
Cukup jauh perjalanan mereka untuk kembali ke tempat semula, haus dan lapar seakan menghambat mereka. Dan benar saja, Iwan yang sudah tidak kuat untuk berjalan lagj, akhirnya pingsan di jalan. Sontak ,hal tersebut membuat Ahmad kelimpungan.
" Iwan..Iwan, kau bisa mendengarkanku? Iwan..Iwaan." reaksi Ahmad yang panik.
" Sepertinya Iwan pingsan karena sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanan, mungkin kali ini ia benar-benar kelaparan." ujar Ahmad.
" Sangatlah tidak mungkin jika menggendongnya jarak dari tempat ini ke tempat yang sudah dilewati masih jauh, setidaknya ia harus makan sesuatu untuk mengganjal rasa laparnya." tambahnya.
Kemudian Ahmad berencana mencarikan makanan untuk Iwan. Namun ia tidak menyertakan Iwan, karena kondisinya sudah tidak memungkinkan.
" Baiklah ,sebaiknya aku istirahatkan Iwan di bawah pohon besar itu saja, sepertinya disana cukup aman dan nyaman." kata Ahmad sambil merangkul Iwan.
Setelah dirasa aman, Ahmad segera bergegas untuk mencari makanan yang dapat dimakan, ia menyusuri rimbunnya hutan sendirian hanya dengan berbekal pisau dan botol air minum di tangannya. Selagi Ahmad mencari ia masih harap-harap cemas, ia tidak ingin membiarkan temannya mati kelaparan, meskipun dirinya juga sudah mulai lapar. Di sisi lain Iwan sudah siuman, ketika ia terbangun tak melihat Ahmad, dan hanya melihat tasnya yang telah terbuka.
" Apa tadi aku pingsan, (bunyi perut kelaparan) perutku..sakit. Apa Ahmad pergi mencari makanan?" tanyanya dalam hati.
Sementara itu, Ahmad telah berhasil menemukan mata air ,
" Ah segarnya air ini, sampai-sampai kenyang hanya dengan meminum air." kata Ahmad.
Perlu waktu untuk mencari air, yang ternyata ada aliran kecil di dekat lereng yang dimana tempat tersebut terdapat banyak pohon bambu. Sembari mengambil air, Ahmad beberapa kali menjumpai tanaman yang bisa dimakan.
" Ada alang-alang, ini bisa dimakan. Untunglah aku membawa pisau, untuk memotong bagian akarnya. Sepertinya enak untuk dimasak atau dimakan langsung." ucap Ahmad dengan perasaan gembira.
Setelah memakan beberapa Ahmad membungkus alang-alang tersebut untuk dibawanya. Dirasa cukup, Ahmad berniat kembali ke tempat Iwan, namun ia teringat pepohonan bambu tadi.
" Tunggu dulu, bukannya di sekitar mata air tadi banyak pohon bambu. Barangkali ada rebung untuk dimasak,pasti akan sangat lezat."
Ahmad berlari kembali ke arah mata air terlebih dahulu sebelum kembali ke tempat Iwan. Sesampainya Ahmad, ia terkejut karena ternyata Iwan sudah siuman.
" Iwan, apa kamu sudah lebih baik sekarang?" tanya Ahmad yang menghampiri Iwan.
" Sudah lebih baik, apalagi setelah minum tadi, terimakasih ya Ahmad, untung kamu meninggalkan air minummu disini." Ahmad tersenyum,
" Tidak masalah Wan, kita ini tim dan kita adalah sahabat, sudah sepantasnya saling membantu." timpal Ahmad.
__ADS_1
Mereka berdua kemudian menyantap makanan yang mereka temukan, alang-alang tadi mereka hanya memakan bagian akarnya saja, sedangkan untuk rebung mereka mencoba dengan merebus. Setelah itu mereka menyantap makanan tersebut dan berhasil selamat dari kelaparan serta dahaga yang mereka rasakan sebelumnya.
Sementara itu, teman mereka Selly dan Cindy juga sudah bangun dan tengah memasak sarapan.
" Selly tolong ambilkan kayu bakar yang di sebelah sana." pinta Cindy sambil menunjuk ke tempat kayu tersebut berada.
" Okay." jawab Selly.
" Eemmm..sedapnya, nyatanya jika memasak sendiri jauh lebih enak dan lebih puas, meski hanya dengan bahan-bahan sederhana." gumam Cindy yang tengah mencicipi masakannya.
