Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Makna kata perjuangan


__ADS_3

Johan , Iwan ,Ahmad ,Selly dan Cindy telah menetapkan keyakinan baru bisa segera keluar dari tempat itu, meski perlahan mereka mulai beradaptasi dengan baik. Adaptasi yang mereka rasakan bukanlah jaminan alam akan bisa bersahabat semudah pohon menerima kedatangan burung yang hinggap. Mereka berlima kembali melanjutkan perjalanan mereka mencari jalan keluar, memerlukan banyak waktu dan tenaga yang terbuang untuk memulainya.


" Semuanya, Hip-hip." Ajak Johan membakar semangat.


" Hooray, semangat anak muda, yes." Teriak mereka serentak.


" Kita tetap melanjutkan tujuan awal kita mencari sungai besar, itu bisa menjadi petunjuk yang luar biasa jika kita berhasil menemukan dan mengikuti arah alirannya." Ujar Ahmad.


" Benar yang dikatakan Ahmad, air kan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, hulu ke hilir jadi pasti itu bisa kita manfaatkan." Sahut Selly.


" Tapi tampaknya tempat Sekarang kita menapaki hampir tidak terdengar suara gemericik air sedikitpun, lantas bagaimana ? " Tanya Cindy pada teman-temannya.


" Nah iyaya, aku malah tidak menyadari tidak ada sungai di sekitar sini, apa kita akan kembali ke tempat yang waktu itu ? " Tanya balik Selly.


" Bukan pilihan yang bijak aku rasa, kita sudah terlampau jauh dan ada satu alasan mengapa kita tidak boleh mengambil jalan yang sudah kita lalui sebelumnya." Jawab Johan.


" Apa maksudmu Jo ? " Tanya teman-temannya.


" Maksudku adalah itu adalah pantangan , peraturan tak tertulis yang entah dikata mitos atau apa tapi kebanyakan yang datang kesini tidak bisa kembali atau hanya menyisakan nama saja." Terang Johan.


Lantas Johan berjalan lebih dulu di depan teman-temannya, ia merasakan perasaan yang mulai tidak enak jika hanya mengeluh dan berbicara. Sehingga ia memilih untuk berbicara sembari bergerak. Arah kemana mereka bergerak tidaklah pasti, karena mereka benar-benar tidak punya navigasi apapun kecuali matahari yang kini malah tertutup awan. Saking asrinya hutan tersebut tanahnya saja becek ,ditumbuhi tanaman rerumputan yang tingginya hampir selutut mereka.


" Sekarang jam berapa ya, kok terasa begitu lama kita berjalan." Tanya Selly.


" Sekarang baru jam 10 pagi Selly, kita saja baru berjalan sekitar 10 sampai dengan 15 menit, tapi kau sudah mulai mengeluh." Jawab Johan.


Langkah kaki mereka mulai terasa pegal, tapi mereka belum bisa menemukan satupun petunjuk. Mulai terbesit di pikiran masing-masing penyesalan kenapa mereka pergi dari pondok Kakek Dul dan Nenek Ningsih. Mereka orang tua yang begitu baik memperlakukan mereka ,memberi makan ,memberikan rasa aman ,dan rasa kekeluargaan yang hangat daripada menginap di hutan tanpa memiliki bahan makanan yang tersedia.

__ADS_1


" Kenapa aku jadi teringat dengan mereka berdua ya, apakah ini bisa disebut rindu ? " Tanya Cindy.


" Mereka berdua itu siapa Cindy, apakah kau punya pria idaman ? " Tanya balik Selly.


" Sembarangan, bukan itu Selly tapi mereka adalah Kakek Dul dan Nek Ningsih, mereka orang yang baik bukan." Jawab Cindy.


" Benar ,tapi jangan menyesali kenapa kita tidak menetap saja sambil melakukan penelitian bodoh ini, semuanya sudah terlanjur karena kita yang memilih jalan ini bersama." Jawab Ahmad.


Mereka berbincang-bincang sembari terus melangkahkan kaki menyusuri hutan. Naik turun bukit ,berjalan ke arah kanan maupun kiri telah mereka lewati , hingga tak sadar mereka telah sampai di suatu yang benar-benar baru mereka datangi. Lain daripada yang lain, mereka merasa seperti telah sampai di puncak gunung saat selesai mendaki ,rasa kepuasan adalah bayaran yang setimpal karena disuguhkan pemandangan yang indah.


