
Cerita berlanjut ketika Johan yang sendirian terpisah dari teman-temannya. Ia sempat mengalami hal-hal di luar akal sehat, seperti sebelumnya ia terseret masuk ke dalam semak belukar setelah mengalami gangguan makhluk halus. Hingga pagi hari ia terus diganggu, dan kini dia lapar ,haus, letih serta penat.
" Aaargh...ini lebih sulit dari yang aku bayangkan, disini hampir tidak terdengar bunyi gemericik air." keluhnya.
Mau tidak mau Johan harus mencari tanaman yang mengandung banyak air, entahlah apa yang akan ia temukan entah apa yang akan dimakan olehnya, saat ini fokusnya hanya tertuju untuk mengisi perutnya yang telah kosong. Langkah kakinya kini sudah semakin berat saja, akan tetapi tekadnya sama sekali belum padam. Di hari yang mendung itu, Johan yang tertatih semakin gelisah, karena ia belum menemukan air, tenggorokannya sudah kering. Sementara itu, kabut tampaknya sudah turun dan menebal yang membuat jarak pandang semakin memendek. Johan yang sudah mulai menurun fokusnya tiba-tiba saja terpeleset dan tak menyadari jika di sampingnya ada lereng yang curam serta terjal.
" Aaaargh..toloong..toloong..toloong, teman-teman tolong aku!" jerit Johan.
Johan tinggal sedikit lagi terjatuh, kakinya sudah mengambang dan hanya bergantung pada tangannya dan sebuah akar. Kondisi Johan sangat mengkhawatirkan, andai saja ia terjatuh, mungkin saja ia masuk ke jurang yang dalam atau kemungkinan terburuknya adalah luka parah dan meninggal di tempat tersebut.
Sementara itu, Iwan dan Ahmad telah sampai di tempat awal mereka berpisah. Mereka berdua mencari-cari Johan.
" Johan..Johan..dimana kamu, kami telah kembali Johan." teriak Iwan.
" Percuma saja Wan, sepertinya ada sesuatu hal yang terjadi padanya. Alangkah lebih baik, kita bergegas mencarinya sebelum benar-benar terjadi sesuatu padanya." ajak Ahmad pada Iwan.
Mereka menyusuri jalan lainnya, yaitu jalan yang dipilih juga oleh Selly dan Cindy. Tak jauh dari tempat, Ahmad dan Iwan menemukan barang-barang serta bivak milik Johan. Mereka semakin khawatir setelah mendapati Johan tidak ada disana, dan melihat ada bekas seperti jejak terseret masuk ke dalam semak belukar.
" Ahmad,nampaknya bivak serta barang-barang ini adalah milik Johan. Tetapi kemanakah dia?" tanya Iwan pada Ahmad sambil terus memerhatikan sekitar.
" Aku pun tidak tahu, tapi firasatku bekas sesuatu yang terseret ini adalah jejak Johan, sepetinya ia mengejar sesuatu atau sesuatu telah membawanya hingga ke semak belukar yang lebat." ujar Ahmad.
" Kalau begitu, ayo kita bergegas, kita ikuti jejak ini." ajak Iwan.
Mereka berdua memutuskan untuk mengikuti jejak seretan tersebut, hingga masuk ke dalam hutan yang dipenuhi semak belukar. Mereka berdua memiliki keyakinan dan firasat yang kuat jika bekas tersebut mengarah pada Johan.
" Sebaiknya kita percepat langkah Wan," ajak Ahmad.
__ADS_1
" Aku juga yakin ini mengarah pada Johan,tetapi kenapa kau seyakin itu?" tanya Iwan.
" Seketika tadi di semak belukar aku menjumpai kompas dan beberapa barang pribadi milik Johan, seperti minyak kayu putih dan gantungan kunci miliknya. Tentu mengherankan jika ada orang lain yang membawa barang pribadinya jika bukan Johan sendiri." ujar Ahmad.
Analisa Ahmad masuk akal mengingat mereka telah saling kenal sejak lama, dan firasat kuat sahabat pastilah benar.
" Tolooong...tolong...Iwan, Ahmad, Selly , Cindy tolonglah akuu...tolooong."
Tiba-tiba dari jarak yang tidak terlalu jauh, terdengar suara orang yang meminta tolong. Namun anehnya suara tersebut, berasal dari lereng curam.
