Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Terhimpit dalam goa yang sempit 7


__ADS_3

Mereka berlima tampaknya sudah dekat dengan jalan keluar, tetapi meski rintangan demi rintangan telah dilewati, rintangan sulit sudah menunggu mereka. Kini mereka dihadapkan dengan jalur menanjak atau vertikal. Jalan tersebut hampir tegak lurus lengkap dengan bebatuan tajam. Akan tetapi, yang sebenarnya menyulitkan mereka adalah jalur yang harus dilewati hanya muat untuk satu orang saja.


" Teman-teman bagaimana ini, jalur kali ini bisa dikategorikan sangat sulit bagi kita." Keluh Ahmad.


" Kira-kira bisa memuat berapa banyak orang Mad ? " Tanya Johan.


" Eeum menurut perkiraanku hanya akan muat untuk satu orang Jo." Jawab Ahmad.


" Jadi hanya muat untuk satu orang ya, lantas apakah kita bisa melewatinya ? " Tanya Selly yang pesimis.


" Tidak ada salahnya jika kita coba." Tegas Ahmad.


" Untuk lebih memastikan apakah muat atau tidak, aku akan memulai lebih dulu, baru setelah itu giliran kalian." Kata Ahmad.


Perlahan-lahan Ahmad menapakkan kaki, serta bergantung pada tangannya dan ia mulai memanjat.


" Sepertinya ini benar-benar sulit." Gumamnya dalam hati.


Kesulitan nyata dihadapi Ahmad, ia berusaha sekuat tenaga untuk naik tapi tentu saja langkanya tidak mudah. Bebatuan tersebut tidaklah licin, hanya saja sedikit basah.


" Aku tidak boleh menyerah, kalau sudah melangkah harus diselesaikan apapun resiko ,rintangannya harus kuhadapi." Gumam Ahmad memotivasi dirinya sendiri.


Sementara itu, teman-temannya tak mengalihkan pandangan mereka sedetikpun ke arah Ahmad. Mereka memperhatikan dengan seksama bagaimana sulitnya memanjat ke sebuah lorong bebatuan yang muat satu orang saja, dan lebih parahnya diameter lorong tersebut bahkan hingga terlihat seperti sedang menjepit Ahmad.


" Aduh, bagaimana dengan kita ini, Ahmad saja yang tubuhnya ramping alias kurus bisa kesulitan." Keluh Selly.


" Ahmad yang kurus badannya seperti dicengkram oleh bebatuan, ia kini seperti semut yang mencoba melepaskan diri dari genggaman tangan." Ujar Johan.


" Ini tentu menjadi kabar buruk bagiku dan juga Cindy." Ujar Iwan.


Kata-kata Iwan membuat Johan dan Selly penasaran, karena Iwan hanya menyebut dirinya dan Cindy yang masih terkulai lemas.

__ADS_1


" Memangnya kamu kenapa Wan ? " Tanya Johan.


" Apa kamu memiliki semacam trauma atau phobia gelap juga ? " Tanya Selly.


" Bukan itu, yang kumaksud adalah phobiaku terhadap tempat-tempat sempit. Jujur saja, aku seperti kesulitan bernapas di tempat yang terlihat sempit, dan itu hampir sama dengan yang dialami oleh Cindy." Terang Iwan.


" Ooo jadi kau punya claustrophobia, semacam ketakutan berlebih di tempat tertutup atau sempit." Kata Johan.


" Benar ,maksudku itu Jo." Ucap Iwan.


Ahmad masih terus berusaha, secara bertahap Ahmad mulai bisa naik meski sangat sesak yang membuat oksigenpun minim. Sejak Ahmad memutuskan mengambil giliran pertama, ia baru naik sekitar 2 meter dari titik mula. Maka dari itu, mereka berempat yang masih ada di bawah menunggu kode dari Ahmad. Beberapa saat kemudian, Ahmad menunjukan kode dengan senter miliknya, mengisyaratkan giliran selanjutnya. Kini terjadi keraguan diantara mereka berempat, tentang siapa yang akan menjadi orang nomor dua setelah Ahmad untuk naik.


" Ahmad sudah mengisyaratkan kita untuk naik, sekarang bagaimana kalau kau segera naik Wan." Kata Johan.


" Seperti yang aku katakan sebelumnya, phobiaku bisa membuatku sesak napas." Jawab Iwan.


" Bagaimana kalau kau duluan Selly." Tanya Johan menawarkan giliran pada Selly.


" Alasannya ? " Tanya Iwan pada Selly.


