
"Pulang sekarang yok," kata Diki.
"Bentar," kata Putra yang masih mencari buah karsen.
"Ya sudah, aku tinggal kalau begitu." Diki mulai berjalan bersama teman yang lain.
Akhirnya Putra ikut berjalan kembali menuju rombongan yang hendak pulang ke rumah, melewati beberapa tanggulan sawah seperti saat mereka berangkat kemarin.
Ternyata tanpa disadari hari mulai sedikit siang, karena saat berjalan pulang ke arah timur, sinar matahari sudah membuat silau pandangan.
"Habis darimana?" tanya salah satu petani yang sedang merawat padi di samping jalan mereka.
"Dari tanggul, Mbah." Diki menunjuk kearah barat.
Petani itu sudah lumayan tua, namun semangatnya dalam merawat sepetak tanah itu sangat luar biasa, seperti tak ada rasa lelah yang datang menghampirinya, keringat mengucur dari beberapa bagian tubuhnya, tetapi nafasnya masih sangat segar sekali.
"Itu ada buah timun suri di sebelah sana," kata petani itu sambil menunjuk kearah sudut sawah sepetak miliknya ini.
Ada sebuah tanaman yang merambat di bawah pohon jagung yang masih kecil, terlihat kuning lonjong sedikit besar yang ada di sekitar tanaman itu, ada beberapa bentuk yang sama dengan buah itu.
Namun semua anak ini tidak berminat mangambil buah itu, karena mereka tidak tertarik dengan buah tersebut.
"Hehe makasih, Mbah. Buat panjenengan (kamu) saja," kata Diki menolak tawaran itu dengan sangat lembut.
"Kalau haus, Mbah juga bawa es di teko sebelah sana," kata petani itu sambil menunjuk sebuah karung yang digelar sebagai alas untuk tempat cemilan dan minuman di teko yang beliau bawa.
"Makasih, Mbah." Abi menolaknya dengan halus, kemudian beranjak pergi melangkahkan kaki melewati sela-sela atau jarak antara tanaman jagung kecil satu dengan yang lain.
Kelima anak itu sudah sampai di samping rumah Diki dan kakeknya, meletawi lorong antara kedua rumah itu dengan berjalan satu-satu secara berurutan, karena lorong itu hanya bisa dilewati satu orang saja, tidak bisa untuk berjalan secara berdampingan.
Abi sekilas melihat jam yang ada di dinding ruang tamu rumahnya Diki, jarumnya menunjukan pukul sekitar setengah sebelas siang.
Diki mengambil sangkar atau kandang burung yang tergantung di samping rumahnya, sudah lumayan kusam dan beberapa bagian jari-jarinya sudah menjadi sarang laba-laba.
Ia membersihkan sangkar itu dengan sebuah kain tidak terpakai yang di hempas-hempaskan kearah benda itu agar debu dan sarang laba-laba yang menempel bisa hilang.
__ADS_1
Diki sedikit susah payah saat membersihkan sangkar itu, Abi dan teman yang lain menutup sebagian wajahnya dengan baju yang ia kenakan, karena menghindari debu yang berterbangan agar tidak masuk ke dalam saluran pernafasan mereka.
"Lha ini nanti burungnya mau dikasih makan apa?" tanya Putra kepada Diki.
"Ini nanti kalau kutilangnya dikasih makan pisang, kalau bentetnya kan masih kecil, disuapin pakai isi tahu yang putih itu lho." Diki menjelaskan.
"Emangnya mau, kalau dikasih makan itu?" tanya Abi.
"Mau lah, aku dulu pernah dapet burung bentet juga aku suapin pakai isi tahu," jelas Diki.
Setelah beberapa menit anak itu berkumpul di tempat itu, Abi merasa ngantuk siang ini. Ia ingin kembali ke rumah untuk tidur siang, sudah tak kuasa menahan kantuk dan terus menerus menguap, Abi berjalan meninggalkan teman-temannya yang sedang asik memperhatikan anak burung yang ada di sangkar milik Diki.
"Mau kemana, Bi?" tanya Khoirul.
