Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Terhimpit dalam goa yang sempit 4


__ADS_3

Belum lama ketika Iwan berhasil memejamkan matanya dan tertidur, ia kembali terbangun karena ia merasakan tanah bergerak-gerak seperti ada gempa bumi.


" Ada apa ini ? " tanya Iwan dalam hatinya.


" Gempa bumi ? iya ini gempa bumi." ujar Iwan.


Iwan yang panik seketika , mencoba untuk membangunkan teman-temannya. Namun usahanya sia-sia, karena baik Selly , Cindy , Johan maupun Ahmad tidak ada satupun yang mendengar teriakan Iwan. Teman-temannya sudah tertidur lelap dan tengah disibukkan dengan mimpi indah masing-masing. Iwan mulai ketakutan, bumi seolah-olah bergetar semuanya. Ia sedikit menyesali karena dirinya belum tertidur sebelum adanya gempa. Iwan berdiri dan berusaha terus membangunkan teman-temanya.


Akan tetapi, tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh. Suara gemuruh tersebut sangat jelas, dan jika didengarkan lebih seksama sumber suara tersebut berasal dari atas goa. Iwan mulai panik, ia menjerit sekeras mungkin agar teman-temannya bisa segera terbangun.


" Teman-teman bangun...ayo bangun..ada gempa bumi, ayo bangun...semuanya bangun.." teriak Iwan.


Usaha Iwan membuahkan hasil, satu persatu dari mereka terbangun. Ketika mereka semua terbangun, mereka baru menyadari yang dikatakan oleh Iwan.


" Astaga benar-benar ada gempa, bagaimana ini , apa yang harus kita lakukan ? " tanya Selly yang tengah panik.


Johan berusaha menenangkan semuanya, ia mengajak teman-temannya keluar dari goa tersebut.


" Kalian semua...tenang...dengarkan aku, aku mohon dengarkan aku." teriak Johan.


" Sebaiknya kita segera keluar, setidaknya hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang ini, keluar mencari tempat yang lapang." tegas Johan.


Semuanyapun setuju, karena sudah sangat mengkhawatirkan kondisinya. Namun hal buruk kini terjadi tepat sesaat mereka belum sempat keluar dari Goa tersebut. Ternyata suara gemuruh dan gempa bumi yang mereka rasakan sebelumnya adalah pertanda adanya tanah longsor yang tepat di atas goa tempat mereka singgah.


Mereka berlima tak sempat keluar dari goa ,karena pintu masuk goa tersebut tertutupi oleh tanah yang longsor. Selain itu, ada batu besar yang menghalangi jalan masuk , semakin memperkecil kemungkinan mereka untuk bisa keluar.


" Aaaargh tidaaaak..." teriakan Cindy.


" Aaaargh bagaimana kita bisa keluar dari goa ini teman-teman. Pintu masuknya kini terhalangi." kata Selly sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


" Sudah tidak ada harapan lagi bagi kita, mungkin di tempat inilah akhir riwayat kita." keluh Ahmad.


Kini keputusaan tergambar jelas dari raut wajah mereka semua, terkecuali Johan yang masih terlihat tenang, meskipun ia terpukul karena tak tahu apa yang bisa mereka lakukan sekarang ini.


" Kalian semua dengarkan aku, kita masih beruntung tidak tertimpa longsoran tanah , batu ataupun pohon tumbang." kata Johan mengingatkan teman-temannya untuk bersyukur.


" Teman-teman, bisakah kalian dengarkan aku sekali ini saja." kata Iwan.


Perkataan Iwan tersebut mengagetkan semua orang yang ada di dalam goa tersebut.


" Apa yang ingin kau katakan Wan ? " tanya Johan pada Iwan.


" Aku tahu sekarang ini kita terjebak di dalam goa yang mulai terasa pengap, tapi selagi kita baik-baik saja dalam artian sehat, kita pasti bisa mencari jalan keluar yang lainnya." kata Iwan.


Kata-kata Iwan memotivasi serta membangunkan semangat dan moral teman-temannya. Hari semakin larut, begitu pula dengan hujan yang masih sangat deras di luar. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran jikalau goa tersebut runtuh lalu menimpa mereka. Maka dari itu, mereka semua memutuskan untuk membagi sebagian. Dimana beberapa diantara mereka akan beristirahat, lalu lainnya berjaga-jaga. jika sudah beberapa waktu mereka akan bergantian.


