Syahrian Abimanyu

Syahrian Abimanyu
SMP - Asrama Trainning Camp


__ADS_3

Abi sudah mulai menyiapkan pakaiannya dari malam hari dan juga sudah meminta izin kepada orang tuanya, kalau ia tidak akan tidur di rumah selama seminggu ini. Setelah prepare ia rasa sudah cukup, kini saatnya untuk tidur dulu.


Keesokan harinya sekitar pukul lima pagi, Abi berangkat dari rumah diantar bapaknya menuju sekolahan. Saat sampai di sekolahan, ternyata baru ada beberapa orang yang datang.


Lalu ia memutuskan untuk duduk santai saja di taman sekolahan, sambil menunggu yang lain datang. Belum ada jam enam pagi, ternyata semua sudah datang.


Tetapi Pak Taufik masih di kantor, belum keluar dari ruangan. Busnya juga belum datang, Fajar menghampiri Pak Taufik untuk menanyakan hal itu.


"Pak, berangkat jam berapa kita?" tanya Fajar yang datang ke kantor menghampiri Pak Taufik.


"Kita kumpul dulu jam enam, kalau sudah kumpul di lingkungan sekolah. Kita start dari sini pukul setengah tujuh. Soalnya, kamarin sekolah bilang ke pihak busnya itu pukul segitu," ujar Pak Taufik.


"Kita makan dulu ke kantin ndakpapa berarti ini, Pak?" tanya Fajar, karena tadi mendengar temannya ada beberapa orang yang mengeluh belum sarapan.


"Ya ndakpapa toh, yang penting masih di lingkungan sekolah kan. Nanti kalau sudah mau berangkat gak harus nyari-nyari, nunggu dan lain sebagainya," jelas Pak Taufik.


"Ouh, ya sudah kalau begitu, nanti misal sudah datang busnya kita ada di kantin ya, Pak?" ujar Fajar.


"Iya, nanti pasti juga lihat. Toh, busnya nanti juga parkir di lapangan basket. Kan, kelihatan juga dari kantin," tutur Pak Taufik.


"Aku ke kantin dulu ya, Pak." Fajar berjalan meninggalkan Pak Taufik.


Saat berada tepat di aula sekolahan, Fajar berteriak mengajak teman-temannya. Memberitahukan kalau dirinya mau ke kantin.


"Eee .... Aku mau ke kantin nih? siapa mau ikut? aku sudah ijin sama Pak Taufik, katanya ndakpapa. Yang belum sarapan boleh ikut." Fajar berbicara sedikit kencang menawarkan ajakan kepada teman-temannya.


Sebagian ada yang ikut dengan Fajar, dan beberapa anak juga masih ada yang diam di tempatnya. Duduk berpencar, ada yang di depan mushola, bawah pohon, aula, depan kantor dan taman sekolahan. Abi dan Putra masih tetap diam di posisi duduknya, ia merasa masih kenyang karena sudah sarapan dari rumah.


"Di sini aja lah, Bii. Aku bawa uang saku pas-pasan soalnya. Nanti, mikir di sana juga. Soalnya kita di sana bukan cuman sehari dua hari, kita di sana seminggu, Bi. kalau pengen jajan nanti gimana?" ujar Putra.


"Iya lah, aku juga bawa uang pas-pasan kali," jawab Abi.


"Ini kalau masih laper makan biskuit dulu, kebetulan aku tadi diberi sama kakakku." Putra mengeluarkan sebungkus biskuit yang berukuran cukup besar dan membukanya.


"Iya, ini aku juga bawa kok," Abi menjawab.


"Udahh, itu buat nanti aja. Makan yang ini dulu lah, ngirit." ujar Putra sambil menyadurkan sebungkus biskuit itu kepada Abi.

__ADS_1


Tak selang beberapa lama, busnya datang. Pak Taufik berjalan ke lapangan basket tempat parkir bus, meniup peluitnya untuk mengumpulkan semua anak asuhnya. Putra dan Abi menutup biskuit yang belum habis mereka makan, kemudian berjalan menuju arah Pak Taufik berdiri.


Setelah semua berkumpul dan membuat barisan, Pak Taufik langsung memberi arahan.


"Pagi, anak-anak!" kalimat pembuka Pak Taufik.


"Pagi juga, Pak," jawab anak - anak dengan serentak.


"Nanti, kita sampai sana mungkin pukul sebelaa siang, terus istirahat dulu. Sore jam empat, kita ada latihan sedikit ya," kata Pak Taufik.


"Iyaa siap, Pak," jawab anak - anak.


"Ya sudah, sebelum kita berangkat agar diberi keselamatan sampai tujuan. Kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, berdoa dipersilahkan." Semua menunduk dan terasa suasana menjadi hening sekali.


"Selesaii," ucap Pak Taufik.


