Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Firasat Kuat Sahabat


__ADS_3

" Burung itu..jangan-jangan ini merupakan suatu pertanda." kata Johan.


Johan lantas menyusul kembali Selly dan Cindy yang sudah cukup jauh di depannya. Johan terus berlari sampai-sampai tak memperhatikan jalan, akhirnya ia pun tersandung akar pohon. Akibat tersandung akar pohon tersebut membuat bajunya kotor dan kakinya cedera.


" Ahhh disaat-saat seperti ini aku malah tersandung." keluh Johan.


Sebenarnya Johan ingin terus memaksakan untuk melanjutkan langkahnya meski tertatih.


" Aku harus melanjutkannya atau aku akan semakin tertinggal jauh serta kehilangan jejak mereka berdua."


Johan kemudian mencoba kembali berdiri dengan bersandar pada pohon dan mengambil ranting sebagai tongkat untuk membantunya berjalan. Dengan langkah tertatih ,Johan menggendong ranselnya kembali dan perlahan tapi pasti melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba saja, ia seperti menjumpai jalanan yang tak biasa, dimana tidak ada jalan sama sekali, mau tidak mau Johan harus membuka jalur. Namun ,di tengah semak belukar seperti ada yang sedang memperhatikannya.


Di bawah langit yang sudah gelap dan mendung di sore hari itu.


" Sial, di sini sama sekali tidak ada jalan. Bagaimana ini, apa mereka tidak lewat sini." kata Johan yang heran.


Matahari sudah tenggelam, mau tidak mau Johan hanya punya satu pilihan yaitu menetap sementara dengan membuat bivak.


" Hari semakin gelap, dan kini aku benar-benar sendiri. Sepi..benar-benar sepi rasanya." ujar Johan dalam lamunannya.


Sambil terus melamun ia menikmati beberapa kentang yang telah ia bakar dalam perapian. Johan harap-harap cemas merasa teman-temannya sedang tidak baik-baik saja. Benar saja ,ketidakberuntungan terjadi pada Ahmad dan Iwan. Mereka berdua terperosok ke dalam rawa-rawa ketika senja. Awal mula mereka terperosok adalah ketika di tengah pembicaraan mereka.


" Wan, sepertinya Johan lebih membela Selly dan Cindy," kata Ahmad yang sedikit kecewa.


" Biarlah, paling nanti Johan merasakan sendiri ,mereka berdua hanya beban." imbuh Iwan.


" Ya kau memang benar Wan. Aku setuju denganmu, Mereke sebenarnya yang menghambat kita untuk segera menyelesaikan projek penelitian ini."

__ADS_1


Tak sadar keduanya tiba-tiba saja terperosok jatuh ke dalam rawa. Dan sial bagi mereka senter mereka mati. Tentu saja hal tersebut membuat keduanya benar-benar panik.


" Aaarghh ,sial. Hari ini kita sedang tidak beruntung." kata Ahmad sambil menatap Iwan. Iwan setuju dengan ucapan Ahmad.


" Aku setuju, teman yang berkhianat, kali jni kita terperosok."


Iwan dan Akhmad kemudian mencoba mencari-cari senter yang mereka simpan di dalam tas masing-masing.


" Aduh aduh aduh, malah senterku mati ,bagaimana dengan punyamu Ahmad." keluh Iwan dengan ekspresi yang kesal.


Hal yang sama pun dirasakan Ahmad ,karena senter mereka sama-sama tidak bisa dinyalakan ,mereka pun mencoba sebisa mungkin untuk keluar dari rawa tersebut, meskipun tertatih. Setelah beberapa saat dengan usaha yang melelahkan Ahmad berhasil keluar dari rawa terlebih dahulu, dengan memegang akar-akar yang menjalar. Setelah itu, Ahmad berusaha untuk membantu Iwan agar bisa keluar.


" Ayo Iwan, peganglah akar pohon ini, dan raihlah tangnku, ayo Wan, kamu pasti bisa." seru Ahmad menyemangati.


" Eeeh haaah, ini sangat sulit Mad, kakiku sepertinya ada yang mengganjal di sepatuku."


" Sekarang kita harus kemana Mad? hari semakin malam." tanya Iwan pada Ahmad.


