
Johan mencoba mengikuti Iwan dengan melepaskan celananya sebelum naik untuk masuk ke lorong goa tersebut.
" Wah hebat, benar-benar hebat. Cara yang Iwan gunakan bisa ampuh juga." Gumam Johan.
Johan naik sendiri tanpa bantuan dari siapapun, karena memang tingga ia seorang diri. Namun baru saja ia memasuki lorong tersebut, ia sudah merasakan perasaan tidak enak. Ia tidak tenang, pikirannya pun menjadi kurang fokus.
" Ada apa ini, kenapa mendadak perasaanku tidak enak seperti ini." Gumam Johan.
Sambil terus mencoba naik setapak demi setapak, meski pikirannya sedikit terganggu dengan kekhawatiran dirinya. Sementara itu, Ahmad telah bebas berteriak dengan keras di luar goa. Teriakan Ahmad bahkan terdengar hingga ke telinga teman-temannya yang masih berjuang untuk keluar.
" Alhamdulillah ,akhirnya aku bebas dengan selamat, tak ku sangka perjalanan ini akan membawa kami semua ke berbagai permasalahan yang sewaktu-waktu bisa membahayakan nyawa." Teriak Ahmad.
Teriakan Ahmad terdengar oleh Selly yang masih kesulitan membantu Cindy untuk keluar dari jalur yang salah.
" Kau mendengar teriakan Ahmad kan Cindy ? " Tanya Selly pada Cindy.
" Aku mendengarnya dengan jelas, suara kebebasan itu ,suara kenikmatan yang haqiqi setelah kesulitan-kesulitan ini." Kata Cindy.
Cindy perlahan menghentikan tangisnya dan semakin termotivasi untuk bebas. Ia mencoba menenangkan pikirannya, dan menarik dirinya sendiri. Perlahan tapi pasti, Cindy mulai lepas tubuhnya mulai bisa ia gerakan. Meski ia harus melawan asmanya, tekadnya lebih kuat dari asma yang diderita.
" Iya terus Cindy, aku akan mengawasimu." Kata Selly memberi semangat pada sahabatnya.
Selly membantu Cindy, tapi yang terjadi sebenarnya Selly juga tak benar-benar dalam kondisi yang nyaman. Cindy yang sudah nampak lemah, lelah ,lemas ,serta pucat di tengah kesulitan yang ia hadapi di hari baru. Cindy perlahan bisa mengeluarkan kepalanya, hingga disusul bagian dadanya sudah mulai keluar. Tak lama kemudian, Iwan yang sejak tadi tidak berhenti, telah sampai di tempat Selly dan Cindy berada.
" Selly, Cindy kenapa kalian baru sampai sini ? " Tanya Iwan sambil mengatur napasnya.
" Iwan, kau sudah sampai sini rupanya, hebat kamu bisa mengakali celah bebatuan yang sempit dengan mulus tanpa ter." Kata Selly memuji Iwan.
Tapi Selly menghentikan pujiannya terhadap Iwan, setelah dirinya menoleh ke bawah untuk melihat Iwan. Selly tertawa terbahak-bahak, karena Iwan naik dengan kondisi tanpa memakai celana.
" Hahahaha." Tawa Selly.
" Kenapa Sell, apakah ada sesuatu yang aneh menurutmu dariku ? " Tanya Iwan yang masih belum paham.
__ADS_1
" Iwan..Iwan, kau ini..kenapa tidak memakai celanamu, dan hanya memakai kolormu itu, hahahaha." Jawab Selly sambil terus tertawa.
" Ooo ini, maafkan aku. Sebenarnya tadi ketika aku baru saja naik, celanaku tersangkut bebatuan tajam, dan aku takut itu akan merusak celana kesayangan, pemberian ibuku." Jawab Iwan yang malu.
" Ada-ada saja kamu ini, tapi aku salut kamu pandai membaca situasi." Ucap Selly.
" Kenapa kau baru sampai sini Selly, bukankah kau sudah mulai sejak 2 jam yang lalu, ada masalah apa ? " Tanya Iwan pada Selly.
" Sebenarnya aku kesulitan untuk naik ke atas Wan, semakin naik maka semakin sempit pula, dan masalah lainnya adalah jalur ini memiliki beberapa cabang yang jika salah pilih akan semakin sempit dari yang lainnya, ibaratnya seperti jebakan Batman." Terang Selly.
" Jadi kau sendiri kebingungan memilih jalur yang tepat ? " Tanya Iwan kembali.
