
"Bukan hanya akan menjadi tamu, mereka juga memberi kesempatan kepada kita semua warga SMP Negeri Noveltoon untuk membuat film pendek dengan tema simulasi penyelamatan diri saat terjadi gempa bumi." Pak Saerozi berkata sambil menggeleng-gelangkan kepala dan tersenyum lebar.
Peserta semakin bahagia, mendengar kata per kata yang telah keluar dari mulut Pak Saerozi.
"Kemarin, saya sudah baca surat dari Palang Merah Jerman yang dititipkan sama keenam anak ini. Sebenarnya, mereka ingin datang di bulan ini. Saya rasa tidak bisa, karena bulan ini kan ada tes. Jadi, saya hubungi nomor yang ada disurat itu, untuk mengajukan penggantian tanggal. Saya meminta mereka datag di bulan depan saja, setelah tes selesai dan siswa banyak jam kosong," jelas Pak Saerozi.
Para siswa sedikit merasa cemas, takut apa bila tamu mereka tidak jadi datang.
"Mereka menjawab. Kapan saja kami bisa, asalkan tidak mengganggu aktivitas belajar di sekolah. Itu tadi jawaban dari mereka. Akhirnya, Palang Merah Jerman akan datang bulan depan, di dampingi Palang Merah Indonesia," jelas Pak Saerozi.
Semua peserta kembali bertepuk tangan dengan sangat meriah. Selesai sudah amanat pembina upacara, semua pasukan dibubarkan.
Enam anak itu berjalan menuju ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Di dalam ruang itu, mereka sedikit mencatat persiapan untuk kegiatan yang akan datang. Semua anggota Palang Merah Remaja yang bertugas, mulai berdatangan masuk untuk mengembalikan rompi yang habis mereka gunakan saat upacara barusan.
"Eh! kebetulan ada kalian, selamat ya. Kalian luar biasa, aku kagum." Tiar berkata sambil berjabat tangan kepada enam anak itu.
"Duhh biasa aja kali, kita juga anggota. Sama kayak kalian semua, kita kan satu tim sayang." Endah bercanda kepada Tiar.
"Asyeekkk, serrrr! yuhuuu," goda Fernanda.
"Bercanda, jangan lebay." Endah tertawa kecil.
"Waduhh, banyak banget nih pasukannya," kata yang terlontar dari mulut Panji sambil tertawa.
"Ya kan emang ini semua anak buahmu Nji." Teguh sambil bercanda.
"Jangan gitu lah, Guh. kita ini tim, kalau kemarin kuota pesertanya tak terbatas. Pasti kalian sudah aku ajak ikut semua." Panji tertawa kencang.
Semua bersalaman bergantian, tiba giliran Eka teman satu kelas Panji sedang berjabat tangan dengan Abi.
"Ehhhmmmmm! jangan dilepasin, Ka." Panji berkata sambil senyum dan tutup mulut.
"Apaan sih,Nji," saut Eka.
__ADS_1
"Gak, itu kayaknya udah cocok deh." Panji menggoda Eka.
"Shhhttt hissh apaan toh, Nji." Abi malu.
"Ciee ... ciee ... cocok lah ,yang satu cantik dan yang satunya ganteng. Dua-duanya juga pinter lagi," timpal Teguh sambil tertawa.
Memang, Abi ini telah lama memendam perasaan kepada Eka. Tetapi, tidak ada yang tahu. Sedangkan, Eka sepertinya juga tertarik kepada Abi. Semenjak berada satu organisasi dengan Abi di Palang Merah Remaja, Eka sering curi-curi pandang kepada anak itu. Karena, merasa Abi itu adalah anak yang genius dan ganteng.
Eka juga pernah sedikit tanya-tanya tentang Abi kepada Panji, karena Panji teman satu kelas dengan Eka dan satu desa dengan Abi. Mungkin, Eka berharap mendapat sedikit tahu informasi tentang kepribadian Abi. Maka dari itu, Panji merasa Eka itu ada rasa dengan Abi. Setiap ada kegiatan di organisasi Palang Mera Remaja, Panji berusaha membuat Eka dan Abi dalam satu kelompok.
Kembali lagi dalam cerita lah.
Kala itu mereka berenam tidak jadi berdiskusi di ruang UKS, karena situasi sedang gaduh banyak orang. Tidak memungkinkan mereka untuk fokus berdiskusi, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas masing-masing.
Mengikuti jam pelajaran dengan teman-temannya, mengingat minggu depan mereka juga akan melaksanakan Ulangan Akhir Semester. Tak ingin ketinggalan pelajaran juga, mereka juga sudah sering bolos jam pelajaran saat mempersiapan diri untuk lomba Palang Merah Remaja antar sekolah. Pelajaran berjalan lancar seperti hari biasanya.
