
Kembali ke Selly ,Cindy dan Iwan yang telah mencari bahan makanan untuk sarapan mereka. Selly dan Cindy menemukan buah, yaitu Berry hutan. Sedangkan Iwan menemukan Rebung dan tokek.
"Kalian tenang saja, aku sudah berulang kali makan tokek, serahkan padaku urusan memasaknya. Kalian masak saja rebung ini." jawab Iwan.
" Kalau begitu, kita cari tempat yang lapang saja, atau kita kembali dulu ke tenda sebelum melanjutkan pencarian Johan dan Ahmad." ajak Cindy.
" Nah betul, kamu memang bijak Cin. Aku juga sudah lapar." pungkas Selly.
Kemudian mereka bertiga memutuskan kembali ke tenda, dengan perasaan senang karena mereka kembali dengan membawa bahan makanan.
" Kita seharusnya terus bersyukur, setiap hari ,setiap jam ,setiap detik ,bahkan setiap saatnya kita masih dilindungi tuhan." kata Cindy.
" Kita masih bisa terus merasakan nikmatnya makanan meskipun seadanya di hutan hujan tropis seperti ini." imbuh Selly.
" Kalian benar, meski kita hanya berlima kita pasti bisa selama masih memilki tuhan di hati kita, dan terus beribadah." sambung Iwan.
Mereka bertiga merenung sejenak atas kehidupan mereka selama ini, yang dimana menjadi titik balik kemunculan semangat mereka kembali, yang sebelumnya hampir padam karena kejadian-kejadian yang tak mengenakan. Beberapa saat kemudian mereka sampai di perkemahan mereka. Sesampainya Iwan di tendanya, ia langsung mengambil gayung dan meminta izin pada teman-temannya untuk menuju ke sungai.
" Selly..Cindy..eeee aku izin pergi ke sungai dulu ya sebentar." kata Iwan.
" Mau apa ke sungai Wan ? bukankah kita masih punya persediaan air bersih." tanya Cindy.
" Oooo bukan bukan mengambil air kok, aku mau buang air hehe." jawab Iwan.
Sementara itu, Johan dan Ahmad yang berada di bawah pohon besar masih berputar-putar mencari jalan untuk kembali ke perkemahan. Johan dan Ahmad tak habis pikir bagaimana bisa mereka sudah lama mengelilingi tempat tersebut. Namun ,mereka berdua kembali lagi ke tempat yang sama.
" Ahmad, apa kau menyadari sesuatu ? " tanya Johan pada Ahmad.
" Eee maksudmu apa Jo ? " tanya balik Ahmad. " Kita tersesat." jawab Johan.
" Oooo tersesat." ujar Ahmad.
__ADS_1
" Eh tunggu. Kita tersesat tidaaak! " teriak Ahmad.
" Pantas saja dari tadi berjalan sampai-sampai kakiku pegal tapi tidak sampai di tenda." keluhan Ahmad.
" Akupun sama, tapi tidak bisa jika kita hanya berambisi dan bernafsu untuk keluar dari sini tanpa adanya rencana serta pemikiran matang." kata Johan dengan bijak.
" Lihatlah bukankah tempat ini baru saja kita lewati sebelumnya, padahal kita sudah mengambil arah ke kiri malah kembali kesini ,lalu sebelumnya ke kanan dan akhirnya kembali kesini." kata Johan.
" Haaah tempat ini lagi." keluh Ahmad.
" sepertinya memang begitulah keadaanya Mad." timpal Johan.
" Daripada kita lelah den menghabiskan tenaga ,sebaiknya kita istirahat sebentar Jo." ajak Ahmad.
" Ayo, disana tempatnya cukup rindang." ujar Johan.
Kemudian Johan dan Ahmad memutuskan untuk beristirahat. Mereka beristirahat di bawah pohon yang rindang. Mereka berdua telah putus asa karena sebelumnya mereka menghabiskan tenaga mereka untuk mengelilingi tempat tersebut ,akan tetapi mereka kembali ke tempat semula. Ditambah kondisi fisik mereka yang tidak memungkinkan memaksa keduanya untuk rehat sejenak. Di bawah pohon tersebut mereka mengutarakan unek-unek masing-masing.
" Kalau dipikir-pikir , aku rindu suasana rumah Jo." ucap Ahmad.
" Sebenarnya perasaan ini sudah lama Jo. Hanya saja realistis kita sedang berada di hutan, sedang mengerjakan projek penelitian." jawab Ahmad.