"Aku mau pulang, ngantuk nih. Pengen tidur siang dulu," kata Abi.
"Ya sudah aku juga mau pulang lah," kata Khoirul.
Setelah Abi dan Khoirul berjalan pulang kerumah masing-masing, akhirnya Putra dan Fadil pun juga ikut kembali ke rumah.
Siang ini Abi langsung menonton televisi di ruang tamu untuk dongeng penghantar tidurnya siang ini, masih jam sebelas kurang sepuluh menit.
"Biii," suara Panji yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Iya?" jawab Abi sambil masih terpejam matanya.
"Kamu dimana?" tanya Agus yang tak mengetahui Abi sedang tidur di ruang tamu depan televisi, karena senderan kursi panjang yang terbuat dari kayu itu menutupi seluruh tubuh Abi yang sedang tertidur membelakangi pintu rumahnya.
"Aku di depan tv," kata Abi.
Kemudian Agus dan Panji masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu tempat Abi tertidur siang ini, kedua anak itu berusaha membangunkan temannya yang sedang terlelap disebuah kursi tamu.
Abi terbangun dengan kondisi masih sangat mengantuk, karena ia belum genap dua jam, masih dalam situasi nyenyak-nyenyaknya malah dibangungin oleh kedua temannya itu.
"Kenapa kalian?" tanya Abi masih dengan kondisi sedikit tidak sadar.
__ADS_1
"Aku mau ngajak kamu ke sawah, mau ndak?" tawar Agus.
"Mau ke sawahnya siapa?" tanya Abi lagi.
"Ke sawahnya Pak Dhe Jan," kata Panji sambil menyebut pemilik sawah itu.
"Mau ngapain?" tanya Abi masih penasaran.
"Mau ikut Omku, traktor sawah." Agus membujuk Abi supaya mau ikut dengannya.
"Tapi aku mau sholat dulu kalau gitu," jawab Abi sambil beridir dan berjalan menuju kamar mandi dengan keadaan masih mengantuk dan sesekali menguap.
Sedangkan Panji dan Agus hanya menunggu Abi di ruang tamu sambil menyaksikan acara yang sedang tayang di layar televisi ruang tamu Abi.
Abi melaksanakan ibadah sholat dzuhur di dalam ruang kamarnya, di samping sisi ranjang tidurnya yang masih tersisa beberapa bagian kosong bisa digunakan untuk apa saja, termasuk beribadah.
Siang hingga sore ini, ketiga anak itu berencana untuk ikut menyaksikan omnya Agus yang sedang membajak sawah milik salah satu tetangga mereka.
Abi telah kembali menuju ruang tamu dengan keadaa segar, karena sudah bercuci muka dan terbasuh oleh air wudhu barusan.
Ketiga anak itu langsung berdiri dan bersiap untuk meninggalkan rumah ini menuju sawah yang anak mereka tuju, kali ini mereka bertiga berjalan menuju belakang rumah Abi, lalu mengarah kearah timur hingga melewati belakang rumahnya Indra.
"Woy, mau kemana?" Indra sedang duduk santai di pintu belakang rumahnya yang terbuka lebar-lebar.
"Ini mau nonton Om Ahwan sedang men-traktor sawah," jelas Abi.
"Kirain mau kemana tadi," kata Indra, anak itu duduk tepat di tengah-tengah ointu itu dengan keadaan tak mengenakan baju.
"Ayo ikut apa ndak?" tanya Agus.
"Di sawahnya siapa?" tanya Indra balik.
"Sawahnya, Pak Dhe Jan." Agus menunjuk kearah sawah tersebut yang ada di sebelah timur rumah Indra, letaknya tidak terlalu jauh. Mungkin hanya sekitar 300 meter dari rumah Indra.
"Oh ya sudah kalau begitu, nanti insyaAllah aku nyusul. Soalnya ini aku masih nungguin adekku yang masih kecil," kata Indra.
__ADS_1
"Oh ya sudah kalau begitu," kata Agus.
Ketiga anak ini langsung melanjutkan perjalanannya menuju sawah itu, melewati beberapa pohon liar.