Syahrian Abimanyu

Syahrian Abimanyu
SMP - Bandel


__ADS_3

"Laper nih," kata Diki.


"Itu ada pepaya." Agus menunjuk ke sebuah pohon pepaya yang ada di lereng luar tanggul tersebut.


Panji dan Khoirul langsung mendekati pohon itu, melihat-lihat ke semua sisi sambil mencari buah yang sudah matang diatas pohon.


Fandil yang awalnya duduk di bawah, akhirnya ikut menghampiri kedua temannya yang sedang mencari pepaya. Membantu temannya yang sedang memilih-milih pepaya yang sudah matang.


"Itu sepertinya sudah lumayan," kata Fandil sambil menunjuk kearah salah satu buah pepaya yang masih menempel di pohonnya.


"Bukannya itu kuning karena kena sinar matahari?" Panji masih ragu.


"Coba ambil saja," tutur Khoirul.


Pohon itu tidak ada yang punya karena masih berada di kawasan lereng tanggul air, makan pohon itu milik umum, tidak ada yang akan marah karena anak-anak itu mengambil buahnya.


Pohonnya tidak terlalu tinggi, namun mereka masih anak-anak, jadi tinggi badannya belum bisa untuk menggapai sscara tangan kosong. Mereka membutuhkan sebuah batang pohon yang jatuh ke tanah karena sudah kering daunnya, beberapa saat ketiga anak itu berusaha mengambil beberapa buah pepaya yang sudah terlihat kekuningan bagian kulitnya.


Satu buah sudah jatuh ke bawah, sekarang masih ada satu buah yang tersisa diatas. Sedikit susah payah dalam menggapai buah yang kedua ini, butuh kerja keras untuk menjatuhkan buah yang kedua ini.


"Blugg," suara buah pepaya yang mereka incar sudah jatuh ke bawah.


Lalu ketiga anak ini membawa dua buah pepaya itu ke tempag berkumpulnya anggota mereka sore ini, matahari masih bersinar lumayan tinggi, cara anak-anak itu dalam mengira-ngira waktu (pukul) sekarang ini.


"Matang apa tidak ini?" Tanya Agus.


"Coba saja," jawab Panji.


Agus langsung memegang buah pepaya itu, kemudian mematahkan dengan menggunakan kedua tangannya. Ternyata mudah sekali dalam membelah buah pepaya itu menggunakan tangan, nampak di dalam buah tersebut sudah berwarna oranye tanda buah itu telah matang.


Buah yang pertama rasanya sedikit lumayan keras, mungkin karena buah itu belum matang sepenuhnya. Sedangkan buah yang mereka petik urutan kedua, lumayan matang sih.


Anak-anak itu menikmati buah pepaya tersebut sambil duduk di lereng luar tanggul air terdebut, menikmati pemandangan sawah di sore ini yang terbias oleh cahaya semi oranye berasal dari sinar matahari.


"Pulang yok," kata Abi.

__ADS_1


"Iya nih suda sore," imbuh Panji.


"Iya juga, sore ini kita kan harus ngaji juga." Khoirul berdiri dari tempat duduknya.


Setelah menghabiskan dua buah pepaya yang habis dibagi-bagi oleh semua anak-anak, kemudian mereka pergi meninggalkan sisa-sisa kulit buah pepaya di tepian tanggul begitu saja (jangan ditiru).


Melintasi jalan yang sama seperti awal berangkat mencari sarang burung tadi, suasana sawah masih lumayan sepi karena mungkin beberapa orang belum berangkat ke sawah mereka masing-masing.


Biasanya warga di desa ini kalau pergi ke sawah itu sekalian menunggu waktu setelah ashar. Selain hawanya yang memang adem karena hembusan angin sawah, mereka (petani) juga bisa menyelesaikan pekerjaan rumah terlebih dahulu, entah memberi makan ternak atau mengerjakan pekerjaan rumah yang lainnya.


Melihat ada timun suri yang ada di sawah tak terjaga, mereka mempunyai fikiran buruk untuk mengambil buah timun suri itu di sawah salah satu petani yang mereka lintasi tanpa penjagaan sang pemilik sawah.


"Kita ambil saja kali ya," kata Fandil.


"Jangan lah," jawab Putra.


"Sebenarnya lumayan juga untuk dicampur es dan sirop di rumah," tutur Abi.


