
"Ceklak ... ceklakk," suara pintu kamar terbuka kuncinya.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar asrama, menaruh sarungnya yang sudah terlipat ke dalam loker kecil. Langsung mengambil sepatunya yang berada diatas loker tersebut, keluar kamar dan memakainya sambi duduk di keramik lorong asrama tersebut.
"Bii, bawa minum apa ndak nih?" tanya Putra.
"Bawa juga ndakpapa, siapa tau nanti haus di sana," jawab Abi.
"Ya sudah, ambil botol di ranjangku. Isi dengan air galon ya," kata Putra.
"Siaap." Abi berdiri.
Abi yang sudah selesai memakai sepatunya langsung berdiri. Kembali ke dalam kamar untuk mengambil botol air mineral, lalu mengisinya dengan air yang ada di galon dispenser.
Setelah botol terisi penuh, Abi keluar ruangan yang sudah ada Putra menunggu di depannya. Mereka berdua mengunci pintu kamar tersebut, lalu berlari kecil menuju parkiran yang sudah lumayan dipadati oleh teman-temannya.
Mereka berdua datang dan langsung bergabung dengan teman-teman trainning camp-nya. Abi dan Putra melakukan pemanasan sejenak, dilanjutkan dengan lari-lari kecil mondar-mandir area parkir kompleks GOR Krida Kresna.
"Bii, minta minumnya. Aku lupa baww tadi," kata Ferdian.
"Iya ambil saja, Fer." Abi mondar-mandir.
Beberapa saat setelah mereka merasa sudah kelelahan, Abi dan Putra langsung menghampiri teman-temannya yang sedang duduk di pinggiran area parkir. Dengan keadaan terlihat basah karena tersiram keringat yang mengucur deras, mereka semua berbincang santai di waktu pagi ini.
"Bii, sini gabung." ajakan Sofyan.
"Duduk sini, bareng-bareng ngobrol di sini." Fajar menepuk-nepuk sebelah tempat duduknya.
Abi dan Putra berjalan menuju tempat teman-temannya berkumpul, kemudian mereka berdua langsung mencari sela-sela yang masih kosong di antara gerombolan orang-orang itu.
"Nih, aku bawa minum. Kalau ada yang haus, silahkan." Abi menyodorkan sebotol air itu kearah teman-temannya.
"Enak banget kalau setiap pagi bisa olahraga bareng ya?" tanya Joko.
"Iya pasti ramai terus rasanya," kata Fajar.
"Aku sampe lupa rasanya di rumah." Putra tertawa kecil.
"Iya nih, di sini dapet keluarga baru rasanya," kata Fajar.
"Oh iya, nanti dapet sarapan dari sini kan?" tanya Sofyan.
"Iya, nanti katanya Pak Taufik dapet makan seperti biasanya," jawab Fajar.
"Yang bagiin kayak biasanya dong," ejek Putra.
__ADS_1
"Iya pasti kalau itu." Ferdian tertawa.
"Jam berapa nanti, Jar?" tanya Abi.
"Apanya, Bi?" tanya Fajar bingung.
"Sarapannya itu lho, dateng jam berapa?" tanya Abi.
"Oh, tadi aku dapet info dari Pak Taufik katanya sekitar jam enam," jelas Fajar.
Ferdian melihat jam tangan kecil hitam yang ada di pergelangan tangannya, sedikit memutar-mutar bagiannya agar terlihat jelas waktu yang sedang ditunjukan oleh jam tersebut.
"Lha ini aja udah jam setengah enam?" kata Ferdian.
"Masa sih, cepet banget?" ujar Abi.
"Lha ini jamku sudah pukul setengah enam lebih sedikit," tambah Ferdian.
"Coba lihat," kata Fajar.
"Ini, tuh kan. Udah jam setengah enam lebih." Ferdian memperlihatkan jamnya kepada semua anak yang ada di situ.
"Ya sudah, aku harus siap-siap bagiin sarapan nih," ujar Fajar.
"Ya sudah, balik ke kamar dulu yok, Fer." Fajar berdiri dari tempat duduknya.
Fajar dan Ferdian berdiri dan mulai beranjak dari tempatk duduknya, berjalan kembali menuju kamar asrama.
"Ya sudah, balik aja yuk." Abi berdiri.
"Iya, sekalian aku mau mandi dulu lah." Putra juga berdiri dari tempat duduknya.
Semua anak yang ada di parkiran mulai berdiri dan bersiap-siap untuk kembali masuk ke kamar asrama mereka masing-masing.
