Survival: Kelam, Kejam, Mencekam

Survival: Kelam, Kejam, Mencekam
Layu


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah, angin bertiup kencang hari itu. Iwan ,Selly dan Cindy yang telah puas dengan sarapan mereka, kini mereka sudah merasa kenyang dan sedang beristirahat di tenda mereka. Iwan bercanda dengan mengatakan usulan pada Selly dan Cindy tentang daging tokek.


" Kan tadi aku lihat di pohon-pohon banyak tokek yang ukurannya lumayanlah, nah bagaimana kalau kita konsumsi saja tokek-tokek tersebut. " usulan dari Iwan.


" Menarik sekali usulanmu jika setiap hari makan tokek. Apa ! tunggu..tunggu..setiap hari katamu ? " Reaksi Cindy yang terkejut.


" Yang benar saja, masa setiap hari." reaksi Selly yang juga kaget.


" Oh my gosh, we' ll eat it, everyday ? " imbuh Selly.


" Tenang dulu tenang, kalian tidak usah kaget seperti itu, itu hanya sebagai plan b saja, jikalau tidak ada makanan lain kok." terang Iwan.


" Eh ,bicara tentang makanan, aku malah kepikiran dengan mereka berdua." Imbuh Iwan.


Iwan mencemaskan sahabatnya yaitu Johan dan Ahmad. Rupanya, hal yang sama juga dirasakan oleh Selly dan Cindy.


" Kita memiliki jalan pikiran yang sama ternyata. " sahut Selly.


" Jadi setelah cukup beristirahatnya, kita langsung pergi mencari mereka ? " tanya Cindy.


" Tentu saja Cindy, itulah yang seharusnya kita lakukan." jawab Selly memotong perkataan Cindy.


" Eeeh maksudku bukan begitu. Tetapi, yang menjadi pertanyaanku adalah kemana kita akan mulai mencari mereka ? " kata Cindy menjelaskan unek-uneknya.


Selagi mereka bertiga memikirkan nasib Johan dan Ahmad. Di tempat lain, Johan telah selesai mengumpulkan kayu bakar dan tengah menyiapkan perapian.


" Fyuhh, mengumpulkan kayu bakar sendirian ternyata sangat melelahkan." ujar Johan sambil mengusap keringatnya yang telah bercucuran.


" Oiya, apakah Ahmad sudah selesai membersihkan daging biawaknya ? " tanya Johan dalam hatinya.


Johan lalu menyalakan api sembari menunggu Ahmad kembali. Johan menunggu dengan harap-harap cemas. Ditambah lagi kondisi mereka yang belum sarapan dan ingin segera makan.


Tak berselang lama kemudian, Ahmad kembali dengan daging yang sudah bersih di tangannya. Ia kembali dengan senyum lebar yang terpampang dari wajahnya. Johan lantas menyambut Ahmad.


" Ahmad, kau kembali." teriak Johan menyambut Ahmad.


" Jo, hari ini menu sarapan kita akan terasa sangat lezat." jawab Ahmad sambil menunjukkan daging yang ia pegang.

__ADS_1


" Hahaha...Alhamdulillah, kau tidak apa-apa ternyata." kata Johan sambil tertawa.


" Apa maksudmu ,apa kau mengjekku ? " tanya Ahmad pada Johan.


" Bukan bukan, tapi ini juga menjadi bagian dari rivalitas kita Mad, masih ingatkan aku unggul 51 kemenangan dan kau baru menang 29." jawab Johan.


" Tidak aku tidak ingat, aku hanya mengingat ketika aku menang." imbuh Ahmad ,lalu diikuti tawa mereka berdua.


" Oiya Jo, aku sudah lapar. Ayo kita segera masak dagingnya." ajak Ahmad pada Johan.


" Ayo..selagi dagingnya masih fresh." jawab Johan.


Ahmad lalu memasang ranting pohon untuk membuat daging biawak guling. Sedangkan Johan bertugas menjaga api serta menyiapkan alas untuk meletakkan daging tersebut.


" Jo, ambillah daun untuk alas makan kita nantinya, biar aku yang mengurus dagingnya." seru Ahmad pada Johan.


Johan menunjukkan gestur setuju lalu ia pun pergi mencari dedaunan yang lumayan lebar.


" Andai saja disini ada pohon pisang, pasti lebih mudah mencari dedaunan atau sekalian saja pisangnya." gumam Johan dalam hatinya.


Di tengah perjalanan, Johan terus membayangkan makanan yang enak, dan mulai dari situlah terkadang muncul perasaan rindu akan suasana dan kehangatan keluarga.