" Lihatlah semua yang ada di hadapan kita ini, melegakan rasanya sampai di tempat seindah ini." Kata Iwan.


" Iyap memang indah tempat ini, tapi perlu dicatat hari sudah semakin siang ,kita perlu mulai memikirkan perut kita." Sanggah Selly.


" Benar juga yang dikatakan Selly, akupun sudah mulai lemas karena tenaga sudah terkuras setelah perjalanan menanjak tadi." Imbuh Cindy.


" Tentu saja kami semua setuju kapten." Jawab mereka kompak.


Kemudian mereka melanjutkan perjalanan sembari mencari-cari tanaman ataupun buah-buahan yang bisa mereka makan sekedar untuk mengganjal perut yang mulai lapar. Kanan dan kiri mereka mencari hanya menjumpai rerumputan yang menjulang, masih belum pupus harapan mereka menemukan sesuatu untuk dimakan meski hampir terlantun kata menyerah.


" Panas...panas sekali siang hari ini, sampai detik inipun belum kita jumpai sumber mata air ataupun makanan." Keluh Ahmad.


" Jangan dulu mengeluh ,jangan dulu menyerah karena masih ada harapan bagi kita, hari masih siang dan kitapun masih sanggup berjalan dengan tegak." Kata Iwan membangkitkan semangat teman-temannya yang mulai memudar.


Setelah mendengar motivasi yang diujarkan oleh Iwan, mereka semua menjadi kembali bersemangat hingga akhirnya semua perjuangan mereka tampak membuahkan hasil yang tak disangka-sangka sebelumnya.


" Apakah kalian mendengar suara gemericik air ? " Tanya Johan.

__ADS_1


" Iya Jo, aku mendengarnya tapi itu sepertinya arus sungai yang besar hanya saja jaraknya lumayan jauh dari sini." Jawab Ahmad.


" Kalau benar suara tersebut adalah sungai ,maka kita patut bersyukur Tuhan memberikan kita jalan keluar dari permasalahan yang kita hadapi, jika kita tidak menyerah pastilah akan mendapatkan kuncinya." Ujar Cindy.


" Sudahlah jangan banyak kata lagi, semakin cepat semakin dekat, maka akan lebih baik, ayo." Ajak Iwan.


Mereka mempercepat langkah , terdengar mereka menapaki jalan yang benar untuk mendekati sumber suara aliran air. Rimbunnya hutan hujan tropis mereka telusuri dengan keberanian dan tekad kuat yang tertanam di hati mereka, rasa lapar kini menjadi cambukan agar mereka terus bertahan hidup.


" Johan bisakah kau buka jalur ke arah sana, menurutku akan lebih mudah melalui arah sini daripada harus memutar lewat arah sana, yang mana akan memakan banyak waktu." Pinta Selly.


" Boleh saja, tapi aku perlu bantuan agar lebih efektif." Jawab Johan.


" Baiklah, aku dan Iwan siap membantumu kapan saja Jo, kita bekerjasama kita bisa." Sahut Ahmad menawarkan bantuan pada Johan.


Segera Ahmad, Johan ,dan Iwan melaksanakan tugas mereka untuk membuka jalur baru untuk mereka lalui. Cukup lama memang untuk membuka jalur baru ,sebab rimbunnya hutan yang banyak ditumbuhi tanaman berakar besar dan semak berduri.


Tanpa mereka sadari, tepat di bawah tumpukkan akar yang berada tak jauh dari telapak kaki mereka, ada seekor ular sanca atau phyton yang berukuran besar. Ular tersebut memang tidak terlalu tampak ,berkamuflase warna kulit sama dengan warna tanah dan daun-daun kering yang berserakan. Tanpa disengaja, hampir saja kepala ular tersebut terinjak oleh Johan yang terlalu fokus ke depan tanpa memperhatikan langkah kakinya.


" Johan awas Johan, lihat di bawah telapak kakimu ada ular sanca besar." Teriak Cindy.


" Aaargh ,hampir saja untung kau peringatkan Cindy, Alhamdulilah aku tidak sampai menginjaknya." Kata Johan yang terjatuh dengan posisi duduk.


" Apa kau tidak apa-apa Johan ? " Tanya Ahmad.


" Alhamdulillah ,aku baik-baik saja Mad, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Jawab Johan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2