Sesampainya di kamar, mereka langsung mengambil pakaian ganti untuk bergegas menuju kamar mandi.
***********
Pukul enam lebih seperempat pagi, Fajar dan Ferdian membagikan sarapan kepada teman-temannya dengan mendatangi satu per satu pintu kamar asrama.
"Eh, Jar. Sarapan ya?" tanya Putra.
"Iya nih, Tra." Fajar menyodorkan sebungkus kertas makanan yang terikat karet.
"Makasih, Jar. Mau kemana kok gak mampir dulu?" tanya Abi.
__ADS_1
"Aku mau langsung cabut ke kamar aja, Bi. Soalnya nanti jam 8 langsung latihan kan?" ujar Fajar.
"Oh ya sudah," jawab Putra.
Ferdian dan Fajar keluar dari dalam kamar Abi, kemudian kembali ke kamarnya yang berada di ujung lorong asrama dekat dengan kamar mandi.
Abi dan Putra membuka bungkus kertas tersebut, ternyata isinya nasi ayam beserta lalapannya. Mereka berdua menyantapnya dengan lahap.
Pukul delapan pagi, semua peserta trainning camp langsung berjalan menuju lapangan futsal yang letaknya berada di sekitaran kompleks tersebut.
Putra, Fajar dan Sofyan berlatih bersama Mas Indra. Sedangkan Abi, Ilham dan Sauqi berlatih dengan Mas Rizal. Mereka semua berlatih dengan materi yang kemarin sore dipelajari guna mendalami ilmu tersebut.
Ada jeda istirahat disela-sela waktu latihan, semua berkumpul di tengah lapangan futsal dengan posisi berdiri. Ada yang sedang minum, membersihkan keringat dan saling berbincang. Lalu, Pak Taufik datang.
"Pagi anak-anak," ucap Pak taufik.
"Pagi juga, Pak," jawab anak-anak peserta training camp.
"Sebelumnya saya minta maaf, soalnya tadi pagi pas ambil sarapan. Saya dapet surat dari panitia penyelenggara, ternyata turnamen akan dimulai pertandingannya pada besok pagi," jelas Pak Taufik.
"Kok bisa begitu, Pak?" tanya Fajar.
"Berarti besok pagi kita mulai main?" tambah Ferdian.
"Iya begitu, dalam tiga hari kedepan. Jadi, besok itu penyisihan grup. Kalau kita lolos, kita masuk semifinal langsung keesokan harinya. Soalnya hanya ada juara grup yang akan lolos, nanti di hari ketiga itu jadwal final beserta perebutan peringkat tiga dan empat." Pak Taufik sambil melihat selembar kertas.
"Mendadak banget ya, Pak?" ujar Ferdian.
"Maaf, soalnya dari panitia juga begitu. Ini ada jadwal besok pagi," jawab Pak Taufik.
Kemudian, Pak Taufik membagikan selembar kertas itu kepada anak asuhnya satu per satu.
"Nanti, setelah ini. Kita langsung fun match, timnya seperti yang kemarin sore. Biar nanti kalau pas hari H, bisa punya paket tim yang akan main," ujar Pak Taufik.
Semua kembali mengambil posisi masing-masing untuk menjalani fun match. Setelah selesai sesi itu, Pak Taufik langsung memberi arahan kepada anak asuhnya untuk berlatih tendangan bebas dan para penjaga gawang akan menjadi benteng yang akan menghalau skema itu.
Dengan menghemat waktu, mereka akan bisa melatih pemain dan penjaga gawang satu waktu sekaligus.
Tetapi lain halnya dengan Abi, ia mendapat perhatian khusus dari Mas Rizal pelatihnya. Saat penjaga gawang dan pemain yang lain berlatih skema tendangan bebas, dirinya malah diberi materi untuk belajar menghalau tendangan penalty. Supaya ketika nanti pertandingan terpaksa dilanjutkan ke babak adu penalty, mereka semuanya berharap sudah siap.
Soalnya dalam permainan futsal, semua pemain boleh bergantian keluar masuk. Tanpa harus mengenal batas pergantian pemain, tidak seperti halnya dalam sepakbola.
Waktu latihan pada pagi hari ini telah selesai, dua jam sudah mereka menguras stamina. Sekarang pukul kurang lebih sekitar pukul sepuluh pagi, Pak Taufik membunyikan peluit panjang tanda waktu berlatih telah usai.
Semua berkumpul di tengah lapangan, dengan posisi duduk santai sambil melepas semua perlengkapan latihan futsalnya.
__ADS_1