
Sore ini mereka berempat kembali berkumpul di lorong asrama, berniat untuk membeli jajan di sekitar depan gerbang area tersebut.
"Kita mau cari apa nanti?" tanya Fajar.
"Seadanya saja lah," jawab Ferdian.
Keempat anak ini langsung beranjak menuju gerbang depan, melewati lorong asrama dan menyisir parkiran gedung futsal. Beberapa anak juga kembali dari depan, mungkin saja mereka habis dari membeli jajan di sekitaran situ juga.
"Mau pada kemana?" tanya Solokhin.
"Mau ke depan, cari jajan." Abi menunjuk kearah jalan raya.
"Oh ya sudah, aku juga habis dari sana. Banyak jajanan," jawab Solikhin.
Melanjutkan langkah kakinya, melewati parkiran luas yang tak terisi satu kendaraan pun. Sesampainya di gerbang luar parkiran, mereka melihat ke kiri dan ke kanan area trotoar jalan yang sudah banyak dipadati oleh pedagang kaki lima.
"Kita mau ke kiri atau ke kanan?" tanya Abi.
"Ke kiri saja lah, kayaknya di sana banyak jajan." Fajar menunjuk ke tempat tersebut.
"Ya sudah, ayo ke sana." Ferdian memulai perjalanan rombongan.
Melihat beberapa pedagang yang menjajakan dagangannya, terlihat sangat menggoda sekali untuk dibeli semuanya. Namun saat itu uang saku hanya pas-pasan.
Abi melihat pedagang onde-onde dan molen mini, ia merasa tertarik untuk membelinya. Berhenti sejenak untuk memastikan bahwa apa yang ada difikirannya itu sama apa seperti yang sedang ia lihat.
"Beli ini, Jar." Abi menunjuk kearah gerobak kecil milik pedagang.
"Kayaknya enak buat ngemil nanti malam juga, ya sudah beli ayo lah." Fajar mengajak Ferdian.
Empat anak ini berusaha berjalan mendekati penjual onde-onde dan molen mini, penjualnya seorang laki-laki paruh baya. Sangat ramah sekali ketika melihat kedatangan empat anak ini.
"Mau beli apa, Dek?" tanya pedagang.
"Mau beli onde-onde sama molen sepuluh ribu dicampur ya, Pak." Abi menunjuk kearah dua jenis cemilan tersebut.
"Oh iya tunggu sebentar ya, Dek." Pedagang tersebut mengambilkan jajanannya di sebuah kotak snack kecil.
"Mulai jualan jam berapa, Pak?" tanya Fajar.
"Kalau saya biasanya jam empat sore sudah buka, Dek." Pedagang menjawab sambil sibuk melayani.
Ferdian melihat ke beberapa pedagang lain yang rasanya menarik sekali jualannya, ia melihat ada yang jualan es kelapa. Dalam hatinya habis dari sini nanti beli es itu lah.
"Ini darimana, Dek?" tanya pedagang.
"Oh kami dari tiga hari ini sudah bermalam di asrama sebelah sini, Pak." Fajar menunjuk kearah GOR Krida Kresna.
"Oh, pantesan kok kayak bukan orang sini," jawab pedagang.
Putra tertarik dengan nasi goreng, jaraknya lumayan jauh dari tempat berdiri kali ini. Namun, nanti bisa membeli itu untuk makan malam.
__ADS_1
"Sudah ini, Dek." Pedagang menyodorkan kotak kecil yang sudah diberi plastik.
"Sepuluh ribu ya, Pak." Fajar menerima jajan tersebut.
"Ini uangnya, Pak." Abi menyodorkan uang lima puluh ribuan.
"Ini kembaliannya." Pedagang mengambil dan memberi kembalian kepada Abi.
"Mari, Pak." Keempat anak ini mulai berjalan meninggalkan pedagang tersebut.
"Iya hati-hati, Dek. Terima kasih ya," ujar pedagang.
Berjalan kearah kerumunan pedagang yang sangat ramai sekai, hingga keempat anak ini mulai bingung mau membeli apa.
"Kita beli es kelapa muda saja?" tanya Ferdian.
"Beli esnya nanti saja kalau pulang, takutnya kalau sekarang kan keburu adem." Putra memberikan pendapatnya.
"Ya sudah, gitu juga boleh deh. Mau beli apa sekarang kita?" tanya Ferdian.
"Ini kan sudah dapat cemilan, kita cari buat makan malam saja gimana?" kata Putra.
"Boleh juga tuh," ujar Ferdian.
"Ayo siap saja aku," jawab Abi.
