
Dimulai oleh Ahmad sendiri.
" Oiya Wan, kenapa celanamu basah? aku yakin kamu ngga buka keranmu kan." tanya Ahmad dengan nada bercanda.
Setelah itu Iwan benar-benar mengecek celananya diikuti tawa oleh teman-temannya. Kali ini giliran Cindy.
" Kalian tahu barang-barang apa yang berguna setelah pecah?" tanya Cindy pada teman-temannya.
Teman-temannya menjawab dengan asal karena sudah tak tahu apa jawabannya. " Jawabannya telur," jawab Cindy memberitahu jawaban sebenarnya.
Mereka semua lantas tertawa. Namun tiba-tiba saja ada orang lain selain mereka yang tertawa di antara mereka. Suara tertawa tersebut bahkan terdengar begitu jelas meskipun suaranya lirih. Mereka berlima diam seketika, tak ada pergerakan setelahnya selain bola mata mereka yang memperhatikan sekeliling mereka. Suasana ceria,riang berubah menjadi tegang. Iwan bertanya pada teman-temannya,
" Kalian mendengarnya juga kan?" tanya Iwan dengan melirihkan suaranya.
Ada yang mengangguk ada yang menjawab,yaitu Ahmad.
" Itu suara perempuan di sebelah sana. Lihatlah perempuan yang berbaju putih di atas pohon yang dekat dengan semak belukar." kata Ahmad yang mencoba bersikap tenang meskipun ia sebenarnya takut.
Ketika mendengar ucapan Ahmad mereka lantas masuk ke dalam tenda dan menutup resleting tenda mereka. Mereka berlima dalam satu tenda saling memandangi satu sama lain dan berjaga-jaga apabila makhluk itu mendekat ke arah mereka.
Meskipun Ahmad memiliki indra keenam yang bisa mempunyai kepekaan lebih dan bisa melihat penampakan makhluk halus,meskipun telah terbiasa melihat. Namun nyatanya ia tetap seorang manusia yang memiliki rasa takut seperti manusia normal lainnya. Di dalam tenda mereka menunduk ,Iwan berkata pada Johan.
" Johan ini karena kamu yang memulai cerita-cerita horor jadi mereka-mereka seperti tertarik dengan kita." kata Iwan menyalahkan Johan.
Johanpun meminta maaf,
__ADS_1
" Iyaiya ini salahku, aku minta maaf semua." ucap Johan menyesali perbuatannya. Di tengah ketegangan tersebut, Ahmad memberitahu pada mereka yang semakin menambah ketegangan suasana.
" Teman-teman suara tertawa dari kunti itu terdengar lirih seperti menjauh, tapi sebenarnya asal kalian tahu saja saat suaranya tidak lagi terdengar jelas justru sosok itu semakin dekat dengan kita." kata Ahmad tersebut membuat mereka semakin ketakutan.
Mereka semua harusnya memahami jika Hari sudah malam mereka harusnya waktu untuk beristirahat bukan untuk bercanda. Waktu malam adalah waktu bagi makhluk-makhluk astral untuk beraktivitas layaknya manusia. Mereka berlima kemudian tetap diam di dalam tenda sambil tiduran mereka menutupi diri mereka masing-masing dengan kain sarung yang mereka bawa. Kali ini mereka terlihat seperti ulat yang menjadi kepompong dan menunggu saatnya keluar. Namun ketika di dalam sarung tersebut, Iwan yang berada paling tepi lebih tepatnya ia yang paling pinggir dekat dengan pintu masuk tenda merasa ada yang sedang berada persis di belakangnya. Iwan ingin menoleh tapi ia ragu-ragu hingga akhirnya mengurungkan niatnya. Sedangkan Johan yang berada di sebelahnya berhadapan dengan Iwan melihat ada makhluk putih di belakang Iwan yang sedang ikut rebahan di tenda. Johan awalnya ketakutan, secara perlahan ia mengangkat sedikit kepalanya untuk mengintip, dan benar saja yang dilihat oleh Johan, ternyata ada pocong yang tidur di belakang Iwan.
" Pocooong," teriak Johan yang ketakutan.
Johanpun langsung bangun dan lari keluar dari tenda, sementara teman-temannya yang sedang rebahan terbungkus sarung juga ikut bangun karena mendengar teriakan Johan tentang kehadiran pocong di antara mereka.