Tanpa disadari, Johan telah pergi terlalu jauh, hingga tak sadar ia di hutan yang lebih jauh lagi.


" Aduh kenapa aku ini, ini pasti karena aku terlalu banyak melamun dan berhalusinasi." pikir Johan.


" Nah itu ada daun yang cukup lebar, sangat cocok untuk dijadikan piring." ujar Johan.


Lalu Johan memetik daun tersebut, dan segera kembali ke tempat Ahmad. Sebenarnya Johan sudah sangat kelaparan, perutnya bahkan telah berbunyi meminta untuk diisi sejak ia mengumpulkan kayu-kayu kering.


Ketika Johan sudah dekat tinggal beberapa meter lagi menuju tempat Ahmad, tiba-tiba saja Johan jatuh terkapar ke tanah. Johan pingsan dengan wajah yang sudah pucat. Ahmad yang masih disibukkan dengan tugasnya membakar daging ,dibuat kaget dengan suara tersebut.


" Suara apa itu ? " tanya Ahmad pada dirinya sendiri.


Ahmad lantas meletakkan daging biawak itu dan segera menuju ke sumber suara. Setelah ia memeriksanya ternyata itu adalah Johan yang sudah terkapar. Sontak hal tersebut membuat Ahmad panik dan segera membawa Johan ke perapian.


" Johan..Johan..kenapa anak ini ? " ucap Ahmad yang tengah panik melihat Johan tak sadarkan diri.

__ADS_1


" Apa yang harus kulakukan ini, wajah Johan sangat pucat. Jangan-jangan dia sudah benar-benar kelaparan." pikir Ahmad.


Lalu Ahmad berinisiatif membaringkan Johan di tempat yang nyaman lalu memberinya air untuk ia minum. Kemudian Ahmad mematangkan lagi daging yang sedang ia bakar. Tak berselang lama, Johan mulai sadar, ia mulai bergerak dan membuka matanya secara perlahan. Dan ketika Johan bangun yang ia langsung bisa sadari adalah...


" Harum sekali aromanya, sungguh menggugah selera." kata Johan yang masih terbaring.


" Apa aku sudah di surga ? " Johan bertanya-tanya.


Setelah Johan memperhatikan sekitarnya, ternyata ia masih hidup. Lantas ,Ahmad mengetahui Johan sudah siuman.


" Johan...kamu sudah siuman. Ini daging tokeknya sudah matang." kata Ahmad, sambil membantu Johan bangun dari posisi tidurnya.


" Ayo makan dulu, kau terlihat sudah sangat pucat." ucap Ahmad menjelaskan kondisi Johan.


" Benarkah ? kalau begitu ayo kita makan sama-sama." jawab Johan.


Ahmad dan Johan makan daging biawak tersebut dengan sangat lahap, selain enak seperti halnya makanan mewah di hutan, tetapi juga karena mereka telah kehabisan tenaga dan perlu untuk segera diisi.


" Bagaimana Jo, enakkan masakanku ? " tanya Ahmad perihal rasa daging biawak.


" Enak sekali, entah kenapa rasanya lebih baik setelah makan." jawab Johan.


Perlahan-lahan kondisi Johan semakin membaik, bibirnya pun kini terlihat lebih merah daripada sebelumnya. Di sela-sela makan mereka selipi dengan obrolan ringan terutama seputar daging biawak yang mereka makan.


" Kata ibuku daging biawak mempunyai khasiat, tetapi aku masih belum tau apa khasiatnya." kata Johan.


" Eeeum..setahuku ya ini hanya setahuku saja, daging biawak ini bisa menjadi obat." jawab Ahmad.


" Penyakit seperti apa Mad ,coba beritahu contohnya." tanya lagi Johan.


" Penyakitnya ya bermacam-macam, daging biawak ampuh menyembuhkan penyakit kulit seperti gatal-gatal, kutu air, kulit pecah-pecah, serta alergi." jawab Ahmad menerangkan pada Johan.


" Ah masa sih, memang benar seperti itu ? " tanya Johan kembali yang masih belum mempercayai ucapan Ahmad.


" Jangan tanya lebih dalam lagi, aku mana tahu sejauh itu, aku kan bukan peneliti." jawab Ahmad.


Tak terasa kegiatan makan mereka telah selesai, daging biawak pun sudah habis, dan kini tinggal rasa kenyang yang menemani mereka berdua.

__ADS_1


Setelah selesai makan mereka berencana untuk kembali ke teman-teman mereka. Namun ,mereka harus menemukan jalan yang benar karena mereka sebelumnya dibuat pusing tersesat tanpa satupun petunjuk yang bisa menyelamatkan mereka.


__ADS_2