" menurutku jika masalah ketakutan sebab phobia ya harus dilawan, jika ingin selamat. Tapi kalau mau disini selamanya ya silahkan." Kata Selly.


Perkataan Selly secara tak langsung menyinggung Iwan, karena ia tidak mau mengambil giliran lebih dulu. Perbedaan argumen terjadi di antara mereka, masing-masing memiliki ego dan alasan yang beragam. Tiba-tiba, Cindy yang masih lemas mendengar perdebatan mereka. Demi menyelesaikan perdebatan, ia rela mengajukan diri untuk menjadi giliran selanjutnya.


" Kalian...tidak perlu berdebat siapa yang akan lebih dulu, biar aku saja ya. Tapi aku mohon, bantu aku untuk naik." Kata Cindy.


Sontak teman-temannya terkejut, dan hanya mengiyakan perkataan Cindy. Mereka bertiga merasa malu karena kalah dengan Cindy yang masih lemas.


" Ayo Cindy, kamu berdiri di punggungku, agar lebih mudah naiknya." Kata Johan menawarkan diri.


Cindy setuju meski merasa tidak enak dengan sahabatnya itu. Namun, pada akhirnya ia pun tetap naik dengan bantuan pijakan punggung Johan. Johan memang memiliki postur yang lebih besar berisi cenderung gempal daripada teman-temannya, sehingga tidak perlu ada yang dikhawatirkan.

__ADS_1


" Ayo naik saja Cindy, kamu tidak perlu khawatir aku kuat kok sekedar menjadi pijakan untukmu." Kata Johan.


" Aku tahu kok Jo, tapi jangan gombal dan berkata manis padaku, aku tidak tertarik." Jawab Cindy.


" Hehe, bercanda Cindy bercanda." Kata Johan.


Johan jongkok dan memposisikan diri, lalu membiarkan dirinya menjadi pijakan untuk Cindy. Cindy naik dengan sangat hati-hati, mulai dari menapakkan salah satu kakinya ke dinding bebatuan tersebut, hingga terus berusaha dengan paksa melewati celah-celah bebatuan. Untunglah Cindy memiliki tubuh yang ramping, lebih ramping dari Ahmad yang membuatnya lebih mudah untuk masuk. Akan tetapi, kendala yang dirasakan Cindy adalah phobianya.


" Aku pikir tubuhku kekurangan gizi, berat badan hanya ideal tapi ternyata ini membawa keuntungan bagiku secara tak langsung, mungkin ini rencana Tuhan." Kata Cindy lirih.


Baru saja 5 menit berlangsung, tanda-tanda sesak napas kembali dirasakan oleh Cindy. Meskipun Cindy telah mengatur napasnya dengan baik, asma karena tempat sempit membuatnya melemah.


" Aku mohon jangan sekarang, aku ingin segera keluar, semoga sesak napas ini tidak menghambatku." Kata Cindy dalam hati.


Kondisi tersebut segera disadari oleh Selly, setelah melihat Cindy tidak mampu melanjutkan atau diam di tempat saja.


" Ini gawat, Cindy kesulitan bernapas, segera berikan alat bantu pernapasannya Jo." Seru Selly.


" Baik, akan aku berikan pada Cindy." Jawab Johan.


Cindy hampir saja tidak bisa bernapas jika saja teman-temannya tidak sigap membantu. Ahmad yang berada di atasnya juga ikut mengkhawatirkan Cindy, tetapi sangat sulit baginya atau lebih tepatnya Ahmad tidak tahu harus memberikan bantuan apa. Cindy menghirup alat bantu, dan napasnya kembali teratur. Ia lantas melanjutkan perjuangannya, tanpa beristirahat terlebih dahulu.


" Kamu yakin Cindy, masih bisa melanjutkannya ? " Tanya Iwan.


" Bismillah, aku yakin aku bisa, yah meskipun gerah dan pengap di atas sini." Jawab Cindy.


Lorong tersebut memang pengap, padahal lorong tersebut berhubungan langsung dengan jalan keluar dari goa tersebut. Rute dari lorong tersebut sekarang adalah seperti huruf Z, yang berarti Ahamd baru setengah perjalanan dan Cindy baru seperempatnya. Butuh perjuangan ekstra dan banyak kesabaran untuk melewati ujian kali ini.


" Aku pikir ini baru setengahnya saja sudah membuatku lelah, sempitnya lorong ini hingga aku tidak terjatuh meskipun tidak berpegangan apapun, pantas panas sekali." Ujar Ahmad sambil mengusap keringatnya yang bercucuran.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2