Namun sial bagi Iwan, ketika ingin mencoba berlari keluar tenda kakinya malah tersandung sarung yang ia kenakan. Bukan hanya itu saja, kaki Iwan seperti ada yang memegangi ,mencegahnya untuk lari. Seketika Iwan menoreh dan ternyata yang memegangi kakinya adalah sesosok setan perempuan yang merangkak atau mengesot.
Teman-temannya lari bersamaan menjauhi tenda,namun mereka masih memikirkan Iwan yang masih tertinggal di dalam tenda. Ahmad kemudian mengambil senter yang selalu ia bawa di tas kecil di pinggangnya.
" Baiklah. Cindy ,Selly kalian tetaplah di sini tunggu kami sampai kami kembali." seru Johan.
Ahmad dan Johan lalu menyusul Iwan. Ketika mereka menyusul Iwan, Ia seperti tidak bisa menggerakan kakinya meskipun Johan tidak melihat ada yang mengganjal kaki ataupun sarungnya.
" Iwan baca doa wan." seru Ahmad pada Iwan untuk membaca doa.
Setelah Iwan menuruti ucapan Ahmad, kakinya kembali bisa digerakan. Mereka bertiga akhirnya keluar dari tenda ,lalu kembali ke tempat Selly dan Cindy.
Sedangkan Selly dan Cindy justru diganggu oleh sosok besar, hitam,dengan mata merah, dan memiliki cakar di tangan dan kakinya. Dengan suara geraman yang terdengar menakutkan, entah mengapa meski makhluk-makhluk tersebut tak terlihat tetapi hawa keberadaan mereka begitu dirasakan oleh mereka berlima, begitu panas seperti sedang dikerumuni. Ahmad memberitahu pada teman-temannya,
" Kali ini di sekeliling kita sekarang sudah banyak sekali makhluk yang mengerumuni kita. Baik sosok seperti tuyul ,kuntilanak berlumuran darah, pocong yang berbau busuk dengan belatung yang menjijikan, genderuwo, dan masih banyak yang sulit dijelaskan, mereka ini ada yang tak memiliki wajah ,bahkan ada seperti siluman ular." kata Ahmad menjelaskan detil makhluk yang dilihatnya.
__ADS_1
Mereka berlima bingung apa yang harus mereka lakukan, jika mereka lari mereka takan bisa lolos Karena mereka sadar mereka makhluk halus. Sedangkan jika bertahan kemungkinan mereka ini ingin berinteraksi apalagi sejak tadi mereka mulai merasakan mual-mual.
" Apa kalian merasakan mual jugs?" tanya Johan pada teman-temannya.
Ternyata benar dugaan Johan, oleh karena itu ia mengusulkan sesuatu.
" Ini akan berbahaya karena mereka ini bisa menyerang bukan fisik kita tapi bisa melukai bagian dalam kita. Aku menyarankan bagaimana jika kita bertahan di dalam tenda saja meski di teror kita harus bersama bertahan, aku yang berada di pinggir." kata Johan mengajak semuanya untuk kembali ke dalam tenda.
Mereka menyetujui usulan Johan, dan berjalan segera menuju tenda. Ketika di dalam tenda Ahmad terus-menerus merasakan serta mendengar bisikan makhluk halus di telinga kirinya.
" Teman-teman entah kenapa sejak tadi aku mendengar telinga kiriku ada bisikan-bisikan seperti bolehkan kami ikut bermain? dan ada makhluk seperti tuyul yang berlari-larian di semak-semak." kata Ahmad dengan suara lirih.
Mereka terdiam dan memikirkan pikiran negatif di kepala mereka masing-masing, hanya Ahmad yang masih bisa berpikir tenang. Johan bertanya pada Ahmad,
" Ahmad bisakah kau berkomunikasi dengan mereka-mereka ini?" tanya Johan dengan serius.
Ahmad mengangguk dan mencoba berkomunikasi dengan makhluk-makhluk yang mengerumuni tempat itu.
Ketika Ahmad mencoba berkomunikasi tiba-tiba saja kesadarannya hilang, ada makhluk yang merasuki tubuh Ahmad. Makhluk tersebut kemudian ditanya oleh Johan.
" Dengan siapa ini? kenapa masuk ke tubuh Ahmad?" tanya Johan sambil menjaga tubuh Ahmad.
Teman-temannya hanya memandangi dengan memegangi tangan Serta kaki Ahmad.
" Hihihi boleh tidak kalau saya ikut main dengan kalian, aku ini masih muda. Baru 100 tahun di sini." jawab makhluk yang merasuki tubuh Ahmad.
__ADS_1