Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Hari kesebelas : Katak adalah isi perut kita


__ADS_3

Ketidakberuntungan terus beriringan dengan keberuntungan yang mereka alami selama di hutan hujan tropis tersebut. Sedikit demi sedikit, telapak kaki mereka sanggup menaklukan berbagai rintangan. Tepat seperti komen di pagi hari itu, kebebasan mereka setelah situasi sulit, dimana mereka hampir saja tertimpa bebatuan dari goa yang runtuh, sebagai akibat dari tanah longsor. Mereka berlima tengah beristirahat, merebahkan diri di atas rumput hijau yang tebal.


" Sungguh melelahkan, bersyukurlah kita masih diberi napas menikmati hari baru ini." Kata Iwan.


" Pagi bagai akar harapan, dari napas , detak jantung , dan denyut nadi masih bisa kita rasakan." Sahut Selly.


" Tumben kata-katamu puitis sekali Sell, biasanya terkesan apa adanya." Ujar Johan.


" Iya dong, hatiku gembira." Kata Selly.


Mereka berlima masih terbaring di atas karpet rerumputan, hingga matahari mulai tinggi dengan senyumnya menyambut hari. Pagi hari itu cuaca cerah, langit membiru tanpa diselimuti awan. Mereka merencanakan untuk segera melanjutkan langkah mereka, sembari mengisi perut yang telah kosong.


" Apa kita akan terus menerus rebahan disini ? " Tanya Cindy.


" Oiya, kita harus bergegas kembali. Pasti kalian juga ingin segera pulang kan ? " Tanya Johan pada teman-temannya.


" Tentu saja kita semua ingin segera pulang." Jawab Iwan dengan yakin.


" Tapi bagaimana dengan penelitian kita, apa kita lupakan begitu saja ? " Tanya Cindy mempertanyakan penelitian mereka.


" Sepertinya itu sudah tidak penting lagi Cindy, kita sudah tidak lagi sedang bertugas atau sekedar main-main, tetapi sudah berurusan dengan nyawa." Tegas Johan.


Kemudian masing-masing mereka membersihkan diri, dan bersiap untuk kembali beraksi. Beberapa saat kemudian, mereka memulai langkah awal di hari yang baru dengan hanya memegang teguh satu tujuan yaitu pulang ke rumah dengan selamat. Akan tetapi, perjalanan pulang tentu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, setelah mereka sudah jauh memasuki hutan.


" Sebentar, ada satu hal yang mengganjal pikiranku selama ini yaitu, kemana kita harus melangkah sebenarnya ? " Tanya Cindy pada teman-temannya.


Seketika mereka semua terdiam, sunyi , sepi tanpa kata. Mereka hanya saling memandang satu sama lainnya, hingga langkah menghentikan langkah masing-masing.


" Tidak ada salahnya pertanyaanmu Cindy. Akan tetapi, menurut pandanganku pribadi, kita semua saja tidak tahu sekarang dimana posisi kita, apalagi mencari jalan keluar." Ujar Iwan.

__ADS_1


" Memang akan sangat sulit menentukan posisi kita saat ini, terlebih lagi kita telah kehilangan kompas pada beberapa hari yang lalu." Kata Johan menanggapi.


" Lantas apakah kalian memiliki cara lain atau ide gila yang sekiranya bisa memuluskan rencana kita ? " Tanya Selly.


" Aku pernah membaca ensiklopedia, jika manusia purba banyak yang menetap di sekitaran sungai dengan alasan mudah mencari sumber makanan." Jawab Ahmad.


Teman-temannya hanya diam kebingungan dengan jawaban Ahmad. Mereka heran dengan Ahmad yang menjawab tidak seperti persoalan yang ditanyakan.


" Apa hubungannya dengan cara mendapat jalan keluar dari tempat ini Ruslan Rusyadi." Tanggap Iwan.


" Woy itu nama bapakku, jangan disebut atau bisa-bisa dia muncul." Ujar Ahmad bercanda.


" Maksudku sebenarnya adalah kalau manusia purba banyak hidup di sekitaran sungai berarti ada pemukiman, atau sungai bisa menjadi petunjuk arah bagi kita agar bisa mencari pemukiman terdekat." Kata Ahmad menambahkan.


" Benar itu katamu, tapi sebaiknya kita mengisi perut terlebih dahulu ya , agar bisa bertenaga." Pinta Cindy yang terlihat pucat.


" Ya ampun Cindy, kau terlihat begitu pucat." Kata Selly lirih.


