Syahrian Abimanyu

Syahrian Abimanyu
SMP - Cinta Pertamaku


__ADS_3

Akhirnya, malam itu Abi memberanikan diri untuk mengirim pesan singkat kepada Eka.


"Besok berangkat agak pagi ya, Dek. Kita ketemu di parkiran sepeda." setelah Abi mengirimkan pesan itu, langsung berbaring untuk tidur malam.


********


Suasana masih pagi sekali, Abi bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Sekarang, kamar mandinya juga harus gantian. Karena, ibunya juga harus berangkat kerja dihari pertamanya.


"Tumben, pagi-pagi udah mulai siap-siap berangkat, Bii," kata Siti Fadilah.


"Iya, Bii. Sekalian, nanti mau beres-beres bangku sekolah. Kan, lagian kamar mandinya sekarang juga gantian sama Ibu Bapak," alasan Abi.


"Oh ya sudah, langsung mau berangkat nih?" tanya Siti Fadilah.


"Iya lah, Buk. Aku langsung berangkat ya, Assalamualaikum." Abi mencium tangan ibunya dan beranjak mengambil sepeda.


Pagi itu, Abi mengayuh sepeda sendirian. Tanpa ditemani oleh Putra, Agus dan Panji yang biasanya selalu ada saat berangkat sekolah.


Sekitar, dua puluh menitania mengayuh sepeda. Sampai di sekolahan suasananya masih sangat sepi sekali. Memasuki gerbang sekolahan, Abi menuntun sepedanya menuju parkiran.


Ternyata, di sana sudah ada Eka yang menunggu di parkiran. Abi memarkirkan sepedannya, kemudian berjalan menuju Eka yang sedang berduduk santai di pinggir parkiran sepeda itu.


"Hai, pagi cantikk." Abi menyapa Eka yang masih duduk.


"Dateng-dateng langsung gombal aja, salam dulu kenapa." Eka sedikit cemberut.


"Hulluh, tambah cantik kalau cemberut. Iya, Assalamualaikum," Kalimat salam pembuka yang keluar dari bibir Abi.


"Waalaikumusalaam. Nah, gitu lho kan bagus," ujar Eka.


"Hehe iya, Dek. Maaf," kata Abi.


"Gak ... ini kenapa kok ngajakin aku berangkat pagi-pagi banget kayak gini?" Eka langsung bertanya dengan sedikit agak marah.


"Maaf dulu ya, Dek. Ganggu waktumu ya?" Abi masih berusaha bertanya kepada Eka.

__ADS_1


"Gak juga kok, Mas. ya tapi aneh aja kok ngajak berangkat pagi-pagi," jawab Eka.


"Begini, Dek. ya akhir-akhir ini kan ...," kata Abi.


"Iya, Mas. Kita udah deket, gitu kan? Kamu pengen aku jadi pacar kamu kan?." Eka langsung memotong kalimat dari Abi yang belum selesai bicara.


"Hmmm ... iya begitu, Dek," jawab Abi, ia merasa takut kalau Eka marah.


"Udah gak usah bicara itu, aku mau kok, Mas. Aku tau maksudmu ngajak aku berangkat pagi, aku mau jadi pacar kamu," jawab Eka sambil tersenyum manja.


"Beneran ini, Dek?" Abi salah tingkah dan masih merasa mimpi kalau jawaban itu yang keluar dari bibir manis Eka.


Mereka berdua malah saling terdiam melamun tanpa ada percakapan sekali. Setelah itu, tak tau harus bicara apa lagi. Ya, memang terkadang kalau cinta yang sudah bicara. Udah gak tau lagi mau ngapain, serba salah dalam memilih tema perbincangan.


"Udah lah, Mas. aku mau ke kelas dulu. Kamu juga ke kelas gih," ujar Eka sambil beranjak dari posisi duduknya.


"Iya sudah hati-hati, Dek. a


Aku juga mau ke kelas saja lah." Abi menjawab ajakan Eka.


Mereka berdua masuk ruang kelas masing-masing, sampai tak terasa sudah ramai situasi dalam kelas. Hari itu hanya ada bimbingan dari wali kelas dan bersih-bersih ruang kelas, karena telah lama ditinggal libur.


Melihat temannya berjalan dari sudut sebrang parkiran sepeda. Kemudian, ketiga anak itu memutuskan berhenti untuk menunggu Abi. Setelah mereka berempat sudah siap menaiki sepeda, keempat anak itu mengayuh sepeda sampai rumah. Dalam perjalanan pulang, mereka saling bersaut kalimat.