" Dari sini aku luruskan, kita disini bukan lagi untuk mengerjakan tugas Mad." ujar Johan.
" Iya kau benar, situasinya menjadi rumit sekarang tidak sesederhana yang aku bayangkan." sambut Ahmad.
" Sebenarnya semenjak menginjakkan kaki disini, kita tidak menyadari tugas sebenarnya." kata Johan.
" Ini lebih dari sekedar penelitian, tapi ini adalah misi bertahan hidup ! " imbuhnya.
" Jadi...selama ini penelitian ini hanya sebagai kedok yang artinya tidak benar - benar ada sebelumnya." kata Ahmad yang terkejut mendengar penjelasan Johan.
__ADS_1
" Kurang lebih memang seperti itu, seperti yang kukatakan tadi, kita disini untuk diuji apakah bisa untuk bertahan hidup." jawab Johan.
" Dan meskipun kita bisa untuk bertahan hidup ,muncul pertanyaan baru yaitu sejauh mana kita semua dapat bertahan hidup dengan bahan makanan seadanya." imbuhnya.
" Jo, apa kau sudah menyadari hal ini sebelumnya ? " tanya Ahmad dengan wajah serius.
" Iya aku sudah menyadarinya sejak sebelum keberangkatan kita." jawab Johan.
" Tetapi kenapa kau tidak memberitahukannya kepada kami semua. Bukankah kami ini teman-temanmu." kata Ahmad yang mulai tersulut emosinya.
" Maaf untuk itu, tapi sudah tidak ada gunanya menyesali hal tersebut kita semua sudah masuk ke goa yang sempit dan tidak ada jalan keluar lain lagi selain terus maju ke depan." jawab Johan.
" Benar katamu. Tapi bagaimana kau menyadarinya Jo ? " tanya lagi Ahmad.
" Waktu itu tepat beberapa malam sebelum keberangkatan , aku meminta izin ke ayah dan ibuku. Ibuku sempat tidak mengizinkannya tapi ayahku justru mendukung. Lalu ayahku mengajakku berbicara di gazebo halaman belakang rumah. Beliau berkata padaku,
" Johan sebagai ayahmu yang berprofesi sebagai polisi hutan, aku hanya bisa mendoakanmu baik-baik saja selama di hutan. Ingat nak, tugas penelitian ini tidak pernah menjadi misi utama. Tetapi yang utamanya adalah bertahan hidup di hutan, kau sudah mengetahui beberapa teknik survival, dan inilah saatnya kau menggunakan pengetahuanmu." cerita Johan pada Ahmad.
Hanya Johan yang sudah mengetahui misi sebenarnya dari tujuan ditugaskannya mereka berlima ke hutan hujan tropis, cukup mengejutkan karena mereka berlima hanyalah seorang siswa SMA yang masih amatir dan belum berpengalaman. Johan dan Ahmad sama-sama terdiam dan kini mereka hanya fokus bagaimana caranya untuk bisa kembali berkumpul bersama teman-teman mereka.
" Lantas bagaimana sekarang Jo ? " tanya Ahmad pada Johan.
" Akupun tidak tahu Mad. Kalau saja kompasku tidak hilang pasti akan lebih mudah menemukan jalan kembali." jawab Johan.
" Kenapa tidak bilang kalau kompas bisa membantu, tunggu sebentar aku akan melihat tasku apakah aku membawa kompas juga." kata Ahmad.
Ahmad lantas memeriksa ke dalam tasnya, dan ternyata memang ada kompas di dalam tasnya. Ahmad yang duduk di lain sisi pohon menyebabkan jarak antara dirinya dengan Johan. Sehingga Johan menunggu Ahmad yang sedang memeriksa ke dalam tasnya. Angin sepoi-sepoi disaat yang bersamaan hingga membuat Ahmad mengantuk seketika.
" Aha jni dia ,syukurlah masih ada, kemungkinan kami berdua selamat meningkat." ujar Ahmad.
" Hoaaamm,..angin sepoi-sepoi di bawah pohon yang rindang, sangat sesuai untuk istirahat apalagi sudah lelah berjalan tadi. Aku istirahat 5 menit mungkin tidak masalah bagi Johan." gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Sementara itu, Johan yang ada di sisi berlawanan dari pohon tersebut, masih menunggu Ahmad. Johan tidak melihat ke arah Ahmad Karen sedang memperhatikan daun-daun yang bergoyang diterpa angin sepoi-sepoi.
Bersambung...