Mereka semuapun setuju dengan ajakan Iwan. Kesana kemari, mereka kian mencari. Namun , yang mereka temui hanyalah rerumputan liar dan tanaman rambat berduri. Sejenak mereka meratapi nasib diri, tetapi keadaan harus dilawan jika ingin terus bertahan hidup. Di tengah keputus asaan, salah satu diantara mereka yaitu Iwan mendengar suara katak.


" Suara katak iya benar itu suara katak, pasti bisa jika kita jadikan makanan." Teriak Iwan.


Mendengar teriakan Iwan yang ingin mencari katak sebagai sarapan mereka hari ini, membuat teman-temannya mendadak mual. Katak yang sebagian orang menggelikan, meski dapat dimakan nyatanya tetap saja membuat mereka geli, terutama dengan kulitnya yang kasar.


" Wan tunggu dulu Wan, bisakah kita mencari makanan lain seperti tumbuh-tumbuhan saja atau kalau tidak buah atau tokek juga tidak masalah." Pinta Cindy.


" Atau biawak saja ya, jangan katak. Rasanya ih menggelikan." Sahut Selly.


" Tetapi tidak ada lagi yang bisa kita jumpai, mau tidak mau kita harus makan ya teman-temanku semua." Jawab Iwan.

__ADS_1


" Iya sudahlah, mari kita tangkap katak-katak itu sekiranya cukup untuk kita semua." Ajak Johan.


" Tapi kalian saja yang berani menangkapnya, aku dan Cindy tidak ikut ya." Sahut Selly.


Johan , Ahmad , dan Iwan menyetujui usulan dari Selly. Mereka segera bergegas mencari ke tempat yang lembab, sumber suara katak-katak itu berasal. Iwan yang tidak memiliki keraguan atau takut dengan binatang yang tak lazim disenangi banyak orang, dengan yakin ia langsung mendapatkan buruannya.


" Aha, aku dapatkan kau katak, bersiaplah jadi sarapan kami." Kata Iwan dengan gembira.


Lalu Iwan menyimpan hasil buruannya di dalam kantong lalu kembali mencari lagi. Sementara itu, hal yang sama juga dialami oleh Ahmad, hanya beberapa menit setelah mereka pergi mencari katak, ia sudah mendapatkan hingga dua ekor katak, yang ia simpan di kantongnya. Sedangkan Johan baru mendapatkan seekor katak, tetapi ketika ia tengah memburu satu ekor katak yang lari ketika ia pegang, ia dikejutkan dengan belasan katak yang melompat berhamburan.


" Aaargh banyak sekali katak-katak disini, Iwan..Ahmad kemarilah banyak katak disini." Teriak Johan.


Iwan dan Ahmad bergegas mendekati Ahmad dan terheran-heran belasan katak dalam satu tempat dan seketika berhamburan. Iwan dan Ahmad segera menangkap katak-katak tersebut, tapi Johan justru geli melihat katak dengan jumlah yang banyak. Sehingga ia memutuskan untuk mundur dan menjauhi tempat tersebut.


" Iwan , Ahmad tolong kalian tangani itu ya, aku geli melihat katak sebanyak itu." Pinta Johan.


" Beres Jo, terimakasih kau telah memudahkan mencari buruan kita." Jawab Ahmad dan Iwan serentak.


Hanya sekejap saja, mereka sudah bisa memenuhi kantong yang mereka bawa sebelumnya. Lalu merekapun segera kembali berkumpul dengan Selly dan Cindy. Johan , Ahmad , dan Iwan kembali dengan senyuman yang lebar, dan telah membayangkan seberapa kenyangnya mereka jika semua katak-katak tersbeut telah masuk ke perut.


" Kalian bertiga cepat sekali kembali , mari duduk dan istirahatlah dulu." Sambut Cindy.


" Apa kalian telah menemukan yang lebih baik daripada seekor katak yang memiliki kulit kasar ? " Tanya Selly.


Seketika mereka bertiga tertawa bersama, dan saling memandang satu sama lain.


" Tentu saja kami mendapatkan apa yang kami cari, dan kalian berdua harus mengetahui kalau kami mendapatkan yang lebih baik dari seekor katak, dimana kami mendapatkan dua puluh ekor katak." Jawab Ahmad.


" dua..puluh..hah apa kau yakin sebanyak itu, dengan tanganmu kau menangkap katak yang aku saja geli meski hanya melihatnya." Kata Selly.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2