"Aku kirain tadi kamu gak berangkat, Bii," kata Agus.


"Aku tadi berangkat sedikit pagi, karena aku gantian kamar mandi sama ibuk," alasan Abi.


"Ohh, kirain. Tadi, soalnya aku sama Agus lewat depan rumahmu, sepi banget. Pintu juga tutupan, dipanggil, Bii. Gak ada yang nyautin," jelas Panji.


"Oh, tadi aku udah berangkat. Sekarang Ibuku kan juga kerja, jadi rumahku sepi lah," tutur Abi.


"Ohh, pantesan. Tapi tadi kok aku gak lihat kamu lewat depan rumahku?" tanya Putra.


"Mungkin, kamu tadi lagi mandi." Abi ngeles di depan teman-temannya.

__ADS_1


"Mungkin, bisa jadi sih," balas Putra.


Rumah yang paling jauh adalah Panji. Jadi, setiap berangkat sekolah Panji menghampiri Agus, nanti mereka berdua baru menghampiri Abi. Terakhir kumpul di rumah Putra untuk berangkat sekolah. Itu menjadi kebiasaan pasti yang empat anak ini lakukan setiap pagi, ketika hendak berangkat ke sekolah.


Sesampainya di rumah, Abi langsung menuju kamar untuk ganti baju. Siang itu ia harus menyiapkan lauk sendiri, karena sang ibu belum pulang dari tempat kerjanya.


Abi memutuskan untuk mendadar telor saja. Berjalan menuju dapur, memasak sendirian. Makan siang sudah siap, Abi mengambil ponselnya di kamar. Berjalan menuju ruang tamu dan sekarang posisinya duduk makan sambil menonton televisi, tangan yang satunya sibuk bermain ponselnya.


"Sayangku, udah sampai dirumah apa belum?" kalimat sms Eka yang dirikim kepada Abi (tertanda pukul setengah dua belas siang).


"Sudah sampai rumah dari tadi kok, Dek. Ini aku lagi makan," jawab Abi.


Setelah selesai makan, ia langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Melaksanakan ibadah sholat karena sudah terdengar kumandang adzan dzuhur.


Setelah sholat, ia kembali mengambil ponselnya. Dan berbalas pesan dengan Eka sambil posisi tiduran dilantai bawah ruang tamu, ditemani suara televisi yang masih menyala.


Tak dirasa, ternyata ia ketiduran sampai ibunya pulang.


"Assalamualaikum, Bii. Ibuk pulang." Siti Fadilah mengucapkan salam saat masuk rumah sambil menuntun sepedanya.


Abi masih tertidur pulas, tak mendengar salam yang diucapkan oleh ibunya. Beberapa saat setelah ibunya selesai bersih-bersih badan dari kamar mandi. Ternyata, Abi sudah bangun menatap layar ponselnya.


"Uluhh, anak ibuk udah bangun." Siti Fadilah berjalan menuju kamarnya.


"Eh, ibuk sudah pulang toh. Aku ketiduran tadi pulang sekolah, Buk," ujar Abi sambil beranjak dari posisi tidurnya.


"Iya, ibuk tadi pulang jam tiganan, Bii. Itu ada lauk buat makan, tadi dibawain sama majikan ibuk." Siti Fadilah berbicara dari dalam kamar.


"Iya, Buk. Aku udah makan kok, tadi makan lauk telor dadar. Ini buat makan nanti malem aja lah, Buk," ujar Abi sambil membereskan plastik yang berisi lauk dalam keranjang sepeda ibunya.


"Iya udah, itu taruh di meja saja. Buat makan nanti malam." Situ Fadilah keluar dari kamar sambil menenteng handuk.


"Iya, Buk. Aku mau mandi, dah jam empat lebih, Buk. Nanti, aku malah ketinggalan ngaji." Abi melangkahkan kaki menuji kamar mandi.


"Ini handuknya ibuk, Bi. Dibawa sekalian ke kamar mandi ya," ujar Siti Fadilah sambil memberikan handuk kepada Abi.

__ADS_1


Abi berjalan menuju kamar mandi, bersiap-siap untuk pergi mengaji. Hari ini sangat bahagia sekali, ia mendapat cinta pertamanya dan sang ibu kerja dengan majikan yang baik, karena ketika pulang diberi lauk untuk makan dirumah.


Dengan perasaan yang sangat senang. Terlihat sangat jelas pada diri Abi, lebih ceria kali ini.


__ADS_2