
Seluruh pemain SMP Negeri 1 Noveltoon tertunduk lesu, seperti tidak bisa menerima kenyataan ini. Tim lawan mendatanginya dan mencoba menenangkan suasana, sembari berkata, "kalian semua luar biasa.".
Mereka kembali tersenyum, berdiri bangkit kembali. Semua pemain berjabat tangan sambil berpelukan, terlihat sangat hangat sekali rasa persahataban mereka.
Para pemain SMP Negeri 7 Webtoon meninggalkan lapangan pertandingan untuk menemui staff dan teman-temannya yang lain.
Sementara, SMP Negeri 1 Noveltoon masih berada di pinggir lapangan tertunduk lesu. Sebenarnya dalam hati kecil berkata, sudah sampai laga final itu lebih dari target awal. Menjadi juara dua di ajang kompetisi sebesar ini sudah sangat keistimewaan, melihat persiapan mereka hanya dalam seminggu.
"Kalah tidak apa-apa, tidak ada yang perlu untuk disesali," kata Pak Taufik.
"Juara dua tidak apa-apa, ini hanya masalah keberuntungan saja," ujar Mas Indra.
"Iya, toh kalian kalahnya juga lewat adu penalty. itu hanya masalah keberuntungan saja," tambah Mas Rizal.
"Betul juga katamu, Mas." Fajar membalas nasehat dari pelatihnya.
Semua anak duduk santai di samping lapangan fustal, dibawah tribun GOR Krida Kresna. Saling bercanda dan berbincang hal-hal yang tidak perlu dibicarakan sebetulnya.
"Kalian nanti akan mendapat piagam penghargaan dari panitia, untuk pialanya biar disimpan di sekolahan saja." Pak Taufik memberitahu kepada anak asuhnya.
Sedikit nampak senyum bahagia terpancar dari wajah anak-anak SMP Negeri 1 Noveltoon, karena satu per satu pemain akan mendapat selembar piagam penghargaan dari dinas kabupaten terkait.
Acara pengumuman juara 1,2,3 akan dilaksanakan pukul satu siang, sekarang masih pukul setengah satu kurang lebih. Ada sedikit waktu untuk istirahat duduk-duduk santai di pinggir lapangan.
"Aku gagal nepis yang terakhir tadi, aku kurang konsentrasi sebenarnya." Abi menunduk.
"Ndakpapa, Bi. Mungkin, hari ini bukan keberuntungan tim kita," kata Sauqy.
"Iya, Bi. Nyatanya aku tadi juga gagal mengeksekusi penalty," ujar Putra.
"Hari ini tim kita nendang penalty, ndak ada yang masuk satu pun," jelas Ferdian.
"Tadi aku sedikit ragu untuk bergerak, makanya aku salah melangkah," kata Abi.
__ADS_1
"Tapi ndakpapa lah, kamu udah bagus di pertandinga sebelum-sebelumnya. Beberapa tendangan penalty udah kamu tepis, hingga kita semua bisa sampai ke pertandingan ini," puji Sauqy.
Ada beberapa anak yang masih menyesali kekalahan ini, tetapi ada pula beberapa yang sudah mulai berdamai atas rasa sakit hati kali ini. Mungkin ini hanya masalah waktu saja, masih ada gelar pemain terbaik, top skor dan penjaga gawang terbaik.
Sekarang saatnya pengumuman podium juara, semua tim berkumpul di samping lapangan untuk menerima penghargaan. Dimulai dari juara tiga, kemudian juara dua yaitu SMP Negeri 1 Noveltoon. Mendapat tepuk tangan yang sangat gemuruh, membuat suasana GOR menjadi sangat riuh sekali.
Pemanggilan juara satu, terasa sedikit sepi tepuk tangan. Tidak seramai saat pemanggilan SMP Negeri 1 Noveltoon, ketika itu ia baru menyadari juara yang sesungguhnya bukanlah peringkat. Tetapi, seberapa besar penonton menghargai mereka.
Top skor dan pemain terbaik jatuh kepada Putra Pamungkas, playmaker terbaik jatuh kepada Fajar dan penjaga gawang terbaik jatuh kepada Abu Sauqy.
