merasa seperti biasa saja pada awalnya.


" Ada apa sih Jo. Kau berisik sekali pagi-pagi." kata Ahmad sambil mengusap matanya.


" Kau sudah bangun Mad. Ayo bangunlah, ini sudah pagi dan kau mungkin juga akan terkejut melihat ini." ujar Johan.


" Haaa..apa yang kau bicarakan bukankah kita tidur di kasur yang nyam.." ucap Ahmad.

__ADS_1


" Eeeh kita kan semalam pergi mencari benda pusaka yang aku lempar kenapa kita jadi kesini,dimana ini ? " imbuh Ahmad.


" Itulah yang membuatku heran, ayo bangun dan lihat-lihat di luar. " ajak Johan pada Ahmad.


" Siap, sebelumnya bantu aku bangun Jo." pinta Ahmad.


Johan dan Ahmad bangun dan beranjak dari tempat mereka berdiri. Tempat yang terlihat luas itu sebenarnya adalah sebuah pohon besar.


" Tempat ini sepertinya ini adalah pohon besar. Benar-benar besar untuk ukuran pohon." ujar Johan.


" Kira-kira berapa ya beratnya ? " tanya Ahmad dengan nada bercanda.


" Aku kira cukup berat untuk menghasilkan banyak uang. " jawab Johan yang diikuti tawa mereka berdua.


" Tapi disini gelap sekali, hanya sepintas terlihat matahari menembus lubang-lubang kecil." ujar Ahmad.


" Pengamatan yang bagus Mad." pujian dari Johan.


" Terimakasih Jo, biasalah setelah tidur nyenyak ,otakku jadi encer ,penglihatan tajam." ujar Ahmad.


" Tapi...kau tidak memperhatikan satu hal." kata Johan.


" Apa itu Jo ? " tanya Ahmad.


" Coba perhatikan baik-baik, kita mengelilingi tempat ini, meskipun kau tahu ini sebuah pohon besar tetapi kenapa kita seperti mengelilingi alun-alun." jawab Johan.


Setelah menyadari keanehan tersebut mereka memutuskan tidak melanjutkan mengelilingi tempat tersebut, karena merasa sia-sia saja.


" Percuma saja jika mengelilingi tempat ini ,kalau pada akhirnya kita tahu sia-sia." kata Ahmad.


" Percuma mengelilingi tempat yang sepertinya tak berujung." Johan menambahkan.


Kemudian, Johan dan Ahmad mencari tempat yang nyaman untuk mereka singgah, demi menghemat tenaga.


" Ahmad, kita cari tempat untuk duduk yok." ajak Johan.


" Ayok, eee disini becek sekali, mungkin air hujan yang masuk kesini lalu menggenang." jawab ajakan Johan.


" Nah disini kering tanahnya, dan yang penting aman. " ujar Johan.


Johan langsung duduk tanpa memperhatikan sekitar dengan lebih seksama, untunglah Ahmad tidak langsung duduk. Ahmad melihat di depan mereka ada ular dan ia menduga ular tersebut berbisa. Lantas ia segera memberitahukan hal tersebut pada Johan.


" Tunggu Jo. Jangan dulu duduk disitu." peringatan dari Ahmad.

__ADS_1


" Kenapa memangnya , apa kau tidak suka kalau aku duduk ? " tanya Johan yang belum memahami ucapan Ahmad.


" Bukan itu bukan yang kumaksud. Lihatlah ke depan sana ! " teriak Ahmad.


" Tak usah teriak-teriak seperti itu, sebenarnya apa sih yang kau lihat." kata Johan.


Ketika Johan melihat ke arah yang ditunjukkan Ahmad, ia tidak pernah mengira akan melihat banyaknya jumlah ular persis tak jauh di hadapan mereka.


" Banyaknya ular disini, apa ini sarang ular ? " tanya Johan.


" Seperti yang kau lihat dengan mata kepalamu, seperti itulah adanya Jo." jawab Ahmad.


" Lagi-lagi aku langsung merasa pusing ketika melihat ular, apalagi dalam jumlah sebanyak ini." kata Johan yang hampir saja tersungkur.


Untunglah Ahmad selalu sigap,mencegah Johan.


" Asal jangan pingsan di tempat seberbahaya ini. Seperti apa itu yang tempat pulau ular di lepas pantai Brazil." ucap Ahmad.


" Maksudmu lepas pantai Brazil di Samudra Atlantik itu ya, kalau tidak salah Ilha da Queimada Grande, atau nama dari pulau ular. " jawab Johan.


" Nah itu dia, hebat Jo. Masih pusing saja ,masih bisa berpikir nama yang sulit." pujian dari Ahmad.


" Diamlah, dan segera bawa aku menjauh dari ular-ular ini, atau aku akan pingsan." seru Johan.


" Sebelum ular-ular tersebut mendekati kita satu persatu." imbuhnya.


" Oke, ayo tapi berhati-hatilah takutnya tersandung." kata Ahmad.


Ahmad membantu Johan yang merasa pusing ,karena traumanya semenjak tergigit ular waktu itu. Ahmad membawa Johan untuk kembali ke tempat awal mereka atau tempat mereka bangun tidur.


" Sepertinya ular-ulat tersebut sudah tidak melihat kita Jo." ujar Ahmad.


" Setahuku ,ular merasakan keberadaan bukan dengan matanya, karena beberapa spesies mereka tidak bisa melihat dengan jelas." kata Johan.


" Kalau bukan melihat lalu dengan apa Jo, cara mereka mengenali baik musuh ataupun mangsanya ? " tanya Ahmad.


" Dari yang pernah aku baca di buku ensiklopedia dan sumber lainnya sih, ular mengenalinya musuh atau mangsa dengan melalui panas tubuh. Jadi mereka sudah tahu ada bahaya jika ada panas tubuh dari kita." jawab Johan.


" Jadi mereka adalah hewan berdarah dingin ya." timpal Ahmad.


" Ular memang hewan berdarah dingin, hiii membayangkan memegang sisiknya saja sudah membuatku cukup tak selera makan." kata Johan.


" Bukankah waktu itu, kita ada kegiatan pecinta alam waktu awal masuk disuruh untuk memegang ular Jo." tanya Ahmad.

__ADS_1


" Itu karena terpaksa saja sebenarnya Mad, aslinya si tidak berani meskipun hanya melihat sorot mata dan kulitnya saja membuatku ngeri." jawab Johan.


Bersambung....


__ADS_2