" Ahmad apa kau mendengarnya juga? ada seseorang yang meminta tolong." tanya Iwan sambil terus berlari ke sumber suara.
" Semoga tebakanku salah ,aku mengira itu Johan." jawab Ahmad.
" Apa? kita harus bergegas."
" Johan..Johan..kenapa ini bisa terjadi." reaksi Ahmad yang terkejut sahabatnya dalam bahaya.
Iwan dan Ahmad bekerjasama untuk menolong Johan. Mereka mengeluarkan tali ,lalu melemparkan ke arah Johan.
" Johan ,tangkap tali ini, lalu ikatkan pada tubuhmu, cepatlah." seru Iwan.
Johan melingkarkan tali tersebut, dan dengan kerjasama Iwan dan Ahmad nyatanya belum cukup kuat untuk mengangkat Johan kembali ke atas, ditambah faktor tanah yang basah serta licin semakin mempersulit.
Sedangkan teman mereka yang lainnnya, yaitu Selly dan Cindy juga diam-diam sudah sampai di tempat Johan membangun bivak, karena jarak mereka lebih dekat ketimbang Iwan dan Ahmad.
" Selly, sepertinya aku mendengar suara dari arah sana," kata Cindy.
__ADS_1
" Iya kamu benar, aku juga mendengarnya tapi bukankah semak belukar dan sepertinya disana terdapat lereng, apa kiranya ya yang terjadi." timpal Selly.
" Sebaiknya kita periksa kesana sembari mencari Johan, ia tidak ada disini ,hanya ada barang-barang miliknya. Dengan langkah perlahan tapi pasti, mereka juga telah sampai di tempat mereka bertiga.
" Iwan, Ahmad, sedang apa mereka?" gumam Selly dalam benaknya.
" Mereka berdua..." Selly dan Cindy menghampiri mereka berdua.
" Kalian berdua sedang apa?" tanya Selly sembari memegangi lututnya.
" Ya Tuhan, Johan ,jadi kalian berdua sedang menolong Johan, aku bantu ayo." reaksi Cindy.
Dari mereka berempat hanya Selly yang tidak ikut membantu ,dikarenakan kondisi fisiknya yang masih belum pulih setelah terjatuh dan lututnya terbentur batu. Cukup lama mereka bertiga menarik Johan keluar, sampai-sampai Johan hampir saja melantunkan kata " menyerah." Namun melihat kesungguhan teman-temannya untuk menolong membuat Johan tersentuh hatinya.
" Aku sudah tidak kuat, tanganku sakit, aku lepaskan saja ya peganganku." kata Johan.
" Diamlah..Jangan bertingkah sembrono, ketika kau lepas peganganmu bisa saja kau mati. Kami akan menolongmu." timpal Selly yang hanya bisa menyaksikan teman-temannya.
Kabut yang sudah mulai turun menandakan sebentar lagi akan turun hujan, akan lebih sulit lagi jika mereka tak bisa segera menolong Johan.
Tak lama setelahnya, rintik-rintik hujan mulai turun ,membasahi semuanya. Tentu hal itu membuat mereka semua panik, terutama Johan yang sudah sangat ketakutan ditambah pegangan tangannya yang mulai melemah, serta jika sudah turun hujan pastilah akar akan menjadi licin, tanah menjadi lunak.
" Ayo...kita tarik terus," kata Ahmad menyemangati.
" Cindy kau menarik dari tengah saja, biar aku di depan dan Ahmad yang lebih kuat di belakang." kata Iwan memberi saran.
" Baiklah," jawabnya.
__ADS_1
Dalam hitungan satu ,dua ,tiga mereka menarik sekuat tenaga dengan sisa kekuatan yang ada. Hujan turun dengan derasnya, dan mau tidak mau mereka harus terus meski dalam kondisi yang sulit sekalipun. Memang jika demi sahabat, apapun akan dilakukan, pengorbanan, ketulusan ,kesetiakawanan seperti sudah menjadi hal mutlak yang harus didahulukan. Hujan deras di pagi hari itu semakin mengerikan karena diiringi petir, dan angin kencang yang mampu menggoyahkan pohon besar sekalipun. Akhirnya, setelah usaha yang cukup melelahkan, mereka mampu bekerjasama menolong sahabat mereka, Johan keluar dari bahaya yang mengancamnya, ia sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka. Akhirnya mereka kembali di waktu yang tepat.