Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Penyakit terpendam Cindy


__ADS_3

Sekembalinya Johan , Ahmad , dan Iwan, mereka disambut dengan sambutan hangat dari Selly dan Cindy. Mereka bertiga kembali dengan senyum lebar yang tergambar jelas di wajah mereka, sambil menggenggam kantong berisi katak yang memenuhi kantong tersebut.


" Dua puluh ekor katak ? " Tanya Cindy yang terkejut.


Baik Selly dan Cindy merasa geli meski hanya mendengar jumlah ekor katak yang didapatkan mereka bertiga. Tanpa basa-basi, Iwan dan Ahmad segera membersihkan katak-katak tersebut, sedangkan Johan berinisiatif menyalakan api dari ranting-ranting yang telah tersedia.


" Iwan , Ahmad lakukan, aku akan menyalakan api dengan ranting yang telah tersedia setelah hujan deras semalam." Kata Johan mengintruksikan pada Iwan dan Ahmad.


Segera Ahmad dan Iwan melakukan tugas mereka, sementara itu Selly dan Cindy hanya duduk manis menyaksikan teman-temannya bekerja untuk memasak sarapan. Di tengah kesibukan mereka, tiba-tiba Cindy mengalami batuk yang terus menerus.


" Cindy batukmu,ini ambillah dan segera minum." Pinta Selly sambil menyerahkan segelas air minum pada sahabatnya itu.


Akan tetapi, kondisi Cindy tidak lebih membaik ataupun lebih memburuk. Ia terlihat pucat dan sangat lemah, entah karena pengalaman semalam ataupun karena memang ia belum makan.


" Selly kau obati Cindy, mungkin saja asmanya kambuh dan tenangkan dirinya dengan berbaring, selagi menunggu sarapan siap." Seru Ahmad pada Selly.


" Siap, laksanakan segera." Sahut Selly.


Ketika Selly ditugaskan untuk menjaga Cindy, Ahmad dan Iwan hampir selesai membersihkan katak-katak tadi, dan sedang mempersiapkan bumbu, meski hanya memiliki garam dapur. Sedangkan Johan yang telah menyelesaikan tugasnya membuat api, ikut serta membantu menyelesaikan tugas Iwan dan Ahmad, agar lebih cepat.


" Johan, kau bantu bumbui katak-katak itu ya, tolong beri sedikit garam agar sedikit memiliki rasa, aku akan membersihkan katak-katak ini, dan Iwan yang menyembelihnya." Kata Ahmad mengintruksikan pada Johan.


Johan menyanggupi perintah Ahmad, dengan cekatan ia dapat menyelesaikannya hanya dengan beberapa menit saja. Mereka bertiga bekerja seperti diburu oleh waktu, karena di satu sisi mereka lapar dengan perut mereka sendiri, tetapi di satu sisi teman mereka yang sedang tidak baik kondisinya juga memerlukan asupan makanan sesegera mungkin. Satu persatu katak-katak tersebut telah terbakar di atas bara api yang terlihat seperti sate katak dengan bumbu seadanya. Bau harum menyebar ke segala penjuru arah, seiring tiupan angin yang berhembus.


" Sudah mulai tercium bau sedapnya, apakah sudah bisa kita angkat sekarang ? " Tanya Iwan.

__ADS_1


" Sebentar lagi Wan, masih ada bagian yang basah itu, takutnya ada yang kurang suka kalau juicy." Jawab Ahmad.


Setelah beberapa saat kemudian, katak bakar sudah matang dan siap untuk dihidangkan. Seketika nafsu makan merekapun meningkat, mungkin karena sudah kelaparan. Akan tetapi, berbeda dengan yang lainnya, Cindy justru masih belum membaik malahan ia terlihat seperti orang yang sedang sakit.


" Cindy ayo kita makan, setidaknya untuk mengisi tenaga kita kembali yang telah terkuras habis." Bujuk Selly.


" Aku sedang tidak nafsu makan, tubuhku terasa sakit semua sepertinya aku akan sakit." Kata Cindy lirih.


" Jangan berbicara seperti itu, aku tau kau orang yang kuat dan suka tantangan, ayo makan dulu setelah itu kita beristirahat." Ajak Selly meyakinkan Cindy.


Cindy akhirnya mau makan setelah mendengar bujukan dari sahabatnya itu, ia segera mengambil katak bakar yang sudah dihidangkan oleh teman-temannya. Namun, baru beberapa suapan, Cindy merasakan kondisi yang tidak nyaman, ia hampir saja muntah di hadapan teman-temannya yang sedang makan. Lantas, Cindy pergi dari teman-temannya untuk pergi ke hutan untuk memuntahkan makanan yang baru saja ia telan.


