Syahrian Abimanyu

Syahrian Abimanyu
SMP - Ruang Kelas


__ADS_3

"Kukuruyukkk" suara ayam jantan berkokok.


Hari masih sangat pagi sekali, mungkin baru pukul setengah lima pagi. Siti Fadilah membangunkan anak bungsunya yang masih terlelap di kamar tidurnya, hari ini ia harus kembali ke sekolah setelah libur lama setelah kenaikan kelas.


"Bii, bangun sudah pagi." Siti Fadilah menepuk-nepuk pelan pinggul anaknya.


"Iya, Buk." Abi menjawab dengan memoletkan badannya.


Siti Fadilah kembali menuju dapur untuk memasak, meninggalkan anaknya yang masih terduduk lemas di samping ranjang kamar tidurnya.


Kemudian Abi berjalan menuju dapur, mangambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh.


Siti Fadilah yang sedang berada di dapur, sedang mempersiapkan sarapan untuk pagi ini saat Rohmat (bapaknya Abi) masih terlelap di ranjang tidurnya.


Hari ini adalah pembagian ruang kelas sembilan, siswa SMP Negeri 1 Noveltoon akan diacak lagi ruang kelasnya, maka mereka semua akan mendapatkan teman yang baru dalam satu ruang kelas.


Abi telah selesai dari mandi dan sarapan paginya, kemudian ia langsung berpamitan kepada ibunya untuk berangkat ke sekolah.


Mengambil sepeda yang ada di ruang tamu, menuntunnya hingga teras rumah, bersiap untuk menaikinya.


"Berangkat dulu, Buk. Assalamualaikum," ucap Abi seraya mengayuh sepedanya.


"Waalaikumusalaam, hati-hati ya, Nak." Ibunya mengantarnya hingga pintu rumah.


Abi menuju ke rumah Putra untuk berkumpul, menunggu Agus dan Panji yang belum kelihatan wujudnya.


Saat sampai di rumah Putra, ternyata temannya itu sedang duduk santai di depan rumah sambil ditemani segelas susu putih dan sebuah cemilan wafer yang digenggamnya.


Abi sampai di rumah Putra, lalu memarkirkan sepedanya di teras, menuju ke samping Putra yang sedang duduk di sebuah kursi kayu tua.


"Mau wafer ndak, Bi?" Putra menawarkan sebuah wafer yang dimakannya.

__ADS_1


"Aku sudah sarapan tadi, masih kenyang." Abi mengusap-ngusap perutnya.


Berbincang santai beberapa menit kemudian Panji dan Agus datang mengayuh sepeda berboncengan, nampak Agus yang berada di depan membawa sepedanya.


"Sepedamu kemana, Nji?" tanya Abi.


"Sepedaku rantainya putus," jawab Panji.


"Waduh, ya sudah berangkat sekarang ayo." Agus mengajak Abi dan Putra yang sedang terduduk santai.


Putra masuk ke dalam rumah, meletakkan gelas kaca itu di meja ruang tamu, lalu mengambil sepeda sambil berpamitan kepada ibunya dengan sedikit berteriak dari depan rumah.


"Berangkat dulu ya, Buk!" Putra berbicara sedikit keras karena ia berada di depan rumah, sedangkan ibunya sedang mencuci di kamar mandi bagian belakang rumah.


"Ya hati-hati!" Ibunya membalas teriakan Putra.


Keempat anak ini mengayuh sepeda secara beriringan, Agus dan Panji yang berboncengan berada di urutan paling belakang, sedangkan Putra berada di paling depan.


"Kayak kamu dulu, Gus." Panji mengejek Agus yang sedang memboncengkannya.


"Gundulmu, kamu juga seperti itu dulunya," kata Agus sambil tertawa.


Memang sih, dulu keempat ini sangat culun sekali ketika masa-masa orientasi itu, namun sekarang mereka sudah mulai bisa mengimbangi sedikit gaya para teman-temannya di sekolah itu.