"Semangatt, semangatt, semangaatt!" kalimat yang keluar dari mulut anak-anak.


"Yukk, masuk semuanya." Pak Taufik berjalan menuju bus.


Bus mulai berjalan, meninggalkan sekolahan. sampai di gerbang sekolah, Eka yang baru berangkat sekolah melihat bus itu. Melihat Abi yang sedang berada di dalam bus, memberikan senyuman. Abi juga membalas dengan senyuman dengan hati yang sudah tanpa perasaan.


Ciee ceritanya sakit hati ni yee.


Sepanjang perjalanan semua anak tertidur pulas sampai tiba di tempat tujuan. Bus berhenti di depan kamar penginapan, kala itu Pak Taufik memberitahukan kalau ternyata satu kamar untuk dua orang. Abi dan Putra seperti biasa langsung memilih untuk beristirahat di satu kamar yang sama.


Pak Taufik memberikan kunci kamar satu per satu yang sudah digantungi nomor kamar kepada anak-anak, Abi dan Putra mendapat kamar nomor emam. Karena, waktu itu yang dibawa ada 15 pemain. Maka, Fajar dengan sangat terpaksa harus satu kamar dengan Pak Taufik.


Sampai di kamar Putra membuka kunci pintu kamar, lalu masuk ke dalam kamar. Melihat-lihat isi yang ada didalam kamar, T


ternyata kondisinya cukup bagus sekali.


Memiliki dua loker kecil dan ruang yang cukup luas untuk menaruh barang. Satu kamar ternyata ada dua ranjang yaitu atas dan bawah, semacam asrama gitu.


Abi memilih tidur di ranjang atas, sedangkan Putra berada di ranjang bawah. Mereka sangat senang sekali seperti menemukan keluarga baru, karena memang anak futsal itu orangnya asyik-asyik. Tidak terlalu kaku, seperti saat ia masih berada di organisasi Palang Merah Remaja.


Setelah menaruh semua pakaian ganti dalam loker, kebanyakan yang mereka berdua bawa adalah baju dan celana olahraga.

__ADS_1


Pasti dong, kan mereka kesitu buat latihan futsal. Masa iya, merea pakai baju partai, kan mereka bukan lagi mau kampanye.


Mengeluarkan sepatu futsal dari dalam tasnya. Abi dan Putra, masing-masing membawa dua sepatu futsal dan dua pasang kaos kaki.


Melihat jam yang ada di dinding kamar, ternyata belum ada jam sebelas siang. Mungkin tadi jalanan sedikit sepi, makanya bisa agak cepet sedikit sampainya.


Putra berjalan menuju luar kamar istirahatnya, melihat sekeliling penginapan.


"Gimana? ada yang nongkrong ndak?" teriak Abi dari dalam kamar.


"Sepi banget, Bii. Pada kemana ya? masa iya udah pada latihan, kita ditinggal?" ujar Putra sambil meringis.


"Ada-ada aja kamu tuh. coba cek dulu ke kamar-kamar sebelah, Traa." Abi masih sambil memasang tali sepatunya yang sebelumnya dilepas karena dicuci.


Putra berjalan ke kamar-kamar sebelah dan melihat masih banyak yang terbuka, ya jalan seperti orang patroli aja.


"Ngapain, Traa?" tanya Ilham dari dalam kamarnya.


"Gakk, ini kok sepi amat. Kirain pada latihan atau kemana gitu," jawab Putra sambil mengintip kedalam kamar Ilham.


"Pada tidur siang paling. Kan, latihannya masih nanti sore." Ilham sambil tiduran diatas ranjang tidurnya.


"Oohh, ya sudah. Kalau gitu aku balik ke kamar aja lah." Putra berjalan kembali menuju kamarnya.


Sampai di kamar ia langsung berbaring di ranjang, memutuskan untuk istirahat tidur siang.


"Pada kemana tadi, Traa?" tanya Abi.


"Ada di dalem kamar semua ternyata. Ada yang tutup, paling pada tidur. Tadi aku lihat beberapa juga masih beres-beres di kamarnya. Ya sudah, tidur dulu aja lah," ujar Putra.


Abi selesai memasang tali sepatunya, menaruhnya di atas loker kamar.


"Beneran pada tidur, Traa?" tanya Abi lagi.


"Beneran, Bii. Kamu nanti kalau mau tidur pintunya di tutup aja, gausah dikunci ndakpapa. Aku mau tidur dulu." Putra berusaha memejamkan matanya.


Abi berjalan ke luar kamar, melihat sekeliling ternyata sepi seperti kuburan. Ia langsung menutup pintu kamar, menaiki tangga ranjang. Lalu, ia mengambil posisi tidur yang pas untuk beristirahat sejenak. Putra yang berada di ranjang bawah sudah tertidur lelap.

__ADS_1


__ADS_2