" Akan sangat sulit dan berbahaya jika kita terus berjalan tanpa arah dan tujuan. Sebaiknya kita mendirikan tenda di sini, aku hanya takut nantinya kita tersesat ataupun hujan." jawab Ahmad.


Mereka bekerjasama mendirikan tenda ,beruntung bagi mereka karena mereka karena Ahmad yang membawa tenda, sehingga untuk tempat berteduh sudah aman. Setelah tenda berdiri, mereka beristirahat dan tak lupa membuat perapian. Namun ketika hari semakin malam ,angin bertiup kencang memadamkan perapian dan membuat mereka kedinginan dan kelaparan.


( Bunyi perut Iwan) " Kita harus membakar sesuatu Mad ,untuk makan. Apakah kau membawa beberapa bahan makanan di tasmu?" tanya Iwan.


Ahmad lalu mengecek ,apakah di dalam tasnya ada makanan untuk mereka, dan sayangnya yang membawa makanan adalah Selly dan Cindy, juga Johan.


" Maaf Wan ,aku terlupa yang membawa makanan adalah mereka bertiga, Selly ,Cindy ,dan Jo." jawab Ahmad.

__ADS_1


Mendengar hal tersebut ,Iwan lantas berkecil hati, kali ini ia baru merasakan, betapa pentingnya persatuan dan kesatuan, serta kerja sama terutama untuk menghadapi situasi sulit.


" Ahmad, mungkin memang benar yang dikatakan oleh Johan, kita memang tidak seharusnya terpisah seperti ini. Apalagi hanya karena hal sepele." sesal Iwan setelah ia baru membuka matanya.


Mereka berdua kemudian membicarakan langkah selanjutnya ,apakah akan kembali ke kelompok dengan cara kembali ke tempat yang diberitahukan Johan untuk kumpul kembali jika berubah pikiran. Beralih ke tempat Selly dan Cindy, mereka berdua tampak belum bisa memaafkan kelakuan Iwan dan Ahmad. Mereka masih kukuh dengan pendirian mereka yang terlanjur sakit hati. Di tenda ,mereka telah melupakan perselisihan dan memilih untuk memasak sosis yang ternyata masih mereka simpan di saku celana mereka.


" Aku merasa lebih sekarang Cindy, berasa lebih tenang tanpa kebisingan Iwan dan Ahmad." buka Selly.


" Kau benar Sell, aku setuju denganmu. Aku juga kurang sepemikiran dengan Ahmad dan Iwan. Akan tetapi..." imbuh Cindy.


" Tetapi..apa maksudmu Cindy?" tanya Selly yang masih tak paham maksud Cindy. Dengan diliputi perasaan bersalah, Cindy mengutarakan isi hatinya.


" Maksudku adalah Johan. Ia tidak terlibat dan satu-satunya yang menengahi kita, dia netral." terang Cindy.


" Kau benar, apa yang telah kita lakukan. Kita meninggalkannya sendiri, bahkan Ahmad dan Iwanpun tak menghiraukannya, dan langsung pergi begitu saja." kata Selly yang mulai sadar.


Pada akhirnya muncullah kebimbangan diantara kedua kubu yang berseteru, satu sisi mereka masih belum bisa saling memaafkan. Namun, di sisi lainnya ada pihak netral yaitu sahabat mereka.


" Apakah kita akan kembali berkumpul besok ?" tanya Cindy.


" Tentu saja." pungkas Selly.


Demikian juga dengan Ahmad dan Iwan yang telah sepakat untuk kembali bersatu sebagai kelompok. Beralih ke Johan, secara tak sadar ,perlahan ia mulai mengantuk ,dan teetidur di bivaknya.


Jam menunjukan pukul 23.47 Johan masih tertidur lelap, tiba-tiba saja, ia mulai mendengar bisikan-bisikan.


" Suara berbisik di telinga kiriku, apa aku sedang bermimpi?"tanyanya dalam benak.

__ADS_1


Seakan mencoba tak mempedulikan hal tersebut ,nyatanya gangguan semakin dirasakan oleh Johan. Mulai dari ada yang menarik kakinya, bivak yang tiba-tiba goyang seperti ditimpa beban yang berat. Hingga api unggun yang tiba-tiba padam dalam sekedipan mata. Karena mulai merasakan hal-hal janggal ,Johanpun terbangun, dan mendapati api unggun yang telah padam tiba-tiba saja kembali menyala, seperti semula.


__ADS_2