Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Hari keenam : Lembaran Baru


__ADS_3

Kakek memberi tanda untuk tidak berbicara dulu, karena bisa saja Ahmad mendengarnya dan malah membuat kesan buruk.


" Jangan dulu ,oke. Kita doakan saja yang terbaik baginya." kata kakek.


Kakek lalu mengajak mereka melanjutkan makan malamnya. Setelah mereka semua makan malam ,mereka memutuskan untuk langsung beristirahat. Ketika semuanya menuju kamar, Johan ingin berbicara empat mata dengan kakek.


" Kakek bolehkah kita bicara sebentar, empat mata kek." kata Johan mengajak kakek.


Kakek menyetujuinya, mereka kemudian pindah ke ruang tamu yang berada di depan, agar tak ada yang mendengarkan obrolan mereka. Ketika Johan telah duduk ,ia sedikit ragu dan bingung memulai obrolan dari mana, hingga akhirnya kakek bertanya padanya,


" Apa yang ingin kamu bicarakan Jo." tanya kakek pada Johan.


" Sebenarnya kek, tak lama lagi kami harus melanjutkan penelitian kami kek, dan kami harus pergi dari rumah kakek." kata Johan dengan terbata-bata dan perasaannya yang merasa tak enak dengan Kakek Dul maupun Nek Ningsih.


Johan menundukkan kepalanya , ia tak berani menatap kakek secara langsung. Johan takut kakek akan menyebut ia dan teman-temannya tidak tahu diri tak tahu diuntung. Namun ternyata hal sebaliknya yang terjadi. Kekhawatiran Johan ternyata salah, justru Kakek Dul dan Nek Ningsih merasa senang dengan kehadiran mereka selama disana, meskipun mereka paham mereka hanya sementara disana.


" Johan, Johan, kakek dan nenek tidak akan berpikiran kalian sebagai beban kami bukan. Bukan pula kalian ini tidak tahu diuntung. Bukan juga kami anggap sebagai tamu. Tetapi kakek dan nenek telah menganggap kalian semua sebagai keluarga kakek dan nenek. Berkat kehadiran kalian pula kakek dan nenek kembali merasakan kehadiran anak-anak kami. Kalian sudah seperti anak-anak kami ,cucu kami." kata Kakek sambil menepuk pundak Johan.


Johan yang mendengar hal tersebut merasa sangat senang, ia kemudian berkata pada kakek.


" Kakek dan nenek juga telah kami anggap sebagai keluarga kami sendiri. Kakek dan nenek sudah banyak membantu kami." kata Johan dengan tangisan haru yang mulai menetes.


Kakek Dul dan Nek Ningsih justru semakin mendukung mereka berlima,bahkan Kakek Dul telah mengajarkan teknik bertahan hidup di hutan pada mereka berlima.


Hari sudah larut malam, kakek mengajak untuk beristirahat.


" Ayo sebaiknya kita semua beristirahat, mungkin kalian besok harus segera berangkat." ajak kakek pada Johan.

__ADS_1


Seisi rumahpun tertidur, malam Itu mereka semua terlelap tanpa ada hal-hal aneh yang mengganggu mereka, bahkan tak ada yang bermimpi buruk. Keesokan harinya, matahari mulai memancarkan sinarnya. Mereka semua bangun lebih awal untuk beribadah,dan setelahnya Nek Ningsih menyiapkan sarapan dan bekal makanan untuk mereka bawa nantinya. Cindy dan Selly seperti biasa selalu ingin membantu Nek Ningsih, karena Nek Ningsih pandai dalam Hal memasak. Mereka berdua banyak belajar cara memasak berbagai bahan makanan ,baik yang umum dijumpai maupun yang baru pertama kali mereka lihat.


" Nek kami boleh membantu nenek kan?" tanya Cindy pada Nek Ningsih dengan penuh semangat.


Nek Ningsih memperbolehkan mereka berdua untuk membantu, justru Nek Ningsih merasa sangat senang mengajari mereka berdua tentang memasak.


" Tentu saja kalian boleh membantu nenek, malahan nenek sangat senang jika kalian mau belajar memasak." kata Nek Ningsih pada Selly dan Cindy.