" Kenapa dengan Cindy ? " Tanya Ahmad.


" Mungkin masakanku memang tidak enak ya Mad, atau jangan-jangan kurang matang." Timpal Iwan.


" Selly, coba kau susul Cindy, pastikan ia tidak apa-apa ya." Pinta Johan pada Selly.


Selly lantas meninggalkan teman-temannya yang sedang makan untuk menyusul Cindy. Betapa terkejutnya ia setelah melihat Cindy yang terus muntah. Selly menunggu di belakang Cindy, dan mendapati Cindy yang muntah darah. Teman sekelas sekaligus sahabat Cindy itu terkejut setelah Cindy memuntahkan darah.


" Astaga Cindy, kau..kau..muntah darah." Kata Selly lirih.


Cindy lalu menyadari Selly yang sudah berada di belakangnya. Sontak Selly ingin sekali melontarkan beberapa pertanyaan mengenai kondisi kesehatan Cindy. Akan tetapi Cindy sama sekali tidak menunjukan wajah yang murung ataupun sedih. Justru ia malah tersenyum lebar dan mengatakan tidak apa-apa dengan kondisi kesehatannya.


" Aku tidak apa-apa kok Selly, ini hanya mual saja dan mungkin bebarengan dengan mimisan." Ujar Cindy.

__ADS_1


Cindy terus berusaha menutup-nutupi penyakit yang sebenarnya telah ia derita selama ini. Dengan senyuman manis di wajahnya yang mampu meyakinkan dan sedikit menenangkan hati Selly yang tengah mengkhawatirkan dirinya. Lalu, Cindy mengajak Selly untuk kembali ke teman-teman lainnya dan berpesan pada Selly.


" Selly kau sahabatku dan begitu juga dengan mereka bertiga, janganlah kau mengkhawatirkan kondisiku sekarang ini, lihatlah aku baik-baik saja, sampaikan kabar gembira ini." Bisik Cindy pada Selly.


" Baik aku mengerti maksudmu Cin, tapi kau harus berjanji padaku bahwa kau memang tidak apa-apa." Seru Selly.


" Aku berjanji padamu, karena pertemuan ini adalah kabar." Pungkas Cindy.


Perkataan dari Cindy seperti mengisyaratkan bahwa pertemuan mereka saat ini adalah kabar mengenai dirinya yang tidak apa-apa. Namun entah dengan kondisinya nanti atau besok atau bahkan lusa dan di waktu mendatang. Mereka berdua kembali berkumpul, dimana Selly dan Cindy sudah ditunggu. Baik Johan , Iwan maupun Ahmad sebenarnya sangat khawatir dengan Cindy, dan ingin menanyakan kondisinya secara langsung, tetapi pastilah ia akan menjawab ia tidak apa-apa. Sehingga dari ketiganya tidak ada yang bertanya, mereka mengurungkan niat tersebut untuk menunggu waktu yang tepat.


" Eh Cindy , Selly apa kau tidak suka dengan masakanku ya Cindy ? " Tanya Ahmad.


" Bukan Mad, masakanmu enak, sungguh hanya saja aku sedang kurang enak badan, tidak ada yang serius." Jawab Cindy sambil tersenyum.


Mereka bertiga juga memandang ke arah Selly yang ikut tersenyum, dan mengira memang tidak ada hal serius yang terjadi. Kemudian, mereka melanjutkan kegiatan makan mereka. Dengan canda tawa yang mereka lontarkan membuat suasana menjadi hidup serta meningkatkan ikatan diantara mereka berlima.


" Ada yang tahu monyet-monyet apa yang bisa bermain bola ? " Tanya Johan.


" Eeeumm monyet drible bola dengan lincah." Jawab Iwan.


Jawaban Iwan membuat semuanya tertawa. Mereka kembali berpikir jawaban dari teka-teki Johan.


" Monyetak gol kan jawabannya Jo." Jawab Selly.


" Iyap betul Selly." Kata Johan membenarkan Selly.

__ADS_1


Pagi itu suasana hangat terasa, kala mentari mulai tinggi di angkasa dengan sinarnya menyambut sinisnya hari. Mereka berlima baru saja akan memulai langkah mereka kembali setelah mengisi perut, serta dengan berbagai cobaan dan rintangan yang telah menanti.


Bersambung...


__ADS_2