" Bukan hanya aku, tapi juga Cindy yang sekarang sedang berusaha mundur, karena salah memilih jalur." Jawab Selly.
" Apa, Cindy juga masih disini." Ucap Iwan terkejut.
Sementara itu, Ahmad yang telah berada di atas berusaha mengikis pintu keluar agar lebih lebar. Ia berinisiatif untuk memudahkan teman-temannya. Akan tetapi, sejenak Ahmad kembali terpikirkan akan kesulitannya dalam memilih jalur. Sehingga, Ahmad ingin turun kembali untuk menuntun teman-temannya dengan memasang tali sebagai tanda.
" Tapi masalah lainnya yang mungkin terjadi adalah masalah yang seperti dialami oleh Cindy. Jadi sebaiknya aku turun kembali, sekalian memberi tanda agar lebih mudah." Imbuhnya.
Ahmad pun turun kembali, tapi sebelumnya ia telah meninggalkan ujung tali satunya yang diikatkan pada sebatang pohon, agar ia tidak lupa jalur yang ia lewati. Untuk menuruni jalur yang baru saja ditaklukkan olehnya, bukanlah perkara yang mudah. Dimana Ahmad harus berhati-hati agar ketika ia turun tak sampai membuat tepian jalur bebatuan runtuh dan mengenai teman-temannya.
" Aku harus hati-hati, kalau tidak tepian lorong ini akan berjatuhan dan menimpa teman-temanku." Kata Ahmad dalam hatinya.
Karena hal itu, Ahmad turun dengan hati-hati. Ia menyoroti ke arah bawah, tapi ia belum melihat teman-temannya. Ahmad sedikit khawatir dengan teman-temannya, terutama Selly dan Cindy yang merupakan perempuan minim pengalaman. Ahmad terus turun, hingga akhirnya Selly menyadari Ahmad kembali untuk menyusul mereka semua.
" Siapa itu, apakah itu Ahmad yang kembali hanya untuk menyusul kami." Ujar Selly.
" Ahmad kau kah itu ? " Tanya Iwan.
" Eh Selly ,Iwan kok kalian baru sampai disini, dan dimanakah Cindy." Tanya Ahmad.
" Anu Cindy terhimpit karena salah jalur Mad, kami berdua juga kesulitan karena bagiku dan Iwan ini terlalu pas, hingga tak ada ruang lebih." Jawab Selly.
__ADS_1
" Bagaimana bisa Cindy terjebak hingga selama ini." Kata Ahmad yang terkejut.
" Entahlah Mad, aku juga tidak tahu pastinya karena ketika aku bisa menyusul Cindy, ia sudah terjebak." Terang Selly.
" Kalau begitu, ayo kita cari cara menyelamatkan Cindy, sebelum ia kehabisan oksigen." Ajak Ahmad.
" Tapi jangan kau tarik dengan paksa Sell, takutnya malah akan mencederai Cindy secara tak langsung." Kata Iwan mengingatkan.
Mereka bertiga bekerja sama membantu Cindy agar bisa lebih cepat keluar, kebetulan tempat mereka bertiga saat ini berbentuk seperti perempatan yang vertikal. Sehingga mereka bisa membantu Cindy meski hanya sedikit.
" Kita tarik perlahan Cindy, dalam hitungan ketiga. Ahmad, kau tidak usah membantu, karena kau di atas malah menghalangi udara untuk masuk. Sebaiknya kau siapkan minum saja untuk kami semua." Pinta Selly pada Ahmad.
Ahmad mengerti maksud dan tujuan Selly, lantas ia bersiap dengan sebotol air di tangannya.
" Hati-hati Selly, sekujur tubuhku sudah sakit sekali, jangan terlalu dipaksakan." Kata Cindy.
" Iyaiya, aku mengerti Cindy, bertahanlah. Kami semua ada untukmu." Kata Selly.
Perlahan mereka menarik Cindy, terdengar jelas Cindy merasa kesakitan.
" Aaaargh sakiit." Teriak Cindy.
" Kepalaku ,sekujur tubuhku sskit semua." Imbuhnya.
" Aduh, Cindy berteriak kesakitan, apakah kita hentikan saja Wan ? " Tanya Selly pada Iwan.
" Aku tidak tahu, tapi sebaiknya memang begitu." Jawab Iwan.
" Baiklah, kita istirahatkan dulu, nanti kita mulai lagi setelah beberapa saat." Sahut Selly.
Sangat sulit rasanya mengeluarkan Cindy, hingga pukul 05 lebih 10 pagi itu, mereka masih belum ada kemajuan.
Bersambung...
__ADS_1