Sementara Itu, Johan dan Iwan sedang sibuk membereskan barang-barang mereka berdua di kamar, Ahmadpun sudah bangun. Ahmad pagi ini terlihat lebih tenang, pandangannya sudah tidak kemana-mana, dan tidak lagi berkhayal tentang sesuatu. Bahkan Ahmad membantu Johan dan Iwan untuk berbenah.


" Kamu sudah bangun Mad?" tanya Iwan yang senang melihat Ahmad sudah membaik jiwanya.


Ahmad menjawab,


" Iya Wan, baru saja. Semalam aku merasa tidurku lama sekali, aku Bantu berbenah ya." kata Ahmad yang terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.


Tak lama Kemudian Nek Ningsih ,Selly ,dan Cindy telah selesai memasak. Mereka kemudian menyajikannya di atas meja makan, lalu memanggil mereka semua untuk sarapan bersama. Momen itu seakan menjadi peringatan atau kenangan terakhir mereka semua sebelum berpisah dengan Kakek Dul dan Nek Ningsih. Johan,Iwan,dan Ahmad keluar kamar untuk bergabung dengan yang lainnya di meja makan.


" Ahmad bagaimana tidurmu?" tanya kakek dengan wajah riang.


Ahmad tersenyum ,dan menjawab.


" Aku bisa tidur dengan nyenyak kek, badanku benar-benar beristirahat dengan baik. Sekarang aku merasa sangat bugar." kata Ahmad sambil mendekati tempat duduknya.


Nenek ,Selly ,dan Cindy datang dari dapur membawa makanan yang paling spesial.


" Ayam hutan panggang ala nenek sudah datang." kata nenek membawa ayam hutan panggang masakannya.

__ADS_1


Mereka tak bisa membayangkan rasa dari ayam panggang tersebut, dari baunya saja ayam panggang masakan Nek Ningsih sudah membuat mereka ingin segera menyantapnya.


" Dari baunya saja sudah sangat wangi Nek. Aku tak sabar ingin mencicipinya." kata Johan yang sudah berbunyi perutnya sedari tadi.


Nenek tersenyum.


" Iyaiya, Ayo kita santap saja ayamnya sekarang, apalagi Johan perutnya sudah berbunyi dari tadi." kata nenek bercanda diikuti tawa dari mereka semua.


Ahmad yang baru pertama kali memakan masakan Nek Ningsih langsung terpikat.


" Wah nenek, ini enak nek. Benar-benar enak, aku tidak bohong." kata Ahmad memuji.


Ia yang dengan lahap terus memakan sarapannya.


" Benar kan Ahmad apa yang aku katakan, masakan nenek itu jempolan, rasanya benar-benar seperti di restoran." kata Johan yang ikut memuji masakan Nek Ningsih.


Tampaknya momen kebersamaan itu begitu mereka nikmati, selagi belum berpisah masih sempat merasakan masakan Nek Ningsih. Canda tawa yang mereka rasakan selama beberapa hari disana membuat mereka cepat nyaman. Semuanya telah menghabiskan sarapan mereka, satu persatu dari mereka Mandi terlebih dahulu. Terutama Ahmad yang selama beberapa hari menghilang dan tak pernah mandi ataupun ganti baju.


Ketika Ahmad ingin mandi ,Iwan ,Johan ,dan kakek masih ada di meja makan. Johan membicarakan Ahmad pada mereka berdua,


" Aku sedikit heran, ketika Iwan menemukan Ahmad di bawah pohon kemarin ,kenapa baju yang ia kenakan tidak basah sedikitpun. Bukankah semalam itu hujan deras bukan? dan jika ia hilang sekiranya ia dibawa kemana." tanya Johan yang heran melihat Ahmad.


Kakek menjawab pertanyaan dari Johan,


" Yang kamu lihat memang benar adanya Jo. Itu nyata, sebenarnya Ahmad ketika ditemukan oleh Iwan itu ia mungkin saja telah dikembalikan oleh si penculiknya yang Tak lain tak bukan adalah penghuni wilayah sebelah sana." kata kakek menceritakan kebenarannya.


" Makhluk penculik Ahmad itu bisa saja wewe gombel, yang berwujudkan badan hitam berkuku panjang, yang terlihat seperti perempuan." kata kakek menambahkan.

__ADS_1


__ADS_2