" Aku , Johan akan berjaga-jaga saja, manakala kita tidak tahu apakah akan ada longsor susulan ,longsor yang lebih parah setidaknya ada sebagian yang bisa membangunkan lainnya. " usulan dari Ahmad.


" Eeeum..kau yakin tidak sedang lelah Wan ? " tanya Johan yang belum sepenuhnya percaya.


" Aku yakin Jo." jawab Iwan dengan ekspresi yang meyakinkan.


Akhirnya Johan menyetujui permintaan Iwan dengan membolehkannya untuk ikut berjaga-jaga di malam itu. Selly dan Cindy melanjutkan kembali istirahat mereka, sementara Johan , Ahmad , dan Iwan tengah berjaga.


" Kami lanjut beristirahat ya Jo, Mad , Wan. " kata Selly dan Cindy izin untuk beristirahat.


Semua kini telah berada di posisi mereka masing-masing, dan semua tidak ada yang aneh atau pertanda munculnya longsor susulan.


Waktu menunjukkan pukul 01.17 dini hari, semua masih dalam keadaan aman terkendali. Secara perlahan , situasi dan kondisi yang aman membuat mereka mulai mengurangi fokus mereka bertiga. Dimulai dari Iwan yang bersandar lalu perlahan rebahan. Kemudian Ahmad yang sedang tertunduk ,dan ternyata ia telah tertidur. Hanya menyisakan Johan yang masih terjaga meskipun beberapa kali ia menguap. Hujan masih lebat membuat dingin suasana dan mendorong mereka untuk tidur.

__ADS_1


" Semuanya tertidur, mungkin aman meskipun di luar sepertinya masih hujan deras." gumam Johan dalam hatinya.


" Apa aku tidur saja, karena sepertinya aman terkendali tidak ada longsor susulan." ujar Johan.


" Tetapi jika ada apa-apa ,dan aku lengah bisa-bisa semua yang ada disini tinggal nama tanpa diketahui." pikirnya yang terus membayangi pikirannya.


Johan akhirnya tertidur karena sudah tidak kuat lagi membuat matanya terjaga. Benar saja, ketika waktu menunjukan pukul 2 dini hari, hujan deras dengan disertai petir malam itu kembali menyebabkan longsor susulan.


" Brrrruughhh." Suara tanah yang longsor menuruni lereng yang ada di atas goa.


Mereka berlima yang sedang tertidur pulas terbangun setelah mendengar suara yang jauh lebih keras dan jelas terdengar daripada sebelumnya. Mereka lekas bangun dan berhamburan. Saking parahnya longsor susulan tersebut hingga membuat bagian depan goa hingga hampir ke tempat mereka istirahat runtuh. Runtuhnya goa yang mereka tinggali tidak dapat diprediksi akan sejauh ini. Hal ini hampir saja membahayakan nyawa dari Ahmad dan Cindy yang hampir saja tertimpa langit-langit goa.


" Ahmaaad...Cindy...Awaaass." teriakan Selly memanggil nama Ahmad dan Cindy.


Ahmad dan Cindy sudah menyadarinya dan berlari ke tempat yang lebih aman.


" Kalian baik-baik saja ? " tanya Johan.


Teman-teman mereka tentu sangat khawatir karena jarak reruntuhan terdekat dengan posisi Ahmad serta Cindy kurang dari satu meter. Lagi-lagi tuhan yang maha esa menyelamatkan nyawa mereka. Sujud syukur segera dilakukan Ahmad dan Cindy, sesaat setelah mereka selamat dari marabahaya.


" Alhamdulillah, kita selamat Cindy, hampir saja kita tertimpa reruntuhan goa ini." kata Ahmad yang terharu.


Sama halnya dengan Ahmad, Cindy juga merasakan hal yang sama dengannya.


" Iya Ahmad, nyawa kita tergolong. Mungkin saja jika kita sedang melamun atau terlambat satu langkah saja pasti sudah." kata Cindy menambahkan.


" Tempat ini tidak aman untuk kita, lihatlah jalan masuk serta jalan keluar sudah tertutup. Sekarang kita seperti semut." kata Johan.


" Sebaiknya malam ini, saat ini juga kita pergi dari sini dan mencari tempat yang lebih aman." ajak Johan.

__ADS_1


Johan mengajak teman-temannya untuk segera berkemas dan bergegas pindah untuk mencari jalan keluar lain dari goa tersebut.


Bersambung...


__ADS_2