Saat sampai di depan gerbang sekolahan, banyak sekali para orang tua masih menunggu anaknya yang baru masuk SMP Negeri 1 Noveltoon pertama kalinya untuk mengikuti masa orientasi.


Keempat anak itu memasuki gerbang sekolahan dengan menuntun sepedanya, melintasi banyak sekali siswa yang masih mengenakan seragam merah putih.


Hingga sampai di parkiran sepeda pun, mereka masih selalu melihat siswa baru yang mengenakan seragam khas sekolah dasar itu, pagi ini jadwal keempat anak ini adalah mencari ruang kelas yang baru.


Mereka mulai berjalan dari jelas 9H, karena kebetulas kelas itu berada di samping belakang perkiran sepeda menghadap ke sebelah utara.

__ADS_1


Keempat anak itu belum menemukan namanya ada di daftar siswa yang menghuni kelas itu. Sampai di kelas 9G, ternyata ada nama Panji di situ, kemudian ia memasuki kelas itu untuk mencari bangku duduk di ruang tersebut.


Menyusuri lorong kelas lain, Agus menemukan namanya terpampang di kelas 9E atau bisa disebut kelas paling ujung dari deretan kelas yang menghadap keutara.


Sekarang hanya tinggal Abi dan Putra, mereka berdua menyusuri lorong kelas menuju utara, hanya tersisa beberapa kelas lagi yang menghadap ke sebelah barat.


Sampai di kelas 9C, Putra menemukan namanya berada di deretan daftar siswa yang ada di kelas tersebut, saat melihat terus ke bawah, nama Syahrian Abimanyu juga ada di deretan daftar siswa tepat berada di bawah urutan nama dari Putra Pamungkas.


Abi dan Putra duduk memilih satu meja yang masih kosong dua kursinya, karena satu meja untuk dua kursi.


Beberapa saat kemudian setelah kelas terisi penuh, wali kelas mulai datang. Harap-harap cemas saat melihat ada tiga guru yang berjalan berdampingan, rasa penasaran mulai muncuk dalam benak mereka semua yang ada di dalam ruang kelas, siapakah yang akan menjadi wali mereka saat ini.


Rasa penasaran sudah terjawab ketika yang masuk ke dalam ruang kelas adalah Bu Pri (Supriyati), guru yang mengampu mata pelajaran bahasa Indonesia, terkenal sangat baik, ramah dan lemah lembut kepada semua siswa, rasa dalam hati sangat senang sekali, hingga Abi dan Putra melakukan tos (menepukkan kedua tangan mereka).


Dina dan Maratus yang duduk di depan Abi juga merasa senang sekali, hingga semua siswa yang ada di dalam kelas menabuh-nabuh meja mereka karena sangat girang sekali.


Kebetulan siswa yang ada di dalam kelas ini adalah teman lama Abi ketika kelas tujuh, serta ada beberapa teman bawaan dari kelas delapan tahun lalu.


Seperti Irkham, Finda, Muslim, Dina, Tika, Indah dan masih banyak teman lain yang nanti akan muncul satu per satu ke dalam bab cerita berikutnya.


Hari ini tidak ada pelajaran, hanya pengenalan biasa, wali kelas baru akan menjadi bahan materi pembicaraan pada kali ini.


Bu Pri di kerjain para muridnya untuk memperkenalkan dirinya di depan kelas, karena semua anak yang ada di dalam ruang kelas ini, belum ada satu pun yang pernah diajar oleh beliau.


Hanya saja Dina adalah tetangga dari Bu Pri, mungkin sedikit kenal saja belum akrab sekali, karena hanya tetangga satu dusun.


"Itu, Dina. Juga kenal saya," kata Bu Pri menunjuk salah satu perempuan yang menempati tempat duduk depan dari bangku Abi dan Putra.


"Tapi belum kenal deket, Buk." Dina sambil tertawa mengejek.


"Tetangga macam apa kau ini, Nak." Bu Pri tertawa.

__ADS_1


Akhirnya wali kelas baru tersebut pasrah, dan mau untuk memperkenalkan dirinya di depan anak asuhnya yang baru.


__ADS_2