Ketiga anak ini memang tampil sangat luar biasa, Fajar sangat pandai sekali dalam mengatur serangan. Putra pandai dalam memanfaatkan situasi sesulit apapun menjadi sebuah peluah, bahkan saat situasi satu lawan dua, dirinya masih bisa menciptakan sebuah peluang yang membahayakan pertahanan musuh. Abu Sauqy tampil sangat luar biasa, mungkin bisa dibilang dalam setiap pertandingan. Ia menjadi tembok yang paling kokoh dalam pertahanan SMP Negeri 1 Noveltoon, nampak sekali tugasnya dapat dijalankan dengan baik.
Setelah parade pengumuman juara, seluruh pemain kembali ke kamar asrama masing-masing. Mereka tidak langsung pulang ke halam asal, namun akan menghabiskan malam hari ini di asrama untuk bersenang-senang dan bercanda ria. Kuota penginapan masih tersisa satu malam, Tapi untuk malam ini semua pemai yang dibawa tidak mendapatkan jatah makan malam. Semua sepakat mencari makan malam sendiri, anak-anak hanya ingin menghabiskan malam hari ini dengan tanpa lagi ada beban yang harus ditopang di pundaknya.
"Nanti malem enaknya makan apa ya?" tanya Fajar saat berjalan kembali ke kamar asrama.
"Aku masih ada beberapa wafer dan kacang oven didalam tas," kata Abi.
Kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, jam di dinding masih menunjukan pukul tiga sore. Abi dan Putra mengambil baju ganti didalam loker kecil kamar asramanya, bergegas untuk mandi dan sholat ashar. Terlihat juga beberapa anak yang lalu lalang di lorong jalan asrama tersebut.
Putra memilih untuk duduk dan bersender di tembok depan kamar asrama, hanya mengenakan singlet. Sedangkan, Abi berjalan menuju kamar mandi untuk mandi lebih awal.
"Bi, mau kemana?" tanya Fajar yanh berdiri di pintu kamar Ferdian.
"Aku mau pulang. Udah tau bawa baju ganti, pasti mandi lah, Jar." Abi sambil menunjukkan baju ganti yang ada didekapannya.
"Oh ya sudah, kirain mau mandi." Fajar tertawa.
"Ya emang dia mau mandi, Cvk." Ferdian tiba-tiba muncul dari belakang Fajar.
"Putra dimana?" tanya Fajar.
"Dia ada di depan kamar, aku tinggal mandi dulu ya." Abi meninggalkan kedua temannya itu.
__ADS_1
Fajar dan Ferdian melihat kearah kamar Putra, saat melihat temannya sendirian di depan kamar, ia langsung menghampirinya.
"Lagi ngapain, Tra?" tanya Ferdian.
"Weh, kirain siapa." Putra kaget.
"Lagi ngapain kamu, bengong aja?" tanya Fajar.
"Ini lagi ngilangin keringet, mau mandi tapi malah masih keringetan." Putra sambil mengibas-ngibaskan baju yang dilepasnya.
"Lha kalian mau kemana?" tambah Putra.
"Aku mau kesini nemenin kamu," ujar Ferdian.
Sore hari ini terlihat banyak sekali anak-anak yang sedang menikmati suasana sorenya di depan kamar masing-masing. Sekarang Ferdian, Putra dan Fajar berbincang santai di depan kamar Putra. Nampak tak ada beban yabg terlihat dari raut wajah mereka, semua berbincang dengat sangat ceria.
Abi berjalan dari sudut lorong jalan asrama, wajah dan rambutnya masih basah, sesekali air menetes dari ujung rambutnya.
"Walah, udah pada di sini." Abi mengusap air yang masih ada di rambutnya.
"Seger banget kelihatannya," kata Ferdian.
"Alhamdulillah lumayan," jawab Abi.
Abi berjalan masuk ke dalam kamar asrama, Fajar berteriak dari luar.
"Mau kemana?" tanya Fajar.
"Mau sholat ashar dulu," jawab Abi.
Sesekali ada lalu lalang dari penghuni kamar sebelah, beberapa temannya melewati lorong asrama keluar area GOR Krida Kresna. Bermaksud untuk mencari jajan di depan area tempat parkir atau pinggir jalan sekitaran gerbang GOR.
Cahaya matahari mulai redup, ketiga anak yaitu Putra, Fajar dan Ferdian memutuskan untuk mandi. Kemudian melaksanakan sholat ashar, sebelum menikmati sore di tempat ini.
__ADS_1