"Tapi jangan lah, nanti ketahuan." Agus menolah-noleh ke samping kanan dan kiri dari arahnya berdiri.


Tangan dari Rama sesekali memetik cabai yang ada di sepanjang jalan saat mereka lewat untuk kembali ke rumah, menaruh di saku celanannya bumbu dapur yang berhasil dipetiknya (jangan ditiru).


"Ehh... Ada timun buah nih," kata Diki.


"Mana?" Tanya Abi.


Diki langsung menunjuk timun yang masih menempel dipohon rambatnya di bawah, mereka berusaha mendekatinya. Ketika hendak mengambil timun tersebut, ketujuh anak ini malah ketahuan oleh pemilik sawah yang tiba-tiba muncul dari belakang kejauhan.


"Woy, ngapain kalian!" Teriak pemilik sawah itu sambil menyadongkan sebuah sabit yang ada di tangan kanannya.


Abi dan teman-temannya langsung lari terbirit-birit karena teriakan dan cadongan sebuah sabit yang terasa sangat horor, padahal mereka belum sempat untuk mengambil buah timun itu.


Sebenarnya sabit itu tidak akan digunakan untuk menyakiti mereka, namun petani itu hanya menggunakannya sebagai alat untuk menakut-nakuti saja. Sabit itu juga ingin digunakan petani sebagai pemotong rumput liar yang tumbuh di bawah tanaman jagung miliknya.


Setelah lari lumayan jauh hingga tak terkejar oleh pemilik sawah itu, mereka berhenti untuk menghela nafas karena capek terhadap kejaran oleh petani tadi.

__ADS_1


"Bgst, aku takut banget." Agus bernafas kembang kempis.


"Untung kita tidak di mutilasi," kata Panji sambil bercanda.


"Dicincang, buat makan ternak ikan lele." Fandil tertawa.


"****!" Diki ikut tertawa.


Ssmbil berjalan santai, mereka melanjutkan langkah kakinya lebih hati-hati mulai dari sekarang. Bentar lagi ketujuh anak ini akan sampai di rumah Diki, tempat dimana semua anak ini menitipkan sepedanya.


Abi melihat sebuah keong yang terkumpul di dalam sebuah wadah ember plastik hitam, isinya lumayan penuh, ada seorang petani yang sedang mencari keong emas hama bagi tanaman padi. Karena keong itu hobinya memakan tangkai tanaman padi bagian bawah dekat dengan akar.


"Lagi nyari apa ini, Pakdhe?" Tanya Abi.


"Ini lagi bersihin keong-keong hama," kata Petani itu sambil membungkuk mencari keong-keong hama itu.


"Banyak banget ini, Dhe." Diki melihat kearah dalam ember yang berisi keong.


"Kalau mau itu ambil saja, ada plastik kresek hitam di bawah ember itu. Silahkan ambil saja, aku juga tidak butuh keong sebanyak itu." Petani itu masih sibuk mencari hama bagi tanaman padinya tersebut.


Agus membantu Diki untuk menuangkan beberapa isi dalam ember hitam itu ke dalam plastik kresek, Diki berniat untuk membawa keong itu pulang ke rumah.


"Terima kasih ya, Pakdhe." Diki selesai menuangkan sebagian isi yang ada di dalam ember itu.


"Iya-iya sama-sama, santai saja. Itu dibawa pulang sekalian semua tidak apa-apa," kata Petani tersebut.


"Makasih, Pakdhe!" Agus berterima kasih kepada Petani itu sambil sedikit berteriak agar mendengarnya.


Beberapa saat mereka berjalan, saat ini ketujuh anak itu sudah sampai di lorong samping antara rumah Diki dan neneknya.


Diki masuk ke dalam rumah untuk memberikan keong itu kepada orang tuanya agar segera di masak, sedangkan Abi dan teman-teman yang lainnya mengambil sepeda, kemudian bergegas mengayuhnya menuju rumah masing-masing.


Sekarang masih pukul tiga sore, namun mereka harus bersiap-siap untuk pergi ke tempat ngaji sore ini. Makanya mereka harus pulang ke rumah untuk makan, mandi dan lain sebagainya.


Waktu ngaji dimulai pada pukul setengah lima, bagi Abi masih ada waktu satu setengah jam untuk mengurus dan memberi makan ke beberapa hewan ternaknya.

__ADS_1


__ADS_2