Selly yang sedang mengambil kayu tak sengaja menjatuhkan kayu-kayu tersebut hingga berhamburan di tanah.
" Aduh, kayunya terjatuh. Mungkin karena belum sarapan, dan baru bangun jadi masih lemas haha." guraunya sambil membereskan kayu itu kembali.
Saat sedang membereskan kayu itu, Selly terkejut karena ada kalajengking yang berada di antara kayu-kayu hampir saja mencapitnya.
" Fyuhh hampir saja, untunglah masih sempat melihat kalajengking tersebutt." ucapnya dengan perasaan lega.
Tak lama kemudian Cindy menghampiri Selly karena penasaran dengan apa yang terjadi.
" Ah tidak apa-apa, tadi hanya aku kaget hampir saja tidak melihat kalajengking di antara kayu." jawab Selly.
" Oooo syukurlah, ayo cepat kita bereskan, dan bawa ke perapian." ajak Cindy pada Selly.
Masakan mereka telah siap, lalu Selly dan Cindy bergegas untuk menyantap sarapan. Tampaknya mereka sudah tak sabar untuk kembali.
" Sudah kenyang kan? ayo bereskan ini semua, dan segera kembali menyusul Johan." ajak Cindy.
" Kamu benar, ayo. Sebenarnya aku juga merasa tidak enak dengannya, terutama setelah pergi meninggalkan tanpa mau mendengarkan." imbuh Selly.
Selly dan Cindy berjalan menuju tempat mereka berpisah, sama seperti Iwan dan Ahmad, mereka berdua juga telah jauh. Sehingga perlu memakan waktu untuk kembali. Hari sudah pagi, badan bau banyak daki, begitulah kiranya gambaran ketika di hutan. Begitu pula yang dirasakan oleh Selly dan Cindy, disepanjang perjalanan mereka berdua saling mengeluh karena tidak menjumpai sungai ataupun sumber mata air untuk sekedar membasuh kaki dan tangan atau menggosok gigi.
" Selama perjalanan kita tidak menjumpai sungai Cin, bagaimana ini?" tanya Selly.
" Bagaimana apanya?" tanya balik Cindy.
__ADS_1
" Maksudku aku ingin mandi, badan sudah berkeringat, bau, lengket bahkan belum gosok gigi." jawab Selly.
" Hadeeh, ternyata itu. Mau bagaimana lagi sepertinya kita memilih arah yang salah." jawab Cindy.
" Dan lagipula kita juga hampir saja tidak bisa bertahan hidup jika tidak memiliki simpanan makanan." imbuhnya.
" Kita bahkan tidak punya cukup ilmu untuk bertahan hidup."
Mereka terus menerus mengeluh, memang bukanlah waktu yang tepat akan tetapi itu bisa menjadi waktu untuk introspeksi diri keduanya.
" Kita sekarang baru menyadari kita tidak bisa sendiri, kita butuh teman-teman kita, terutama karena mereka sahabat dan mereka lebih berpengalaman." ujar Cindy.
" Maafkan aku Cindy, ini semua karena kesalahan juga kecerobohanku." kata Selly yang menyesal.
Obrolan tersebut terlalu dalam ,hingga tak sadar Selly tersandung dan lututnya tergores batu, dan berdarah.
" Aduh," Cindy menoleh ke arah Selly. " Selly..ayo bangun." sambil membantu Selly untuk kembali berdiri.
" Sakit, tapi kita harus segera kembali, Cindy lihatlah ke langit, hari ini mendung." kata Selly.
" Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya lagi Cindy.
"iya aku yakin tidak apa-apa, bukan masalah bagiku ini hanya luka kecil." ujarnya dengan senyuman yang tergambar di wajahnya.
Akan tetapi Cindy tak langsung percaya, ia kemudian segera mengambil obat merah dan plester di kotak obat dalam ranselnya. Cindy membersihkan luka, ia tampak sangat peduli terhadap sahabatnya itu. Selly tersenyum pada Cindy,
" Kamu memang sahabat sejati Cindy, peduli padaku." puji Selly.
" Diamlah sebentar atau kau akan merasa perih." kata Cindy.
" Aw aw aduuh, perih..perih."
Setelah selesai membalut luka tersebut, mereka melanjutkan perjalanan perlahan - lahan. Cindy merangkul Selly, membantunya berjalan.
" Kamu jangan khawatir ,kita pasti akan sampai sebelum hujan." kata Cindy yang membuat hati Selly tenang.
__ADS_1