Saat tes telah tiba, semua sudah siap dengan hasil belajar yang telah dijalani selama satu semester ini.
Seminggu sudah Abi menjalani tes, saatnya diskusi kembali dengan teman-teman yang akan merencanakan jalannya alur cerita dalam pembuatan video pendek minggu depan.
Agus sudah berada dalam ruangan sendirian. Lalu, muncul Putra dengan sambutan hangat.
"Masternya sudah disini duluan," kata Putra.
"Alahh kamu lagi,Putt," canda Agus.
"Yang lain masih di dalam kelas, tadi aku lihat, Endah. Sudah di depan kelas, sama Panji juga sudah ngumpulin lembar jawanan. Tapi, s Abi masih tegang banget ngerjain soal," jelas Putra.
"Haha, Abi terlalu rajin orangnya." Agus sambil tertawa.
"Assalamualaikum," salam Fernanda.
"Waalaikumusalaam," jawab Putra dan Agus.
__ADS_1
Ternyata yang masuk duluan malah Fernanda, baru disusul dengan Endah dan Panji. Paling terakhir masuk adalah Abi. Biasa, emang dia orangnya terlalu detail dan rajin.
"Kita mulai saja yuk, gimana nih enaknya buat jalur evakuasi lewat mana saja?" Panji memulai diskusi.
"Gini aja, nanti kelas yang paling belakang satu baris itu kelas delapan. Semua disuruh lari mengavakuasi diri berkumpul dilapangan basket depan mushola, jalurnya melalui depan perpustakaan dan ruang musik," jelas Putra sambil menggambar jalur Evakuasi.
"Terus buat yang kelas tujuh sama sembilan? mau kumpulin dimana?" tanya Endah.
"Ya kalau kelas tujuh dan sembilan, kan ruangnya dekat dengan gerbang sekolahan. Nanti pas alarm bencana bunyi, suruh lari aja ke lapangan sepakbola depan sekolahan. Nanti buat jalurnya, kelas tujuh lewat depan ruang guru. Sedangkan kelas sembilan, nanti lewat depan ruang TIK keluar menuju gerbang kan bisa," saran Abi sambil tangannya menunjuk ke meja.
"Bagus juga itu idenya. Terus, nanti pengambilan gambar paling bagus kamera dimana?" tanya Panji.
"Nanti buat kamera, biar posisinya di depan kelasnya Agus. Itu kan ada Green House (Rumah tanaman kecil dan bunga). Terus, di depan kelasnya Abi juga ada hutan sekolah yang rindang sekali. di kantin juga diberi, nanti ibu-ibu kantin kita ajak ikut juga, suruh lari saat ada sirine," masukan dari Fernanda.
"Aku setuju ide dari Fernanda. Terus, nanti di lapangan basket sama Gerbang juga dikasih kamera, biar view-nya semakin terlihat nyata," imbuh Agus.
"Kita sudah catat posisi-posisi kamera, kita juga sudah gambar jalur evakuasi dan titik kumpul. Tinggal serahkan kepada Pak Besari. Nanti, biar beliau saja yang menambahkan sedikit-sedikit." Endah berbicara dengan yakin.
"Bagaimana, hasil diskusinya anakku semua?" Pak Besari berkata sambil berjalan dari arah pintu.
"Kebetulan, Pak Besari datang. Ini sudah kami catat, Pak." Panji menyerahkan buku.
Pak Besari membaca satu per satu dari catatan anak asuhnya, mencoba mencerna apa yang dimaksud dalam catatan itu.
"Ini nanti nanti kelas delapan kumpul dilapangan basket sama volley ?" Pak Besari bertanya sambil menunjuk gambar lapangan tersebut.
"Iya, Pak. Kan, itu lapangan terbuka juga dan luas sekali. Satu lapangan basket dan tiga lapangan volley itu sudah sangat mumpuni untuk menampung siswa kelas 8 A-H, Pak." Agus sangat yakin.
"Bener juga. Iya, nanti semua saya serahkan dulu kepada Pak Saerozi untuk minta persetujuan," kata Pak Besari.
"Iya,Pak. tanyakan dulu sama Pak Saerozi," jawab Panji.
Diskusi ditutup dan semua naskah diserahkan kepada Pak Besari untuk langsung diteruskan kepada Pak Saerozi.
__ADS_1
Sedikit info selingan, DRK dalam judul bab ini kepanjangannya adalah Deutsches Rotes Kreuz atau German Red Cross atau Palang Merah German.