"Beli nasi goreng saja," kata Putra.
Melewati beberapa pedagang lain di tempat itu, akhirnya keempat anak ini menemui pedagang nasi goreng yang sudah lumayan ramai dipadati oleh pengunjung yang sedang makan di tempat. Namun, keempat anak ini memilih untuk membeli nasi goreng tapi dibungkus saja, rencanannya mereka ingin makan di kamar asrama saja.
"Pak, beli nasi goreng." Fajar berbicara kepada pedagang.
"Berapa, Dek?" tanya pedagang.
"Empat bungkus," jawab Fajar.
"Tunggu sebentar, Dek. Duduk dulu," kata pedagang.
Keempat anak ini duduk di sebuah kursi panjang warung tersebut, menunggu pedagang yang sedang memasak nasi goreng.
"Sudah matang, Dek." Pedagang memanggil keempat anak itu yang sedang duduk di kursi.
"Sudah, Pak?" Ferdian mendatangi pedagang nasi goreng.
"Ini, Dek. Empat kan?" tanya pedagang.
"Iya, Pak. Berapa ini jadinya?" tanya Ferdian.
"Ini empat puluh ribu dek," kata pedangan.
Ferdian membuka tas selempang kecilnya, mengambil dompet. Menarik uang selembar lima puluh ribuah, memberikannya kepada pedagang.
__ADS_1
"Ini, Pak." Ferdian menyodorkan uang lima puluh ribuan.
"Iya, Dek. Ini kembaliannya," kata pedagang sambil memberikan uang sepuluh ribu.
Setelah selesai membeli nasi goreng, keempat anak ini berniat kembali ke kamar untuk memakan nasi goreng dan beberapa cemilan yang telah mereka beri.
Sampai di tengah-tengah jalan menuju gerbang GOR Krida Kresna, Ferdian melihat es kelapa muda. Ia kembali ingan kalau tadi ingin membeli es itu untuk teman makan dan cemilan ketika di kamar asrama.
"Eh beli es kelapa muda dulu," kata Ferdian.
"Oh iya hampir lupa aku," jawab Fajar.
"Ayo cuss lah," kata Abi.
Mereka menghampiri pedagang es kelapa muda yang sedang melayani pembeli, sedikit ramai. Harus rela beberapa saat mengantri untuk mendapatkan es tersebut.
"Es kelapa muda empat, Mas." Putra berjalan kearah gerobag es.
"Iya bentar, Dek." Pedagang itu sambil melayani beberapa pembeli lain.
Abi, Putra, Ferdian dan Fajar duduk di selebah trotoar jalan yang sudah diberi alas tikar. Tak berselang lama mereka mendengar kumandang adzan maghrib, menghentikan perbincangannya hingga adzan selesai berkumandang.
"Dek, ini esnya sudah siap." Pedagang itu memanggil keempat anak ini.
"Oh iya, Mas. Berapa?" Putra berdiri, kemudian berjalan untuk membayar es kelapa muda itu.
"Ini, sepuluh ribu saja." Pedagang itu memberikan es yang ada didalam plastik.
"Ini, Mas." Putra mengambil es dan memberikan uang pembayaran.
Kemudian, mereka kembali ke kamar asrama. Melewati pintu gerbang yang masih terbuka, masuk ke lorong jalan menuju kamar asrama.
Putra dan Abi masuk ke dalam kamar, kemudian diikuti oleh Ferdian dan Fajar. Mereka meletakan jajan yang telah dibelinya dari pedagang kaki lima area depan GOR Krida Kresna.
Keluar kamar menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, tetapi Putra memilih beristirahat di kamar sambil menjaga seisi kamar.
Abi, Ferdian dan Fajar berjalan melewati lorong kamar menuju kamar mandi, sampai di depan kamar mandi. Mereka bertiga bertemu dengan Pak Taufik.
"Darimana, Jar?" tanya Pak Taufik.
"Tadi jajan dari depan, Pak." Fajar menunjuk kearah jalan raya.
"Lho aku ndak diajak ki gimana?" kata Pak Taufik.
"Ndak tau kok, Pak." Fajar tertawa.
"Ya sudah nanti abis sholat maghrib mau jajan ke depan lah," ujar Pak Taufik.
"Nanti aku mau ke kamarnya Abi dulu ya, Pak?" ijin Fajar.
"Ya sudah, jagan malem-malem penting." Pak Taufik mengambil air wudhu.
__ADS_1
Ketiga anak itu juga mengambil air wudhu, lalu kembali ke kamarnya Abi untuk melaksanakan sholat magrhib.